
Tidak sesuai perkataan, Zhang Me dan Fang Je baru ingin menemui pemilik penginapan saat matahari sudah berada tepat diatas kepala dan dengan ganas menyebarkan sinarnya yang terasa menyayat saat menyentuh kulit.
Bukan salah Fang Je yang tidak menepati perkataannya, bahkan sebelum pagi ia sudah bersiap-siap namun apalah daya ia belum memiliki keberanian yang cukup untuk membangunkan Zhang Me dari tidurnya yang nyenyak dan memilih membiarkan Zhang Me tertidur hingga siang tiba.
Zhang Me terbangun dari tidurnya, ia merasakan tenaganya telah kembali terisi penuh dan dengan semangat berjalan ke arah kamar mandi yang hanya dibatasi dengan sehelai kain panjang.
Tidak sebentar, cukup lama ia berada di dalam kamar mandi sebab ia masih menyempatkan untuk memejamkan matanya. Sedangkan Fang Je yang sudah sedari tadi menunggu didepan pintu kamar Zhang Me berusaha untuk bersabar dan membujuk hatinya agar bisa tenang dari kekesalan yang dirasakannya.
"Wah Jeje? Apa kau menungguku? Kebetulan sekali saat ini aku sangat lapar..." kata Zhang Me muncul di balik pintu.
Fang Je tidak menjawab, ia terpaku melihat Zhang Me. Tidak pernah sekalipun Zhang Me tidak membuat dirinya kagum dengan sosoknya yang begitu menawan.
"Kau sudah sering melihatku jadi berhenti menatap ku seperti itu." tegur Zhang Me.
Fang Je tersadar dan langsung berkata, "Kita harus cepat, ada yang sedang menunggu kita."
"Tapi aku kelaparan..." balas Zhang Me.
"Tidak ada waktu untuk itu."
Fang Je langsung berjalan duluan didepan dan Zhang Me mengikutinya dibelakang. Saat mereka sampai di lantai dasar, tampak wajah tak asing tengah menatap keduanya.
"Maaf atas keterlambatan kami..." ujar Fang Je pada seorang gadis muda yang tampak seumuran dengannya tengah duduk bersama Wang Ling dan Wang Rong.
"Apa bisa kita berbicara ditempat yang lebih tertutup?" tanya Fang Je namun tak ada satupun yang memperdulikannya.
Sedangkan Zhang Me hanya menghembuskan nafasnya kasar, semakin lama ia merasa risih dengan ekspresi terpana semua orang. Ia merasa menyesal melepas tudung nya hanya karena tak nyaman sebab dipandang seperti itu membuatnya lebih tak nyaman.
Zhang Me bergerak, ia berjalan mengambil sebuah kursi kosong lalu membantingnya secara kasar dan tanpa ampun hingga menghasilkan suara yang keras.
"Berhenti menatap ku jika tak ingin mata kalian pindah dari tempatnya." kata Zhang Me memberikan tekanan kuat pada semua orang yang ada di lantai dasar.
Semua orang langsung mengalihkan pandangannya dan menatap ke lain arah karena tak ingin kehilangan mata yang merupakan salah satu aset berharga ditubuh mereka.
__ADS_1
Melihat Zhang Me yang kesal Fang Je hanya bisa menghela nafas namun yang menarik perhatiannya yaitu selain dirinya Wang Ling, Wang Rong dan Yiang Hina, gadis yang merupakan pemilik penginapan sama sekali tidak terintimidasi oleh tekanan yang dihasilkan Zhang Me.
Meskipun tampaknya Zhang Me sengaja memberikan tekanan yang tidak seberapa kuatnya namun orang yang pertama kali menerimanya pasti akan tertekan seperti dirinya dulu.
"Berhenti menatap ku seperti itu atau ku hancurkan tempat ini!"
Fang Je terkejut, tiba-tiba Zhang Me sudah berada di dekatnya dan mengancam ketiga orang yang masih belum tersadar.
"Jangan terlalu mencolok, kau harus membiasakan dirimu..." ucap Fang Je pelan pada Zhang Me.
Mendengar perkataan Fang Je membuat Zhang Me kembali tersadar dan menjadi sedikit lunak. Entah mengapa semenjak menjalani kehidupan keduanya, ia menjadi lebih mudah kesal dan memiliki emosi yang tak menentu padahal jiwanya sudah berusia puluhan tahun atau bisa saja ini terjadi karena jiwanya menyesuaikan dengan dirinya yang masih anak-anak.
"Bisa kita bicara sekarang?!" ujar Fang Je setengah berteriak membuat Wang Rong, Wang Ling dan juga Yiang Hina kaget.
"Maaf karena sudah lancang, aku hanya kagum dan terpana melihat kecantikan luar biasa milik nona..." ucap Yiang Hina.
Zhang Me mengerutkan dahinya mendengar ucapan Yiang Hina, ia tahu ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya sama sekali tidak tulus.
"Karena semuanya sudah disini, kita akan berangkat sekarang." ucap Yiang Hina.
Meski tidak tahu apapun Zhang Me hanya diam mengikuti semuanya masuk ke dalam tandu yang dibawa oleh kereta kuda tanpa ada niat sedikitpun untuk bertanya.
Didalam tandu terdapat dua kursi panjang yang saling berhadapan. Zhang Me duduk sejajar dengan Fang Je sedangkan kursi didepannya terdapat Wang Ling, Wang Rong dan juga Yiang Hina.
"Wahh, aku tidak menyangka ternyata salah satu dari kalian terdapat seorang gadis yang begitu cantik..." ucap Yiang Hina mencoba membuka bicara.
"Aku bahkan tidak menyangka bahwa gadis dibalik tudung bisa secantik ini..." balas Wang Ling yang tak berhenti menatap kagum pada Zhang Me.
Sedangkan Wang Rong mengusap wajahnya dengan tangan lalu berkata, "Aku bahkan sulit mengalihkan pandangan ku darinya..."
Yiang Hina tersenyum kecut, didalam hatinya ia merasa iri sebab selama ini tidak ada yang pernah menatapnya seperti semua orang menatap Zhang Me padahal dirinya merupakan gadis berbakat, berprestasi dan juga tercantik di Kerajaan Suci. ia merasa posisinya terancam.
"Bagaimana mungkin ada orang secantik dia?" batin Yiang Hina.
__ADS_1
Tanpa sadar ia menatap Zhang Me dari atas sampai bawah. Meskipun pakaian Zhang Me terlihat aneh tapi sangat cocok di tubuhnya. Pakaian yang begitu terbuka dan memamerkan lekuk tubuhnya yang indah.
"Bahkan miliknya terlihat sangat bagus." kata Yiang Hina masih membatin saat pandangannya berhenti di bagian dada Zhang Me yang menunjukkan belahan dadanya.
"Jika dilihat dari pakaian tampaknya kalian berasal dari tempat yang jauh." kata Yiang Hina.
Zhang Me diam menatapnya tanpa ekspresi, ia memakai pakaian modern yang pernah ia minta untuk dibuatkan, sangat berbeda dengan pakaian gadis didepannya yang terlihat lebih besar dari tubuhnya dan memiliki banyak hiasan.
Yiang Hina tersenyum kecut, ia tidak menyangka jika gadis didepannya sangat sulit untuk diajak bicara, "Baiklah, sekarang aku akan mengatakan maksud mengapa aku ingin bertemu kalian..." Yiang Hina mengganti topik dan berusaha mencairkan suasana setelah Zhang Me mendiamkannya.
"Sebenarnya ada masalah dan sangat mengganggu di kerajaan ini...."
Yiang Hina mulai menjelaskan. Di Kerajaan Suci terdapat sungai yang digunakan masyarakat dan merupakan sumber kehidupan. Sungai tersebut disebut dengan Sungai Suci, konon katanya sungai tersebut merupakan anugrah yang diberikan oleh Dewa.
Dari dulu hingga sekarang Sungai Suci merupakan aset paling berharga dan sangat dibanggakan oleh semua masyarakat Kerajaan Suci. Sungai tersebut memiliki air yang sangat jernih, ikan dan binatang laut yang tak ada habis nya mampu memenuhi kebutuhan semua orang.
Setetes saja airnya menyentuh tanaman yang sudah mati maka tanaman itu akan langsung hidup kembali dan tumbuh subur. Tidak hanya itu, air Sungai Suci juga menjadi air yang mampu mengobati banyak jenis penyakit.
Namun sejak beberapa hari yang lalu kegelisahan mulai muncul karena tanpa sebab air Sungai Suci berubah menjadi hitam pekat dan beberapa binatang ternak yang tak sengaja meminum airnya tewas dengan seluruh tubuh menjadi abu seperti habis terbakar.
Semenjak kejadian tersebut Raja Kerajaan Suci memutuskan untuk meminta beberapa pengawalnya untuk menjaga sungai tersebut agar tak ada seorangpun yang mendekat.
Selain itu Raja juga mengumpulkan beberapa orang hebat dan berpengaruh di Kerajaan Suci untuk bersama-sama mencari solusi atas permasalahan tersebut atau akan berakibat pada masyarakat Kerajaan Suci.
Orang tersebut adalah Yihen Wang Kepala Serikat Petualang, Huo Yunshen Kepala Asosiasi Penjinak, Huo Yunting Kepala Asosiasi Alkemis dan yang terakhir Yiang Hina orang yang memiliki banyak penginapan di Kerajaan Suci.
Keempat orang tersebut merupakan orang yang bekerja di bawah pemerintahan Raja Kerajaan Suci sehingga mereka juga wajib melakukan atau membantu Raja saat diminta.
Berhubung dengan masalah tersebut, Yihen Wang selaku Kepala Serikat Petualang mendapat kabar dari bawahannya yang bertanggung jawab atas Serikat Petualang bahwa ada empat orang yang baru mendaftarkan dirinya sebagai petualang serta memiliki tingkatan yang tinggi.
Oleh karena itu Yihen Wang langsung membeberkan kabar tersebut kepada yang lainnya sehingga Raja meminta untuk mencari mereka agar bertemu dengannya dan beruntung saat mencari ternyata mereka menginap di salah satu penginapan milik Yiang Hina.
"Jadi maksudmu saat ini kita sedang menuju ke kerajaan suci?" Tanya Wang Rong.
__ADS_1
Yihan Hina mengangguk sebagai balasan sambil memperhatikan Zhang Me yang sudah terlelap tidur mendengar ceritanya, "Bagaimana bisa dia tidur saat aku sedang menjelaskan semuanya?!" pekik Yiang Hina dalam hati dengan penuh kekesalan.