The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)

The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)
Chapter 50- Sekte Gunung Salju


__ADS_3

Terik panas matahari menyapa berbagai tempat kecuali satu tempat, yaitu Gunung Salju yang terletak ditengah-tengah lautan yang terbentang luas.


Gunung ini hanya memiliki satu musim yaitu musim dingin dengan salju yang bertebaran dimana-mana setelah hujan salju turun. Fenomena tersebut terjadi setiap hari dan hanya terjadi di gunung tersebut.


Jika orang biasa yang berada di gunung tersebut mungkin akan mati kedinginan dalam kondisi seluruh tubuh yang membeku.


Namun siapa sangka di gunung tersebut ada kehidupan, banyak manusia yang menetap disana. Mereka hidup layaknya manusia pada umumnya.


Bahkan mereka terlihat biasa saja menjalani kehidupan sehari-hari tanpa merasa terganggu dengan rasa dingin yang teramat sangat. Mereka adalah para penghuni sekte Gunung Salju.


Bukan tanpa sebab tetapi mereka sedari awal sudah diajarkan bagaimana terbiasa dengan suhu dingin dan bagaimana membuat tubuh tetap hangat.


Terlihat para murid yang ada disekte tersebut terlihat sibuk menyiapkan pesta penyambutan untuk kedatangan Patriark dan murid yang telah mengikuti turnamen dimana mereka akan tiba malam nanti dengan membawa kemenangan.


Waktupun berlalu dan tiba saatnya langit menjadi gelap, bulan bersinar terang dengan bintang-bintang yang bertebaran dimana-mana membuat mereka terlihat begitu indah.


Dari jarak ratusan meter tak lama muncullah beberapa titik cahaya dari obor api yang terbuat dari bambu dan menerangi jalan gerombolan Sekte Gunung Salju.


Dengan antusias murid Sekte Gunung Salju dan tetua serta penanggung jawab lainnya menyambut mereka dengan bahagia.


Seiring jalan dari gerbang sampai memasuki aula pertemuan, sebagian orang menatap kagum pada Zhou Peigong sambil melemparkan pujian membuat Zhou Peigong hanya bisa tertunduk malu dan sebagiannya lagi memasang ekspresi jijik padanya.

__ADS_1


Saat tiba di pintu masuk aula pertemuan sekte Gunung Salju, semua orang kecuali Tetua dan para penanggung jawab serta rombongan yang mengikuti Turnamen dilarang masuk dan diminta untuk kembali ke kediaman masing-masing.


Dengan senyum yang merekah para tetua menyambut rombongan yang mengikuti Turnamen yang kembali membawa kemenangan, terkhusus untuk Zhou Peigong yang mendapat banyak pujian.


Terlihat dari ekspresinya Zhou Peigong tampak lega dan hanya membalas dengan senyuman hangat pujian yang dilemparkan kepadanya.


"Saat ini aku merasa sangat bahagia karena kita bisa menjadi pemenang turnamen pada tahun ini." ucap Tao Ming, Patriark sekte Gunung Salju.


"Dan kita tidak perlu kuatir lagi persoalan sumber daya karena kekaisaran akan memberikan kita sumber daya yang cukup setiap bulannya." lanjutnya.


"Kau benar, kemenangan kita bisa saja menjadikan sekte Gunung Salju sebagai sekte aliran putih nomor satu di kekaisaran Qing." ujar salah satu tetua.


"Jadi, untuk merayakan kemenangan ini kita akan mengadakan pesta dan aku serahkan kepada kalian untuk mengurusnya." kata Tao Ming.


"Buat pesta besar-besaran, undang pihak kekaisaran dan semua sekte aliran putih maupun netral serta kita akan mengundang seseorang yang akan menjadi tamu istimewa dalam pesta ini." saut Tao Ming sambil tersenyum penuh arti.


Semua orang saling menatap seakan bertanya-tanya siapa tamu istimewa yang dimaksud Tao Ming.


Zhou Peigong sendiri tidak peduli, ia menggerakkan tubuhnya menjadi lebih tegak dan membuka bicara, "Maaf atas kelancanganku Patriark, sesuai dengan kesepakatan kita sejak awal jadi kapan aku bisa meninggalkan sekte?"


Wajah Tao Ming yang awalnya berbinar berubah berkerut, ia menyipitkan matanya dan menatap tajam Zhou Peigong.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Tidak ada waktu untuk membicarakan itu sekarang." saut Tao Ming keras.


Zhou Peigong menundukkan kepalanya dan menatap sepasang kakinya yang berpijak diatas lantai dengan perasaan sedih sambil mengepalkan kedua tangannya mencoba meredam rasa kesalnya.


Setelah membahas beberapa hal-hal yang perlu dibicarakan, satu persatu orang yang ada disana mulai melangkahkan kakinya beranjak dari sana begitupun dengan Zhou Peigong yang berjalan menuju kediamannya.


Sebenarnya Zhou Peigong adalah anak dari Patriark sebelumnya, namun sangat disayangkan ayah dan seluruh keluarga tersapu habis dibunuh oleh klan Tao sehingga hanya menyisakan dirinya sendiri.


Kejadian tersebut terjadi sebelas tahun yang lalu saat usia Zhou Peigong baru menginjak 7 tahun dimana terjadi pertarungan yang sengit antara klan Zhou dan Tao.


Saat itu dirinya tidak begitu mengerti dan belum tau pasti penyebab terjadinya kejadian tersebut yang menewaskan seluruh keluarganya.


Namun yang membuatnya bingung adalah mengapa dirinya tidak ikut dibunuh? malah justru dirawat dan dibesarkan oleh klan Tao meskipun ia selalu mendapatkan perlakuan buruk.


Salah satunya yaitu, meskipun ia merupakan murid jenius nomor satu di sekte tapi ia mendapatkan sumber daya yang sangat kurang dan selalu mendapatkan perlakuan yang buruk, berbeda dengan murid yang lainnya.


Selain itu ia memiliki kediaman yang paling jelek, kecil dan sempit diantara semua milik murid yang ada di sekte Gunung Salju.


Itulah alasan yang membuat dendam menumpuk di hati Zhou Peigong, namun ia tidak boleh gegabah, ia harus menjadi anak yang patuh dan penurut hingga ia bisa keluar dari sekte karena itu adalah langkah pertama untuk membalaskan dendamnya.


Dan untuk saat ini ia harus menunggu hingga Tao Ming membiarkannya pergi dari Sekte sesuai dengan janji yang dikatakan Tao Ming bahwa jika Zhou Peigong berhasil memenangkan Turnamen maka ia boleh meninggalkan Sekte.

__ADS_1


Sebenarnya dari awal saat Tao Ming mengatakan itu, Zhou Peigong sedikit curiga dan tak percaya sepenuhnya namun baginya tidak ada salahnya jika ia mencoba percaya.


Dan sebelum itu terjadi Zhou Peigong harus bisa bersabar dan mengendalikan dirinya serta menjaga sikapnya agar tak mendapat hukuman hanya karena sesuatu hal yang kecil.


__ADS_2