The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)

The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)
Chapter 25- Gadis Pusat Perhatian


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka tiba di kedai Bunga Kersen Hijau, kedai milik Li An dan Meng Ye, orang tua Zhang Me.


Fang Je sedikit menoleh kebelakang berniat memberitahu Zhang Me bahwa mereka sudah tiba ditempatnya, namun yang didapati Fang Je adalah mata terpejam dan suara dengkuran halus dari Zhang Me.


"Pantas saja sejak tadi ia tidak mengomel sepanjang jalan..." gumam Fang Je.


Ia berjalan memasuki kedai, sosoknya yang sedang menggendong seorang gadis membuatnya menjadi pusat perhatian semua pengunjung.


Fang Je yang tidak terbiasa menjadi pusat perhatian merasa kesal dan hanya melemparkan tatapan tajamnya.


Meng Ye yang memang mengenali Fang Je segera menghampirinya, "Apa dia Me'er? Apa yang terjadi dengannya?" tanyanya kuatir.


"Tak perlu cemas, dia hanya tertidur..." jawab Fang Je.


Meng Ye bernapas lega, ia berjalan menuju dapur dan kembali dengan Li An.


Li An bergerak ke belakang punggung Fang Je dan mengambil alih Zhang Me dengan menggendongnya di depan dada.


Zhang Me menggeliat karena merasa terganggu, cahaya lampu yang terang mengusik matanya yang terpejam.


Li An dengan segera membawanya ke kamar yang ada dibagian dapur yang paling dalam. Ia meletakkan Zhang Me di atas kasur, membuka cadar yang masih menempel di wajahnya, mencium keningnya sayang lalu menyelimuti dan kemudian beranjak dari sana.


Sejak datangnya Fang Je yang membawa seorang gadis lalu kemudian dibawa oleh Li An, membuat rasa penasaran menjalari benak pengunjung yang menyaksikan kejadian itu.


Rata-rata pengunjung kedai adalah penduduk kota Lehan dan memang mengenali Li An. Mereka mulai mengira-ngira siapa pria asing yang tiba-tiba datang membawa gadis dan diberikan pada Li An?


"Duduk lah dan makan ini..." ucap Meng Ye yang datang membawa beberapa makanan untuk Fang Je.


Fang Je yang sedang duduk disalah satu kursi untuk pengunjung menoleh lalu mengangguk menanggapi Meng Ye karena ia memang lapar sejak tadi.


Tak lama, Li An datang dan duduk bersama Meng Ye dan Fang Je yang sedang menyantap makanannya.

__ADS_1


Mereka mulai mengobrol, Li An dan Meng Ye berterima kasih pada Fang Je yang sudah menjaga dan membawa Zhang Me pulang dengan selamat.


Li An juga bertanya tentang apa saja yang telah dilakukan Zhang Me, dan dijawab seadanya saja oleh Fang Je bahwa hari ini ia menemani Zhang Me berbelanja pakaian.


"Ini pakaian yang ia beli..." kata Fang Je menyerahkan bungkusan pakaian milik Zhang Me.


Meng Ye meraihnya dan melihat isi bungkusan tersebut. Ia menatap Fang Je dan bungkusan tersebut bergantian lalu tersenyum geli.


Li An yang melihat tingkah Meng Ye hanya menyipitkan mata karena merasa penasaran, sedangkan Fang Je yang mengerti maksud dari tatapan itu seolah tak peduli padahal dalam benaknya ia merasa malu.


Obrolan antara Li An dan Fang Je masih berlanjut, mereka terlihat sangat akrab. Sedangkan Meng Ye membereskan bekas makan Fang Je dan kembali ke dapur.


Disela obrolan mereka segerombolan orang memasuki kedai, mereka adalah orang yang baru tiba di kota Lehan yang berniat mengisi perut yang sudah kekosongan.


Malam yang memang belum larut membuat kedai Bunga Kersen Hijau kedatangan banyak pengunjung yang berasal dari luar kota Lehan.


Rata-rata dari mereka adalah pendekar dari luar kota Lehan, yang kemungkinan besar ingin menyaksikan atau bahkan mengikuti turnament yang akan di adakan di kekaisaran Qing.


Fang Je yang melihat Li An dan Meng Ye kesusahan melayani pengunjung menawarkan diri untuk membantu karena keterbatasan pelayan yang mereka miliki.


Meng Ye dan dua pelayan yang dimilikinya sibuk di dapur memasak menu makanan yang dipesan pengunjung, sedangkan Fang Je bertugas menyiapkan dan menyajikan makanan untuk pengunjung, dan Li An bertugas dibagian kasir untuk melayani pengunjung yang ingin membayar dan yang ingin memesan makanan.


Disisi lain, aroma masakan yang begitu lezat menggelitik hidung Zhang Me yang sedang tertidur. Seolah merespon aroma yang ditangkap oleh indra penciumannya membuat penghuni yang ada diperut Zhang Me memberentok dan meminta agar si punya segera memberinya makan.


Dengan mata setengah terpejam, Zhang Me bangun dari tidurnya dan terduduk diatas kasur lalu diam sebentar.


Kemudian ia melepas jubah yang masih melekat ditubuhnya lalu kembali berbaring dan memejamkan mata berniat melanjutkan tidur.


Namun terhalang oleh perutnya yang memberontak membuatnya kesal sehingga ia memutuskan beranjak dari kasur menuju aroma lezat yang sedari tadi menggelitik indra penciumannya.


Ia berjalan keluar dengan langkah linglung dan mata yang sesekali terpejam serta rambut yang tak beraturan menutupi wajahnya.

__ADS_1


Kemudian ia berjalan menghampiri Li An yang terlihat sedang memyambut pengunjung yang baru datang.


Setiap langkahnya tak lepas dari pandangan semua orang yang ada disana. Penampilan Zhang Me yang acak-acakan dengan pakaian yang sangat terbuka membuatnya terlihat seksi dan mampu memberi gairah pada pria yang menatapnya.


"Ayah, aku kelaparan..." ucapnya pelan pada Li An.


Li An tersentak kaget, ia menoleh pada Zhang Me yang tiba-tiba datang dan memeluknya dari belakang.


Li An lalu mengedarkan pandangannya dan mendapatkan semua pengunjung menatap putrinya tanpa berkedip membuatnya berdecak kesal.


"Lihat gadis itu..."


"Gadis itu sangat menawan..."


"Dia sangat menggoda..."


"Wahh..."


Berbagai pujian keluar dari mulut pengunjung dan rasa penasaran yang timbul dibenak mereka. Meski begitu tak sedikit yang terpesona dan tergiur melihat penampilan Zhang Me yang seksi. Beruntung mereka tak melihat jelas wajahnya, jika iya mungkin akan ada dari mereka yang berniat menculik Zhang Me.


Tak suka putrinya ditatap seperti itu membuat Li An dengan sigap segera memeluk Zhang Me agar seluruh tubuh Zhang Me tertutupi oleh pakaiannya dan kemudian membawanya kembali ke kamar dan disusul Meng Ye.


"Dasar anak nakal, diluar sedang banyak pengunjung, mengapa kau keluar dengan penampilanmu yang seperti ini?" ucap Li An setelah mendudukkan Zhang Me di atas kasur.


"Aku kelaparan ayah..." saut Zhang Me yang masih dalam kondisi setengah sadar.


"Kau tunggu disini, ibu akan bawakan makanan untukmu." kata Meng Ye sambil mengelus kepala Zhang Me lembut lalu pergi menuju dapur.


"Kau tunggu ibumu disini dan makan dengannya, ayah harus keluar karena diluar sangat banyak pengunjung yang datang..." ucap Li An dan dibalas anggukan oleh Zhang Me.


Li An kembali melayani pengunjung namun kali ini rasanya berbeda karena semua tatapan mengarah padanya seolah tatapan tersebut tesirat mengatakan siapa gadis tadi?

__ADS_1


Fang Je sendiri hanya mengelengkan kepalanya. menurutnya ini sudah wajar terjadi karena tak bisa ia pungkiri bahwa Zhang Me memang gadis kecil yang memiliki penampilan dan postur tubuh seperti remaja serta paras yang cantik dan mempesona.


"Aku rasa julukan gadis pusat perhatian cocok untuknya..." kata Fang Je terkekeh kecil.


__ADS_2