
Miang Huo, Bo Xiang Shui, Xie Qiu. Ketiganya berlutut menunduk didepan Zhang Me yang hanya memasang ekspresi datar.
"Apa yang terjadi antara Gazuura dan Organisasi Musang Merah Darah?" tanya Zhang Me langsung pada intinya.
Pertanyaan Zhang Me membuat mereka bertiga sedikit tertekan. Sebelum menjawab Miang Huo mengangkat kepalanya sebentar dan menatap wajah Zhang Me yang tak berekspresi.
"Maaf Ratu, Organisasi Musang Merah Darah menyatakan perang pada Gazuura secara tiba-tiba..."
"Berani sekali mereka menyatakan perang sebelum bertanya padaku!" kata Zhang Me.
"Lalu Gazuura menerima perang itu tanpa bertanya juga padaku?" lanjutnya.
Mereka bertiga mengangguk, mereka ada saat kedua kelompok tersebut saling mengungkapkan kebencian mereka.
"Tapi, apa permasalahannya?" tanya Zhang Me penasaran.
"Kami tidak tau apa penyebabnya, namun beberapa hari yang lalu sekelompok anggota Organisasi Musang Merah Darah mendatangi markas dan menyerang sebelum mengatakan perang pada Gazuura." jelas Miang Huo.
Dahi Zhang Me berkerut, ia kembali mengingat perkataan leluhur Organisasi Musang Merah Darah yang mengatakan bahwa Gazuura merupakan musuh terbesar mereka.
Meski begitu Zhang Me merasa tidak terima karena bagaimana pun juga ia adalah pemimpin dari kedua kelompok tersebut dan sudah seharusnya jika mereka bertanya dulu padanya sebelum melakukan peperangan.
"Kapan pertarungan itu akan terjadi?" tanya Zhang Me.
Tanpa berani menunjukkan ekspresi bersalah, mereka memilih menunduk hingga Miang Huo yang mewakili mereka membuka suara untuk menjawab pertanyaan Zhang Me, "Hari ini ratu..."
"APA?!"
Mendengar perkataan Miang Huo membuat rasa kesal yang ada pada diri Zhang Me semakin memuncak. Ia merasa kedua kelompok tersebut telah mengkhianatinya sebagai seorang pemimpin sehingga yang harus ia lakukan adalah memberi pelajaran dan membalas perbuatan mereka.
"Cepat bawa aku ketempat itu sekarang!"
Tanpa menunggu lama, ketiga jendral yang memiliki kemampuan berteleportasi segera mengirim Zhang Me ketempat yang dimaksud hanya dalam waktu singkat.
Dan saat ini Zhang Me dan ketiga jendral Gazuura berdiri dipuncak pohon yang paling tinggi sesuai dengan permintaan Zhang Me agar ia bisa melihat semuanya sebab peperangan dilakukan dihutan yang ada di luar kota Lehan atau lebih tepatnya dihutan perbatasan antara kota Yunqa dan ibu kota Lehan, dekat dengan tempat yang pertama kali ditinggali oleh Zhang Me.
Miang Huo yang merasa tidak akan menerima perintah dari Zhang Me segera memberi kode pada Bo Xiang Shui dan Xie Qiu agar segera menghilang dari sana.
Setelah kepergian ketiga jendral tersebut, Zhang Me sedikit menunduk dan mengedarkan pandangan kebawah membuat ia kembali mengingat saat pertama kali ia bertemu dengan beberapa anggota Organisasi Musang Merah Darah yang mencoba menyerang nya.
Hutan yang menjadi perbatasan antara kota Yunqa dan kota Lehan bisa dibilang sebuah hutan kecil namun Mampu menampung ribuan orang dari Organisasi Musang Merah Darah dan Gazuura.
__ADS_1
Dari atas sana Zhang Me mampu menyaksikan dengan jelas pertarungan yang tengah berlangsung antara Organisasi Musang Merah Darah dengan Gazuura.
Zhang Me kembali mengedarkan pandangannya seolah tengah mencari sesuatu dan yang benar saja, matanya berhenti mencari-cari saat pandangan nya tertuju pada Feng Lu dan Shen Zue yang sedang bertarung agak jauh dari yang lainnya.
Zhang Me menghembuskan napasnya kasar, ia melilitkan salah satu jari telunjuknya pada sedikit rambut yang tersingkap dipipinya sambil memikirkan cara untuk menghentikan pertarungan.
"Sepertinya jika aku berteriak sekeras mungkin dari sini mereka akan mendengarkan dan segera berhenti bertarung..."
"Ah tidak! Itu akan membuang-buang tenagaku, akan lebih baik jika aku membunuh mereka semua..."
Kedua sudut bibir Zhang Me terangkat, ia mengangkat sebelah tangannya dan menggerakkan jari-jarinya yang lentik secara perlahan sehingga membuat angin berkumpul pada satu titik kendalinya.
"Ini pelajaran untuk kalian semua..."
Setelah mengatakan itu Zhang Me menghempaskan sebelah tangannya membuat angin yang tadi berkumpul ikut terhempas dan mengenai semua orang yang tengah bertarung.
Bukan angin topan, angin badai ataupun angin ****** beliung yang mampu menghantam mereka dengan ganas melainkan hanya angin sepoi yang menerpa mereka secara lembut. Sangking lembutnya sehingga mampu membuat percikan darah segar terhambur keluar dari tubuh mereka semua.
Sadar akan serangan yang mengenai mereka secara bersamaan membuat semuanya berhenti menyerang dan saling melihat sekeliling. Tanpa terkecuali, semua anggota Organisasi Musang Merah Darah dan Gazuura mendapat banyak tebasan ditubuh mereka yang tak berhenti mengeluarkan darah.
Diatas sana Zhang Me tertawa lantang melihat reaksi kebingungan semua orang. Suaranya yang menggema keseluruh hutan mampu terdengar oleh semua makhluk yang ada di hutan.
"Ada seseorang diatas sana!"
"Siapa dia? Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas..."
"Sepertinya dia yang melakukan ini pada kita!"
"Berani sekali dia mengganggu pertarungan ini!"
Zhang Me masih tertawa, ia bahkan memegang perutnya yang terasa sedikit sakit meski tak tau apa yang sebenarnya sedang ia tertawakan.
"Hei, kau yang ada disana! Berani sekali kau mengganggu kami!" itu suara Shen Zue, ia berteriak dengan memantulkan suaranya menggunakan tenaga dalamnya agar dapat terdengar oleh Zhang Me.
Zhang Me tertawa lagi lalu berkata, "Sepertinya kau lebih berani mengatakan itu padaku..."
Shen Zue mematung, tidak hanya ia tetapi Feng Lu juga merasa seluruh tubuhnya melemas seolah ia tidak mampu menopang tubuhnya sendiri. Mereka terlambat menyadari sesuatu, cara tertawa dan suara itu jelas sekali sangat familiar ditelinga mereka.
Kemudian Zhang Me menggerakkan sebelah tangannya lalu melakukan hal yang sama seperti tadi dan untuk yang kedua kalinya angin yang setara dengan ribuan pisau tajam kembali memberi tebasan sempurna diseluruh tubuh anggota Organisasi Musang Merah Darah dan Gazuura.
"Ahh!"
__ADS_1
"Sial!"
Rintihan kesakitan serta rutukan keluar dari mulut mereka. Meski hanya sebuah tebasan kecil yang tak terlalu dalam namun justru terasa sangat perih dan tak berhenti mengeluarkan darah ditambah lagi jumlah tebasan yang mereka terima cukup banyak.
Selang beberapa detik, Zhang Me yang tak ingin lagi membuang-buang waktu akhirnya melompat turun dari sana menggunakan teknik meringankan tubuh.
Tepat setelah kakinya menginjak tanah dan wujudnya terlihat jelas barulah mereka semua serentak berlutut dan memberikan penghormatan kepada Zhang Me.
"Hormat pada Sang Ratu!"
"Hormat pada Pemimpin!"
Setelah menyerukan rasa hormat mereka, anggota Organisasi Musang Merah Darah dan Gazuura saling menatap termasuk Shen Zue dan Feng Lu. Mereka tersadar telah memberikan penghormatan pada orang yang sama.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Shen Zue pelan pada Feng Lu yang ikut berlutut disampingnya.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, mengapa anggota Gazuura memberi hormat pada Pemimpin kami?" saut Feng Lu.
"Apa yang sedang kalian bicarakan? Setidaknya beritahu aku juga..." ucap Zhang Me tiba-tiba muncul dan menyela pembicaraan mereka berdua.
Sontak Feng Lu dan Shen Zue menatap Zhang Me yang berjarak sangat dekat didepan wajah mereka. Entah sejak kapan, namun kehadiran Zhang Me secara tiba-tiba merupakan sinyal bahaya bagi mereka berdua.
"Ada apa? Kenapa kalian terlihat sangat pucat? Apa kalian sakit? Atau terlalu lelah melakukan pertarungan tanpa memberitahuku terlebih dahulu?" rentetan pertanyaan yang diajukan Zhang Me membuat mereka semakin gugup bahkan untuk bernapas saja rasanya sangat sulit.
Sedangkan anggota yang lain tetap pada posisi berlutut, mereka tidak punya keberanian untuk bergerak sedikitpun. Mereka hanya bisa mendengar secara samar-samar suara Zhang Me dari sana.
"Ratuu..." kata Shen Zue gugup dan pelan.
"Ada apa? Aku rasa sekarang kalian sadar akan kesalahan kalian..." saut Zhang Me dengan senyumnya, senyum yang paling tak ingin dilihat oleh mereka berdua.
"Dan pastinya kalian tidak akan keberatan jika mendapatkan sedikit hukuman." tambah Zhang Me.
Feng Lu dan Shen Zue tidak menjawab, ia hanya bisa pasrah atas apa yang akan dilakukan Zhang Me terhadap mereka, lagipula mereka tidak pernah tahu atau berpikir sekalipun jika mereka memiliki pemimpin yang sama.
Terimakasih sudah membaca
Terimakasih atas dukungannya
Terimakasih karena selalu ada
Terimakasih karena tetap kuat.
__ADS_1