The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)

The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)
Chapter 51- Pamit


__ADS_3

Seminggu berlalu, usai turnamen Zhang Me hanya berdiam diri di rumah milik orang tuanya yang berada didekat hutan.


Hari-hari ia lewati dengan bersantai dan jauh dari keramaian serta masalah. Sangat jarang ini terjadi namun bukan tanpa sebab, ia memilih untuk menghilang sementara karena sejak beberapa kejadian di turnamen sangat banyak orang yang mencarinya dan bahkan ingin menemuinya.


Zhang Me berencana ingin menambah masa bersantainya namun rasanya malah menjadi membosankan. Berbeda dengan kehidupan sebelumnya yang sudah modern dan terdapat benda-benda elektronik, handphone serta internet.


Meski begitu ia tak henti-henti memikirkan bagaimana cara agar kembali ke dunia kultivator setelah mendengar perkataan Mi Yue beberapa hari yang lalu.


Mungkin karena jiwanya telah terhubung dengan tubuh Zhang Me membuatnya merasakan apa yang dirasakan oleh tubuh yang bukan miliknya ini.


Sampai sekarangpun dirinya masih bingung apakah jiwa dari pemilik tubuh yang sebenarnya sudah meninggal atau belum? Dan bagaimana kondisinya di dunia sebelumnya?


Kejadian ini benar-benar membuatnya tak habis pikir, ini terlalu mustahil jika harus dipikirkan namun semuanya telah terjadi padanya yang berarti ini adalah kenyataan.


"Hei!"


Zhang Me terperanjat kaget dari tempatnya karena kehadiran Fang Je yang tiba-tiba muncul dan menyapanya secara tidak sopan.


"Jeje!" geram Zhang Me sambil menunjukkan ekspresi garangnya.


"Kau membuatku terkejut, bisa kah kau muncul dengan sedikit keren?" ucap Zhang Me kesal.


"Sepertinya tidak." jawab Fang Je.


"Lagipula ada apa denganmu? Beberapa hari ini kau hanya berdiam diri disini? Bukankah kau sangat suka mencari masalah?" tambahnya.


"Aku hanya ingin sedikit bersantai saja dan menikmati kesendirian ini..." saut Zhang Me sambil tersenyum lebar.


"Sepertinya berlama-lama disini membuatmu menjadi hilang akal."


"Tapi aku jadi merindukan ayah dan ibu, kedai yang sekarang cukup ramai membuat mereka tak punya waktu untuk kembali ke rumah." ucap Zhang Me.


"Jadi aku memutuskan untuk menemuinya!" sambungnya dengan nada bersemangat.


"Aku akan bersiap-siap dulu." ungkapnya lalu pergi meninggalkan Fang Je.


Fang Je hanya menggelengkan kepala sambil mengusap-usap telinganya yang hampir pecah karena suara Zhang Me.


Sambil menunggu Zhang Me bersiap-siap, Fang Je memutuskan untuk menuju dapur dan membuat sesuatu yang bisa mengisi perutnya karena saat ini ia sedang kelaparan.


Dengan lihai ia memotong sayuran dan daging menggunakan pisau serta tanpa ragu memasukkan beberapa bumbu kedalam kuali yang ada diatas tungku api seolah dirinya sudah biasa melakukan ini.


Setelah selesai Zhang Me menghampiri Fang Je dengan memakai jubah seperti biasanya, namun kali ini Zhang Me tidak lagi menutupi wajahnya, toh sudah banyak yang melihatnya.


"Hm, aromanya wangi sekali..." ucap Zhang Me sambil mengendus-endus kan hidungnya ke kuali.


"Menjauh sana, wajahmu bisa terbakar."

__ADS_1


Dengan wajah murung Zhang Me menjauh dan duduk di kursi makan sambil memperhatikan Fang Je yang terlihat mahir dalam memasak.


Kemudian Fang Je terlihat mengangkat kuali dari tungku dan memindahkan masakannya di mangkuk berukuran sedang.


Zhang Me dengan buru-buru mengambil satu mangkuk untuknya dan langsung mencicipinya.


"Aww, panas!" Pekiknya Zhang Me sambil mengipasi lidahnya yang kepanasan dengan tangan.


Fang Je tertawa meledek dan berkata, "Kau sungguh tak sabaran."


Lagi-lagi Zhang Me memasang ekspresi murungnya dan memilih bersabar untuk menunggu makanannya dingin.


Hanya makanan sederhana dengan berbagai macam sayuran dan daging serta rempah-rempah wangi yang dijadikan satu, jika dikehidupan sebelumnya ini seperti sup namun ini tampak sangat enak dan menggiurkan.


Disisi lain tepatnya di Kedai Bunga Kersen Hijau, Li An tampak bingung mengahadapi beberapa yang mendatangi kedai hanya untuk menemui putrinya Zhang Me.


Membuat Li An curiga, bahwa putrinya telah berbuat masalah sehingga beberapa hari ini Zhang Me memilih tinggal dirumah dengan alasan ingin bersantai.


Dirinya bahkan tak bisa menghitung sudah berapa banyak surat yang ditinggalkan orang-orang untuk Zhang Me.


"Dimana gadis itu? Gadis yang bernama Zhang Me."


"Kudengar ia adalah putri pemilik kedai ini yang berarti gadis itu adalah putrimu..."


"Cepat panggil dia dan biarkan aku menemuinya."


"Aku juga ada pesan untuknya."


Li An semakin pusing, ia memijit pelan dahinya untuk mengurangi sedikit saja rasa sakitnya.


"Kumohon tenanglah!" teriak Li An dan membuat semuanya terdiam.


"Aku tidak tau kesalahan apa yang dibuat putriku hingga banyak orang yang mencarinya seperti ini, tapi mohon maaf karena saat ini putriku sedang pergi ketempat yang cukup jauh untuk urusan tertentu." jelas Li An berharap agar semua mau mendengarkannya dan segera pergi.


"Apa kau tak tau kalau putrimu itu adalah pemenang sebenarnya di turnamen tahun ini." ungkap salah seorang.


Li An bungkam, ia sama sekali tidak menyaksikan turnamen namun meski begitu dirinya mendapat informasi dari beberapa pengunjung bahwa pemenang turnamen adalah murid dari sekte Gunung Salju bukan Zhang Me, ia bahkan tak tau jika putrinya mengikuti turnamen.


"Kapan putrimu akan kembali?"


"Ini sudah beberapa hari kami datang kesini dan menunggunya namun belum juga bisa bertemu dengannya."


"Apa mungkin kau sengaja menyembunyikan putrimu dan tidak membiarkannya bertemu dengan kami?"


"Apa kau tidak tau bahwa kami ingin bertemu dengan putrimu karena ingin menyampaikan pesan penting?"


"Apa kau tidak takut jika orang penting yang mengirimkan pesan akan murka dan membunuhmu?"

__ADS_1


Semakin lama komentar demi komentar keluar dari bibir mereka dan membuat Li An menjadi naik pitam.


"Kalian tidak perlu mengajariku!" bentak Li An.


"Lagipula dia adalah putriku dan aku berhak atas segala hal tentangnya."


"Dan yang paling penting, jika kau ingin bertemu dengannya maka bicara sopan lah sedikit atau aku tidak akan mengijinkan kalian menemuinya." lanjut Li An penuh penekanan.


Setelah mengatakan itu Li An bergegas meninggalkan mereka yang bungkam karena termakan ancamannya.


"Ayah!"


Baru saja Li An berbalik dan mengambil langkah pertama namun terhenti saat telinganya menangkap suara yang begitu familiar.


Li An dan semua yang ada disana berbalik mengarah ke sumber suara dan mendapati Zhang Me yang sedang melambaikan tangan sambil tersenyum hangat pada Li An yang malah mengarahkan pandangannya ke kumpulan orang-orang yang tadi mencari Zhang Me.


Mereka yang melihat kehadiran Zhang Me langsung saja berjalan cepat untuk mendekatinya.


"Bruak!"


Tiba-tiba angin kencang menerjang dan menerbangkan mereka hingga membuat mereka terhempas. Sungguh sangat disayangkan, Zhang Me bukan lah orang yang sangat mudah untuk didekati oleh orang yang sembarangan atau tidak dikenalnya.


Li An melotot tak percaya melihat orang-orang itu beterbangan dan terhempas bagai daun yang kering, namun bukan itu yang dikuatirkan melainkan perabotan kedainya yang hancur dan berantakan.


Zhang Me hanya tersenyum melihat Li An yang tengah menatapnya seolah-olah dari tatapannya Li An berkata, "Kau bahkan tidak ragu membuat kekacauan di kedai ayahmu sendiri."


"Maaf ya semuanya, silahkan dilanjutkan makannya dan tak perlu memperdulikan sekitar." ucap Zhang Me sambil melambai pada pengunjung yang menatap heran padanya.


Kemudian Zhang Me berjalan menghampiri Li An lalu memeluknya dan berkata pelan, "Maaf ayah..." katanya sambil terkekeh.


"Dimana ibu?"


"Dia sedang keluar sebentar."


"Oh iya, aku datang kesini untuk berpamitan dengan ayah dan ibu." ungkapnya.


"Kau ingin kemana?" tanya Li An curiga.


"Aku ada perlu dan ingin kesuatu tempat." jawab Zhang Me.


"Baiklah, tapi sebelum itu kau harus menjawab dulu semua pertanyaan ayah."


Zhang Me mengerutkan keningnya, "Pertanyaan?" ulangnya.


"Tentu saja, kau harus menjelaskan semuanya mengapa tiba-tiba ada banyak orang yang datang mencari mi dan mengirimi surat serta tentang kau yang mengikuti turnamen." ucap Li An serius.


Zhang Me hanya bisa tersenyum kikuk dan menjelaskan semuanya agar bisa lolos dari ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2