The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)

The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)
Chapter 38- Turnamen IV


__ADS_3

Pertarungan sengit antara para peserta dan binatang buas di Hutan Keramat masih terus berlanjut.


Kini hanya tersisa sedikit pesera yang masih bertahan. Mereka diantaranya adalah Pa Chin dan Pe Chin, saudara kembar yang masih berumur 17 Tahun dan merupakan Pendekar Bumi tingkat akhir.


Mereka tengah bertarung melawan seekor serigala dalam keadaan tubuh yang penuh luka-luka akibat terkena cakaran serigala.


Meski begitu mereka tetap berusaha mengalahkannya dengan bekerja sama. Pa Chin adalah petarung jarak dekat, sedangkan Pe Chin petarung Jarak jauh sehingga ia ahli dalam menggunakan panah dan terciptalah kerja sama yang baik di antara mereka.


"Adik, serang bagian kakinya!" teriak Pa Chin.


Pe Chin yang mendengar itu segera menarik busurnya dan menargetkan anak panahnya pada kaki serigala tersebut.


Sebelum Pe Chin melepaskan serangannya tiba-tiba serigala itu pergi meninggalkan mereka setelah terdengar raungan keras dari serigala lainnya.


"Sial dia pergi! Padahal kita hampir saja membunuhnya." kata Pe Chin.


"Tapi mengapa serigala itu tiba-tiba pergi?" tambah Pe Chin.


"Aku rasa itu karena raungan serigala tadi, bisa saja itu sebuah panggilan." tebak Pa Chin.


"Awas!" teriak Pe Chin sambil menarik lengan Pa Chin untuk menghindar.


Tiba-tiba saja puluhan Serigala muncul dan berlarian menuju pada satu arah membuat Pa Chin dan Pe Chin terkejut bukan main karena mengira Serigala-Serigala itu akan menyerang mereka berdua.


"Kau benar kakak, raungan seriala tadi adalah sebuah panggilan, buktinya serigala-serigala yang ada dihutan ini berlarian ke sumber suara." kata Pe Chin.


"Sepertinya akan terjadi sesuatu dihutan ini." ucap Pa Chin.


"Akan lebih baik jika kita kembali." usul Pa Chin.


"Kau benar kakak, lagipula matahari tidak lama lagi terbenam dan kita juga sudah membunuh banyak binatang buas." saut Pe Chin.


Kemudian mereka berdua mematahkan plakat miliknya dan kembali ke tempat diadakannya Turnamen.


Bukan hanya Pa Chin dan Pe Chin tapi seluruh peserta yang tersisa memilih untuk kembali, bukan hanya karena kejadian tersebut tapi memang sudah tidak lama lagi matahari terbenam.


Disisi lain Zhang Me kebingungan saat ratusan Serigala berukuran besar tiba-tiba mengelilinginya.


Serigala-serigala tersebut menatap Zhang Me dengan ganas sehingga membuatnya risih dan berkata, "Apa ada yang salah denganku?" kata Zhang Me sambil memperhatikan tubuhnya mencari tau apa yang salah.


Serigala-serigala itu menjadi bingung, mungkin mereka tidak menyangka dengan reaksi yang biasa saja ditunjukkan oleh Zhang Me dimana tanpa ada sedikitpun rasa takut.


Satu serigala bergerak maju lebih dekat dengan Zhang Me, ia mengendus tubuh Zhang Me seolah mencari sesuatu.


Zhang Me hanya membiarkan, hingga sesuatu yang hangat terasa dikulitnya membuat Zhang Me memasukkan tangan dan mengambilnya.


Ia mengeluarkan batu hitam berukuran segenggam yang pernah ia temui. Batu itu mengeluarkan cahaya dengan empat warna yaitu Merah, Abu-Abu, Hijau dan Hitam. Diantara keempat warna itu, warna Abu-Abu lah yang mengeluarkan cahaya paling terang.


"Auuuuu!"

__ADS_1


"Auuuuuuu!"


"Auuuuuuuuu!"


Ratusan Serigala yang ada disana saling bersautan meraung keras. Reaksi yang ditunjukkan Serigala-Serigala tersebut saat melihat batu itu membuat Zhang Me keheranan.


Kemudian yang terjadi adalah ratusan Serigala yang ada disana berubah menjadi manusia. Mereka saling bertatapan melihat ekspresi Zhang Me yang datar.


"Apa kau terkejut?" tanya pria yang tadi sempat bertarung dengan Zhang Me.


"Hanya sedikit, dari awal aku memang sudah curiga ada yang aneh dengan dirimu." jawab Zhang Me.


"Apa kau tidak takut?" tanyanya lagi.


"Untuk apa? Aku mampu mengalahkan kalian semua." jawab Zhang Me angkuh dan penuh percaya diri.


Tidak sedikit yang menatap Zhang Me tidak suka setelah mendengarnya berkata demikian. Mereka menganggap Zhang Me hanyalah wanita lemah yang bisa mereka kalahkan.


"Hanya saja aku heran mengapa kalian mengepungku seperti ini?" lanjut Zhang Me.


"Apa kalian membutuhkan ini?" tanya Zhang Me sambil mengulurkan batu yang digenggamnya.


Tidak ada jawaban, mereka hanya menatap penuh arti membuat Zhang Me kesal lalu berkata, "Ambil saja dan biarkan aku pergi." kata Zhang Me lalu melempar batu tersebut pada salah satu dari mereka.


"Ah!"


Pria yang menangkap batu tersebut menjadi gemetar dan merintih kesakitan karena panas yang dihasilkan batu tersebut berhasil melelehkan kulit tangannya sehingga ia melemparnya ke tanah.


"Apa kalian tidak mendengarku?!" mereka yang ditanya hanya diam tak bergerak dan tak memberikan sedikit ruang pada Zhang Me untuk lewat.


Mendapat perlakuan seperti itu membuat Zhang Me menjadi naik pitam lalu menyerang mereka yang menghalangi jalan nya dan perkelahian pun terjadi disana.


"Bagaimana ini? Tidak seharusnya ini terjadi?"


"Wanita itu yang menyerang duluan, tidak mungkin mereka akan membiarkan wanita itu melukai mereka."


"Wanita itu sedang tidak bisa diajak bicara, entah mengapa dia tiba-tiba menjadi marah seperti itu..."


"Kau yang bertemu duluan dengannya, bisa saja dia marah karenamu."


"Ya kau benar, apa yang sudah kau lakukan Ertai pada wanita itu?"


Pria yang tadi lebih dulu bertemu dan sempat bertarung dengan Zhang Me bernama Ertai. Ia kebingungan melihat Zhang Me yang tiba-tiba menjadi ganas, berbeda dari awal ia temui.


Zhang Me bergerak cepat memberikan goresan-goresan ditubuh lawannya dengan sangat nafsu. Melihat darah yang terus menetes keluar membuatnya benar-benar kegirangan.


Mereka yang melawan Zhang Me merasa kewalahan, mereka tidak punya kesempatan untuk menyerang atau bahkan menyentuh sedikit saja kulit Zhang Me.


Perkelahian terus terjadi dimana Zhang Me yang unggul hingga ia berhasil melumpuhkan beberapa orang yang bertarung dengannya dengan mendapatkan banyak luka disekujur tubuh mereka.

__ADS_1


Raut ketakutan terlihat jelas diwajah mereka yang menyaksikan pertarungan seorang wanita bercadar yang mampu mengalahkan rekan-rekannya.


"Tunggu!" teriak Ertai.


Ia segera menghentikan Zhang Me saat melihatnya ingin berlalu pergi setelah mengalahkan rekan-rekannya.


Dengan perasaan yang tidak baik Zhang Me menghampiri Ertai lalu berkata, "Ada apa? Kau jangan berani menghalangiku!"


"Kumohon tenanglah, tolong dengarkan aku sebentar saja." ucap Ertai lembut.


"Aku sedang lapar, jika sekali lagi kau mencoba untuk mencegahku maka dagingmu yang akan aku cabik-cabik lalu ku makan! Mengerti?" kata Zhang Me penuh penekanan sambil memperagakan apa yang ia katakan.


Ertai terdiam, ia menggigit bibirnya berusaha untuk menahan tawa setelah mendengar perkataan Zhang Me.


"Haha!"


"Apa ini? Dia lapar? Haha!"


"Dia benar-benar lucu!"


"Haha!"


Tawa mereka pecah karena tidak bisa menahannya lagi. Mereka tidak menyangka bahwa ada orang yang akan seperti itu saat sedang lapar, benar-benar tidak masul akal menurut mereka.


"Diam!" teriak Zhang Me mengamuk.


"Aku sedang lapar! Jangan membuatku kesal atau kubunuh kalian semua!"


Semuanya langsung terdiam, entah mengapa suara Zhang Me membuat mereka menjadi tertekan dan ketakutan.


"Kumohon jangan marah..." ucap Ertai berusaha membujuk.


"Apa lagi? Kalian benar-benar membuatku kesal!"


"Akan kubunuh kalian semua!"


"Tunggu tunggu! Aku akan memberimu makanan yang banyak jika kau mau mendengarku." kata Ertai berusaha membujuk.


"Benarkah?" tanya Zhang Me yang mulai melunak saat mendengar kata makanan.


"Tentu, tapi sebelum itu ikutlah bersama kami." balas Ertai.


"Baiklah." ucap Zhang Me setuju, lagipula tidak ada yang perlu ia kuatirkan.


"Berliannya bagaimana?" ucap seorang gadis.


"Bisakah kau membawanya?" tanya Ertai pada Zhang Me sambil menatap ke bawah tanah.


Zhang Me mengikuti arah pandangan Ertai yang mengarah pada batu hitam tadi dan berkata, "Apa kau memintaku yang membawanya?" tanya Zhang Me memperjalas dan dibalas anggukan oleh Ertai.

__ADS_1


"Kau pemalas sekali, hanya sebuah batu kecil seperti itu pun harus meminta gadis sepertiku untuk membawanya..." omel Zhang Me sambil meraih batu tersebut di tanah.


"Seharusnya kau merasa malu..."


__ADS_2