
Akhirnya Feng Lu bisa bernapas lega saat Li An mau mendengarkan perkataannya setelah bersusah payah membujuk.
"Jika bukan karena putriku, aku tidak akan mempercayaimu." kata Li An sinis.
Dalam hati Feng Lu merutuki Li An karena merasa kesal, seharusnya sejak tadi ia menyetujui perkataannya.
Disisi lain, Zhang Me berjalan keluar dapur menghampiri Feng Lu dan Li An setelah menghabiskan makanannya hingga tandas tak tersisa.
Saat melihat kehadirannya, Organisasi Musang Merah Darah selalu menunduk.
Zhang Me menatap Feng Lu lalu berkata, "Apa ayah setuju?" tanyanya menggerakkan bibir tanpa mengeluarkan suara.
Feng Lu mengangguk dan Zhang Me juga ikut mengangguk sambil mengacungkan jari jempolnya.
Li An yang melihat Feng Lu menoleh kebelakang mengikuti arah pandangannya yang ternyata tertuju pada Zhang Me.
"Entah kenapa kau terlihat lebih tampan hari ini ayah." kata Zhang Me dengan riang.
Li An menyipitkan matanya menatap Zhang Me curiga, "Apa yang kau inginkan?" tanya Li An seolah mengerti maksud Zhang Me.
Zhang Me terkekeh dan membalas, "Apa yang kau katakan ayah? Aku tidak menginginkan apapun."
"Tapi ayah..." lanjut Zhang Me terjeda.
"Apa kau dan ibu tak ingin pergi kencan?" tanya Zhang Me tiba-tiba.
"Kencan?" ulang Li An memastikan.
Zhang Me mengangguk, "Tentu saja, aku melihat ayah dan ibu terlalu sibuk sampai lupa untuk mengabiskan waktu berdua." balasnya sambil menaik turunkan alisnya menggoda Li An.
"Ah, itu tidak perlu." tolak Li An.
"Setidaknya untuk ibu, sesekali ayah harus bisa menyenangkan ibu." kata Zhang Me berusaha meyakinkan.
"Ada apa denganmu? Mengapa tiba-tiba kau berkata seperti itu?" tanya Li An curiga.
Zhang Memasang raut sedihnya lalu berkata, "Ibu sering berkata padaku bahwa dia ingin sekali menghabiskan waktu berdua bersama ayah seperti saat masih muda." jawab Zhang Me.
Jelas sekali bahwa ia berbohong. Meng Ye tak pernah mengatakan hal seperti itu padanya. Ia hanya berniat agar Li An dan Meng Ye dapat bersantai dan bersenang-senang.
Namun seperti yang ia duga, Li An pasti menolak makanya ia berbohong untuk bisa meyakinkannya.
Li An terlihat berpikir, ia mengingat kapan terakhir kali ia dan Meng Ye pergi bersama.
"Tak usah berpikir lama, sembari menunggu kedai di bangun, ayah bisa pergi bersama ibu..." kata Zhang Me masih berusaha meyakinkan.
Li An mengangguk, usaha Zhang Me tidak sia-sia, akhirnya Li An memutuskan untuk pergi berdua bersama Meng Ye.
Kemudian Zhang Me berjalan menghampiri Meng Ye di dapur dan memberitahu bahwa Li An mengajaknya untuk pergi kencan membuat wajah Meng Ye jadi memerah.
Setelah mengatakannya pada Meng Ye, Zhang Me kembali keluar. Ia menyuruh salah satu anggota Organisasi Musang Merah Darah untuk menyiapkan kereta secepatnya.
Tak butuh waktu lama, kereta kuda dengan hiasan indah dan megah yang melebihi kereta milik bangsawan terparkir di depan kedai.
__ADS_1
"Ayah ibu, kalian bisa pergi sekarang." seru Zhang Me.
"Sekarang?" tanya Li An bingung.
"Tentu saja, iya kan ibu?" jawab Zhang Me menoleh pada Meng Ye yang mengangguk sambil tertunduk malu.
Zhang Me langsung mengajak Li An dan Meng Ye keluar kedai dan menuntun mereka menghampiri kereta kuda yang sudah disiapkan.
Masyarakat kota Lehan yang berada disekitar kedai Bunga Kersen Hijau semakin penasaran saat melihat Organisasi Musang Merah Darah serentak menundukkan kepala.
Zhang Me yang sudah berada di depan kedai tiba-tiba membuat Organisasi Musang Merah Darah membentuk sebuah lingkaran yang mengelilingi Zhang Me, Li An dan Meng Ye
Melihat tingkah mereka Zhang Me bertanya, "Apa yang sedang kalian lakukan?"
"Jika kami saja yang harus menunduk saat melihatmu, maka tak ada seorangpun yang bisa melihat gadis kecil selama kami sedang bersamamu." jawab salah satu dari mereka.
Zhang Me mengangguk ia dapat melihat banyak orang yang berkumpul melalui celah kaki mereka, "Kau benar, mereka bisa saja menjadi gila saat melihatku." guraunya.
Sontak mereka tertawa tapi hanya sebentar setelah Feng Lu memberikan kode untuk berhenti tertawa karena merasa tidak sopan.
Sedangkan Zhang Me tidak terlalu memperdulikannya, ia kemudian meminta Li An dan Meng Ye menaiki kereta.
"Tunggu, ini milik siapa?" tanya Li An menatap heran kereta kuda yang begitu megah dihadapannya.
"Ini milik paman Lu, aku meminjamnya untuk kalian pakai." kata Zhang Me beralasan.
"Tidak, kami tidak akan memakai ini..." tolak Li An.
Zhang Me menghembuskan nafasnya kasar, Li An sangat keras kepala dan selalu saja menolaknya.
"Romantis?" ulang Li An tak mengerti.
Zhang Me hanya mengangguk tak berniat untuk menjelaskan. Ia berjalan melepas ikatan salah satu kuda yang ada dikereta lalu diberikan pada Li An.
Li An menerimanya, ia kemudian menatap Zhang Me dan berkata, "Kau harus bisa jaga diri, meski ayah tak tau apa yang sedang kau rencanakan..." ucap Li An mengelus lembut pucuk kepala Zhang Me lalu memeluk dan mencium keningnya.
Zhang Me berpindah memeluk Meng Ye, "Kau harus berhati-hati..."
"Setelah ayah dan ibu pergi, kau harus jadi anak baik..." kata Meng Ye.
Zhang Me mengangguk, tanpa diketahui ia telah memasukkan sesuatu kedalam tubuh Li An dan Meng Ye untuk melindungi mereka.
Li An kemudian menaiki kuda lalu membantu Meng Ye untuk naik juga dan duduk didepannya. Mereka tersenyum lalu pergi dari sana dengan Li An yang mengendarai kuda.
Anggota Organisasi Musang Merah Darah membuka lingkaran dan membiarkan kuda yang membawa Li An dan Meng Ye lewat.
Dan Zhang Me hanya tersenyum menatap kepergian ayah dan ibunya. Sedangkan beberapa orang yang berusaha mengintip melihat kedalam harus menelan rasa kecewa karena Organisasi Musang Merah Darah tak membiarkan mereka begitu saja.
Zhang Me kembali memasuki kedai, ia menyusul Gue He dan Bo Nan yang menunggunya di dapur.
Gue He dan Bo Nan yang melihat kehadiran Zhang Me langsung menunduk.
Didapur hanya ada mereka bertiga, Zhang Me duduk disalah satu kursi yang ada didapur sambil menatap Gue He dan Bo Nan yang berdiri dihadapannya.
__ADS_1
"Hormat kami pada sang ratu!"
Gue He dan Bo Nan tersentak kaget, mereka menoleh kebelakang dan mendapati tiga orang yang sedang bertekuk lutut sehingga membuat mereka berpindah tempat dengan berdiri dibelakang Zhang Me.
"Terimakasih karena sudah memenuhi panggilanku." kata Zhang Me menatap mereka bertiga.
Mereka adalah Tiga Jendral dari Gazuura yang datang memenuhi panggilan Zhang Me melalui batin.
Karena mereka telah melakukan kontrak dengan Zhang Me, secara otomatis mereka dapat berkomunikasi dengan Zhang Me melalu batin seperti Fang Je.
"Ayah dan ibuku baru saja pergi, aku ingin dua diantara kalian mengikutinya dan melindungi mereka secara diam-diam." jelas Zhang Me menyampaikan keinginannya.
Mereka saling tatap seolah menentukan siapa dua orang yang akan menjalankan perintah Zhang Me.
Miang Huo yang merupakan pemimpin dari mereka angkat bicara, "Karena ini bersangkutan soal nyawa orang tua ratu, maka aku akan turun langsung untuk melindungi mereka." katanya.
"Aku akan ikut bersamamu!" ucap Bo Xiang Shui dan Xie Qiu bersamaan.
Zhang Me menatap mereka berdua, terlihat jelas bahwa mereka sangat ingin menjalankan perintah pertama dari pemimpin mereka.
"Miang Huo, pilih salah satu diantara mereka yang akan ikut bersamamu." ujar Zhang Me.
"Aku akan pergi bersama Xie Qiu ratu." kata Miang Huo memutuskan.
Zhang Me mengangguk setuju, lalu kemudian meminta Miang Huo dan Xie Qiu untuk segera menyusul Li An dan Meng Ye.
Sekarang tinggal Bo Xiang Shui dengan raut kecewanya karena tak berkesempatan melakukan perintah Zhang Me.
"Ada apa denganmu?" tanya Zhang Me.
"Mengapa hanya dua dari kami yang kau perintahkan? Aku juga sangat ingin melakukan perintah darimu tapi sepertinya aku tak berkesempatan." katanya.
"Jika kalian bertiga aku perintahkan maka tak akan ada yang mengawasi Gazuura." balas Zhang Me
"Tapi kau tak perlu kuatir, aku sudah menyiapkan tugas untukmu." lanjutnya.
Raut wajah Bo Xiang Shui mulai berubah dan menjadi antusias, "Benarkah? Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya bersemangat.
"Aku ingin kau mengantar mereka ke markas Gazuura." jawab Zhang Me.
Bo Xiang Shui mengangguk, meskipun tugas yang diberikannya cukup mudah tapi itu berhasil membuatnya senang.
"Pergilah bersama dia..." kata Zhang Me pada Gue He dan Bo Nan tapi tak ada sautan.
Zhang Me menoleh dan menunjuk Gue He dan Bo Nan secara bergantian, "Kalian pergilah bersama dia." ulangnya lalu menunjuk Bo Xiang Shui.
Mereka berdua melongo, belum mengerti kalau orang yang dimaksud Zhang Me adalah mereka berdua.
Zhang Me berdiri dari duduknya lalu menepuk jidat mereka berdua secara bergantian dan berkata, "Pergilah bersama dia, saat kau tiba disana berikan surat ini pada orang yang kau temui." jelas Zhang Me sambil memberikan surat yang entah sejak kapan dibuatnya.
Gue He meraih surat tersebut dan mengangguk cepat begitupun dengan Bo Nan lalu kemudian berjalan mendekat pada Bo Xiang Shui.
Sebelum pergi mereka memberi hormat pada Zhang Me lalu menghilang begitu saja.
__ADS_1
"Sepertinya itu memang benar teleportasi..." gumam Zhang Me melihat bekas tempat mereka berdiri sebelum menghilang.
Baru saja Zhang Me ingin duduk kembali dan beristirahat sebentar. Tapi tak jadi, saat mendengar suara ramai diluar kedai.