The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)

The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)
Chapter 40- Turnamen VI


__ADS_3

Semua orang mulai kembali berdatangan di lokasi Turnamen untuk menyaksikan keseruan yang akan terjadi disana.


Diketahui hari ini adalah hari penentuan siapa yang akan menjadi pemenang Turnamen tahun ini dan hal itu adalah hal yang paling ditunggu-tunggu semua orang. Menyaksikan sang jenius mencapai puncaknya.


Ditengah riuh pikuknya orang yang mulai berdatangan ada seseorang dengan tenangnya berbaring diatas arena pertarungan tanpa merasa terganggu sedikitpun, membuat semua orang bertanya-tanya akan kehadirannya.


Seluruh peserta juga kini telah berkumpul saat matahari terbit dan memancarkan cahayanya dipagi hari.


Yin Yin selaku pembawa acara menaiki arena pertarungan untuk membuka kembali acara Turnamen namun betapa kagetnya ia saat melihat seseorang tengah terbaring tenang disana.


Dengan ragu-ragu Yin Yin mendekat dan mencolek orang tersebut menggunakan kakinya untuk memastikan ia masih hidup atau tidak. Melihat aksi Yin Yin membuat semua orang jadi penasaran.


Orang tersebut masih belum bergerak sedikitpun dari tempatnya membuat Yin Yin geram. Tapi sesaat setelah itu Yin Yin merasa familiar melihat penampilan orang itu yang menggunakan cadar membuat Yin Yin langsung teringat kejadian kemarin.


Orang itu adalah Zhang Me, salah satu peserta yang mengikuti Turnamen.


Yin Yin kemudian menjongkok ia menepuk-nepuk pipi Zhang Me geram berharap agar Zhang Me segera bangun dan tidak merepotkannya.


Zhang Me menguap sambil mengerjapkan matanya dan yang pertama kali ia lihat adalah wajah kesal Yin Yin yang tengah menatapnya.


"Mengapa kau mengganggu tidurku?" tanya Zhang Me tanpa rasa bersalah.


"Cepat bangun, Turnamen nya akan segera dimulai." saut Yin Yin.


Zhang Me yang masih setengah sadar beranjak dari tempatnya dan turun dari arena tanpa menyadari tatapan semua orang.


Ia berjalan kearah kursi tempat tamu kehormatan duduk dan berkata, "Bisakah aku mendapatkan beberapa makanan?" kata Zhang Me tepat didepan para tamu kehormatan duduk.


Dua dari tamu kehormatan masing-masing memberikan buah dan Zhang Me langsung mengambilnya lalu berpaling untuk bergabung dengan peserta lainnya sambil memakan buah yang diberikan padanya dalam keadaan masih setengah sadar.


Aksi Zhang Me tersebut diperhatikan semua orang membuat mereka bertanya-tanya sekaligus merasa ngeri. Bagaimana tidak? Mereka yang baru saja memberikan buah pada Zhang Me merupakan tamu kehormatan pada Turnamen tahun ini.


Mereka adalah orang yang cukup berperan di Kekaisaran Qing, mereka Pemimpin dari kelompok Organisasi Musang Merah Darah dan Gazuura yaitu Feng Lu dan Shen Zue.


Setelah memberikan buah pada Zhang Me, Feng Lu dan Shen Zue saling tatap menunjukkan ekspresi tak suka.


Mereka jadi lebih sering membawa buah-buahan karena semenjak mengenal Zhang Me mereka jadi sering dimintai makanan secara tiba-tiba oleh Zhang Me.


Beralih dari hal itu, Yin Yin kembali membuka acara Turnamen dengan semangat begitupun semua orang hingga membuat Zhang Me kaget karena masih setengah sadar.


"Baiklah untuk babak selanjutnya kami sudah menyiapkan 50 tiang, jadi kalian akan berlomba untuk merebut tiang tersebut dan berdiri di atasnya dimana hanya boleh satu orang satu tiang, dan kalian hanya memiliki waktu sampai satu dupa habis terbakar..." jelas Yin Yin.


"Jadi dari 100 peserta akan ada 50 peserta yang akan gagal dan juga lolos." tambahnya.


Yin Yin kemudian mengarahkan peserta untuk kesisi lain lapangan dimana sudah ada 50 tiang yang sudah berdiri kokoh. 


Para peserta kemudian berbaris dan bersiap-siap dengan perasaan tak karuan.


"Baik, babak ini dimulai!" teriak Yin Yin.


Para peserta mulai adu cepat untuk mampu berdiri diatas tiang hingga terjadilah pertarungan sengit dan menegangkan antar peserta yang memang merupakan tujuan dari Babak ini.


Zhang Me yang masih sempoyongan memilih untuk duduk ditanah dan memangku wajah diatas lututnya lalu tertidur.


Hari ini Zhang Me benar-benar menarik perhatian semua orang. Sikapnya yang terlihat sangat santai seolah-olah menganggap bahwa Turnamen ini adalah sesuatu yang mudah untuk dilakukannya.


"Aww." rintihan kesakitan Zhang Me.


Ia memegang kepalanya yang baru saja terkena sesuatu dan membuatnya kesakitan. Zhang Me menyipitkan mata lalu mengedarkan pandangannya dengan cermat.


Hingga pandangannya tertuju pada seseorang yang sudah berdiri diatas tiang dimana orang itu tengah tersenyum jahil sambil melambaikan tangannya pada Zhang Me.


Zhang Me menyipitkan matanya mencoba mengingat-ingat orang yang wajahnya terasa sangat familiar bagi Zhang Me.


"Dia? Sejak kapan dia mengikuti Turnamen ini?" gumam Zhang Me.

__ADS_1


Kemudian ia kembali pada posisi awalnya dan tertidur tanpa memperdulikan orang tersebut.


Pria itu merasa kesal karena diacuhkan Zhang Me dan akhirnya ia kembali melempar Zhang Me menggunakan buah persik yang ia bawa.


Zhang Me sekali lagi mendapat sebuah lemparan yang mengenai kepalanya dan tanpa basa basi ia bangkit dari tempatnya lalu berlari dan menghampiri orang tersebut.


Zhang Me melompat lalu menendangnya yang sedang berdiri di tiang hingga terjatuh dan membuatnya mendapatkan tempat disalah satu tiang.


Meskipun caranya sederhana tapi tetap saja menarik perhatian semua orang karena gerakannya yang begitu cepat, gesit serta tepat sasaran.


Pria yang terjatuh karena Zhang Me berteriak, "Seharusnya kau tidak melakukan ini pada kekasihmu!"


"Kekasih?"


"Mereka sepasang kekasih?"


"Sejak kapan pangeran kedua memiliki kekasih?"


"Apa ini benar?"


"Mereka memang terlihat seperti sepasang kekasih, buktinya pangeran sendiri yang mengatakannya."


"Hatiku terasa sakit mendengar semua ini..."


Sekelompok remaja wanita mulai saling berbisik. Mereka merasa patah hati mendengar perkataan Pangeran Kedua yang mengakui dirinya adalah kekasih Zhang Me.


Ya, pria yang baru saja adalah Lang Yizo, pangeran kedua dari Kekaisaran Qing yang ikut berpartisipasi dalam Turnamen tahun ini.


Zhang Me yang tidak begitu perduli benar-benar tidak menyadari bahwa Lang Yizo sejak dari awal Turnamen hanya memperhatikannya.


Salah satu bukti ketidakpedulian Zhang Me adalah saat ini dimana dia duduk sila diatas tiang sambil memangku wajahnya menggunakan tangan dan tertidur.


Lang Yizo tersenyum geli melihat tingkah Zhang Me yang terlihat sangat mengantuk sehingga Lang Yizo memutuskan untuk tidak mengganggunya lagi dan mulai menantang para peserta agar bisa mendapatkan satu tiang untuknya.


Dan yang menjadi lawan Lang Yizo adalah Pa Chin dimana ia telah berdiri disalah satu tiang dan untuk merebutnya Lang Yizo harus bisa mengalahkannya.


Pa Chin yang tidak siap terpaksa harus menerima serangan dari Lang Yizo dan menyebabkan ia terjatuh dari tiang dan membuat Lang Yizo segera melompat ke atas tiang untuk merebutnya.


Namun sebelum itu terjadi  tiba-tiba sebuah anak panah mengarah pada Lang Yizo dan mendarat tepat di kakinya membuat Lang Yizo terjatuh sebelum bisa merebut tiang.


Serangan itu berasal dari Pe Chin, saudara kembar Pa Chin dimana ia hanya mencoba membantu saudara kembarnya.


Tapi tak semudah yang mereka bayangkan, dengan mudah Lang Yizo mencabut anak panah tersebut dan menyerang Pa Chin secara sadis menggunakan cambuk.


Lang Yizo bukanlah seorang yang lemah, saat ia sedang serius maka tidak banyak yang bisa menghindar dari serangan cambuknya.


Lang Yizo terus memberikan cambukan pada Pa Chin dimana disetiap cambukannya menciptakan sebuah sengatan listrik membuat Pa Chin menyerah dan membiarkan Lang Yizo merebut tiangnya.


Disisi lain ada seorang anak perempuan bernama Lu Lua tengah berjalan menghampiri Zhang Me, sepertinya ia niat untuk menantang Zhang Me.


Lu Lua sebenarnya merasa gugup dan sedikit takut untuk menghadapi Zhang Me tapi demi untuk lolos kebabak selanjutnya ia harus bisa mengalahkan Zhang Me dimana hanya dia yang terlihat memiliki banyak celah dan kesempatan untuk mengalahkannya.


Lu Lua menendang tiang yang ditempati Zhang Me berharap membuatnya terjatuh tapi sayangnya tidak.


Zhang Me hanya terbangun tidak terjatuh membuat Lu Lua berpikir bahwa tingkat keseimbangan yang dimiliki Zhang Me benar-benar tinggi.


Pandangan mereka bertemu, Lu Lua merasa terintimidasi oleh tatapan Zhang Me membuatnya menjadi gugup setengah mati.


Namun itu hanya berlangsung sebentar karena Lu Lua berusaha untuk mengendalikan dirinya dan ia kemudian bergerak cepat mengelilingi tiang tempat Zhang Me sambil menaburkan sebuah bubuk.


Setelah melakukan itu tak lama kabut tebal berwarna ungu muncul menyelimuti Zhang Me hingga tak terlihat oleh siapapun.


Semua orang menjadi tegang dan kini Lu Lua berhasil menarik perhatian mereka dengan apa yang dilakukannya.


Begitupun  dengan Lang Yizo, ia menjadi kuatir dan langsung memasuki kabut berniat untuk menyelamatkan Zhang Me.

__ADS_1


Aksi Lang Yizo tersebut yang rela membahayakannya nyawanya demi Zhang Me benar-benar membuat para gadis remaja yang mengaguminya menjadi patah hati.


Mereka berpikir bahwa Zhang Me adalah gadis yang beruntung karena berhasil memikat hati Lang Yizo.


Tak lama Lang Yizo keluar dari kabut. Ia menghirup udara dan berusaha menstabilkan pernapasannya karena ia menahan napas saat memasuki kabut tadi.


Setelah merasa lega Lang Yizo melotot dan menatap Lu Lua tajam lalu berkata, "Apa yang kau lakukan?!" teriaknya.


"Dimana kekasihku? Mengapa dia menghilang? Dimana kau menyembunyikannya?!" tambah Lang Yizo marah.


Lu Lua menunjukkan ekspresi bingung sambil menatap kabut yang menutupi Zhang Me perlahan menghilang.


"Berani sekali kau mengganggu tidurku..."


Tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari belakang Lu Lua membuatnya menoleh.


Lu Lua melotot dan membeku ditempatnya. Ia dapat melihat wajah Zhang Me yang begitu dekat dengannya.


Dari awal Lu Lua sudah curiga karena Lang Yizo tidak menemukannya dimana seharusnya Zhang Me sudah tergeletak tak bernyawa karena kabut beracunnya.


"Hm, racunmu itu cukup lezat..." kata Zhang Me.


"Bagaimana kau bi--"


Sebelum Lu Lua menyelesaikan perkataannya, Zhang Me sudah lebih dulu menggesekkan pisaunya dengan santai di leher Lu Lua yang sudah sejak tadi ada disana.


Beberapa orang berteriak histeris melihat kejadian itu. Membunuh memang sudah menjadi hal yang biasa di dunia kultivator tapi ini untuk yang pertama kalinya ada yang membunuh di acara Turnamen.


Beberapa orang lainnya menjadi antusias dan merasa keseruan Turnamen ini telah dimulai karena peserta sudah saling membunuh.


Yang lebih mengejutkan lagi cara yang dilakukan Zhang Me untuk membunuh tidak pernah terlintas dipikiran mereka.


Buktinya belum puas setelah memotong leher Lu Lua sadis, kini Zhang Me membelah dada Lu Lua dan merogohkan tangannya masuk kedalam dan mengambil jantung Lu Lua.


Yin Yin selaku pembawa acara segera menghampiri Zhang Me dan berteriak panik, "Berhenti! Apa yang kau lakukan?!"


"Mengambil jantungnya..." dengan santai Zhang Me menjawab sambil menunjuk jantung Lu Lua yang ada di telapak tangannya.


"Mengapa kau membunuhnya? Kau akan gagal setelah apa yang telah kau lakukan!"


Zhang Me tertawa sebentar dan berkata membalas Yin Yin, "Apa kau mengatakan bahwa di babak ini tidak boleh untuk saling membunuh?" tanya Zhang Me.


Yin Yin terdiam, ia mencoba mengingat-ingat. Seharusnya di Turnamen ini memang tidak diperbolehkan untuk saling membunuh namun ia tersadar bahwa sedari awal ia lupa untuk mengatakannya.


Akhirnya Yin Yin memilih mengalah karena ini juga disebabkan olehnya dan segera memanggil pengawal kekaisaran untuk membawa mayat Lu Lua.


Zhang Me sendiri berjalan kearah penonton dan menyerahkan jantung Lu Lua pada seorang pria yang ada disana lalu kembali menaiki tiang tempat sebelumnya.


Bruak!


Baru saja mayat Lu Lua di bawa oleh pengawal tiba-tiba seorang pria yang tadinya berdiri diatas salah satu tiang terjatuh dan kehilangan nyawa dengan sebilah pisau yang tertancap di dadanya.


Yin Yin syok, ia melotot menatap Zhang Me yang terlihat tersenyum dari balik cadarnya.


Meskipun gerakan Zhang Me cepat dan tak ada yang bisa melihatnya tapi Yin Yin yakin bahwa yang melakukan itu adalah Zhang Me.


"Mengapa ka--"


"Apa kau sudah mengatakan bahwa tidak boleh untuk saling membunuh?" kata Zhang Me memotong perkataan Yin Yin.


Yin Yin dengan geram kembali memanggil pengawal untuk membawa mayat peserta yang sekali lagi dibunuh oleh Zhang Me.


Bukan tanpa alasan Zhang Me melakukan itu, ia melihat satu dupa hampir habis dan memilih untuk membunuh pria itu agar Lang Yizo mendapatkan tempat.


Lang Yizo yang mendapat tatapan dari Zhang Me seolah mengerti dan mengambil tempat pria tadi karena tiang yang ditempatinya telah diambil alih kembali oleh Pa Chin.

__ADS_1


Tepat setelah itu Yin Yin mengumumkan bahwa waktunya telah habis.


__ADS_2