
Zhang Me yang baru saja keluar dari Rumah Singgah Lotus terperanjak kaget saat melihat ada banyak orang yang menatapnya penuh arti.
Ternyata tanpa disadari, apa yang dilakukan Zhang Me disaksikan oleh banyak orang yang ada diluar.
Awalnya penduduk yang berkeliaran disekitar sana penasaran dengan suara gaduh yang ada di dalam bangunan Rumah Singgah Lotus, terutama saat Zhang Me berteriak. Teriakannya yang mengandung kekuatan itu masih dapat dirasakan beberapa kilometer dari bangunan tempatnya berada.
Berbagai ekspresi pun terlihat dari wajah penduduk saat melihat Zhang Me keluar karena dari luar mereka tidak dapat melihat wajah Zhang Me dengan jelas.
"Apa-apaan ini?" gumam Zhang Me terheran-heran.
"Aiss, belum sehari aku disini, tapi aku sudah menarik perhatian banyak orang..." katanya pelan.
Tiba-tiba saja seorang anak perempuan berjalan kearah Zhang Me lalu memeluknya sambil berkata, "Jiejie, terimakasih. Karenamu, ibuku tidak akan diganggu lagi oleh orang jahat itu." ungkapnya tulus.
Zhang Me menggaruk sebelah pipinya yang tak gatal sambil mengangguk menanggapi anak perempuan tersebut.
Kemudian ia mengedarkan pandangannya mencari sosok Fang Je dan Meng Ye yang pergi entah kemana.
Zhang Me terdiam sesaat, ia merasakan sesuatu lalu berkata, "Tolong lepaskan..." ucap Zhang Me tersenyum sambil melepaskan pelukan anak perempuan tersebut dan pergi dari sana.
***
Saat Zhang Me sibuk dengan urusannya, Fang Je memutuskan untuk membawa Meng Ye ke penginapan terdekat karena kondisinya yang terlihat sangat kacau.
"Bibi, kau boleh membersihkan tubuh dan mengganti pakaianmu, lalu kemudian istirahatlah, aku akan menjagamu dari luar..." ucap Fang Je sopan.
"Siapa kau? dan mengapa putriku belum kembali?" saut Meng Ye saat tersadar dari keterkejutannya.
"Aku pengawal pribadinya, dia akan segera kembali, lebih baik kau beristirahat terlebih dulu..." balas Fang Je lalu beranjak pergi meninggalkan Meng Ye.
Meng Ye mengerutkan dahinya, sedikit ragu dengan perkataan Fang Je, sebab ia tak tau jika sekarang Zhang Me memiliki pengawal pribadi.
"Pengawal pribadi? yang benar saja, darimana gadis nakal itu mendapatkan uang untuk membayarnya? semakin hari putriku itu semakin nakal saja..." celoteh Meng Ye.
"Dan sekarang, dia belum juga kembali, membuatku sangat kuatir..." katanya cemas sambil menghembuskan nafasnya kasar.
Kemudian ia memasuki kamar yang telah disewa oleh Fang Je dari penginapan yang berada tidak jauh dari Rumah Singgah Lotus.
Sedangkan Fang Je memilih turun ke lantai utama tempat restoran yang ada di penginapan tersebut, ia duduk sendiri sambil menghubungi Zhang Me menggunakan telepati.
Saat ini Fang Je sedang berada di Penginapan Mawar Emas. Salah satu penginapan besar dan terkenal yang ada dikota Lehan yang berada tak jauh dari tempat Zhang Me.
Sesuai dengan namanya, bahan bangunannya terbuat dari emas, interior yang mewah dan ada banyak tanaman bunga mawar yang aromanya menyebar keseluruh ruangan.
Tak butuh waktu lama, Zhang Me akhirnya tiba disana dan kemudian memasuki penginapan dengan santainya tanpa memperdulikan tatapan yang selalu saja tertuju padanya.
Saat tiba di meja tempat Fang Je, ia menarik kursi lalu duduk dan berkata, "Dimana ibuku?" tanyanya.
Fang Je tak menjawab, ia masih terpaku melihat Zhang Me. Fang Je memang sudah pernah melihat wajah Zhang Me saat di markas Gazuura, tapi tetap saja ia justru semakin terpesona saat melihatnya dari jarak dekat.
__ADS_1
"Heii! apa yang kau lihat?!" teriak Zhang Me sambil memukul meja.
Fang Je dan semua tamu yang ada disana tersentak dari keterkejutan mereka pada Zhang Me.
"Ma-afkan aku tuan..." kata Fang Je gugup.
"Berhenti memanggilku tuan, itu sangat tidak cocok untuk gadis cantik sepertiku..." protes Zhang Me.
Fang Je membuka tutup mulutnya tapi tak mengeluarkan suara, sekarang ia tau bahwa tuannya adalah orang yang senang memuji dirinya sendiri.
"Dimana ibuku?" tanya Zhang Me lagi.
"Dia sedang berada di kamar yang telah aku sewa..." jawab Fang Je.
Zhang Me mengangkat sebelah alis lalu mengedarkan pandangan keseluruh ruangan, "Penginapan ini besar dan mewah, aku rasa uang sewanya pun tak sedikit, dari mana kau mendapatkan uang?" tanya Zhang Me.
Fang Je cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Aku mengambil semua koin milikmu saat kita di markas Gazuura..." jawabnya.
"Kau tidak sopan sekali mengambil milik orang, tapi tak apa, kau sudah seperti sekertarisku..." saut Zhang Me.
"Sekertaris?" tanya Fang Je tak mengerti.
"Maksudku pengawal pribadi..." ungkap Zhang Me dan dibalas anggukan.
"Apa aku bisa duduk disini?"
Zhang Me dan Fang Je menoleh bersamaan, menatap seorang pria yang tiba-tiba saja datang mengahampiri mereka dan menawarkan diri untuk duduk bersama.
Fang Je mengedikkan bahu, "Aku rasa tidak..." jawabnya.
Zhang Me kemudian kembali menatap pria tersebut, "Apa kau mengenal kami?" tanya Zhang Me dengan wajah datarnya.
"Tidak, aku hanya ingin bergabung dengan kalian." jawabnya tersenyum, berusaha untuk memikat Zhang Me.
"Baiklah kau boleh duduk..." balas Zhang Me.
Kemudian Zhang Me berdiri dari duduknya, "Ayo kita temui ibuku dan segera pergi..." ucapnya pada Fang Je.
Fang Je mengangguk lalu beranjak dari tempatnya menuju kamar tempat Meng Ye berada dan diikuti oleh Zhang Me.
Pria yang tadi ditinggalkan begitu saja menjadi kesal, marah dan tak terima atas perlakuan Zhang Me padanya. Pria itu bernama Gong Min.
"Berani sekali dia..." gumam Gong Min jelas menyimpan dendam pada Zhang Me.
Segera ia beranjak dari sana menuju meja yang tak jauh dari tempat Zhang Me tadi.
"Haha! apa yang terjadi Gong Min? dia adalah gadis pertama yang menolakmu..."
"Dia bahkan tak melirikmu seditpun..."
__ADS_1
"Kurasa, pria yang bersamanya tadi adalah kekasihnya..."
"Kau tak perlu cemas, sekarang duduklah dan bayar semua makanan kami..."
"Hahaha!!"
Penghuni meja yang dihampiri Gong Min tertawa bahagia, mereka adalah teman-temannya.
Gong Min datang bersama mereka, ia adalah salah satu pria yang terpesona saat melihat Zhang Me.
Gong Min yang sangat percaya diri dengan wajah tampannya bertaruh akan mendekati Zhang Me dan akan membayar semua makanan teman-temannya jika ia gagal.
"Aku jadi penasaran dengan gadis itu, aku baru melihatnya..." ungkap salah satu dari mereka, ia Joon Guk.
Sae Do Yi, pria disebelahnya memukul kepala Joon Guk pelan, "Apa kau telah mengunjungi seluruh wilayah kekaisaran Qing? Apa kau pikir hanya ada beberapa orang saja yang tinggal disini? Aiiss dasar bodoh..." katanya.
"Diamlah, kalian mengganggu makanku..." protes Geun Soo disela makannya.
Sedangkan Gong Min hanya diam, tangannya yang terkepal ia letakkan diatas meja dengan ekspresi yang masih sangat kesal atas kejadian tadi.
Tak lama Zhang Me muncul bersama dengan Fang Je dan juga Meng Ye. Mereka berjalan keluar penginapan.
"Tunggu!" teriak Gong Min dan melemparkan sendok kearah Zhang Me.
Zhang Me menghentikan langkahnya lalu menangkap sendok tersebut dan kemudian ia lemparkan kembali ke arah Gong Min tanpa menoleh sedikitpun.
"Ayo bu, kita harus segera kembali..." seru Zhang Me kembali melanjutkan langkahnya.
Sementara Gong Min berniat menangkap sendok yang mengarah padanya seperti yang dilakukan Zhang Me, namun ia mengurungkan niatnya setelah menyadari kecepatannya dan lebih memilih untuk menghindar.
"Berani sekali kau!" teriak Gong Min.
Semua pandangan mengarah padanya, Zhang Me yang baru melewati pintu penginapan berjalan menghampiri Gong Min.
"Berani sekali kau? Apa kau tidak mengenaliku ha?" Bentak Gong Min.
"Aku adalah Gong Min, bangsawan yang sangat kaya di kekaisaran ini, aku bahkan bisa membelimu jika aku mau, jadi tak usah bersikap jual mahal." lanjut Gong Min.
Dengan wajah datarnya, Zhang Me berkata, "Jangan menggangguku jika tak ingin aku membunuhmu pria angkuh..." kata Zhang Me memperingati dengan tatapan tajamnya.
Mendengar itu membuat Gong Min menjadi gugup dan goyah, tatapan Zhang Me yang begitu menusuk membuatnya merasa takut untuk sesaat.
Saat tersadar, Zhang Me sudah tidak ada lagi dihadapannya, "Sial! dia sudah pergi..." rutuk Gong Min saat melihat kepergian Zhang Me yang meninggalkan penginapan.
Gong Min kembali duduk dengan perasaan yang masih kesal, "Aku akan mencarinya dan membalas perbuatannya padaku..."
"Gong Min, wajahmu..." seru Sae Do Yi sambil menunjuk kearah pipi sebelah kiri Gong Min.
Gong Min mengerutkan keningnya dan memegang sebelah pipinya.
__ADS_1
Disana terdapat luka goresan yang cukup panjang tapi tak dalam sedang mengeluarkan sedikit darah, itu disebabkan oleh angin yang dihasilkan dari lemparan sendok Zhang Me.
"Siapa gadis itu sebenarnya?" batin Gong Min penasaran.