
Tangan Zhang me gemetaran, darahnya terasa mendidih dengan mata memerah yang menahan amarah.
Auranya merembes keluar dan membuat semua orang yang ada disana menjadi tertekan tanpa terkecuali.
Setelah beberapa saat Zhang Me menarik kembali auranya saat menyadari Meng Ye yang ikut tertekan karena auranya.
Membuat semuanya bernafas lega setelah tertekan sesaat oleh aura yang sama sekali tidak mereka ketahui.
"Fang Je, bawa ibuku keluar dari sini..." kata Zhang Me menyerahkan Meng Ye.
"Tuan biar aku saja yang mengurusnya..." protes Fang Je.
"Sebenarnya cukup untuk kau sendiri, terkecuali untuk orang yang berani menyentuh ibuku, aku akan membunuhnya." ungkap Zhang Me.
Fang Je mengangguk, ia kemudian menuntun Meng Ye yang masih syok keluar dari tempat tersebut.
Dan tinggallah Zhang Me yang menatap bengis pada pria berbadan besar yang tadi dengan beraninya melempar Meng Ye dan membuatnya terluka.
Zhang Me menggerakkan tangannya lalu menarik penutup kepala pada jubahnya ke belakang sehingga menampakkan sosoknya.
Wajah bertopeng setengah dan rambut panjang yang terikat.
"Apakah dia seorang gadis?" pertanyaan yang ada dibenak mereka saat melihat sosok Zhang Me.
Ia kemudian meraih belati miliknya lalu tersenyum dan berkata, "Berani sekali kau menyentuh ibuku..." katanya sambil menggerak-gerakkan belatinya.
"Katakan siapa namamu!" bentak Zhang Me kemudian dan membuat semua orang kaget.
Bukan tanpa alasan, mereka merasakan ada sesuatu pada suara Zhang Me yang langsung menyerang jiwa mereka dan seketika menyebabkan mereka menjadi lemah, seolah energi mereka telah terkuras habis.
Tanpa disadari, Zhang Me dengan secepat kilat melesat ke arah pria itu dan berhasil membuat sebuah karya goresan pada lehernya.
Pria itu tersenyum, ia meraba lehernya yang berdarah lalu kemudian menjilati sendiri darah yang melekat pada tangannya.
"Kau ternyata orang yang tak sabaran..."
"Aku Heu Yon Do, Tidak ada salahnya kau mengetahui nama orang yang akan mengakhiri hidupmu..."
Zhang Me menggertakkan giginya menahan amarah, dan berteriak sekeras mungkin.
"Berani sekali kau menyentuh ibuku!"
Zhang Me dengan kecepatan yang luar biasa terus saja melemparkan serangan pada Heu Yon Do yang hanya bisa pada posisi bertahan.
__ADS_1
Ekspresi sombong Heu Yon Do kini hilang, dalam benaknya ia khawatir sebab serangan yang dilemparkan Zhang Me mulai membuatnya kewalahan dan bahkan tak memberinya kesempatan untuk menyerang balik.
Zhang Me sendiri tak memperdulikan sekitarnya, ia terus saja menyerang Heu Yon Do dengan kecepatan yang sama dan berhasil membuat banyak goresan panjang diseluruh tubuh Heu Yon Do.
Heu Yon Do pun meringis menahan sakit, pergerakannya juga semakin lambat tetapi Zhang Me tak berhenti, ia terus saja menyerang Heu Yon Do diberbagai arah dan menciptakan lebih banyak goresan lagi.
Semua yang ada disana membulatkan mata tak percaya, bagi mereka kecepatan dan ketepatan Zhang Me dalam menyerang sangat luar biasa.
Bagaimana tidak? kecepatan Zhang Me menyebabkan terjadinya angin kencang dan membuat seluruh perabotan yang ada ditempat tersebut terlempar kesana kemari dan hancur, seolah terjadi badai ditempat itu.
"Aku harus memanggil tuan Lee..."
Pelayan yang bekerja di tempat tersebut beranjak dari tempatnya berniat untuk memanggil atasannya agar menghentikan kekacauan sehingga tidak terjadi kerugian.
Sedangkan Heu Yon Do tak lagi menghindar atau menepis serangan Zhang Me, ia hanya berdiri ditempatnya dan menerima semua serangan Zhang Me sambil meraung kesakitan dan meminta pengampunan Zhang Me.
"Tolong hentikan! Maafkan aku kumohon!" pekik Heu Yon Do terdengar pilu.
Zhang Me tersenyum, ada kepuasan yang ia rasakan saat mendengar teriakan pilu Heu Yon Do sehingga ia memilih menghiraukan dan terus menyerang seluruh tubuh Heu Yon Do dengan sangat kejam.
Heu Yon Do tak bisa menahan lagi, ia bahkan sudah tak mampu memopang dirinya sendiri sehingga terjatuh dengan seluruh tubuh dan juga wajah yang dipenuhi darah akibat goresan yang sangat dalam dari hasil karya Zhang Me.
Zhang Me berhenti menyerang, ia menatap Heu Yon Do yang sudah tidak berdaya lagi sambil tersenyum lalu berkata, "Aku bahkan belum selesai tapi kau sudah ingin mati?"
Zhang Me tertawa sangat keras sehingga menggema keseluruh ruangan, "Kau bahkan tak pantas mendapat maafku..." katanya dingin.
Zhang Me mendekat menghampiri Heu Yon Do kemudian berjongkok dan menatapnya dengan jarak cukup dekat dan membuat Heu Yon Do sempat terpesona sekaligus penasaran oleh sosoknya.
Kemudian ia meraih salah satu lengan Heu Yon do dan menempelkan belatinya disana lalu ia mengiris-iris pelan lengan tersebut seolah itu daging hewan.
"Haaaaaa!!" teriak Heu Yon Do menyayat dan Zhang Me suka itu.
Zhang Me terus mengiris-iris ditempat yang sama sehingga pada akhirnya lengan Heu Yon Do terputus membuktikan betapa tajam belati miliknya.
Teriakan lirih Heu Yon Do menggema keseluruh ruangan, tetapi Zhang Me tak menghentikan aksinya, ia terus mengiris-iris bagian tubuh Heu Yon Do, dari kedua lengan, kaki, telinga, perut dan yang terakhir leher. Begitulah proses kematian Heu Yon Do di tangan Zhang Me.
Sambil tersenyum, Zhang Me berdiri dan menatap tubuh Heu Yon Do yang tak utuh lagi dan beralih menatap bandit-bandit yang telah menertawai ibunya.
Keringat dingin menjalar keseluruh tubuh mereka, tatapan Zhang Me seolah menargetkan mereka.
Tanpa aba-aba Zhang Me langsung melesat kearah mereka tetapi terhalang saat merasakan sesuatu mengarah padanya sehingga membuatnya menoleh.
'Tak'
__ADS_1
Yang benar saja, sebuah pisau yang mengarah padanya berhasil membuat topengnya retak dan terjatuh.
"Berani sekali kau mencampuri urusanku..." ucap Zhang Me pada pria yang telah menyerangnya.
Pria tersebut terdiam, ia mematung ditempat melihat wajah Zhang Me yang tidak lagi mengenakan topeng.
Zhang Me menghiraukan pria tersebut dan kembali fokus pada targetnya, "Kalian tidak akan bisa lolos!" ucap Zhang Me kembali melesat ke arah bandit-bandit tersebut.
'Set' 'Set' 'Set' 'Set'
Hanya dengan waktu singkat, Zhang Me berhasil memenggal kepala mereka dengan sekali serangan setiap orang.
Setelah selesai, Zhang Me menyimpan kembali belatinya lalu menepuk-nepuk kedua tangannya membersihkan debu yang menempel.
Zhang Me berbalik, menatap heran pada pelayan yang bekerja ditempat tersebut dan juga pria yang tadi sedang menatapnya penuh arti.
Zhang Me mengedikkan bahunya tak perduli, dan berjalan keluar dari tempat tersebut.
"Tunggu!"
Zhang Me berhenti berjalan lalu menoleh, "Ada apa?" tanya Zhang Me.
"Kau tidak bisa pergi dari sini setelah menghancurkan tempatku."
Zhang Me memperhatikan sekitarnya, tempat itu benar-benar berantakan karenanya. Meja, kursi, dan perabotan lainnya hancur dan patah, tiang yang memopang bangunan tingkat tiga tersebut terdapat retak dan bisa runtuh kapan saja.
"Kau telah membiarkan para bandit-bandit itu datang ketempat ini dan melukai ibuku lalu kau juga dengan berani telah menyerangku, apa kau masih punya malu untuk meminta sesuatu dariku?" kata Zhang Me menekan setiap katanya lalu kemudian pergi dari sana.
Tak ada yang menghentikannya, ia dibiarkan begitu saja. Mereka terlalu kaget mendengar perkataan Zhang Me yang terdengar sangat horor.
"Bagaimana mungkin seorang gadis bisa melakukan ini?" kata pria tersebut sambil menatap bangunan miliknya
Kemudian beralih menatap mayat yang tergelak akibat ulah Zhang Me, "Dia terlalu kejam untuk seorang gadis sepertinya..."
Ia adalah Lee Choi, pemilik Rumah Singgah Lotus.
"Tapi tuan, bukankah ia sangat cantik?" seru salah satu pelayannya.
Le Choi tersenyum, "Aku ingin tau siapa gadis itu." katanya.
Terimakasih sudah membaca:')
Salam hangat^^
__ADS_1
Tidak ada yang tidak terpesona saat melihat wajah halus yang dimiliki Zhang Me.