
Kota Lehan adalah salah satu kota sekaligus ibu kota dari Kekaisaran Qing. Kota ini menjadi tempat pusat perdagangan yang sering didatangi oleh pedagang yang berasal dari luar kota Lehan ataupun luar kekaisaran Qing.
Gerbang kota Lehan yang besar dan megah mempunyai dua pintu yaitu, pintu untuk para pedagang dan pengunjung.
Seperti saat ini, gerbang keluar masuk kota Lehan sudah dipenuhi dengan para pedagang dan pengunjung, tak terkecuali Zhang Me dan Feng Lu.
"Gadis kecil, sebenarnya kau ingin kemana?" tanya Feng Lu menatap Zhang Me yang memasang raut kesal karena antrian yang begitu panjang.
"Aku ingin ke sebuah kedai makan yang ada di kota ini, apa paman bisa menemaniku? Ini pertama kalinya aku ke kota ini." jawab Zhang Me.
"Apa nama kedai yang ingin kau datangi? aku akan mengantarmu..."
"Kedai Bunga Kersen Hijau..." saut Zhang Me.
Feng Lu tertegun, "Untuk apa kau kesana gadis kecil?" tanya Feng Lu gugup.
"Kedai itu milik ayah dan ibuku paman..." jawab Zhang Me santai.
Berbeda dengan Feng Lu yang terlihat tegang dan gugup.
Setelah cukup lama mengantri, akhirnya giliran Zhang Me dan Feng Lu menghadap penjaga pintu masuk kota Lehan.
"Tunjukkan identitas kalian." ujar salah satu penjaga pada Zhang Me dan Feng Lu.
Zhang Me mengambil sesuatu dibalik jubahnya dan menunjukkan sebuah kulit pohon berukuran kecil yang terukir namanya.
Berbeda dengan Zhang Me, Feng Lu menunjukkan sebuah plakat yang menunjukkan identitasnya sebagai penduduk kota Lehan.
Penjaga tersebut menerima plakat yang diberikan Feng Lu sambil gemetaran, tidak ada yang tidak tau siapa Feng Lu.
Zhang Me menautkan alisnya melihat reaksi penjaga itu pada Feng Lu. Seberapa menakutkan sebenarnya Feng Lu ini? pasalnya Zhang Me belum pernah bertukar serangan dengannya.
"Ternyata paman penduduk dikota ini?" tanya Zhang Me yang dibalas anggukan oleh Feng Lu.
Sebenarnya Feng Lu bisa saja langsung masuk kota Lehan tanpa menunggu giliran, tapi karena Zhang Me bukan penduduk kota Lehan jadi dia harus menemaninya, sebab tidak mungkin baginya jika harus meninggalkan Zhang Me
"Silahkan." ucap sang penjaga mempersilahkan mereka melewati pintu masuk kota, tetapi terhalang.
Tiba-tiba saja muncul sekelompok orang-orang berkuda yang memakai pakaian berwarna putih dengan gambar bunga anggrek.
Mereka tanpa bersalah memotong antrian dan melewati pintu masuk begitu saja, tanpa memperdulikan raut Zhang Me yang terlihat murka.
"Sialan! Siapa mereka itu hah?! Beraninya bersikap seperti itu!" teriak Zhang Me menarik perhatian semua orang yang ada disana.
"Tenang lah gadis kecil, ayo kita ke tempat ayah dan ibumu..." bujuk Feng Lu sambil mengajak Zhang Me berjalan melewati pintu masuk.
Zhang Me dengan wajah merenggut berjalan mendahului Feng Lu sambil menghentakkan kaki kesal.
Feng Lu berjalan cepat menghampiri Zhang Me yang cukup jauh darinya.
"Gadis kecil, mengapa kau kesal begitu?" tanya Feng Lu walaupun sebenarnya dia tahu penyebab kekesalan Zhang Me.
"Paman, siapa mereka itu?"
"Mereka berasal dari Sekte Anggrek Putih, satu dari lima sekte besar aliran putih yang ada di kekaisaran Qing..."
Dibalik jubahnya, Zhang Me semakin merenggut kesal. Memang mengapa jika mereka berasal dari sekte besar? bukan berarti Zhang Me akan merasa takut.
"Paman, aku ingin kita lebih cepat tiba di tempat ayah dan ibuku..." ujar Zhang Me dan di balas anggukan.
Feng Lu segera melesat dengan ilmu meringankan tubuh dan disusul oleh Zhang Me.
__ADS_1
"Paman, tidak bisakah kau lebih cepat?" ucap Zhang Me.
Feng Lu menoleh menatap Zhang Me, dia akui tidak bisa mengimbangkan kecepatan yang dimiliki Zhang Me.
Sekitar 5 menit akhirnya mereka tiba di sebuah kedai makanan sederhana yang dipenuhi dengan kerumunan pengunjung.
"Waahh sepertinya kedai ayah dan ibu sedang banyak pengunjung..." ujar Zhang Me tersenyum antusias.
Namun dalam sedetik senyumnya menghilang saat mendengar suara pertarungan ditengah kerumunan.
Zhang Me berusaha melihat pertarungan, tapi terhalang dengan kerumunan orang.
Tanpa basa-basi Zhang Me memecah kerumunan dan mendapati dua orang yang tengah bertarung.
"Ayah!"
Zhang Me melambaikan tangan dan melemparkan sebuah pisau miliknya untuk menghalangi sebuah pedang yang hendak mengenai Li An.
Kemudian Zhang Me melesat kearah Li An saat pisau kecil miliknya berhasil mematahkan serangan sekaligus membuat pedang tersebut hancur berkeping-keping.
Semua orang terheran melihat kehadiran sosok berjubah yang tiba-tiba menengahi pertarungan, terutama pemuda yang menjadi lawan Li An sebab pedang tingkat tinggi miliknya hancur berkeping karena sebuah pisau kecil milik Zhang Me.
"Ayah apa kau baik-baik saja?" tanya Zhang Me khawatir.
"Me'er apa itu kau?" tanya Li An menatap sosok berjubah dihadapannya dengan teliti.
"Iya ayah." jawab Zhang Me.
"Mengapa kau bisa ada disini?" tanya Li An.
"Nanti aku beritahu, ayah sebaiknya menelan pil ini terlebih dahulu, ayah cukup terluka parah." saut Zhang Me memberikan sebuah pil.
"Siapa kau?" tanya pemuda yang diketahui namanya adalah Mo Xun.
"Berani sekali kau melukai ayahku." ucap Zhang Me.
Mo Xun mengangkat sebelah alisnya, dia tidak menyangka dibalik jubah tersebut adalah seorang gadis.
"Itu tidak penting, kau telah menghancurkan pedang kesayanganku dan kau harus menanggung akibatnya." ucap Mo Xun menatap remeh pada Zhang Me.
Mo Xun menoleh pada sekumpulan orang yang memakai pakaian sama dengannya lalu meraih sebuah pedang yang diberikan untuknya.
Zhang Me tersenyum menyadari sesuatu, melihat dari pakaiannya, ternyata Mo Xun adalah salah satu murid dari Sekte Anggrek Putih, lebih tepatnya yang telah membuat Zhang Me murka beberapa saat lalu.
"Me'er menghindar, biar ayah yang melawannya." ujar Li An.
"Ayah aku akan melawannya, sudah sejak lama aku tidak bermain..." saut Zhang Me.
Semua orang yang ada disana dibuat semakin penasaran oleh Zhang Me, sebab menganggap sebuah pertarungan hanya sebagai sarana bermain.
"Paman Lu, tolong bantu ayahku." ucap Zhang Me sambil menoleh ke arah Feng Lu yang ada diantara kerumunan.
Mereka yang ada dikerumunan sontak menjauh dari Feng Lu karena mereka tahu Feng Lu adalah sosok yang cukup ditakuti banyak orang. Tapi, dengan santainya sosok berjubah memerintah Feng Lu?
Feng Lu mengangguk sambil berjalan canggung mendekati Li An.
"Me'er mengapa kau bisa mengenalnya? Dia ini bukan orang baik." ujar Li An menatap tajam Feng Lu.
Bukannya menjawab, Zhang Me malah memberi kode pada Feng Lu agar secepatnya membawa Li An pergi.
"Sudah cukup basa-basinya, sekarang terima akibatnya!" ucap Mo Xun.
__ADS_1
Dia mengalirkan tenaga dalam pada pedang yang dipegangnya dan mulai menyerang Zhang Me.
Mo Xun terus menyerang Zhang Me yang memilih pada posisi bertahan tanpa mau membalas serangan dari Mo Xun.
Mo Xun yang merasa dipermainkan mulai geram, ditambah lagi tidak ada satupun serangannya yang mengenai Zhang Me.
"Apa kau meremehkan ku hah!" teriak Mo Xun kesal.
Dibalik jubahnya Zhang Me tersenyum puas hingga Mo Xun melakukan sesuatu padanya.
Mo Xun menggunakan cara licik untuk mengalahkan Zhang Me, dia tahu dibalik jubah adalah seorang gadis sehingga dia menciptakan dua robekan cukup panjang dan lebar pada jubah Zhang Me.
Zhang Me melangkah mundur saat mendapatkan serangan yang mengincar jubahnya, dan melepaskan pisau yang melesat kearah Mo Xun.
Mo Xun bergerak cepat dan berhasil menghindari pisau tersebut, tapi dia tidak tahu bahwa itu hanya untuk mengecohnya, saat puluhan pisau lain melesat dengan kecepatan yang lebih cepat dan berhasil mengenai Mo Xun.
Perlu kalian ketahui, Zhang Me bisa saja menciptakan banyak pisau dengan kemampuannya dan pisau yang selalu ia bawa dibalik sepatunya adalah pisau kesayangan miliknya semenjak pada kehidupan keduanya.
Mo Xun melangkah mundur saat menerima serangan Zhang Me, kini pandangannya jadi berubah pada Zhang Me.
Dia merasa Zhang Me adalah lawan yang sulit dikalahkan dan dia akan serius melawan Zhang Me.
Mo Xun mencabut beberapa pisau yang ada ditubuhnya dan mengalirkan tenaga dalam untuk menghentikan pendarahan pada lukanya.
Mo Xun kembali mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya dan menghasilkan kobaran api di ujung pedang.
Semua yang ada disana terkagum. Sangat sulit menciptakan sebuah elemen yang membutuhkan banyak tenaga dalam, tapi tidak bagi Mo Xun karena memang dia merupakan salah satu jenius yang ada di kekaisaran Qing, dengan usia yang baru menginjak 17 tahun dia telah mencapai pendekar Langit awal.
Berbeda dengan Zhang Me yang masih bersikap tenang setelah melihat perubahan Mo Xun.
Mo Xun kembali menyerang Zhang Me hingga sesuatu membuatnya tersadar bahwa setiap serangan Zhang Me tidak mengandung tenaga dalam, bahkan ia tidak bisa merasakan adanya tenaga dalam pada tubuh Zhang Me.
"Bagaimana mungkin?" ucap Mo Xun.
Dia sudah menerima beberapa serangan dari Zhang Me yang membuatnya terluka cukup parah hingga dia memutuskan untuk melepaskan energi api yang ada dipedangnya ke arah Zhang Me.
Zhang Me yang tidak siap, tidak sempat menghindari serangan Mo Xun.
Mereka yang ada disana mengira Zhang Me telah lenyap terutama Mo Xun yang tersenyum menang.
Tapi semua perkiraan mereka sirna begitu saja saat kobaran api lenyap dan menampakkan gadis cantik dengan tubuh yang terekspos membuat mereka terbelalak.
Tidak ada luka atau goresan sedikitpun pada tubuh Zhang Me, hanya saja jubah miliknya hangus terbakar, dia hanya bisa mempertahankan pakaian hitam dibalik jubah dan topeng yang menutup sebagian wajahnya.
"Sial!" hardik Zhang Me dan melemparkan pisau ke arah Mo xun yang menatapnya terpesona dan berhasil menggores bagian pipi kirinya.
Zhang Me melesat dengan cepat kearah Mo Xun hingga berjarak beberapa senti saja lalu melayangkan pukulan beruntun pada Mo Xun yang membuatnya terlempar jauh dan memuntahkan seteguk darah segar.
Tak lama setelah itu, Mo Xun kehilangan kesadarannya. Semua murid Sekte Anggrek Putih menghampiri Mo Xun dengan cemas lalu segera membawanya menjauh dari tempat tersebut.
"Pergi kalian! jika tidak aku akan membunuh kalian semua!" teriak Zhang Me lantang, membuat mereka tersadar dari lamunan dan segera menjauh dari sana.
Begitupun dengan Zhang Me, dia berjalan memasuki kedai Bunga Kersen Hijau dimana Li An dan Feng Lu menunggunya.
Zhang Me memasuki kedai dengan santai tanpa memperdulikan para pengunjung yang ada didalam kedai menatapnya dengan tatapan minat melihat penampilan yang memamerkan lekuk tubuhnya.
Dan tanpa sepengetahuan Zhang Me, berita tentang aksinya hari ini telah menyebar luas di kota Lehan.
Terima kasih sudah membaca...
Semoga kalian suka yaa sama cerita ini.
__ADS_1
Salam hangat dari author hehe