
Gemericik burung bernyanyi dipagi hari dengan suasan sejuk dan matahari yang setengah muncul menghiasi langit menjadi warna jingga keemasan.
Meski begitu, peluh keringat justru memenuhi pelipis Feng Lu, ekspresi cemas menghiasi wajahnya yang berkerut.
Dengan langkah cepat ia menyusuri bangunan bertingkat dua yang tak terurus dan menaiki tangga menuju paling atas bangunan.
Dengan tergesa-gesa ia menarik sebuah tali pelatuk dari sebuah benda yang berbentuk seperti petasan.
Syuuuttt...Dor!
Tembakan terjadi di udara dan menghasilkan berbagai warna yang menghiasi langit sehingga terlihat begitu indah dipandang.
Namun berbeda dengan keliatannya, sebenarnya ledakan itu adalah ledakan darurat untuk mengirimkan sebuah pesan kepada orang-orang tertentu.
Setelah itu, masih dengan langkah cepat Feng Lu berjalan menuruni tangga, dikepalanya masih terbayang dengan jelas tatapan tajam Zhang Me saat ia baru membuka mata terbangun dari tidur nyenyaknya.
Kedatangan Zhang Me secara tiba-tiba dan meminta agar seluruh anggota Organisasi Musang Merah Darah berkumpul tanpa terkecuali membuat perasaan tak enak menjalari benak Feng Lu.
Disisi lain, mereka yang mengetahui arti dari ledakan yang dibuat Feng Lu bergerak dengan cepat ke lokasi tempat ledakan itu terjadi.
Tak lama, seluruh anggota Organisasi Musang Merah Darah berkumpul di luar gedung yang merupakan markas utama mereka dengan ekspresi cemas karena berpikir telah terjadi sesuatu yang gawat.
Mereka mulai memasuki gedung dan hal yang pertama mereka lihat adalah Feng Lu dan dua orang asing, dimana salah satunya memakai cadar dan sedang duduk di kursi lapuk yang terlihat rapuh.
Berbagai ekspresi menghiasi wajah mereka karena tak ada sesuatu yang terjadi.
Kemudian salah satu dari mereka berlari dan menaiki tangga menuju lantai dua. Disana terdapat banyak sekali emas, perhiasan dan benda-benda hasil jarahan mereka selama ini yang sengaja dikumpul disana.
"Apa yang terjadi ketua Feng? Apa ada yang menyerang markas dan mencuri hasil jarahan?" tanya salah satu pria dengan postur tubuh yang pendek namun berotot.
"Semua hasil jarahan terlihat masih utuh..." pria yang tadi ke lantai atas menyaut perkataan rekannya.
Mereka semua kembali menatap Feng Lu, seolah bertanya apa yang sebenarnya terjadi?
"Apa kalian begitu memperdulikan hasil jarahannya dibanding hidup kalian?" tanya Zhang Me membuka suara.
Seorang gadis, itu yang pertama kali muncul dipikiran mereka saat mendengar dan memperhatikan jelas bentuk tubuh Zhang Me.
Diantara sekian banyaknya anggota Organisasi Musang Merah Darah, ada empat diantara mereka yang merasa familiar dengan suara dan wajah bercadar Zhang Me.
"Siapa kau?"
"Biar kutebak, apa kau Dang dii?" bukannya menjawab, Zhang Me malah balik bertanya.
Pria itu mengangguk, memang benar ia Dang Dii, pria dengan rambut panjang sebahu, postur tubuh besar dan tinggi serta banyak bekas luka yang ada diwajahnya.
Feng Lu yang berdiri disamping Zhang Me bersusah payah menghapus keringat yang terus mengalir dipelipisnya.
Ia mulai merasakan tekanan yang keluar dari tubuh Zhang Me, tekanan yang membuat seluruh tubuhnya seolah tertunduk patuh pada Zhang Me.
"Hey kau! Sebutkan apa tujuanmu datang ketempat kami?"
"Siapa kau?!"
"Berani sekali kau!"
"Cepat pergi dari sini jika tak ingin seluruh tubuhmu kujadikan makanan binatang!"
Berbagai teriakan dan ucapan-ucapan buruk dilontarkan untuk Zhang Me membuat Fang Je yang berdiri disisi lain Zhang Me menjadi geram.
Zhang Me yang masih bersikap santai memasukkan tangannya ke dalam jubah dan melemparkan sebuah plakat pemimpin utama Organisasi Musang Merah Darah yang berwarna merah darah.
__ADS_1
Plakat tersebut menggelinding di lantai hingga akhirnya tergeletak dan memperlihatkan sebuah lambang yang tergambar disana.
Semuanya bungkam melihat plakat tersebut, sudah jelas mereka mengetahui bahwa pemilik dari benda tersebut adalah pemimpin utama mereka.
Setelah tersadar dari keterkejutannya, mereka dengan serentak berlutut dan memberi penghormatan pada Zhang Me.
"Maafkan kami, kami tidak mengetahui jika itu engkau..."
"Tolong ampuni kami karena kesalahan sebesar ini..."
"Maafkan kami yang buta karena tidak mengenalimu..."
Kali ini permohonan maaf yang sopan dilanturkan oleh mulut mereka.
"Berdirilah, kali ini kuampuni karena memang kalian tidak pernah bertemu denganku..." ucap Zhang Me.
"Kecuali empat orang lainnya, aku merasa pernah bertemu dengan mereka..." lanjut Zhang Me menyinggung sambil melirik ke arah empat orang yang pernah ia temui di Istana Kekaisaran.
Mereka saling bertanya pada yang lain, mencari tau siapa empat orang yang dimaksud Zhang Me dan mengapa tak ada yang memberitahu.
"Sudah cukup! Dengarkan aku!" teriak Zhang Me lantang dan bergema keseluruh ruangan.
Mendengar teriakan itu membuat semuanya fokus dan hanya mengarahkan pandangan pada Zhang Me.
"Dang Dii..." panggil Zhang Me tak sopan.
Pria bernama Dang Dii berjalan lebih dekat ke arah Zhang Me, "Iya tuan?" sautnya sopan.
"Apa semalam kau dan kelompokmu melakukan penjarahan?"
"Ia benar tuan, kami mendapatkan banyak semalam..." jawabnya.
"Waah benarkah?" tanya Zhang Me memastikan dan dibalas anggukan bangga dari Dang Dii.
"Aku akan memberikan kalian hadiah..." lanjut Zhang Me.
Dang Dii mengangguk, menoleh kebelakang dan memberi kode pada rekan kelompoknya lalu berdiri disisi lain.
Zhang Me menatap bahkan menghitung Dang Dii dan rekannya, "Hanya tiga belas orang? Apa memang di kelompok yang kau pimpin hanya sedikit?" tanya Zhang Me.
"Hanya sebagian dari mereka yang aku pimpin ikut bersamaku semalam, dan cukup banyak yang tiada saat aku melakukan penjarahan..." jelas Dang Dii.
"Baiklah, sekarang katakan, apa kalian menyerang dan menjarah Kedai Bunga Kersen Hijau?" tanya Zhang Me mengintrogasi.
Mereka semua terdiam, sebab mereka tak ingat semua nama-nama tempat yang mereka jarah. Berbeda dengan Feng Lu yang reflek melototkan mata syok saat mendengar pertanyaan Zhang Me karena dari awal ia memang tidak tau apa yang menyebabkan Zhang Me tiba-tiba datang.
"Apa kalian tidak mengingatnya?" tanya Zhang Me lagi lalu menoleh pada Fang Je yang berdiri di sebelahnya.
"Ah dia, aku sempat bertarung dengannya..." saut salah satu dari mereka.
"Aku juga." saut yang lainnya.
"Jadi apa kalian ingat tempat yang aku maksud?"
"Aku ingat sekarang, kedai yang pemiliknya adalah seorang pendekar tingkat langit tahap menengah." jawab Dang Dii.
"Yah benar, dia adalah lawan yang kuat dan tangguh."
"Tentu saja, karena dia adalah ayahku yang terbaik." sela Zhang Me.
Mereka membeku, pernyataan Zhang Me bagaikan badai petir yang menerjang mereka satu persatu.
__ADS_1
Aura Zhang Me mulai merembes keluar dan menekan semua orang kecuali Fang Je.
Sebab dari tekanan Zhang Me membuat mereka tak dapat bergerak dan susah payah bernapas seakan tak ada oksigen disekitar mereka.
"Jeje, apa kau tidak keberatan jika sedikit mengotori tanganmu?" tanya Zhang Me dan dibalas anggukan.
Fang Je menarik pedang yang bertengger dipinggangnya kemudian bergerak cepat menebas Dang Dii dan rekan kelompoknya.
Syaatt...Syaatt!
"HAHAHAHA!"
"HAHAHAHA!"
Ditengah tebasan-tebasan yang dilepaskan Fang Je, Zhang Me justru sibuk tertawa terbahak-bahak menyaksikan aksi Fang Je. Ia merasa bahagia dan puas tiap kali Fang Je menebas.
Fang Je terus memberikan luka tebasan. Dang Dii dan rekan kelompoknya hanya mampu menjerit kesakitan, ingin rasanya melawan namun bergerak saja mereka tak bisa.
Teriakan pilu yang dihiasi dengan tawa Zhang Me memenuhi gedung tersebut membuat yang lainnya menatap horor pada Zhang Me. Mengerikan, kejam, tanpa ampun tersirat jelas dari tatapan mereka.
Fang Je menghentikan kegiatannya, ia kembali berdiri disamping Zhang Me.
Kemudian Zhang Me berdiri dari tempatnya menghampiri Dang Dii dan rekannya.
Zhang Me tersenyum, "Kau memang sangat mengerti aku jeje..." ucap Zhang Me tanpa menoleh pada Fang Je.
Rasa iba dan kasihan menjalari hati anggota Organisasi Musang Merah Darah yang lainnya saat melihat rekan mereka disiksa termasuk Feng Lu yang hanya bisa bungkam karena salah mereka yang telah mengusik Zhang Me.
Tubuh mereka dilumuri darah segar, terlihat jelas dari luka mereka bahwa Fang Je sengaja membuat tebasan-tebasan yang begitu dalam agar membuat mereka tersiksa.
Akibat dari itu membuat sebagian besar dari mereka tiada dan hanya sisa empat orang saja yang masih bertahan termasuk Dang Dii.
"Ternyata hanya tinggal kalian saja yang tersisa..." ucap Zhang Me menatap mereka yang masih hidup.
Zhang Me mengeluarkan sesuatu dari jubahnya, sebuah botol kecil berukuran ibu jari orang dewasa yang berisi cairan berwarna bening seperti air.
Ia kemudian membuka penutupnya lalu menuangkan cairan tersebut tepat di luka tiga orang yang masih hidup.
Serentak mereka menjerit kesakitan sesaat cairan itu diberikan, luka yang dituangkan cairan oleh Zhang Me melebar dan mengeluarkan asap seperti terbakar.
Zhang Me terdiam, "HAHAHA!" lalu sesaat kemudian ia tertawa terbahak-bahak merasa puas dengan hasil racunnya.
Tawanya terhenti digantikan dengan senyuman yang menghiasi wajahnya yang sedang memejamkan mata menikmati jeritan mereka yang seperti nyanyian indah nan merdu terdengar ditelinganya.
Setelah merasa cukup, Zhang Me melangkah mendekati Dang Dii dan membiarkan ketiga lainnya kesakitan.
"Beruntung hanya dua racun yang perlu ku uji coba..." ungkap Zhang Me.
Ia kembali mengeluarkan botol kecil dengan cairan berwarna hitam pekat. Hal yang sama dilakukan pada Dang Dii. Zhang Me menuangkan cairan tersebut pada luka Dang Dii dan perlahan tubuh Dang Dii melebur dan hilang tak tersisa.
Zhang Me terdiam dengan raut wajah kecewa, "Seharusnya aku tidak melakukan ini..."
"Aku membuatnya tiada dengan terlalu mudah." lanjutnya dengan penuh penyesalan.
"Harusnya racun itu aku berikan untuknya agar aku bisa mendengar jeritannya yang indah..." ujarnya bergantian menatap bekas yang ditempati Dang Dii dan tiga rekannya yang masih menjerit kesakitan.
"Aisss, biar sajalah..." tambah Zhang Me tak peduli.
Ia kemudian melemparkan tiga pisau kecil kearah tiga orang yang tersisa dan menancap tepat di leher mereka sehingga membuat mereka tergeletak tak bernyawa.
Kemudian Zhang Me berjalan kembali menuju tempatnya semula lalu menarik kembali auranya dan membuat mereka semua menarik napas dalam-dalam dan bernapas lega.
__ADS_1
"Itu pelajaran dan akibat bagi kalian agar tidak mengusikku dan orang terdekatku..."