The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)

The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)
Chapter 07- Kota Lehan II


__ADS_3

Sesuai keinginan Zhang Me, Feng Lu memutuskan untuk membawa Li An memasuki kedai untuk menjauhi lokasi pertarungan.


Seperti saat ini, mereka sedang duduk disalah satu tempat untuk pengunjung tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Feng Lu merasa sedikit risih karena Li An yang terus menatapnya tajam seolah ingin menerkam.


Feng Lu menggaruk kepalanya yang tak gatal dan menatap Li An, "Mengapa kau menatapku seperti itu?" tanya Feng Lu akhirnya buka suara.


"Mengapa kau bisa bersama putriku? Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Li An.


Feng Lu melihat kearah lain sambil memikirkan jawaban yang pas atas pertanyaan Li An.


"Aku hanya tidak sengaja bertemu dengan gadis kecil itu, dan dia memintaku untuk mengantarnya ke kedai ini." jawab Feng Lu.


Li An memicingkan matanya, "Benarkah?"


"Tentu sa-.." saut Feng Lu terpotong sambil membulatkan saat melihat Zhang Me memasuki kedai.


Li An yang penasaran ikut melihat ke objek yang sama dan terkejut saat menemukan Zhang Me Memasuki kedai dengan pakaian yang menurutnya terlalu terbuka.


Dengan langkah cepat Li An menghampiri Zhang Me lalu membuka jubah panjang miliknya dan menutupi tubuh Zhang Me.


"Ayah, apa yang kau lakukan?" tanya Zhang Me merenggut kesal.


Li An melototkan matanya, "Lihat mereka semua, apa kau tidak sadar dengan penampilanmu saat ini?" saut Li An pelan tapi penuh penekanan.


Zhang Me mengedarkan pandangannya ke seluruh kedai dan mendapatkan semua tatapan mengarah padanya.


"Wah, kedai ayah sedang ramai ya?" tanya Zhang Me polos.


Li An menganga lalu memukul kepala Zhang Me pelan, "Dasar anak nakal, mereka itu sedang menatapmu."


Zhang Me menggosok kepalanya yang sedikit sakit, "Tentu saja, putrimu ini sangat cantik ayah, tidak ada yang tidak terpesona denganku meski menggunakan topeng ini..." saut Zhang Me sambil tersenyum manis.


"Terserah kau sajalah, ayo ikut ayah." saut Li An menghelas nafas pelan.


Li An menuntun Zhang Me ketempatnya semula dan duduk semeja dengan Feng Lu tanpa memperdulikan rasa penasaran di benak pengunjung yang bertanya-tanya siapa sebenarnya gadis cantik bertopeng setengah wajah tersebut.


"Putriku, apa kau baik-baik saja? Bagaimana dengan Mo Xun?" tanya Li An penasaran.


Zhang Me mengangkat sebelah alisnya lalu menjawab, "Mo Xun? Ayah mengenalnya?"


Li An mengangguk, "Dia adalah salah satu jenius dari Sekte Anggrek Putih."


Zhang Me mengedikkan bahu, "Pemuda itu telah pergi ayah."


"Bagaimana bisa?"


"Tentu saja karena dia tidak sanggup melihat kecantikanku ayah..." jawab Zhang Me asal.


Li An membuka tutup mulutnya tapi tak mengucapkan apapun, sedangkan Feng Lu hanya terkekeh kecil mendengar perkataan Zhang Me.


"Memang ada masalah apa dia dengan ayah?" tanya Zhang Me penasaran.


Li An menjelaskan, menurut penjelasannya salah satu pelayannya tak sengaja menumpahkan minuman pada Mo Xun.


Pelayan itu telah minta maaf karena tak sengaja, tapi Mo Xun tak terima dan meminta Li An untuk menghukum pelayan tersebut hingga Li An memecat pelayan itu.


Namun, Mo Xun semakin melunjak dan malah meminta konsenpasi pada Li An hingga membuat Li An menjadi geram dan berakhir pada pertempuran.

__ADS_1


Zhang Me menyimak penjelasan Li An dengan cermat, dan kini pandangannya terhadap Mo Xun menjadi buruk.


Kini Li An memperhatikan Zhang Me lekat, "Me'er mengapa sampai sekarang kau tidak mempunyai tenaga dalam? Bukankah ayah sudah mengajarimu cara melakukannya? Apa kau tidak mampu melakukannya?" tanya Li An.


Feng Lu mengangguk membenarkan pertanyaan Li An sebab itu juga yang telah menggangu pikirannya.


Zhang Me menggaruk pipinya sambil meringis, "Tentu saja aku mampu melakukannya, hanya saja aku mengubah tenaga dalam yang aku miliki menjadi qi." jawab Zhang Me.


"Qi?" tanya Feng Lu spontan.


"Tentu, itu sama saja dengan tenaga dalam, hanya saja qi lebih murni." jawab Zhang Me.


Li An dan Feng Lu terdiam, mereka tidak mengerti sesuatu seperti Qi, pasalnya selama ini mereka hanya menggunakan tenaga dalam.


"Baiklah, sekarang katakan mengapa kau bisa bersama dia?" tanya Li An menunjuk Feng Lu dengan geram.


Zhang Menatap Feng Lu lalu Li An, "Ini pertama kalinya aku kekota ini ayah, dan aku meminta paman Lu untuk menemaniku..." jawa Zhang Me.


Li An menghela nafas, "Apa kau tidak tau siapa dia? Dia itu pemberontak, dia bahkan pernah memberontak di kedai ini." saut Li An.


Kini tatapan Zhang Me berubah menjadi tatapan menyelidik pada Feng Lu, "Benarkah itu paman?" tanya Zhang Me.


"Itu benar gadis kecil, tapi kumohon jangan marah, aku tidak akan melakukannya lagi." jawab Feng Lu gugup dan ketakutan.


Li An yang melihat raut ketakutan yang terpancar pada wajah Feng Lu menjadi sedikit bingung.


"Baiklah baiklah..." ucap Zhang Me sambil mengibaskan tangannya.


Feng Lu menghembuskan nafas lega karena Zhang Me tidak memperpanjang masalah tentang dia yang pernah memberontak dan merampok dikedai Li An.


Zhang Me mengedarkan pandangannya keseluruh sudut kedai, tampak pelayan kedai sibuk melayani para pengunjung yang datang.


"Ibumu sedang ke pusat perbelanjaan karena 7 hari kedepan kota ini akan sangat ramai, dan aku bahkan berencana untuk menjemputmu dan tinggal disini sementara waktu." jawab Li An.


Zhang mengerutkan kening dalam, "Memang apa yang akan terjadi dikota ini ayah?" tanya Zhang Me


"Minggu depan akan ada turnament untuk para pendekar muda yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali, makanya mulai besok akan banyak perwakilan dari sekte ataupun bukan yang datang di kota ini..." jelas Li An.


Zhang Me mengangguk mendengar penjelasan Li An hingga sesuatu menarik perhatiannya.


Terdapat sekelompok orang yang memasuki kedai. Seorang pemuda dan pria tua yang memakai jubah putih dan dikawal 5 orang dewasa dengan pakaian hitam.


Semua orang yang ada di kedai memberikan salam penghormatan tak terkecuali Li An, hanya Feng Lu dan Zhang Me yang tak bergeming.


Sebagai pemilik kedai Li An segera menghampiri sekelompok orang itu, disusul oleh Zhang Me dan Feng Lu.


"Maaf pangeran, ada perlu apa hingga pangeran datang ketempat ini?" tanya Li An sopan.


Zhang Me mengangkat sebelah alisnya saat mendengar Li An menyebut pemuda yang ada dihadapannya dengan sebutan Pangeran.


"Tidak perlu basa-basi sekarang katakan siapa yang telah meracuni Mo Xun?!" bentak pria tua pada Li An.


"Heh pria tua! Apa kau tidak punya sopan santun?" saut Zhang Me.


Seluruh pasang mata mengarah padanya, semua orang tau bahwa pria yang disebut pria tua oleh Zhang Me adalah Gu Her, Penatua ketiga dari Sekte Anggrek Putih.


"Berani sekali kau berkata seperti itu, apa kau tidak tau siapa aku?" ucap Gu Her menatap tajam pada Zhang Me.


Zhang Me mengangkat sebelah alisnya dan berkata, "Apa aku terlihat peduli denganmu? Kuingatkan agar jangan pernah berkata seperti itu lagi pada ayahku."

__ADS_1


Gu Her menjadi emosi mendengar perkataan Zhang Me, tanpa banyak berfikir ia menarik pedang salah satu pria dewasa yang ada di dekatnya dan menyerang Zhang Me.


Pedang yang menargetkan kepala Zhang Me berhenti tepat di depan wajahnya dan sedetik kemudian hancur menjadi debu.


Gu Her, Li An, Feng Lu dan semua yang ada disana melebarkan mata tak percaya. Bagaimana mungkin pedang itu hancur menjadi debu bahkan tanpa disentuh sama sekali?


"Kau ingin membunuhku hanya menggunakan bendah rapuh itu?" tanya Zhang Me menunjuk debu dari pedang tersebut.


Gu Her terdiam, dia tidak pernah berfikir gadis kecil dihadapannya memiliki kekuatan yang semengerikan itu.


"Maafkan atas kelancangan kami, Aku Lang Ruo, dan kami datang kesini untuk bertemu dengan orang yang sempat bertarung dan meracuni saudara Mo..." ucap Lang Ruo, pemuda yang disebut pangeran oleh Li An.


Pandangan Feng Lu dan Li An mengarah pada Zhang Me yang tengah menatap Gu Her tajam.


"Aku yang meracuninya, mengapa? Ada masalah?" ungkap Zhang Me dengan nada tak suka.


"Bagaimana mungkin gadis kecil sepertimu melakukan itu?" saut Gu Her.


Lang Ruo tampak berpikir, apa benar yang meracuni Mo Xun adalah gadis itu? Tapi rasanya ia sulit menerima karena dari kelihatannya gadis itu bahkan belum berumur 17 tahun.


Zhang Me memutar bola matanya malas, "Terserah lah..." Jedanya, "Ayah aku ingin menyusul ibu, dan paman Lu kau bisa pergi kemana saja, bunyikan saja ini jika paman ingin bertemu denganku." ucap Zhang Me memberikan sebuah peluit berwarna hijau pekat pada Feng Lu lalu pergi dari sana.


"Cepat katakan siapa yang telah meracuni Mo Xun!" ujar Gu Her, rasanya sekarang dia bisa bernafas lega setelah kepergian Zhang Me.


Entah mengapa ia merasa ketakutan saat berada di sekitar Zhang Me.


"Maaf senior, aku memang telah bertarung dengan Mo Xun, tapi aku sama sekali tidak meracuninya." ujar Li An sesopan mungkin.


"Paman, jika bukan kau yang meracuninya siapa lagi? Hanya paman yang bertarung dengan saudara Mo dan kumohon berikan penawarnya." ucap Lang Ruo terdengar memohon pada Li An.


"Mengapa kau tidak mempercayai perkataan gadis tadi? Dia juga bertarung dengan Mo Xun, besar kemungkinan dia yang meracuninya." ujar Feng Lu dan beranjak keluar kedai.


Li An membuka tutup mulutnya, tak tau harus berkata apalagi. Apa benar putrinya yang meracuni Mo xun?


Terlalu banyak kejutan yang diberikan Zhang Me hari ini, membuat Li An tak habis pikir sebesar apa sebenarnya kemampuan putrinya itu.


"Jika benar gadis itu yang meracuni Mo Xun, kita harus segera menangkapnya." geram Gu Her berniat beranjak dari sana.


Li An yang mendengar itu segera menghentikan, "Apa yang ingin kau lakukan dengan putriku! Jangan menyakitinya." ucap Li An, kini dalam ucapannya tak lagi menunjukkan rasa hormat.


"Jadi dia putrimu, segera panggil dia atau Mo Xun akan kehilangan nyawanya!" bentak Gu Her.


Terlihat jelas kemarahan dimata Li An, "Dia telah pergi, kau cari sendiri dimana dia berada." saut Li An tak peduli dan kembali melakukan pekerjaan yang biasa ia lakukan di kedai.


Para pengawal yang ada dipihak Gu Her berniat menyerang Li An tetapi dihentikan oleh Lang Ruo.


Lang Ruo sudah pasrah, ia mencoba menyelesaikan ini semua dengan cara baik-baik tapi Gu Her merusak semuanya. Ia juga tidak bisa melakukan apapun karena bagaimanapun Gu Her adalah Penatua ketiga di Sekte Anggrek Putih tempatnya berguru.


"Penatua, lebih baik kita mencari gadis itu segera..." usul Lang Ruo.


Segera mereka semua meninggalkan lokasi tersebut untuk mencari keberadaan Zhang Me dengan memanfaatkan posisi Lang Ruo sebagai Pangeran Mahkota, Pewaris tahta kekaisaran Qing.


Namun, terlebih dulu mereka akan kembali keistana untuk membuat sketsa wajah Zhang Me lalu menyebarkan keseluruh kota, dan mengutus beberapa pengawal untuk mencari Zhang Me.


Terima kasih sudah membaca...


Jangan lupa untuk selalu mendukung cerita ini yaa^^


Salam hangat dari author hehe

__ADS_1


__ADS_2