The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)

The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)
Chapter 36- Turnamen II


__ADS_3

Seluruh peserta yang dikirim melalui pintu dimensi telah berada di Hutan Keramat dengan disuguhkan pemandangan hutan yang lebat, rimbun dan hijau serta udaranya yang begitu segar membuat semua orang merasa nyaman. Apa ini benar Hutan Keramat? pikir mereka.


Beberapa peserta jadi kuatir dan beberapa lainnya bersikap biasa saja berbeda dengan Zhang Me yang justru merasa akrab dengan suasana yang ada di Hutan Keramat.


Satu-persatu para peserta mulai bergegas melalui Pintu Rimba, yaitu pintu yang dilalui untuk memasuki Hutan Keramat, untuk segera membunuh banyak Binatang Buas sebelum matahari terbenam.


Zhang Me yang juga berpartisipasi menjadi peserta masih berdiri ditempatnya, dari balik jubah ia mengedarkan pandangan merasa akrab dengan sekitarnya.


"Hei kau! mengapa kau diam saja? apa kau takut?"


Zhang Me menoleh dan mengangkat sedikit kepalanya lalu menatap seorang gadis yang baru saja mengajaknya bicara.


Selain Zhang Me, masih ada dua orang gadis yang belum beranjak dari tempatnya. Mereka Hui Xin dan Mi Yue, yang terlihat berumur 20 tahun, 4 tahun lebih tua dari Zhang Me.


Zhang Me memperhatikan Hui Xin yang memiliki postur tubuh yang tinggi besar, ia terlihat seperti orang yang sombong dan kasar.


Berbeda dengan Mi Yue, ia terlihat kurus, lemah lembut serta memiliki tatapan sendu seperti orang yang sedang putus asa dan tak memiliki harapan.


"Hei bodoh! mengapa kau diam saja?" kata Hui Xin membentak.


"Cepatlah! jika kau takut, ikut saja bersama kami." lanjutnya sambil memegang Mi Yue yang hanya melemparkan senyum pada Zhang Me.


Zhang Me tak membalas satupun perkataannya, ia hanya mengikuti dari belakang dan melewati Pintu Rimba.


Dan tiba-tiba saja terjadi gempa, angin ikut berhembus membuat pepohonan bergerak mengikuti, burung-burung yang ada di Hutan Keramat mulai berkicau tak tenang, binatang-binatang yang lain seperti serigala saling bersahutan serta suhu di dalam hutan langsung berubah drastis.


Hui Xin langsung menarik lengan Zhang Me dengan kasar agar lebih dekat padanya.


Zhang Me tersentak, ia hampir saja terjatuh karena Hui Xin sehingga membuatnya merenggut kesal dan berkata, "Lepaskan! berhenti menyentuhku." katanya berusaha menepis genggaman Hui Xin


Hui Xin sendiri tidak peduli, ia malah semakin menggenggam erat lengan Zhang Me seolah kuatir akan terjadi sesuatu pada Zhang Me.


Saat Zhang Me ingin menyerang Hui Xin, tiba-tiba datang seekor laba-laba berukurang besar tengah menghadang jalan mereka.


Laba-laba tersebut langsung menyerang duluan dan membuat mereka bertiga terlempar jauh dan membuat kening Mi Yue terbentur sesuatu hingga berdarah.


Hui Xin berdiri duluan, ia menghampiri laba-laba tersebut dan menarik pedangnya yang bertengger di pinggang lalu menyerangnya secara brutal.


Bukannya membantu atau ikut menyerang, Zhang Me malah duduk ditempatnya terlempar tadi dan diam menonton.

__ADS_1


Mi Yue yang melihat tingkah Zhang Me menatapnya tak suka dan kuatir kepada Hui Xin yang susah payah mengalahkan laba-laba tersebut.


"Ada apa dengannya? dia menyerang tanpa menggunakan pola, dia hanya Pendekar Bumi tingkat akhir, akan sulit mengalahkannya jika seperti itu..." gumam Zhang Me.


Hui Xin bergerak dengan sangat cepat dan lincah kesembarang arah, ia menyerang tak menentu pada laba-laba tersebut membuat Zhang Me menggeleng melihatnya.


Hui Xin bahkan beberapa kali terlempar karena terkena serangan laba-laba tersebut. Tapi ia tidak menyerah, ia terus saja bangkit dan kembali menyerang.


Hingga Zhang Me kemudian tersadar, dari awal Hui Xin bertarung sampai sekarang terdapat suatu kemarahan besar pada diri Hui Xin, "Tapi apa yang membuatnya tiba-tiba marah seperti itu?" kata Zhang Me dalam hati.


Hui Xin mulai kelelahan dan kehabisan tenaga, saat itulah ia lengah, laba-laba tersebut memanfaatkannya dengan memuntahkan sesuatu dari mulutnya lalu ditembakkan ke arah Hui Xin.


Serangan tersebut berhasil diterima oleh Hui Xin, sebuah jaring laba-laba mengenainya dan seluruh tubuhnya menjadi penuh lendir berwarna hitam pekat dan lengket yang menyebabkan tubuhnya menjadi kaku dan tak bisa bergerak.


"Xixin!" teriak Mi Yue, ia segera menghampiri Hui Xin yang sedang mematung.


Zhang Me masih terduduk ditempatnya, Mi Yue sendiri sudah mengucurkan air mata yang membasahi wajahnya karena melihat Hui Xin seperti itu.


"Kau! kenapa diam saja? bantu kami mengalahkannya!"


Zhang Me menarik penutup kepalanya kebelakang dan tersenyum dibalik cadarnya lalu berkata, "Kenapa harus aku? kau saja yang melakukannya."


Mi Yue jadi geram, matanya memerah menahan amarah, apa orang yang diajaknya bicara adalah manusia tak punya hati? pikirnya.


Hui Xin yang terkaku melihat kejadian tersebut melototkan matanya yang memerah. Zhang Me dapat melihat Hui Xin sedang berusaha terbebas dari lendir yang menyebabkannya tak bisa bergerak.


"Ini akan menjadi tontonan yang menyenangkan..." gumam Zhang Me.


Kemudian tubuh Hui Xin mengeluarkan cahaya berwarna keunguan dan menyebabkan jaring serta lendir yang menutupi tubuhnya perlahan menghilang.


Dengan usaha dan kerja keras akhirnya Hui Xin terbebas dari lendir yang melengket di tubuhnya. Ia menoleh sebentar ke arah Mi Yue terlempar lalu menatap Zhang Me yang tersenyum dan kembali berhadapan dengan laba-laba tersebut yang sedang bergerak ke arahnya.


Tidak seperti pertarungan awal tadi, kini serangan Hui Xin memiliki pola dan menargetkan bagian kaki laba-laba tersebut tapi masih penuh dendam dan kemarahan, jelas sekali yang tampak dari wajahnya.


Ia berniat untuk memotongnya, tapi semua tak semudah yang dibayangkan, kaki laba-laba tersebut sangat kuat bahkan lebih kuat dari baja sehingga membuat Hui Xin mencari titik serang yang ampuh untuk melumpuhkannya.


Lama semakin lama, Hui Xin berhasil memberikan banyak luka pada laba-laba tersebut, meskipun hanya luka goresan tapi sebagai gantinya ia mulai melemah dan kehabisan tenaga untuk bertarung sehingga ia hanya mampu pada posisi bertahan.


Zhang Me menguap, ia menatap Hui Xin malas, "Membosankan..."

__ADS_1


Zhang Me kemudian memegang dua pisau kecil pada satu tangannya lalu melemparnya ke arah laba-laba tersebut dan berhasil menancap dikedua matanya, sesuai dengan sasaran.


Laba-laba tersebut merintih kesakitan. Hui Xin yang melihat itu menoleh sebentar ke arah Zhang Me lalu memanfaatkan keadaan dengan kembali menyerang laba-laba tersebut dengan cepat.


Ia menyerang kembali luka yang sudah ada pada laba-laba tersebut agar lebih mudah melumpuhkannya.


Sedangkan Zhang Me kembali melemparkan pisau kecil pada bagian mulut laba-laba tersebut saat melihatnya ingin memuntahkan kembali jaring dan lendir lengket yang menjijikkan.


Laba-laba raksasa tersebut akhirnya berhasil dilumpuhkan, kini laba-laba itu tidak berdaya dan merintih kesakitan ditempatnya.


Entah kenapa Zhang Me yang ikut mendengar rintihannya menjadi sedih, seolah terjalin hubungan yang akrab diantara mereka.


Hui Xin tersenyum melihat laba-laba raksasa tersebut dilumpuhkan, ia kemudian berjalan kearah Mi Yue yang sudah tersadar dengan penuh darah lalu membawanya mendekat pada laba-laba tersebut.


Hui Xin memberikan pedangnya pada Mi Yue sambil tersenyum dan berkata, "Cepat, bunuh binatang ini."


"Tidak Xixin, kau saja yang membunuhnya." tolak Mi Yue.


Zhang Me tersenyum sinis dan beranjak dari tempatnya menghampiri mereka berdua lalu berkata, "Wah, apa yang terjadi disini? Bukankah aku yang membantumu melumpuhkannya? Lalu mengapa dia yang harus membunuhnya? Apa agar dia yang mendapat poin di Turnamen ini?"


"Memang kenapa? Bukankah sejak awal kau tidak berniat membantu kami?" saut Mi Yue.


"Kau tau apa saat kau sibuk menikmati tidurmu?" ejek Zhang Me.


"Kau bahkan tidak melakukan apa-apa." lanjut Zhang Me.


"Kau!!"


"Sudah hentikan!" ucap Hui Xin menengahi.


"Untuk kali ini saja aku mohon untuk membiarkan Yueyue yang membunuh laba-laba itu." kata Hui Xin memohon.


"Kenapa aku harus membiarkannya?" tanya Zhang Me iseng.


"Yueyue sangatlah lemah dan tak tau bertarung, ia bahkan tak tau cara memegang pedang." jawab Hui Xin.


Kening Zhang Me mengerut dan kembali berkata, "Jika seperti itu, lalu mengapa dia mengikuti Turnamen ini? Jika memang dia sangat lemah mengapa dia bisa lolos dari babak pertama?"


"Aku yang memintanya mengikuti Turnamen ini, meskipun dengan bantuanku dia harus terlihat kuat agar tak direndahkan dan tidak ada yang berani melukainya lagi. Soal babak pertama, aku yang membantunya agar bisa lolos..." jelas Hui Xin panjang dengan wajah memerah menahan amarah.

__ADS_1


Zhang Me hanya mengangguk menanggapinya, meskipun sebenarnya dia penasaran bagaimana cara Hui Xin membantu Mi Yue di Babak Pertama. Namun dari kelihatannya Hui Xin sangat menyayangi Mi Yue, dan penyebab Hui Xin marah tidak jelas itu karena melihat Mi Yue terluka.


"Baiklah, ambil saja, aku tidak membutuhkannya, lain kali kau harus bisa mengendalikan emosimu..." kata Zhang Me sambil menarik kembali penutup kepalanya ke depan lalu berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.


__ADS_2