
Didalam kamar Zhang Me melahap semua makanannya. Entah sudah berapa kali ia memuji makanan buatan Meng Ye.
Meng Ye sendiri hanya tersenyum senang melihat Zhang Me menghabisi semua makanan buatannya dan juga pujian yang diberikan Zhang Me membuat perasaannya menghangat.
Tak lama mereka mendengar suara gaduh dari luar, seperti sedang terjadi kekacauan.
Zhang Me berniat melihat keluar tapi Meng Ye mencegahnya dan malah mengajaknya untuk bersembunyi karena kuatir jika sesuatu terjadi pada putrinya.
Zhang Me menolak, ia bersikeras ingin melihat keluar tapi lagi-lagi Meng Ye memohon sampai berlutut agar Zhang Me tak keluar dan membahayakan nyawanya.
Zhang Me pasrah, ia menyuruh Meng Ye berhenti berlutut dan berjanji tidak melihat keluar dan hanya tinggal diam bersembunyi di dalam kamar seperti seorang pengecut.
Sedangkan diluar keadaan semakin kacau, sekelompok pemberontak menyerang kedai Bunga Kersen Hijau karena memiliki banyak pengunjung.
Pemberontak berniat untuk menjarah para pengunjung dan juga pemilik kedai. Kedai Li An bukanlah satu-satunya target mereka. Sebelumnya sudah ada beberapa tempat yang mereka jarah.
Para pemberontak menyodorkan senjata kepada semua orang, mereka yang memiliki kemampuan segera melawan dan berusaha lolos, meskipun beberapa hanya mendapatkan luka parah.
Sedangkan yang tidak cukup kuat hanya pasrah dan menyerahkan seluruh harta benda yang dimilikinya. Li An sendiri berusaha melindungi pengunjungnya dan bertarung dengan beberapa pemberontak.
Begitupun dengan Fang Je. Ia melawan dengan menyandra dan menyiksa beberapa bayangan milik pemberontak agar si pemilik juga ikut tersiksa.
Terjadilah pertarungan antara kelompok pemberontak dan beberapa pengunjung. Mereka terus bertukar serangan hingga ada yang terluka bahkan tewas.
Kelompok pemberontak unggul dalam pertarungan karena jumlah yang cukup banyak dan tingkatan yang rata-rata berada di tingkat Langit tahap awal membuat lawan kesusahan.
Termasuk Fang Je. Ia sudah membunuh cukup banyak tapi ia juga sudah hampir kehabisan tenaga dalam karena teknik bayangan yang ia gunakan berkali-kali.
Berbeda dengan Li An yang terlihat masih sanggup, tapi jika musuh dalam jumlah banyak maka sama saja tak ada gunanya.
Ditengah pertarungannya, ia terus melihat ke arah dapur, berharap agar Zhang Me dan Meng Ye tak keluar dari sana. Ia juga mengedarkan pandangannya keseluruh kedai yang sudah hancur dan beberapa pengunjung yang bertarung.
Li An merasa tak ada pilihan, ia berhenti menyerang lalu berkata menyerah dan akan memberikan semua uang miliknya.
"Semuanya hentikan!" salah satu dari kelompok pemberontak berteriak.
Semua nya berhenti menyerang, terlihat senyum puas dari bibir para pemberontak.
Sesuai perkataannya, Li An mengambil semua uangnya dan diberikan pada pemberontak
__ADS_1
Setelah mengambil semua hasil jarahannya, kelompok pemberontak pergi dari sana dengan perasaan senang karena mendapat penghasilan banyak.
Barulah Zhang Me dan Meng Ye muncul dari arah dapur, mereka memutuskan untuk segera melihat keluar saat sudah tidak mendengar suara gaduh.
Zhang Me dan Meng Ye langsung menghampiri Li An dan Fang Je. Meng Ye memeriksa luka keduanya.
Berbeda dengan Zhang Me yang hanya memasang ekspresi datar sambil mengedarkan pandangannya keseluruh kedai yang sudah hancur dengan perabotan yang sudah tidak dapat digunakan lagi.
Tidak hanya itu, beberapa mayat tergeletak dimana-mana dan mereka yang keluar meninggalkan kedai dengan kondisi terluka.
Kemudian Zhang Me beralih menatap Li An dan Fang Je secara bergantian dan berkata, "Apa kalian terluka?" tanya nya.
Mereka yang ditanya serentak menggeleng, meskipun sebenarnya Zhang Me tau bahwa mereka dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Zhang Me meraih tangan Fang Je dan mengalirkan energi qi miliknya. Fang Je memgerutkan keningnya, ia tak tahu apa yang dialirkan Zhang Me padanya.
Ia merasa sesuatu yang hangat menjalari seluruh tubuhnya dan membuatnya kembali ke kondisi prima, awalnya ia mengira Zhang Me akan memberikan tenaga dalam namun nyatanya tidak.
Tapi ia tak terlalu memikirkan itu sebab energi yang dialirkan Zhang Me membuatnya merasa seperti memiliki banyak tenaga dalam.
Hal yang sama dilakukan Zhang Me pada Li An. Seperti yang dirasakan Fang Je, Li An juga merasakan hal yang sama. Rasa hangat dan kondisi yang kembali prima.
Li An menggeleng lalu menatap Meng Ye yang juga menatapnya, meskipun mereka belum lama bersama Zhang Me tapi mereka tau saat Zhang Me bersikap dingin, maka itu pertanda bahwa ia sedang marah dan siap untuk meledak.
Berbeda dengan Fang Je yang tidak mengetahuinya, ia melihat Zhang Me aneh karena tak biasanya dia bersikap seperti itu.
Zhang Me menoleh, ia melihat salah satu pemberontak yang berhasil dikalahkan masih hidup.
Ia berjalan menghampirinya, tatapan tajam yang diberikan Zhang Me membuat seluruh tubuhnya merinding karena merasa terintimidasi.
"Katakan siapa kalian? Mengapa kau berani sekali menyerang tempat ini?" tanya Zhang Me menekan setiap katanya.
Pria botak yang ditanya merasa gugup, untuk mengeluarkan suara saja ia merasa tidak bisa karena tekanan yang diberikan Zhang Me, "Kami adalah pemberontak, jadi wajar saja jika kami melakukan pemberontakan..." jawabnya dengan susah payah.
"Kau benar, tapi tempat ini bukan tempat yang wajar untuk kau usik, apalagi jika berani melukai orang terdekatku." balas Zhang Me dengan penuh tekanan.
Zhang Me menjongkok, ia memperhatikan pakaian yang dipakai pria tersebut, ia merasa familiar dengan pakaian itu.
Kemudian ia meraih leher pria tersebut dan mencekiknya keras, "Sekarang katakan, kalian kelompok pemberontak dari mana?" tanya Zhang Me terlihat sedang memastikan.
__ADS_1
"Jika kau mau mengatakannya, maka aku akan mengampuni hidupmu..." tambah Zhang Me menawarkan.
"Tenang saja, aku adalah orang yang menepati janji..." tambah Zhang Me berusaha meyakinkan.
Pria tersebut mengangguk dan segera Zhang Me melonggarkan cekikannya agar pria tersebut dapat bicara.
Sebelum mengatakan apapun, ia terbatuk dan menarik napas dalam-dalam lalu kemudian berkata, "Kami dari Organisasi Musang Merah darah." katanya.
Zhang Me mengangkat kedua sudut bibirnya, "Dasar hama-hama pengganggu..." senyuman yang terlihat berbeda dari sebelummya, alih-alih manis, senyumannya kali ini terlihat menyeramkan
"Siapa yang memimpin kelompokmu?" tanya Zhang Me lagi.
"Dang Dii..." jawabnya.
"Baiklah..."
Krak!
Setelah semua pertanyaannya dijawab, Zhang Me tanpa lama-lama mematahkan leher pria tersebut.
"Jangan marah, aku hanya berjanji untuk mengampuni hidupmu, bukan membiarkanmu untuk tetap hidup..." kata Zhang Me sambil menatap mata pria tersebut yang sedang melotot padanya.
"Sesuai janji, ini adalah ampunan dariku untuk hidupmu, yaitu dengan tidak menyiksamu sebelum tiada..." ucap Zhang Me dingin.
Ia kemudian berdiri dan kembali menghampiri Fang Je, Li An dan Meng Ye yang menatapnya horor.
Seperti yang selalu Fang Je saksikan, kelakuan Zhang Me yang tanpa ampun.
Berbeda dengan Li An dan Meng Ye yang syok karena memang mereka tidak pernah melihat Zhang Me menyakiti dan bahkan berani membunuh orang.
"Kalian terlihat sangat lelah setelah melayani banyak pengunjung..." ungkap Zhang Me menatap mereka bertiga.
"Hmm, maaf jeje sepertinya kau belum bisa tidur, aku ingin kau mencari tau terlebih dimana letak markas utama Organisasi Musang Merah Darah." tambah Zhang Me.
Fang Je mengangkat sebelah alisnya karena bingung, ia ingat jelas saat diistana kekaisaran bagaimana Zhang Me memperlihatkan plakat pemimpin utama Organisasi Musang Merah Darah pada bawahannya yang berarti ia adalah pemimpin, namun mengapa ia tidak mengetahui markasnya? pikir Fang Je.
"Jeje..." tegur Zhang Me dan dibalas anggukan oleh Fang Je sebagai respon atas permintaannya.
"Ayo ibu, lebih baik kita tidur lebih dulu karena besok adalah hari yang sangat panjang..." lanjut Zhang Me tersenyum sambil merangkul bahu Meng Ye dan berjalan bersama kearah kamar yang ada dibagian dalam dapur, tempatnya tadi.
__ADS_1
Sedangkan Li An dan Fang Je memutuskan untuk membuang mayat-mayat yang berserakan dan membersihkan kedai agar tak terlihat berantakan.