The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)

The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)
Chapter 30- Kehadiran Organisasi Musang Merah Darah


__ADS_3

Kota Lehan mulai terlihat ramai, orang-orang dari luar mulai berdatangan berniat untuk menyaksikan atau bahkan ikut serta dalam turnament yang sebentar lagi akan diadakan oleh Kekaisaran Qing.


Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh para pedagang untuk menarik perhatian pengunjung.


Berbeda dengan Li An yang sudah kehilangan kesempatan karena kedai miliknya sudah hancur sehingga tidak menarik perhatian pengunjung.


"Ah, 5 hari lagi turnament akan diadakan, para pengunjung sudah mulai berdatangan tapi kita tidak punya kesempatan untuk memanfaatkan peluang dan menghasilkan uang..." keluh Li An sambil menatap bagian kedai yang hancur.


Meng Ye yang sedang merapikan dan membersihkan kedai menoleh pada Li An yang sedang duduk lesuh, ia berkata, "Kau tak perlu kuatir, aku akan mencari pinjaman untuk memperbaiki kedai kita." usulnya.


Li An menatap Meng Ye lekat, "Kau akan mendapatkan pinjaman darimana?" tanya Li An tak yakin.


Bukannya menjawab, Meng Ye hanya tersenyum sebagai balasan dari pertanyaan Li An.


Tiba-tiba dua orang pria berjalan memasuki kedai membuat Meng Ye menjadi antusias melihat mereka sehingga segera menghampiri dan mempersilahkan mereka duduk.


Sedangkan Li An hanya menoleh sebentar melihat mereka, berpikir bahwa mereka hanya orang kesasar.


"Apa kalian membutuhkan sesuatu?" tanya Meng Ye ramah.


"Kami sedang mencari nona manis." kata salah satu dari mereka.


"Nona manis?" ulang Meng Ye.


"Maksudku, nona Zhang Me." katanya.


Meng Ye mengangguk, "Dia adalah putriku, dia sedang tidak ada disini."


"Tapi kalian bisa menunggunya jika ada keperluan yang penting." tawar Meng Ye.


Mereka saling tatap lalu mengangguk mengiyakan perkataan Meng Ye karena mereka memang harus menunggu dan bertemu dengan Zhang Me sesuai apa yang dikatakan Zhang Me pada mereka.


Kedua pria tersebut adalah Gue He dan Bo Nan yang datang mencari Zhang Me.


"Kalau boleh tau, kalian siapa?" tanya Meng Ye penasaran.


"Kami budak nona Zhang Me..." jawab Gue He.


"Budak?" ulang Meng Ye memastikan.


Li An yang mendengarkan obrolan mereka ikut menoleh menatap kedua pria yang mengaku budak Zhang Me.


Bo Nan yang melihat raut terkejut Meng Ye berkata, "Kami temannya." ralat Bo Nan sambil tersenyum canggung dan dibalas anggukan oleh Meng Ye.


Tak lama segerombolan orang datang dan memasuki kedai secara tiba-tiba membuat Meng Ye menjadi panik. Ia mengarahkan Gue He dan Bo Nan untuk menunggu di dapur lalu kembali keluar.


Masih dengan ekspresi lesuh, Li An menatap seseorang yang berjalan menghampirinya.


Orang tersebut duduk di kursi tepat di depan Li An. Meng Ye tersentak kaget, ia berjalan mendekat pada Li An saat melihat ada banyak orang yang berkumpul didepan kedai dan juga beberapa yang berjaga dipintu membuatnya berpikir bahwa kedainya telah di kepung dan akan terjadi sesuatu.


Diluar kedai tertancap bendera dengan gambar Musang berbulu merah darah sebagai lambang Organisasi Musang Merah Darah yang menarik perhatian orang-orang yang berkeliaran.


Dengan pakaian senada berwarna Merah gelap ribuan anggota Organisasi Merah Darah berkumpul sehingga tak ada seorangpun yang berani mendekat karena jelas sekali rasa takut tergambar diwajah mereka.


"Mereka Organisasi Musang Merah Darah, apa yang membuat mereka berkumpul disini?"


"Apa yang telah terjadi?"

__ADS_1


"Apa akan terjadi sesuatu yang besar?"


Mereka yang tak sengaja lewat dan melihat kehadiran Organisasi Musang Merah Darah mulai menerka-nerka apa yang sedang terjadi.


Kehadiran Organisasi Musang Merah Darah di pusat kota membuat gempar keseluruh kota karena ini adalah pertama kalinya ribuan anggota Organisasi Musang Merah Darah berkumpul di pusat kota.


Sedangkan didalam kedai Li An bersikap tidak peduli, "Pergilah, akan sia-sia jika kau ingin menjarah tempat ini." katanya santai sambil mengibaskan tangannya pada pria yang duduk didepannya.


"Apa kau tak ingat denganku?"


Li An mengerutkan dahi sambil mengingat siapa orang yang ada dihadapannya.


"Kau..." kata Li An terjeda.


Ia ingat dengan pria dihadapannya, pria yang pernah menjarah kedainya dan juga pernah datang bersama Zhang Me, dia adalah Feng Lu.


"Aih, sudah kukatakan akan sia-sia kau menjarah tempat ini." ucap Li An lagi.


Feng Lu menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sebelum Dang Dii, ia juga pernah menjarah tempat Li An tapi kali ini tujuannya berbeda.


"Dengarkan aku dulu..." kata Feng Lu terjeda.


"Aku datang kesini bukan untuk menjarah tapi aku dan anggota Organisasi Musang Merah Darah ingin membangun kembali kedaimu yang hancur." jelas Feng Lu.


Li An memperbaiki posisi duduknya, pernyataan Feng Lu cukup membuatnya terkejut. Tidak ada yang tidak mengenali Organisasi Musang Merah Darah di kota Lehan, jika ada yang mengetahui bahwa mereka akan membangunkan kedai untuk Li An maka tidak akan ada yang mempercayainya.


"Dan ini sebagai ganti untuk milikmu yang dijarah semalam oleh rekan kami." ucap Feng Lu.


Li An masih terdiam, ia memperhatikan beberapa orang yang meletakkan puluhan kantong berukuran besar di atas meja.


Tanggan Li An bergerak, ia membuka kantong tersebut, Meng Ye yang berdiri dibelakang Li An ikut melihat ke dalam kantong dan betapa kagetnya mereka saat melihat ada banyak koin emas didalamnya.


Rasa curiga mulai menjalari hati Li An, ia semakin tak percaya dengan Feng Lu, koin miliknya yang dijarah semalam tidak sebanyak itu.


"Apa maksudmu dengan semua ini?" Li An akhirnya membuka suara dan bertanya pada Feng Lu dengan tatapan curiga.


"Aku hanya melakukan perintah..." jawab Feng Lu.


Li An mengerutkan dahinya dalam. Perintah? apa maksudnya? pikirnya.


Ia menggeleng, "Tidak, aku tidak ingin apapun dan segera pergi dari sini." tolak Li An karena curiga Feng Lu Memiliki maksud jahat dengan berbuat baik padanya.


"Kau tak perlu kuatir ayah, mereka tidak akan berani melakukan apapun padamu... " ucap Zhang me yang tiba-tiba datang.


Kedatangan Zhang Me membuat semua anggota Organisasi Musang Merah Darah menundukkan kepala termasuk Feng Lu yang langsung berdiri dari duduknya lalu menunduk.


Semua itu diperhatikan oleh Li An dan Meng Ye. Apa mereka tertunduk karena putrinya Zhang Me? pikir mereka.


"Kau tak perlu menolak ayah, mereka tidak akan berbuat sesuatu yang buruk." kata Zhang Me langsung duduk di pangkuan ayahnya dan memeluknya.


Li An mengusap puncuk kepala Zhang Me lembut lalu berkata, "Bagaimana Kau bisa yakin? " tanyanya tak percaya.


Zhang Me bergerak mendekatkan bibirnya pada telinga Li An dan berbisik, "Karena aku adalah tuan mereka... "


Li An menarik hidung Zhang Me setelah mendengar bisikannya, "Dasar anak nakal. " Kata Li An


Zhang Me memegang hidungnya sambil meringis, "Ibuuu..." rengeknya lalu berpindah memeluk Meng Ye yang berdiri dibelakang Li An.

__ADS_1


Meng Ye hanya tersenyum lembut memeluk Zhang Me, "Apa kau lapar?" tanya Meng Ye.


Zhang Me mengangguk antusias, mengingat masakan Meng Ye membuatnya melupakan rasa sakit di hidungnya karena makanan yang dibuat Meng Ye adalah makanan kesukaannya.


"Baiklah, ayo ke dapur, disana ada dua orang yang mencarimu, mereka sedang menunggumu di dapur."


Zhang Me mengerutkan dahinya berpikir siapa yang mencarinya.


Sebelum berjalan mengikuti Meng Ye, ia menoleh sebentar ke arah Feng Lu dan memberikan isyarat agar membujuk Li An.


Didapur Zhang Me dapat melihat dengan jelas dua orang pria yang sudah tidak asing lagi baginya.


Dengan wajah tanpa cadar Zhang Me berjalan mendekat sambil tersenyum lalu menyapa Gue He dan Bo Nan ramah.


Sedangkan yang di sapa malah menganga karena terkejut menatap Zhang Me.


Zhang Me menepukkan tangannya di depan wajah mereka sambil terkekeh kecil, "Liur kalian menetes." kata Zhang Me.


Mereka reflek mengelap mulutnya menggunakan tangan membuat Zhang Me dan Meng Ye yang sedang memasak menjadi tertawa.


Gue He dan Bo Nan menunduk menjadi salah tingkah karena merasa malu ketauan menatap Zhang Me terpesona.


"Maafkan aku karena lupa bahwa kalian akan datang tapi aku justru berada diluar dan membuat kalian menunggu..." ucap Zhang Me.


Mereka saling tatap seolah bertanya apa gadis yang dihadapannya adalah tuan mereka? karena saat itu Zhang Me menggunakan topeng.


Bo Nan memperhatikan Zhang Me lekat lalu menggeleng dan berkata, "Tidak putri kecil, kami sama sekali tidak keberatan menunggumu." balasnya sambil menunduk.


Sedangkan Gue He memajukan sebelah tangannya mendekatkan pada wajah Zhang Me lalu membuatnya seolah menutup setengah wajah Zhang Me.


Saat tersadar Gue He langsung menarik tangannya dan menunduk, "Maafkan kami yang tidak mengenalimu." kata Gue He tersadar.


Zhang Me tersenyum menanggapi dan berkata, "Tidak masalah, yang penting kalian tidak memberitahu semua orang tentang betapa cantik dan mempesonanya diriku."


Gue He dan Bo Nan mengangguk sedangkan Meng Ye terkekeh kecil sambil menggeleng-geleng mendengar perkataan Zhang Me.


"Baiklah, aku harap kalian bisa menunggu sebentar lagi karena aku harus membantu ibuku, setelah itu aku akan bicara dengan kalian." kata Zhang Me menengok pada Meng Ye yang sedang sibuk memasak.


Gue He dan Bo Nan tidak keberatan jika harus menunggu, lagipula mereka hanya budak yang harus selalu mendengar perkataan tuannya.


Mereka juga sempat menawarkan diri untuk membantu tapi Zhang Me menolak, ia tak ingin ada campur tangan lain dalam masakan ibunya selain dirinya membuat Gue He dan Bo Nan hanya duduk menyaksikan.


Disela kesibukannya mereka juga asik mengobrol hingga Meng Ye bertanya, "Mereka siapa?" tanyanya sambil menoleh ke arah Gue dan Bo Nan yang masih setia memperhatikan mereka.


"Memang kenapa bu?" tanya Zhang Me balik.


"Tidak apa, ibu hanya penasaran karena tadi mereka sempat mengatakan kalau mereka budakmu." jelas Meng Ye.


Zhang Me tertawa pelan, "Mereka memang sangat suka bercanda ibu."


"Mereka adalah gegeku, ibu tidak keberatan kan kalau aku punya banyak gege?" sambung Zhang Me sambil nyengir tidak jelas.


Meng Ye tersenyum, "Tentu saja..."


Gue He dan Bo Nan yang mendengar obrolan mereka saling tatap dengan ekspresi haru mendengar perkataan Zhang Me yang menganggap mereka sebagai jeje bukan budak.


***

__ADS_1


Note:


Gege \= Kakak laki-laki


__ADS_2