The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)

The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)
Chapter 19- Berkunjung ke Istana Kekaisaran Qing


__ADS_3

Setelah Zhang Me, Meng Ye dan Fang Je meninggalkan penginapan, Zhang Me meminta untuk ke pusat perbelanjaan untuk membeli kembali semua keperluan kedai dengan mengatakan bahwa Fang Je yang akan membayar semuanya.


Tidak mungkin kan ia mengatakan bahwa ia memiliki banyak uang dan akan membayar semuanya?


Awalnya Meng Ye menolak karena tak enak dengan Fang Je, tapi berbagai bujukan yang dilakukan Zhang Me dan Fang Je membuat Meng Ye akhirnya setuju meskipun merasa tak enak pada Fang Je.


Dan semakin memburuk saat Zhang Me memaksa Meng Ye untuk menunggu di kedai makanan dan meminta Fang Je yang membeli semua keperluannya.


Ditengah makannya Meng Ye menjadi gelisah karena memikirkan Fang Je. Ia mengira Fang Je menyukai Zhang Me dan berpikir bahwa putrinya yang licik itu berusaha memanfaatkan Fang Je yang malang.


"Ibu ada apa denganmu? Apa kau masih teringat kejadian itu?" tanya Zhang Me melihat raut kuatir Meng Ye.


Meng Ye menggeleng dan membuat Zhang Me semakin kuatir. Alih-alih berbelanja, Zhang Me sengaja mengajak Meng Ye untuk makan bersama agar tak teringat kejadian yang telah menimpanya.


Tapi justru malah membuat Meng Ye menjadi kesal, gelisah dan tak enak karena Fang Je.


Rasa kekesalan Meng Ye semakin bertambah saat melihat Zhang Me sangat menikmati makanannya seolah tak peduli.


Tak banyak yang mereka obrolkan, Zhang Me sibuk dengan semua makanannya, dan Meng Ye dengan kekesalannya.


Setelah selesai, mereka berjalan keluar kedai dan menemukan Fang Je yang sudah menunggunya dengan tangan yang dipenuhi barang belanjaan yang telah diberitahu oleh Meng Ye pada Fang Je.


"Kapan kau kembali?" tanya Zhang Me.


"Baru saja nona..." jawab Fang Je.


Zhang Me mengangguk dan berkata, "Baiklah, cepat pergi."


"Me'er, mengapa kau tidak sopan begitu?" tegur Meng Ye tak suka.


"Dia lebih tua darimu, bicaralah dengan sopan dan katakan terimakasih padanya..." lanjutnya.


Zhang Me meringis, "Iya, maafkan aku ibu..."


"Je gege, terimakasih dan kau boleh pergi..."


Fang Je hanya mengangguk menanggapi perkataan Zhang Me.


"Mengapa kau memintanya pergi? dia boleh ikut bersama kita..." ucap Meng Ye.


"Tidak bu, dia sedang ada yang ingin dilakukan jadi tak bisa ikut bersama kita, benar kan Je gege?" tolak Zhang memberi kode pada Fang Je.


"Iya bibi, nona benar, aku harus segera pergi dan ini barang yang kau perlukan..." saut Fang Je gelagapan.


Meng Ye meraih barang belanjaan dari Fang Je dan berkata, "Baiklah, terimakasih untuk kebaikanmu..."


Fang Je mengangguk menanggapi perkataan Meng Ye, lalu membiarkan Zhang Me dan Meng Ye pergi lebih dulu dan setelah itu ia menghilang dan bersembunyi dibalik bayangan Zhang Me.


***


Pertarungan antara Li An dan Mo Ahn Dong masih terjadi, mereka tanpa henti saling bertukar serangan meskipun langit sudah mulai gelap.

__ADS_1


"Guru hentikan!" teriak Lang Ruo.


Li An dan Mo Ahn dong berhenti mendengar teriakan Lang Ruo.


"Berani sekali kau!" bentak Mo Ahn Dong Marah.


Wajah Lang Ruo menjadi pias,  dengan bersusah payah ia mengeluarkan suaranya, "Maafkan aku guru, tapi kau sudah menghabiskan banyak waktu untuk bertarung, jika kau melanjutkannya kita tidak akan mendapatkan penawarnya dan Mo Xun bisa tiada..." ungkap Lang Ruo.


Mo Ahn Dong terdiam, apa yang dikatakan Lang Ruo benar, ia telah nafsu dalam memenuhi hasratnya untuk mengalahkan Li An sampai lupa tujuan utamanya.


"Ada apa ini?"


Semuanya menoleh menatap Meng Ye dan Zhang Me yang baru datang, tapi tatapan mereka menetap pada Zhang Me.


Li An berjalan menghampiri mereka lalu memeluk Zhang Me dan Meng Ye bergantian.


"Ayah, siapa mereka?" tanya Zhang Me.


Ia dan Meng Ye yang baru datang menatap bingung pada Li An dan juga segerombolan orang yang berkumpul di depan kedai.


Li An menceritakan dan memberi tau bahwa mereka adalah orang-orang dari sekte Anggrek Putih dan juga pengawal dari kekaisaran yang datang untuk menemui Zhang Me.


Zhang Me mengangguk tanda mengerti, "Kalian mencariku?" seru Zhang Me.


Mereka terdiam, belum tersadar dari keterkejutannya membuat Zhang Me jadi muak, ini selalu saja terjadi setiap kali ada yang melihatnya.


"Siapa gadis ini?"


"Gadis ini sungguh cantik..."


Mereka terhanyut dalam pikiran masing-masing dan berbagai pertanyaan muncul mengenai Zhang Me.


Dengan muka malas, Zhang Me menghentakkan kakinya ke tanah sehingga terjadi gempa kecil.


"Apa yang terjadi?"


"Getaran apa itu?"


"Apa terjadi gempa?"


Gempa kecil yang disebabkan Zhang Me membuat mereka tersadar dan menjadi waspada.


"Apa kau gadis waktu itu?" tanya Lang Ruo.


Zhang Me mengangkat sebelah alisnya lalu mengangguk malas, ia mengingat jelas Lang Ruo, Putra Mahkota kekaisaran Qing.


Lang Ruo sendiri terpesona dengan Zhang Me, ia tak menyangka ternyata wajah dibalik topeng waktu itu sangatlah cantik.


Ia merasa kecantikan yang dimiliki Zhang Me tidaklah biasa, tak seperti gadis-gadis cantik diluar sana, wajah Zhang Me membuat siapapun enggan untuk berpaling.


"Berhenti menatapku seperti itu!" protes Zhang Me tak suka.

__ADS_1


"Ohh, jadi kau gadis yang meracuni. Xun'er ha?" ucap Mo Ahn Dong membentak.


Dengan wajah datar Zhang Me menatap Mo Ahn Dong lalu mengibaskan tangannya dan berkata, "Sudahlah, aku sedang tidak ingin bertarung, aku akan ikut kalian untuk mengobati pria bodoh itu..." kata Zhang Me.


Mo Ahn Dong terperangah, ia tau dari kelihatannya Zhang Me adalah gadis kecil yang masih berumur 16 tahun, tapi mengapa ia bertingkah seolah telah dewasa? pikir Mo Ahn Dong.


Mo Ahn Dong teringat akan sesuatu, kemudian beralih menatap Li An dan berkata, "Sejak kapan kau memiliki putri?" tanyanya, ia tak pernah mendengar bahwa istri Li An sedang mengandung, lalu bagaimana bisa tiba-tiba memiliki putri?


"Kau sangat lancang berkata seperti itu pada ayahku! Apa kau ingin aku berubah pikiran dan membiarkan pria bodoh itu tiada?" kata Zhang Me tak suka.


Mo Ahn dong melotot mendengar ucapan Zhang Me, "Kau mengancamku? apa kau pikir aku tak mampu untuk membunuhmu?" sautnya.


"Aiss, mengapa kau malah mempersulit keadaan..." kesal Zhang Me.


"Maafkan guruku, kami tidak akan membuat masalah denganmu asal kau mau mengobati Mo Xun..." ucap Lang Ruo cepat.


"Lang Ruo!" protes Mo Ahn Dong.


"Maaf guru, kali ini kau harus mengikuti apa yang aku katakan sebagai putra mahkota yang ingin menyelamatkan nyawa sahabatnya..." bantah Lang Ruo.


"Kau sangat pandai mengambil keputusan, gelar putra mahkota sangat pantas untukmu..." ungkap Zhang Me.


Mendengar itu membuat Lang Ruo merasakan jantungnya berdebar cepat, dan itu adalah sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Baiklah, kau harus ikut bersama kami..." ucap Lang Ruo gugup.


"Kalian lebih dulu saja, aku akan menyusul..." saut Zhang Me.


"Bagaimana kami bisa percaya? Kau bisa saja berbohong dan menghilang..." kata Mo Ahn Dong.


"Kau ingin pria bodoh itu selamat atau tidak? Jika iya pergi saja lebih dulu kakek tua." balas Zhang Me.


'Pak'


Mendengar perkataan tidak sopan Zhang Me, Li An langsung memukul kepalanya pelan, "Dasar gadis nakal, kau harus bicara sopan pada orang yang lebih tua darimu..." kata Li An lembut lalu menarik hidung Zhang Me.


Zhang Me meringis kesakitan, "Kau tega sekali ayah..."


"Baik, kami akan pergi lebih dulu..." ucap Lang Ruo setuju, entah mengapa ia merasa Zhang Me dapat dipercaya.


Mo Ahn Dong ingin membantah tapi lagi-lagi terhalang oleh Lang Ruo, dan akhirnya ia mengikut saja dan kembali ke istana kekaisaran bersama yang lainnya.


Saat Lang Ruo dan segerombolannya tak terlihat lagi oleh pandangan, Zhang Me pamit pada Li An dan Meng Ye untuk bergegas ke istana kekaisaran dan berjanji akan segera kembali.


"Berhati-hatilah putriku..." kata Li An.


"Iya ayah." jawab Zhang Me sambil tersenyum.


Ia memeluk keduanya lalu beranjak pergi menuju istana kekaisaran Qing.


"Aku sangat penasaran bagaimana bentuk istana kekaisaran Qing itu..."

__ADS_1


__ADS_2