The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)

The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)
Chapter 39- Turnamen V


__ADS_3

Diikuti oleh ratusan orang Zhang Me berjalan didepan didampingi oleh Ertai dengan perasaan kesal. Selama perjalanan sudah beberapa kali ia menengok ke langit melihat matahari yang hampir terbenam.


Zhang Me berhenti berjalan dan menoleh ke Ertai lalu berkata, "Berapa lama lagi kita akan berjalan?" tanyanya dengan raut kesal.


"Kita akan masuk kebagian dalam hutan dan tiba disana saat langit sudah gelap." jawab Ertai.


"Jangan bercanda! Aku harus kembali sebelum matahari terbenam." saut Zhang Me.


Ertai menjadi panik, ia mulai memutar otaknya untuk bisa menahan Zhang Me agar ikut bersamanya.


"Aku akan duduk disini, dan cepat bawakan makanan yang kau janjikan padaku..." kata Zhang Me menepi ke bawah pohon dan duduk.


"Tapi makanan yang ku janjikan berada ditempat kami, kau harus ikut jika ingin memakannya."


"Aku tidak akan kesana, setidaknya carikan aku makanan yang ada disekitar sini." tolak Zhang Me.


"Tapi-" ucap Ertai terpotong.


"Kau ingin memberiku makanan atau tidak?" kata Zhang Me mengancam.


Dengan wajah pasrah Ertai menoleh pada rekan-rekannya dan memberikan kode untuk pergi mencarikan makanan yang ada disekitar sana untuk Zhang Me.


Seperti biasa Zhang Me bersandar di pohon dengan perasaan senang sambil menunggu makanannya datang. Ia tidak sabar lagi untuk mengisi perutnya yang sudah meminta diisi.


Tidak lama ia menunggu hingga beberapa orang datang membawakannya buah-buahan dan makanan lainnya.


Senyum di wajah Zhang Me merekah melihat makanan didepannya, ada banyak jenis buah yang baru saja dilihatnya tapi terlihat sangat lezat. Selain buah ada banyak daging dan ikan bakar dengan aroma yang menggelitik hidung Zhang Me.


Tanpa basa-basi Zhang Me langsung membuka penutup kepala dan cadar yang menutupi wajahnya lalu langsung menyantap semua makanan yang ada dihadapannya.


"Mmm, makanan ini benar-benar lezat, dimana kalian mendapatkannya?" puji Zhang Me.


"Dan lihat ikan bakar ini, ini sangat segar, dimana kalian menangkapnya? Apa disini ada sungai?"


"Lalu buah berwarna kuning ini, ini sangat manis!" kata Zhang Me kegirangan.


Ia benar-benar menikmati makannya hingga ia tak sadar semua orang fokus menatapnya dan enggan untuk memalingkan wajah darinya.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Zhang Me saat menyadari semua orang tengah menatapnya.


"Apa aku terlalu rakus saat makan?" tanya Zhang dan semua menggeleng menanggapinya.


"Lalu?"


Bukan karena rakus atau apapun itu, tapi Zhang Me lupa bahwa wajahnya mampu membuat siapapun terpanah. Kecantikan yang tidak biasa, kecantikan yang mampu menghancurkan sebuah negara.


"Aiss, reaksi mereka sangat menyebalkan..." kata Zhang Me menyadarinya.


Setelah menghabiskan makanannya Zhang Me membereskan tempat makannya lalu berdiri dan berkata, "Aku telah menyelesaikan makananku, sekarang aku akan pergi..." ungkap Zhang Me.


"Bisakah kau tinggal sebentar lagi? Ada yang perlu kukatakan padamu." cegah Ertai.


"Tidak bisa, matahari sedikit lagi akan terbenam dan aku harus segera kembali..." tolak Zhang Me.


"Kumohon sebentar saja." kata Ertai berusaha membujuk.


"Apa telingamu sedang bermasalah? Aku katakan tidak ya tidak!" bentak Zhang Me.


"Baiklah, kalau begitu kembali lah setelah kau menyelesaikan urusanmu."

__ADS_1


Zhang Me tampak berpikir lalu kemudian bertanya, "Bagaimana aku bisa kembali lagi ke tempat ini?"


"Kau bisa menggunakan berlian tadi." jawab Ertai.


"Berlian?" ulang Zhang Me memperjelas.


"Iya, berlian yang kau bawa tadi."


Zhang Mengerutkan kening, itu hanya sebuah batu bagaimana mungkin Ertai mengatakan jika itu adalah Berlian, pikirnya.


"Baiklah baiklah..."


"Oh ya, siapa namamu?" tanya Zhang Me.


"Ertai..."


Zhang Me mengangguk lalu menunduk untuk mengambil cadarnya dan kembali memakainya lalu berjalan pergi meninggalkan mereka semua.


"Dia pergi..."


"Bagaimana jika dia tidak kembali?"


"Dia harus kembali, aku masih ingin melihat wajahnya yang manis..."


"Kau benar, dia gadis tercantik yang pernah aku temui..."


"Seharusnya aku mengantar dia tadi."


Pak!


"Ah!"


Ia memberikan sebuah pukulan dikepala pada orang yang berdiri disampingnya setelah mendengar perkataannya yang menurut Ertai sangat menggelikan.


***


Peserta yang tersisa kini telah berkumpul di lokasi Turnamen sambil menunggu matahari yang akan terbenam sebentar lagi.


"Babak Kedua kini telah selesai, semua peserta kini berkumpul disini dan akan diumumkan siapa peserta yang gagal dan berhasil ke Babak selanjutnya..." ucap Yin Yin selaku pembawa acara.


"Dengan berat hati aku mengatakan bahwa di Babak Kedua ini ada sembilan plakat yang patah dengan sendirinya disini, yang berarti pemilik plakat tersebut telah tiada di Hutan Keramat..." ungkap Yin Yin penuh penyesalan.


"Dan plakat-plakat yang melayang disana adalah plakat milik kalian yang berhasil membunuh Binatang Buas..."


"Disini juga ada beberapa plakat yang tidak melayang, artinya mereka tidak berhasil membunuh satupun Binatang Buas."


Yin Yin kemudian meraih kotak berisi plakat yang tidak melayang tersebut untuk mengetahui siapa saja nama pemilik yang kali ini gagal di Babak Kedua.


"Ada sebelas plakat disini dan nama-nama mereka yait--"


Sebelum Yin Yin menyelesaikan perkataannya tiba-tiba satu plakat melayang dengan cahaya ungu terang dan angka yang terus bertambah membuat semua orang tercengang. Di plakat tersebut tertulis nama Zhang Me.


"Maaf, aku sedikit terlambat..."


Semua orang menoleh ke sumber suara saat melihat Zhang Me tiba-tiba datang tepat setelah matahari terbenam.


Dengan santai dan tanpa memperdulikan tatapan semua orang Zhang Me berjalan ke arah tempat para peserta lainnya berkumpul.


"Baik, disini tersisa sepuluh plakat yang tidak melayang dan pemilik plakat ini dikatakan gagal dalam Babak Kedua..." ralat Yin Yin.

__ADS_1


"Selain itu, peserta dengan 60 orang yang paling sedikit membunuh Binatang Buas juga gagal dalam Babak ini..." kata Yin Yin memisahkan 60 plakat yang paling sedikit membunuh Binatang Buas.


"Jadi total peserta yang gagal adalah 79 orang, yang berarti tersisa 100 orang peserta yang berhasil lolos ke Babak selanjutnya." jelas Yin Yin.


Suara tepukan keras dari penonton membuat 100 peserta yang lolos menjadi bangga dan bersemangat yang justru tidak berarti apapun bagi mereka yang gagal.


"Turnamen hari ini akan di lanjutkan besok, jadi diharapkan untuk peserta yang lolos agar datang kembali ketempat ini dipagi hari."


"Dan terimakasih untuk kalian yang sudah hadir disini khususnya Kaisar Lang Baeyou, serta para Juri dan juga tamu kehormatan kami..." kata Yin Yin tersenyum ramah.


"Turnamen hari ini ditutup." ucapnya mengakhiri acara.


Semua orang bubar dari tempatnya. dan berhamburan ke berbagai arah. Berbeda dengan Zhang Me yang memilih duduk sebentar.


"Aiss perutku terasa tidak enak karena aku terlalu banyak gerak saat memberikan semua racunku pada binatang-binatang itu, padahal aku baru saja makan banyak..." keluh Zhang Me pelan sambil bersandar dan mengelus-elus perutnya.


"Xixin! Xixin sadarlah!"


"Xixin bangun!"


Zhang Me membuka matanya yang tadi terpejam lalu melihat kesumber suara yang sudah mengganggunya.


Diatas arena pertarungan ada dua orang gadis yang dikenal Zhang Me, mereka adalah Hui Xin dan Mi Yue. Mi Yue tengah menangis sambil memangku kepala Hui Xin yang sedang tak sadarkan diri.


Zhang Me hanya menatap Hui Xin sebentar lalu kembali bersandar dan memejamkan matanya tak peduli.


"Ada apa dengannya?"


Tiba-tiba sikembar Pa Chin dan Pe Chin datang menghampiri Mi Yue yang tengah menangis menghawatirkan Hui Xin.


"Tolong bantu Xixin, kumohon sembuhkan dia." mohon Mi Yue pada sikembar sambil terisak.


Pa Chin dan Pe Chin saling tatap, "Apa yang terjadi dengannya?" tanya Pa Chin.


Dengan suara tersedu-sedu Mi Yue menjawab, "Entahlah, Xixin tiba-tiba pingsan tadi."


Pa Chin menjongkok lalu memeriksa keadaan Hui Xin, "Sepertinya dia keracunan..." tebak Pa Chin.


Tangis Mi Yue pecah. Ia menangis sejadi-jadinya mendengar apa yang dikatakan Pa Chin. Ia sangat kuatir akan terjadi sesuatu dengan Hui xin karena hanya Hui Xin yang ia miliki sekarang.


"Bisa kah kau diam? Kau sangat berisik!" tegur Zhang Me tiba-tiba datang.


Ia merasa risih mendengar tangisan Mi Yue membuatnya menghampiri Mi Yue dengan perasaan kesal.


"Kau, mengapa kau jadi marah? Apa kau tidak lihat Xixin sedang keracunan." kata Mi Yue terbata-bata.


Zhang Me menatap Hui Xin, tubuh dan wajahnya membiru. Menurut perkiraan Zhang Me sepertinya Hui Xin terkena racun dari laba-laba raksasa yang dilawannya saat di Hutan Keramat.


Zhang Me kemudian memasukan sebuh pil ke dalam mulut Hui Xin membuat Mi Yue curiga padanya.


"Apa yang kau berikan pada Xixin? Berani sekali kau!" bentak Mi Yue.


Zhang Me mengerutkan kening tak suka lalu berkata dengan geram, "Menjengkelkan sekali!" kata Zhang Me lalu berbalik pergi dari sana sambil menghentakkan kakinya kesal.


"Hei tunggu! Kau mau kemana?!" teriak Mi Yue berusaha mencegah Zhang Me pergi.


"Lihat dia sadar." ucap Pe Chin menunjuk Hui Xin.


Mi Yue beralih menatap Hui Xin yang menunjukkan reaksi. Perlahan wajah Hui Xin yang awalnya membiru mulai kembali normal dan tak lama ia membuka matanya lalu tersenyum dan berkata, "Yueyue..." ucapnya pelan.

__ADS_1


Mi Yue tersenyum senang, ia bahagia dan langsung memeluk Hui xin erat, ia benar-benar takut kehilangan Hui Xin yang saat ini satu-satunya keluarganya.


__ADS_2