The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)

The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)
Chapter 53- Hutan Keramat


__ADS_3

Terlihat Fang Je yang berdiri disisi Zhang Me sedang memejamkan matanya sambil menghirup napas dalam menikmati udara segar yang disuguhkan serta pemandangan hutan yang lebat, rimbun dan hijau.


Saat ini Fang Je dan Zhang Me berada di Hutan Keramat. Fang Je sendiri merasa kagum sekaligus heran karena dari yang ia tau dan dengar bahwa Hutan Keramat adalah tempat yang mengerikan sangat berbeda jauh dari kenyataannya.


Sebab saat Zhang Me dikirim ke Hutan Keramat ia tidak sedang dalam bayangan Zhang Me sehingga ia tidak ikut bersamanya.


Fang Je sendiri tak tau apa sebenarnya tujuan Zhang Me, ia hanya mengikuti perintah Zhang Me agar segera bergegas ke lapangan tempat diadakannya turnamen beberapa hari yang lalu dimana para peserta dikirim ke Hutan Keramat melalui Portal Dimensi.


Selain itu, rasa penasaran dan curiga Fang Je pada Zhang Me semakin besar saat ia melihat sendiri bagaimana Zhang Me mampu


Membuat Portal Dimensi dari sebuah batu yang berwarna hitam pekat.


Sampai saat ini Fang Je merasa belum sepenuhnya mengenal Tuannya dan merasa bahwa masih banyak misteri maupun rahasia yang disembunyikan oleh Zhang Me padanya.


"Apa kau begitu menikmatinya?" tanya Zhang Me yang sedari tadi menatap Fang Je.


Fang Je membuka matanya dan berkata, "Ini untuk pertama kalinya aku merasa sangat damai."


Zhang Me tak membalas, ia hanya mengangguk dan berjalan melewati Pintu Rimba Hutan Keramat.


Dan tiba-tiba saja terjadi gempa, angin ikut berhembus membuat pepohonan bergerak mengikuti, burung-burung yang ada di Hutan Keramat mulai beterbangan dan berkicau tak tenang.


Binatang-binatang yang lain seperti serigala saling bersahutan serta suhu di dalam hutan langsung berubah drastis. Kejadian ini terjadi sama seperti saat pertama kali Zhang Me datang ke Hutan Keramat.


Fang Je yang tidak tau menjadi kuatir dan segera berdiri didepan Zhang Me untuk berjaga-jaga jika tiba-tiba ada binatang buas yang datang menyerang.


"Tidak apa, ini hanya sebuah sambutan." kata Zhang Me berjalan melewati Fang Je yang masih berada dalam posisi siaga.


Seperti dugaan Fang Je, terlihat ratusan Serigala berukuran besar sedang berlari menuju arah mereka.


"Jangan menyerang." ucap Zhang Me menghentikan Fang Je yang ingin menyerang.


"Mengapa? Jika tidak mereka akan membunuh kita." kata Fang Je.


"Mereka tidak akan menyerang ataupun menyentuh kita..." balas Zhang Me berusaha meyakinkan.


Meski belum begitu yakin namun Fang Je tetap menuruti perkataan Zhang Me tanpa mengurangi sedikitpun kewaspadaan nya.

__ADS_1


Kemudian ratusan Serigala tersebut menjelma menjadi manusia membuat Fang Je terkejut bukan main.


"Akhirnya kau datang..." ucap salah seorang pria yang berdiri paling depan tepatnya didepan Zhang Me, ia adalah Ertai.


"Bagaimana mungkin aku tidak datang saat kau selalu muncul di mimpiku dan suaramu yang memenuhi telingaku membuat aku ingin sekali membunuhmu." saut Zhang Me.


"Kau benar-benar mengganggu waktu bersantaiku." lanjutnya.


"Tapi aku penasaran bagaimana kau bisa melakukan itu padaku? Bagaimana kau bisa masuk kedalam mimpiku? Bagaimana kau bisa mengirim pesan padaku?" tanya Zhang Me bertubi-tubi.


Ertai cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan berkata, "Untuk sekarang itu tidak penting, aku akan menjelaskannya nanti Namun sebelum itu ada yang ingin aku sampaikan dan pastikan padamu."


Dengan wajah datar Zhang Me membalas, "Kau bahkan tidak mengenalku jadi apa yang ingin kau pastikan?"


"Kau benar, namun berlian itu ada padamu." kata Ertai.


"Mengapa kau menyebut batu itu sebagai berlian? Sangat berbeda dari berlian asli, lagipula aku tak sengaja menemukannya dijalan." jelas Zhang Me.


"Untuk memastikannya, lebih baik kau ikut bersama kami." pinta Ertai.


"Tapi, siapa dia?" tanya Ertai menatap tak suka pada Fang Je.


Berbagai ekspresi yang ditunjukan oleh mereka saat mendengar ancaman Zhang Me yang terkesan angkuh namun juga menyeramkan.


Setelah perdebatan singkat, Zhang Me memutuskan untuk ikut bersama mereka ke kedalaman hutan dengan diiringi ratusan Serigala.


Ditengah perjalanan ada banyak sekali jenis hewan mulai dari terkecil sampai hewan raksasa menatap Zhang Me penuh arti.


Dan pada akhirnya langkah mereka terhenti didepan Goa berukuran besar.


"Ikutlah denganku..." pinta Ertai mengarahkan Zhang Me untuk memasuki Goa.


"Kau tak boleh ikut." tambah Ertai saat melihat Fang Je yang ingin mengekor dibelakang Zhang Me.


"Tunggu disini, aku akan segera kembali." bujuk Zhang Me pada Fang Je yang menunjukkan ekspresi tak suka.


Meski begitu Fang Je tetap mendengarkan. Dengan perasaan tidak tenang ia membiarkan Zhang Me berlalu begitu saja memasuki Goa bersama Ertai.

__ADS_1


Saat sudah berada di dalam Goa, Zhang Me tidak merasa ada keanehan hanya saja semakin ia masuk ke dalam Goa maka suhu akan semakin dingin serta menipisnya udara membuatnya susah bernapas.


Langkah Ertai terhenti membuat Zhang Me ikut berhenti, "Kita sudah sampai." kata Ertai.


"Apa maksudmu?" tanya Zhang Me tak mengerti.


Zhang Me mengikuti arah pandangan Ertai yang mengarah pada sebuah peti besar


"Di dalam peti itu berisi mayat Sang Penguasa dari semua Binatang Ilahi."


"Aku sama sekali tak mengerti apa yang kau katakan, lalu apa hubungannya denganku? Bisakah kau mengatakannya lebih jelas?" kata Zhang Me.


Dengan wajah serius Ertai mulai menjelaskan bahwa didalam Peti tersebut terdapat mayat seseorang yang telah meninggal ratusan tahun yang lalu.


Mayat tersebut adalah mayat Sang Penguasa Binatang Ilahi yang telah tewas dibunuh.


Kematiannya membuat gejolak besar. Semua Binatang Ilahi murka dan saling menyalahkan sehingga manusia lah yang menerima akibatnya.


Kekacauan yang terjadi ratusan tahun yang lalu merupakan bencana yang tak bisa dilupakan namun kejadian tersebut terhenti saat pria tua yang tak dikenal tiba-tiba muncul dan memusnahkan sebagian Binatang Ilahi serta mengurung mereka didalam sebuah Portal Dimensi.


Namun tiga tahun yang lalu pria tua itu datang kembali menemui para Binatang Ilahi dan mengatakan bahwa Sang Penguasa Binatang Ilahi akan segera lahir kembali dengan ditandai Berlian Binatang Ilahi yang kembali bersatu.


Zhang Me melongo menatap Ertai yang menyelesaikan ceritanya sambil menggaruk-garuk kepala berusaha mencerna perkataan Ertai.


"Berlian Binatang Ilahi?" ulang Zhang Me tampak berpikir hingga sesuatu muncul dipikirannya.


"Baik, aku mengerti maksudmu tapi batu ini bukan milikku. Aku hanya menemukannya." ucap Zhang Me sambil memperlihatkan batu hitam yang ada diatas telapak tangannya.


Dan tanpa terduga, saat batu itu dimunculkan Peti tersebut bergetar memberikan reaksi.


"Untuk membuktikannya kau bisa meletakkan Berlian itu diatas mangkuk emas itu dan coba untuk membuka petinya."


"Jika hanya membuka peti semua orang jelas bisa."


"Tidak, setelah ia tiada tak ada satupun yang pernah bisa membukanya kecuali Sang Penguasa berikutnya." bantah Ertai.


"Itu sudah menjadi ketentuan."

__ADS_1


Zhang Me menghembuskan napasnya kasar dan berjalan mendekati Peti tersebut. Ia meletakkan Batu Hitam yang disebut berlian oleh Ertai diatas sebuah mangkuk emas dan mencoba untuk membuka Peti.


__ADS_2