The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)

The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)
Chapter 45- Sate Daging Rusa


__ADS_3

Setelah menjalani hari yang cukup panjang, Zhang Me memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia meminta Fang Je untuk membawanya ketempat seorang pria tua penjual sate daging rusa yang ada di pusat perdagangan.


Sudah beberapa hari yang lalu ia ingin kesana namun terhalang oleh banyak sekali kejadian-kejadian yang membuat Zhang Me ingin sekali meratakan seluruh kekaisaran Qing.


"Jeje." panggil Zhang Me.


"Hm?" saut Fang Je sambil menoleh sebentar kebelakang punggungnya tempat Zhang Me bertengger saat ini.


"Dimana kau menyimpan jantung milik gadis yang tadi aku berikan?" tanya Zhang Me.


"Aku membawanya."


"Lalu gadis itu?" tanya Zhang Me lagi.


"Aku membawanya ke markas Gazuura..." jawab Fang Je.


Zhang Me mengangguk membalasnya dan berkata, "Baiklah, kita akan melihatnya nanti."


Ditengah perjalanan Zhang Me terus mengajak Fang Je mengobrol sesuatu hal yang sangat tidak penting membuat Fang Je hanya mengiyakan saja semua perkataan Zhang Me.


Hingga ia merasa bosan dan langsung berlari sekencang mungkin membuat Zhang Me yang berada di punggungnya terkaget dan hampir terjatuh.


"Jeje!" teriak Zhang Me protes.


Fang Je tidak peduli, ia terus saja berlari hingga mereka telah tiba di pusat perdagangan dan Fang Je mulai kembali berjalan.


Malam ini pusat perdagangan sangat ramai dan banyak sekali orang yang berlalu lalang di bawah penerangan lampu-lampu jalan dan lampu para pedagang yang digunakan untuk menyinari dagangan Mereka.


"Mengapa malam ini disini sangat ramai?" tanya Zhang Me memperhatikan sekelilingnya.


"Tentu saja, saat ini kan kekaisaran baru saja mengadakan Turnamen dan yang pasti banyak pendatang dari luar..." jawab Fang Je.


Zhang Me mengangguk dan berkata, "Lalu dimana tempat kau membeli sate daging rusa itu?"


"Didepan sana, sebentar lagi kita sampai."


Setelah melewati sekitar puluhan kedai dagangan orang akhirnya mereka tiba didepan sebuah kedai gerobak yang menyiapkan beberapa meja dan kursi disana.


Terlihat seorang pria tua sedang mengipasi daging mentah yang telah dipotong kecil-kecil lalu ditusuk dan diletakkan diatas bara api.


Zhang Me tersenyum senang sambil menjilati bibirnya setelah mencium aroma nikmat yang berasal dari daging tersebut.


Ia dengan tergesa-gesa turun dari punggung Fang Je dan menghampiri pria tua yang sedang sibuk melayani pembeli.


"Paman bisakah kau buatkan untukku juga?" kata Zhang Me riang sambil terus menatap minat pada sate yang sedang dibakar.


Pria tua itu tersenyum setelah sempat terpesona dengan Zhang Me dan berkata, "Tentu saja, kau boleh duduk dulu." balasnya sambil menunjuk satu meja yang masih kosong.


"Tidak masalah, aku akan menunggu disini." kata Zhang Me masih setia memperhatikan sate-sate tersebut.


Pria tua itu membiarkan sedangkan Fang Je hanya menggeleng kan kepala sambil berjalan menuju meja yang masih kosong.


Dikedai pria tua itu hanya disediakan lima meja yang masing-masing memiliki tiga kursi membuat orang terkadang harus menunggu untuk bisa mendapatkan tempat namun kebanyakan akan memilih dibungkus daripada harus menunggu.


Beruntung Fang Je dan Zhang Me masih mendapatkan meja yang masih kosong membuat mereka tidak harus menunggu orang selesai.


"Kau tau pertarungan tadi sangat menyenangkan."


"Benarkah? Aku sangat menyesal karena tidak dapat menyaksikannya."


"Salah kau sendiri karena tak sadarkan diri."


"Ini tidak sengaja, tadi aku merasa sangat tertekan hingga pikiranku kemana-mana."


Fang Je yang terduduk menatap dua orang pria yang tiba-tiba datang tengah mengobrol dan duduk didepannya.


"Dan kau tau, pemenang sebenarnya bukanlah Zhou Peigong."


"Apa maksudmu?"


"Gadis cantik itulah yang seharusnya menjadi pemenang."


"Oh, gadis cantik dan tubuh yang sangat memikat, siapa namanya?"


"Entahlah, aku tidak ingat."


Kedua pria itu terus saja mengobrol dan belum menyadari kehadiran Fang Je didekat mereka bahkan setelah Zhang Me datang dan memperhatikan mereka.


"Dia benar-benar gadis yang sangat cantik, jika aku bertemu lagi dengannya maka aku akan langsung mengajak nya untuk menikah denganku."


"Akan kujadikan dia permaisuri dihatiku."

__ADS_1


"Apa gadis itu secantik diriku?" ucap Zhang Me tiba-tiba.


Kedua pria tadi reflek menoleh sebentar ke arah Zhang Me dan memperhatikannya.


"Ya, gadis itu cantik seperti kau."


"Bahkan tubuhnya yang memikat sangat sama dengan tubuhmu."


Setelah mengatakan itu kedua pria tersebut terdiam dan saling tatap lalu kembali beralih memperhatikan Zhang Me yang bergerak duduk dipangkuan Fang Je karena tak mendapat kursi lalu meletakkan sepiring sate diatas meja.


"Kau-" salah satu pria tersebut gelagapan.


"Apa kau mau?" tawar Zhang Me memberikan setusuk sate padanya.


Pria itu menggeleng lalu kembali menatap temannya yang juga tengah menatapnya dan berkata, "Dia adalah gadis itu." kata mereka bersamaan.


"Kenapa kalian sangat tegang? Aku tidak akan memakan kalian, lebih baik minta paman itu untuk membawa kan kalian makanan." kata Zhang Me sambil mengarahkan pandangannya pada pria tua yang sibuk membakar sate dengan jumlah banyak.


Mereka berdua sangat syok, meskipun Zhang Me sangat cantik namun entah mengapa saat melihatnya mereka jadi mengingat apa yang telah dilakukan Zhang Me di Turnamen terutama salah satu diantara mereka yang sangat jelas melihat Zhang Me saat membunuh Pa Chin, Pe Chin dan Hui Xin dengan sangat kejam.


Salah satu diantara dua pria tadi berdiri dari tempatnya dan kembali membawa dua piring rotan yang berisi beberapa tusuk sate.


"Sepertinya kau melupakanku." kata Fang Je sambil memperhatikan Zhang Me yang sibuk makan diatas pangkuannya.


"Makanan ini benar-benar sangat enak Jeje!" ungkap Zhang Me kegirangan dan tak sadar bahwa kehadirannya justru membuat dua pria didepannya menjadi gelisah dan sangat sulit untuk memakan makanannya.


Bruak!!


"Bayaran hari ini."


Semua orang yang sedang asik makan reflek menoleh karena terkaget saat beberapa orang datang dan memukul gerobak milik pedagang sate dengan sangat keras.


"Maafkan aku, bisakah kalian menunggu sampai mereka semua selesai makan dan membayarku?" ucap pedagang sate.


"Tidak bisa! Memang kau siapa? Berani sekali memerintahku."


"Tapi aku sedang tidak memiliki uang sepeserpun."


"Kau harus segera membayar kami atau kami akan hancurkan tempatmu ini!"


Zhang Me yang tengah makan dan mendengar ancaman itu membuatnya terkejut. Jika tempat ini dihancurkan maka ia tidak akan memakan makanan lezat ini lagi, pikirnya.


"Jeje apa kau tau siapa mereka?" tanya Zhang Me menoleh ke Fang Je.


"Aku merasa pernah mendengarnya." gumam Zhang Me tapi masih dapat didengar oleh Fang Je.


Fang Je memukul kepala Zhang Me pelan dan berkata, "Pemimpin mereka merupakan salah satu tamu kehormatan saat Turnamen."


Zhang Me mengerutkan dahinya sambil mengingat seorang pria yang memiliki rambut panjang bergelombang yang duduk didekat Feng Lu saat Turnamen.


"Maafkan aku, bisakah kalian membayar makanannya sekarang?" pinta pedagang sate pada semua pembeli yang tengah memakan dagangannya.


Karena merasa kasihan para pembeli memberikan bayaran untuk pedagang sate termasuk Fang Je, ia memberikan sekantong koin emas.


Dan tentu saja pedagang tersebut menolaknya karena bayaran yang diberikan Fang Je terlalu berlebihan dari makanan yang dimakan.


"Apa yang kau lakukan, berikan semua koinnya."


"Tidak, ini milik pemuda itu." tolak pedagang sate.


"Kau berani membantahku? Baiklah, akan kuhancurkan tempatmu."


Salah satu dari mereka memberi kode pada rekannya berniat untuk menghancurkan gerobak milik pedagang sate.


"Aww!" pekik mereka.


Sebelum mereka bergerak dari tempatnya, beberapa penusuk bekas sate berhasil menancap di tubuh mereka.


"Siapa yang berani melakukan ini!" teriak salah satu diantara mereka kearah pembeli.


"Aku." jawab Zhang Me santai sambil tersenyum manis.


Selain kemampuannya, senyuman Zhang Me juga bisa menjadi senjata paling ampuh didalam kondisi seperti ini.


Mendengar jawaban Zhang Me semua pandangan orang mengarah pada Zhang Me termasuk semua pembeli, mereka baru sadar ternyata sedari tadi ada gadis cantik disana.


"Wahhh, gadis cantik sepertimu ternyata sangat berani." katanya tak mengalihkan pandangannya pada Zhang Me.


"Karena kau seorang gadis maka aku tidak akan melukaimu, tapi sebagai gantinya kau harus menemaniku malam ini."


Fang Je langsung berdiri dari tempatnya dengan ekspresi tak suka setelah mendengar perkataannya, bahkan ia tak sadar telah menjatuhkan Zhang Me dari pangkuannya.

__ADS_1


"Jeje!" protes Zhang Me berdiri sambil membersihkan debu yang menempel dipakaiannya.


Fang Je tak memperdulikan Zhang Me, ia menatap tajam pria didepannya dan berkata, "Jika kau berani menyentuh sehelai rambutnya saja maka kau akan ku lenyapkan."


"Haaaa Jeje, kau manis sekali." ucap Zhang Me sambil mencubit pipi Fang Je dengan gemas.


Semua orang tak tau harus berekspresi bagaimana, ditengah ketegangan seperti ini Zhang Me masih sempat untuk bersikap seperti itu pada Fang Je.


"Kau lebih baik duduk dulu Jeje..." kata Zhang Me menuntun Fang Je untuk kembali duduk ditempatnya dan meminta pedagang sate membawakan sate untuk Fang Je.


Kemudian Zhang Me beralih menatap pria yang telah membuat Fang Je kesal dan berkata, "Apa kau ingin bermain denganku?" tanya Zhang Me.


Senyum pria itu merekah, tentu saja ia merasa sangat senang dengan respon baik yang diberikan Zhang Me.


"Tentu saja."


"Benarkah? Apa yang akan kau berikan padaku?" tanya Zhang Me lagi.


"Aku akan memberimu banyak uang."


"Baiklah, kembalikan dulu kantong itu." kata Zhang Me sambil menunjung kantong koin yang dirampas tadi.


Pria itu mengangguk dan memberinya pada pedagang sate.


"Tapi aku sedang ada yang harus dikerjakan, jadi mungkin aku tidak akan terlalu lama menemanimu." ungkap Zhang Me dengan wajah memelas.


"Tidak masalah, yang penting kau menemaniku malam ini."


"Baiklah, ayo ikut aku." kata Zhang Me berjalan dan diikuti pria tersebut.


Semua orang yang ada disana tentu saja tak tau harus berkata apa setelah melihat Zhang Me yang menerima tawaran seperti itu dengan mudah sehingga membuat mereka berpikir akan melakukan hal yang sama yaitu membayar Zhang Me untuk menemani mereka. Siapa yang akan menolak Zhang Me setelah melihatnya? Namun tentu saja itu tak sesederhana apa yang mereka lihat.


Zhang Me terus berjalan kearah semak-semak yang berada cukup jauh kedai pedagang sate tadi sambil diikuti pria dibelakangnya.


"Apa kita akan melakukannya disini?" tanya pria itu melihat sekelilingnya.


"Tentu saja, kita akan melakukannya disana." jawab Zhang Me sambil menunjuk sebuah pohon besar yang ada disana.


Pria itu tidak menolak, bagaimana mungkin ia bisa melewatkan kesempatan ini?


Zhang Me menyandar pada pohon tersebut dan menggoda pria tersebut dengan sengaja menggunakan tubuhnya.


Pria itu mendekat dan menempelkan tubuhnya pada Zhang Me dan terburu-buru membuka celananya.


Zhang Me menunduk dan melihat kebawah menatap datar pada milik pria tersebut.


"Milikmu sangat kecil, apa kau yakin bisa membuatku puas?" ejek Zhang Me.


Wajah pria itu merah padam karena malu mendengar penuturan Zhang Me sebab selama ini ia mengira bahwa miliknya telah melewati batas standar. Apakah wanita memang selalu ingin yang lebih? pikirnya.


"Ah!" Pekiknya.


Ditengah ia sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba rasa yang teramat sakit menyerangnya dan membuatnya memekik pilu.


Zhang Me yang mendengarnya hanya tertawa dan pergi meninggalkan nya ditengah rasa sakit yang sangat luar biasa.


"Haha!"


Semua orang heran melihat Zhang Me yang kembali sambil tertawa terbahak-bahak.


"Dimana tuan Shu Hoek?"


"Pria yang bersamaku tadi?" kata Zhang Me dan dibalas anggukan.


"Dia ada disana." tunjuk Zhang Me kearah tempatnya tadi.


"Kau tau, tuanmu itu sangat tidak tau malu mengajakku bermain dengan miliknya yang sangat kecil itu, membuatku geram saja dan tak sengaja memotongnya." ungkap Zhang Me dengan ekspresi penuh penyesalan.


Semua pria yang ada disana reflek memegang celananya sambil memikirkan bagaimana rasa sakit yang dirasakan saat milik mereka dipotong


Mendengar itu kelompok orang yang berasal dari Kelabang Hitam segera pergi dan menghampiri pria yang mereka sebut sebagai tuan.


Sambil tertawa kecil Zhang Me kembali duduk dipangkuan Fang Je yang sama sekali tidak memakan makanannya.


Semua pria yang ada disana dan yang sempat berniat meminta Zhang Me untuk menemaninya langsung berubah pikiran karena tak ingin bernasib sama dengan pria tadi.


"Nak, terimakasih sudah menolongku..." ucap pedagang sate yang tiba-tiba datang mendekat pada Zhang Me.


"Kau tenang saja paman, mereka tidak akan mengganggumu lagi." balas Zhang Me.


Ia mengangguk dan berkata, "Sebagai gantinya kau boleh datang ketempat ini kapanpun dan makan sesukamu tanpa harus membayarnya."

__ADS_1


Mendengar penawaran itu tentu saja Zhang Me tidak menolak, setiap apapun yang dilakukan pasti akan selalu mendapat balasannya.


__ADS_2