The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)

The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)
Chapter 24- Pulang


__ADS_3

Diluar toko, Fang Je yang sedang menunggu sudah merasa bosan karena sedari tadi Zhang Me belum juga muncul batang hidungnya. Entah apa yang sedang ia lakukan? pikir Fang Je.


Tak lama, akhirnya Zhang Me muncul dengan penampilan yang sangat berbeda dari sebelumnya.


Zhang Me mengenakan sepasang pakaian dengan warna biru gelap, baju dengan ukuran sepinggang tanpa lengan dan hanya menggunakan tali sebagai pengait sehingga memamerkan leher jenjang hingga belahan dadanya.


Kemudian celana pendek yang hanya mampu menutupi sebagian paha membuat orang yang melihat akan tertarik dan menaruh minat padanya.


Ditambah dengan jubah berwarna hitam pekat yang begitu kontras dengan pakaiannya, membuatnya terlihat elegan dan sangat cocok melekat ditubuhnya.


Plak!


"Berhenti menatapku seperti itu..." ucap Zhang Me saat berada dihadapan Fang Je.


Fang Je tersadar dari keterpesonannya lalu mengusap kepalanya yang dipukul cukup keras oleh Zhang Me dan berkata, "Kau terlalu lama, membuatku bosan saja..."


"Benarkah? Aku justru merasa tidak enak karena membuatmu menunggu terlalu cepat."


Fang Je memasang wajah masamnya mendengar ucapan Zhang Me, jika lebih lama lagi Zhang Me belum keluar maka ia akan meninggalkannya.


"Kau sungguh jelek dengan ekspresi seperti itu, cepat berikan koin padanya..." ucap Zhang Me menoleh kearah pelayan toko yang berdiri disampingnya.


"Dan ambil ini..." tambah Zhang Me sambil menyerahkan bungkusan pakaian dalam yang ia beli pada Fang Je.


Fang Je menoleh melihat gadis yang terlihat seumuran dengannya dan bungkusan yang diberikan Zhang Me, "Apa ini?" tanya Fang Je.


"PakaianbDalam." jawab Zhang Me santai.


Fang Je menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan mengambil sekantong koin emas lalu ia berikan pada pelayan toko.


Pelayan toko sendiri tak bergeming dari tempatnya, ia terus menatap Fang Je, sepertinya ia terpesona melihat Fang Je.


Zhang Me terkekeh geli lalu berbisik ditelinga Fang Je, "Dia sepertinya menyukaimu."

__ADS_1


Fang Je tak perduli dengan perkataan Zhang Me, ia menepuk bahu pelayan toko pelan lalu memberikan sekantong koin emas itu dan berjalan pergi duluan.


"Jeje tunggu!" teriak Zhang Me saat Fang Je meninggalkannya.


"Aku pergi dulu ya, sampaikan salamku pada bibi Fei..." pamit Zhang Me lalu berlari menyusul Fang Je sambil melambaikan tangannya pada pelayan toko.


Pelayan toko tersenyum, ia balas melambaikan tangannya pada Zhang Me lalu memukul jidatnya sendiri karena merasa malu saat memikirkan dirinya ketahuan menatap terpesona pada Fang Je.


Sedangkan Zhang Me yang sudah tak melihat keberadaan Fang Je merasa kesal. Fang Je terlalu cepat menghilang dari pandangannya, membuatnya terpaksa harus berjalan sendirian.


Sambil berjalan Zhang Me mengedarkan pandangannya keberbagai tempat yang ada di pusat perdagangan kota Lehan yang sangat luas ini.


Jalan yang sebelumnya gelap kini menjadi terang karena para pedagang yang mulai menyalakan lampu-lampu jalan dan beberapa lampu agar dapat menerangi toko mereka.


"Aku pikir tempat ini akan sepi saat malam hari, namun nyatanya tidak..." gumam Zhang Me saat melihat orang-orang mulai berdatangan memasuki gerbang keluar masuk pusat perdagangan yang berjarak cukup dekat didepannya.


Berbagai kalangan mulai berkeliaran menelusuri tiap toko dan wajah Zhang Me yang begitu memikat lagi-lagi menjadi pusat perhatian semua orang.


Ia merasa kesal, tadi ia lupa memakai cadar, tapi beruntung ia masih membawa bekas pakaiannya sehingga ia sengaja berjalan ketempat gelap dan langsung merobek pakaiannya lalu ia gunakan sebagai cadar.


Setelah ia melewati gerbang yang berarti sudah keluar dari pusat perdagangan, Zhang Me mengedarkan pandangannya mencari Fang Je karena ia berpikir Fang Je akan menunggunya disini.


Namun bukan Fang Je, ia malah melihat tempat pembuangan sampah sehingga ia berniat ingin membuang pakaian bekasnya yang ia bawa sedari tadi.


Ia menghampiri tempat pembuangan sampah dan langsung berniat membuangan pakaiannya namun terhalang saat ia memegang sesuatu di balik pakaiannya.


Zhang Me kembali membuka pakaiannya dan menemukan plakat miliknya dan sebuah batu berukuran segenggam berwarna hitam pekat yang ia temukan di kantong jubahnya.


Ia mengingat kejadian saat ia tak sengaja menabrak seorang anak laki-laki dan menemukan batu itu, dimana awalnya ia simpan di kantong jubah ayahnya namun ia pindahkan ke kantong jubah yang dibelikan Gue He dan Bo Nan.


"Entah batu apa ini, tapi lebih baik aku simpan saja..." kata Zhang Me menyimpannya bersama dengan plakat di kantong yang ada dibalik jubahnya.


Setelah itu ia membuang semua pakaian bekas yang sudah tidak ia gunakan lagi.

__ADS_1


"Aiss kemana jeje pergi?" ucap Zhang Me pelan kembali mencari kesana kemari.


Hingga sesuatu terlintas dipikirannya dan membuat Zhang Me tersenyum, ia ingat bahwa ia bisa saja membuat Fang Je berada didekatnya kapanpun ia mau.


Dan beberapa detik kemudian, Fang Je muncul didepannya dengan memegang sesuatu ditangannya.


"Apa ini?" tanya Zhang Me mengambil begitu saja sebuah makanan ditusuk yang ada ditangan Fang Je.


"Kau tidak sopan sekali..." kata Fang Je tak suka.


Zhang Me memakan makanan tersebut sambil memejamkan mata menikmati setiap kunyahannya. Sedangkan Fang Je melototkan matanya merasa tak rela saat Zhang Me menghabiskan semua makanan miliknya.


"Dimana kau mendapatkan ini? Sungguh lezat..." ucap Zhang Me sambil menjilati bekas tusukan makanan yang telah ia habiskan.


"Tega sekali kau memakan semua makananku..." saut Fang Je dengan mata berkaca-kaca.


Makanan tersebut adalah sate daging rusa, makanan kesukaan Fang Je yang dihabiskan begitu saja oleh Zhang Me.


"Kau yang tega makan tanpaku." bantah Zhang Me.


"Sekarang katakan dimana kau mendapatkan ini?" tanya Zhang Me, ia ingin lagi.


Fang Je merenggut kesal lalu kemudian menjawab Zhang Me, "Aku membelinya di tempat seorang kakek dipusat perdagangan, aku bahkan belum sempat membayarnya dan kau lancang sekali menarikku menggunakan bayangan..."


"Itu salahmu! karena kau meninggalkanku!" balas Zhang Me nyolot.


Fang Je memutar bola mata malas, "Ayo kita kembali." kata Fang Je.


Zhang Me mengerutkan dahinya, "Tapi aku ingin makanan itu." balasnya menolak sambil menunjuk bekas tusukan yang ia telah ia buang.


"Besok saja, cepat naik, kita harus segera kembali..." ucap Fang Je berbalik, pertanda meminta Zhang Me naik ke punggunggnya.


Zhang Me yang mengerti segera naik dipunggung Fang Je, dan mulai saat ini itu adalah kebiasaannya saat sedang bersama Fang Je.

__ADS_1


"Ayo kita pulang!"


__ADS_2