
Hari mulai berganti hari. Kini sudah dua hari berlalu sejak lahirnya Sang Penguasa.
Zhang Me yang saat itu tertidur diatas pohon kini telah dipindahkan disebuah pondok buatan yang terbuat dari beberapa batang kayu, ranting dan dedaunan yang menjadi atapnya.
Pondok tersebut sengaja dibuat untuk Zhang Me karena dirinya yang tak kunjung bangun dari tidurnya sejak hari itu.
Dengan raut cemas Fang Je menatap Zhang Me yang tengah terbaring diatas batu berukuran besar.
Ia tidak tau apa yang terjadi dan mengapa Zhang Me bisa tertidur hingga berhari-hari.
"Kau tak perlu risau, dia baik-baik saja." ucap Ertai dari belakang Fang Je.
Fang Je menoleh dengan tatapan sinisnya lalu membalas, "Jika saja dia tidak melarang ku, mungkin aku sudah membunuhmu."
Ertai terkekeh kecil, ia tak begitu mengambil hati perkataan Fang Je. Ia hanya berpikir bahwa sikap Fang Je adalah wajar bagi seorang kekasih.
Tak lama Zhang Me bergerak dengan merenggangkan seluruh tubuhnya sambil menguap dengan mata yang masih terpejam.
Ertai dan Fang Je terdiam dan fokus menatap setiap gerak-gerik Zhang Me.
Zhang Me membuka mata lalu terduduk dan berkata, "Ada apa?" tanya Zhang Me saat mendapati reaksi Fang Je dan Ertai yang terlihat menggelikan.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Fang Je.
Zhang Me mengerutkan dahinya dan berkata, "Apa maksudmu? Aku tidak mati, hanya tertidur..."
"Tapi kau tertidur selama dua hari." saut Ertai.
Zhang Me melongo mendengar perkataan Ertai lalu mengedarkan pandangannya pada pondok kecil yang sempit dengan tinggi sekitar 2 meter dan dipenuhi ranting serta dedaunan yang bergelantungan di atap.
"Mengapa kau bisa tertidur selama itu? Apa terjadi sesuatu?" tanya Fang Je.
"Entahlah, aku hanya merasa sangat lelah dan rasanya aku baru tertidur beberapa jam saja." jawab Zhang Me.
"Hm, aku ingin bertanya sesuatu padamu." tambah Zhang Me ragu-ragu pada Ertai.
"Tanya saja, aku tidak punya alasan untuk menolakmu." saut Ertai.
Zhang Me mulai memperbaiki posisi duduknya sambil mengarahkan Ertai untuk lebih dekat dengannya.
__ADS_1
Ertai menurut, ia mendekat dan duduk disamping Fang Je sambil sedikit mendongak menatap Zhang Me yang duduk lebih tinggi diatas batu.
"Kau mengatakan bahwa aku tidak perlu mencari keberadaan Binatang Ilahi karena mereka yang akan datang padaku..." ucap Zhang Me dan Ertai mengangguk mengiyakan.
Zhang Me menarik napasnya pelan lalu melanjutkan, "Namun kau juga mengatakan bahwa seseorang telah mengurung Binatang Ilahi didalam sebuah Portal Dimensi..."
"Lalu bagaimana mereka akan menemuiku?" tanya Zhang Me.
"Setelah lahirnya Sang Penguasa maka kekuatan Binatang Ilahi akan meningkat drastis dan menghancurkan Portal Dimensi bukanlah hal yang sulit." jawab Ertai sambil memperagakan gaya santai.
"Berarti saat ini kalian juga bisa menghancurkan Portal Dimensi ini?" tanya Zhang Me lagi.
Ertai terdiam sebentar dan menjawab, "Ini hal yang berbeda, kami tidak sekuat Binatang Ilahi. Kami hanya bisa bergantung padamu." kata Ertai sambil menatap kearah lionting Zhang Me.
Zhang Me mengikuti pandangannya dan teringat akan sesuatu, "Oh iya, darimana kau tau jika lionting ini adalah Portal Dimensi? Dan bagaimana cara menggunakannya?" tanya Zhang Me bertubi-tubi.
"Bagi orang biasa mungkin akan sulit mengetahui jika itu Portal Dimensi namun bagiku itu adalah hal yang mudah dan kau cukup mempokuskan pikiranmu pada lionting itu untuk menggunakannya." jawab Ertai.
"Sampai saat ini aku masih merasa ragu dan penasaran terhadap misteri dari lionting ini." saut Zhang Me memegang permata lionting yang terbuat dari batu giok dan berwarna merah delima.
"Ada lagi yang ingin kau tanyakan?" tanya Ertai pada Zhang Me yang tampak masih menyimpan banyak pertanyaan.
"Dimana keberadaan orang yang mengurung Binatang Ilahi pada Portal Dimensi?" tanya Zhang Me ragu-ragu.
"Aku berencana ingin menemuinya dan bertanya apa dia mampu membuat Portal Dimensi ke dunia kultivator." jawab Zhang Me.
"Kurasa iya mampu melakukannya, lagipula dia berasal dari dunia kultivator. Menurut rumor ia adalah penjaga pintu Dimensi yang telah menjelajah semua dimensi..."
"Dan Portal Dimensi tempat aku dan Binatang Buas lainnya dikurung berada diantara dimensi dunia kultivator dan pendekar." jelas Ertai panjang kali lebar.
Zhang Me mengangguk paham sambil memikirkan sesuatu, "Jika Portal Dimensi ini dapat terbuka menuju dunia pendekar berarti ada cara untuk membuka pintu menuju dunia kultivator..." gumam Zhang Me menerka-nerka.
"Namun jika kau ingin kita bisa menemui nya..." ucap Ertai.
Zhang Me menatap Ertai dengan wajah serius dan penuh harapan, "Benarkah? Apa kau tau dia dimana?"
"Beberapa tahun yang lalu saat dia datang, ia mengatakan ingin berkelana ke Benua pendekar bagian selatan. Meski itu sudah sejak lama tapi tidak ada salahnya kita mencoba." lanjut Ertai.
"Benua Selatan..." ulang Zhang Me.
__ADS_1
"Apa itu tempat yang jauh?" tanya Zhang Me.
"Sangat jauh dan kami bisa menemanimu..." jawab Ertai.
"Tentu saja, saat ini aku butuh penunjuk arah, lagipula kau tidak akan setuju jika kutinggalkan disini." balas Zhang Me.
Ertai tanpa sadar tersenyum malu mendengar perkataan Zhang Me. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali ia tersenyum.
"Baiklah sebelum itu aku ingin mencoba membuka portal Dimensi yang ada di lionting ini dan aku butuh arahanmu." ucap Zhang Me pada Ertai.
Ertai mengangguk mengiyakan lalu mulai mengarahkan Zhang Me untuk memejamkan mata dan bersikap tenang. Ertai mengatakan agar Zhang Me memfokuskan pikiran dan jiwa sepenuhnya pada satu titik yaitu lionting tersebut.
Zhang Me yang mendengarkan mengikuti sesuai arahan Ertai hingga ia merasakan sesuatu yang hangat di lehernya. Lionting yang dikenakan Zhang Me bersinar memberikan respon.
Ertai dan Fang Je saling tatap dalam diam memperhatikan ekspresi Zhang Me yang tenang dan nyaman.
Zhang Me membuka matanya. Ia tengah berdiri disebuah jalan setapak dan ia perlahan mulai berjalan kedepan mengikuti jalan tersebut hingga ia menemukan sebuah pintu emas berukuran besar dengan motif yang mewah.
Kemudian Zhang Me memutar sebuah benda yang berbentuk roda ukuran sedang menempel ditengah-tengah pintu. Ia harus segera mengetahui misteri yang disembunyikan oleh lionting ini, pikirnya.
Cahaya menyeruak saat pintu tersebut terbuka. Dengan rasa penasaran yang begitu besar Zhang Me bergegas masuk dan mendapati lima pintu dengan ukuran yang lebih kecil dari yang tadi.
Zhang Me berjalan ke sisi kiri dan mencoba membuka pintu pertama dan yang ia dapatkan adalah sebuah hutan lebat dan terlihat menyeramkan.
Zhang Me menghembuskan napasnya kasar, ia merasa belakangan ini ia tidak bisa berhenti berhubungan dengan hutan.
Namun hutan tersebut berbeda dengan yang lain, selain pepohonan hutan ini tidak memiliki tanda-tanda kehidupan yang lain seperti binatang atau yang lainnya dan tak tau seluas apa hutan ini.
Zhang Me yang tidak begitu tertarik kembali menutup pintu pertama lalu bergeser membuka pintu kedua.
Senyum Zhang Me merekah, matanya berbinar bahagia dan semangat melihat pemandangan dihadapannya. Ia melangkah masuk memutar-mutar tubuhnya sambil mengedarkan pandangan pada tumbuhan-tumbuhan yang tengah berbuah banyak.
Dipintu kedua berisi banyak jenis tumbuhan buah-buahan serta sayur-sayuran yang banyak diantaranya tidak diketahui Zhang Me.
Situasi ini membuat Zhang Me benar-benar kegirangan hingga tak sengaja ia keseleo dan terjatuh.
"Aku sangat tidak sabar menghabiskan semuanya..." ia tidak kesakitan, justru tersenyum senang sambil menjilati bibirnya.
Zhang Me bangkit dari jatuhnya, ia meraih satu buah dengan pohon yang rendah. Buah tersebut berbentuk bulat kecil dan berwarna merah.
__ADS_1
Zhang Me tanpa rasa sabar langsung memasukkannya kedalam mulut, "Ini luar biasa! Ini manis dan segar!" ucap Zhang Me senang dan kembali memasukkan buah tersebut satu persatu kedalam mulutnya.
Tidak hanya sampai disitu, Zhang Me memanen beberapa buah yang membuatnya tertarik kemudian memakannya dengan rakus hingga ia kekenyangan lalu pada akhirnya ia pun langsung tertidur pulas dengan sisa-sisa buah yang berserakan didepannya dan melupakan tujuannya datang.