
Rencana Kaisar cukup sederhana, saat Azuura dan Mura berusaha melarikan diri ia memerintahkan kepada pengawalnya untuk menyiksa salah satu tahanan wanita hingga mati dan berpesan agar wajah tahanan wanita tersebut dirusak agar tak dapat dikenali sama sekali.
Namun kejadian yang tak terduga sama sekali telah terjadi di alun-alun istana kekaisaran dimana disana sudah ada mayat seorang wanita yang tergantung dengan luka di seluruh tubuhnya, dia adalah Mura.
Semua rakyat berkumpul di alun-alun menyaksikan pemandangan tersebut. Tubuh Mura yang kaku, penuh darah dan bekas cambukan serta sudah tidak menghembuskan nafas tengah bergantung ditiang alun-alun.
"Ini peringatan untuk kalian semua!"
"Siapapun yang berani menggoda Kaisar akan disiksa sampai mati seperti wanita ini!"
"Karena wanita ini memiliki suami jadi Kaisar mengizinkan kepada suaminya untuk memberinya hukuman karena telah berkhianat!"
Salah satu pengawal kerajaan yang berada di alun-alun meneriakan kata-katanya kepada semua rakyat sebagai peringatan.
Kabar tentang mayat Mura yang telah dipertontonkan di alun-alun mulai terdengar dari telinga satu ke telinga lainnya hingga sampai ke telinga Kaisar.
"Bagaimana mungkin?" ucap Kaisar.
Kaisar merasa sesuatu yang salah telah terjadi sebab ia sudah memutuskan dan mengatakan kepada semuanya bahwa ia akan menggantung mayat Mura di alun-alun tepat tengah hari bukan saat ini yang bahkan belum tengah hari.
namun mendengar semua orang berkumpul menyaksikan mayat Mura sebelum waktu yang telah ditentukan membuat Kaisar gelisah.
Dengan tergesa-gesa Kaisar menuju ke alun-alun dengan diikuti beberapa pengawal kerajaan untuk memastikan apa yang sebenarnya telah terjadi.
Semua memberikan penghormatan kepada Kaisar saat sosoknya muncul namun ia tidak begitu peduli karena sekarang tubuhnya hanya bisa membeku melihat mayat seseorang yang sangat ia kenal tengah tergantung kaku tak berdaya.
"Ini..."
Kaisar tak bisa berkata-kata, terlalu sulit baginya untuk menggerakkan lidahnya dan mengeluarkan suara.
Tidak lama sosok Azuura muncul, ia perlahan berjalan lemas mendekati Mura yang tergantung kaku di sebuah tiang namun pengawal yang menjaga disana menghalanginya.
__ADS_1
Namun sayang sekali, pengawal tersebut menjadi pelampiasan atas patah hati yang sedang dirasakan oleh Azuura.
Azuura memotong tali yang mengikat Mura lalu menangkap tubuhnya yang sudah kaku dan penuh luka.
Azuura tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, seluruh tubuhnya menjadi gemetaran, air matanya pun menetes dengan sendiri serta rasa sakit yang menyerangnya membuat lidah seolah ngilu sehingga tidak mampu mengeluarkan suaranya.
Ia bahkan hampir kehilangan kesadarannya namun ia berusaha menguatkan dirinya dan menciumi wajah Mura beberapa kali dengan perasaan pilu.
Tak lupa Azuura memegang perut Mura dan menyapa bayi mereka sambil tersenyum pilu.
Seluruh masyarakat yang menyaksikannya merasa tersentuh dan menjadi iba serta timbul rasa penyesalan di benak mereka, namun semuanya telah terjadi, Mura tak akan bisa hidup lagi.
Beberapa saat kemudian, sebuah bola melayang diatas tubuh Mura. Azuura yang melihatnya tersenyum lalu berkata, "Maafkan ayah yang tidak bisa menjaga kalian, ayah harap suatu saat nanti kau akan selalu mengingat kami berdua..."
Setelah mengatakan nya bola cahaya tersebut terbang menjauh entah kemana dan tiba-tiba ribuan anggota Organisasi Murazuura mulai melakukan pemberontakan.
Azuura yang sudah putus asa karena kehilangan Mura memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menusuk jantungnya menggunakan pedang miliknya sendiri.
Meninggalnya Azuura dan Mura menjadi guncangan besar bagi kekaisaran Qing. Kelompok Organisasi Murazuura mengamuk dan membunuh siapapun termasuk warga sipil.
Bahkan saat beberapa orang menyusup ke istana dan berpura-pura menjadi pengawal lalu membunuh Mura. Kekuasaan membuatnya buta dan menjadi lengah, ia merasa tidak pantas menjadi Kaisar dan membiarkan dirinya terbunuh.
Sudah tiga hari pembantaian di Ibu kota kekaisaran Qing masih berlanjut membuat mayat berserakan memenuhi kota tersebut. Bahkan Organisasi Murazuura juga saling membunuh karena menyesal tidak bisa melindungi kedua Pemimpin mereka.
Hingga tanpa diduga seorang pria tak dikenal datang ke kota tersebut lalu menyerang orang yang masih tersisa dan tengah bertarung dengan satu serangan.
***
Kembali ke masa kini, Zhang Me yang tadinya melayang di udara kini mulai sadar dan kembali berpijak diatas tanah.
Sosoknya yang sangat sempurna dan elegan membuat Shen Zue dan Feng Lu menjadi terpesona sesaat namun mereka segera menggeleng kepala berusaha untuk menyadarkan diri sendiri.
__ADS_1
Kemudian Zhang Me mendekati mereka berdua dan menatapnya intens lalu berkata, "Apa kalian mengenal Azuura dan Mura?" tanya Zhang Me.
Shen Zue dan Feng Lu serentak mengangguk sebagai balasan pertanyaan Zhang Me.
"Lalu dimana mereka sekarang?" tanya Zhang Me lagi.
"Mereka berdua telah meninggal 400 tahun yang lalu ratu..." jawab Shen Zue.
"Apa maksudmu? Jangan menyumpahi orang meninggal atau kau yang ku buat meninggal..." ancam Zhang Me membuat Shen Zue bergidik ngeri.
"Dia benar gadis kecil Azuura dan Mura adalah Pemimpin Organisasi Murazuura 400 tahun yang lalu namun karena suatu kejadian Organisasi tersebut terpecah menjadi dua kelompok yaitu Organisasi Musang Merah Darah dan Gazuura..." jelas Feng Lu.
Zhang Me mengerutkan keningnya dan berkata, "Bagaimana kau bisa mengetahuinya? Tidak mungkin kalau kau sudah hidup selama 400 tahun?"
"Aku mengetahuinya karena saat bergabung di Organisasi Musang Merah Darah para leluhur menceritakan sejarah tentang Organisasi Murazuura yang terpecah menjadi dua kelompok bahkan sampai sekarang." saut Feng Lu.
Zhang Me mengangguk-angguk, sekarang ia mengerti alasan mengapa kedua kelompok yang ia pimpin menjadi saling benci.
"Yah apapun itu, aku rasa sejarahnya harus diperjelas mengapa Azuura dan Mura meninggal dan sesuai apa yang kukatakan tadi kini tidak ada lagi Organisasi Musang Merah Darah ataupun Gazuura melainkan hanya Aliansi Murazuura, mengerti?" ucap Zhang Me.
Shen Lu dan Feng Lu mengangguk mengerti, lagipula tidak ada kesempatan bagi mereka untuk menolak.
Kemudian penampilan Zhang Me berubah kembali menjadi sebelumnya lalu perlahan mulai melangkahkan kakinya, namun baru selangkah ia berhenti dan berbalik menatap Shen Zue dan Feng Lu dan berkata, "Oh iya, besok aku akan pergi dan meninggalkan kota ini..."
Setelah mengatakan nya Zhang Me kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya. Shen Zue dan Feng Lu menatap punggung Zhang Me yang perlahan menjauh.
"Menurut mu bagaimana dia bisa mengetahui tentang Mura dan Azuura? Apa kau pernah memberitahunya?" tanya Feng Lu pada Shen Zue.
"Aku baru saja ingin menanyakan hal yang sama padamu." balas Shen Zue.
"Dan apa maksud dari perkataannya tadi?" lanjutnya.
__ADS_1
Shen Zue dan Feng Lu saling menatap, kerutan yang muncul di wajah mereka seolah mengatakan betapa kerasnya mereka berpikir untuk menemukan jawaban atas apa yang telah terjadi.
Terimakasih untuk support nya. Author mencintai kalian<3