
Sore musim salju yang lembab dan dingin, hari ini cafe sepi. Sepertinya orang-orang lebih senang tinggal berdiam dalam rumah, duduk di depan perapian, bercanda dengan keluarga. Hal yang selalu kuimpikan, entah kapan saat terakhir kunikmati secangkir coklat panas buatan ibu.
Sebuah mobil mewah berhenti, seorang pria tampan turun dan melangkah masuk ke dalam cafe. Dia tersenyum lebar ke arahku memamerkan deretan giginya, ah senyum itu selalu bisa menghangatkan hatiku.
"Halo sayang," sapanya
"Di luar benar-benar dingin, senang rasanya berada di ruangan hangat ini." dia berceloteh dengan riang, melangkah menuju tempat duduk favoritnya yang terletak di sudut ruangan, dekat jendela.
Aku berjalan menghampiri, meletakkan secangkir Americano kesukaannya.
"Ah! Ini tepat yang kubutuhkan!" dia menghirup minumannya dengan nikmat, kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya, meletakkan dua lembar kartu undangan di atas meja.
"Undanglah satu dua orang temanmu sayang, ini hari bahagia kita." kupandangi kertas berwarna biru toska itu, ada namaku dan namanya terukir dengan tinta perak di depannya.
Peter Grey dan Delilah Spark, undangan itu sederhana tapi nampak elegan. Peter selalu bisa membuat segalanya sempurna, aku hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapannya.
"Hari ini kau sibuk?" tanyaku
"Tidak juga, hanya ada dua operasi besar. Mereka tidak terlalu membutuhkanku di sana, ada apa? Kau butuh sesuatu?"
Kugigit bibirku perlahan, ragu berucap. Walau kami sudah setahun pacaran tapi rasanya masih kurang nyaman meminta sesuatu padanya.
Peter adalah seorang dokter ahli anastesi, bekerja di rumah sakit yang di kelola keluarganya, Lovelock Surgery Hospital, selain itu dia juga pewaris tunggal dari Forever Young Foundation. Dengan penghasilannya dia bisa memenuhi semua permintaanku tapi aku tidak mau hubungan ini jadi seperti aku sedang memanfaatkan situasi.
"Ada apa sayang? Kenapa diam?" Peter menggenggam tanganku
"Aku ...,"
"Ya?"
"Aku belum gajian, dan tidak punya gaun yang pantas kukenakan ke pesta kita." aku memberinya penjelasan, lega karna akhirnya mengucapkan kalimat yang sedari tadi kutahan
"Astaga! Lailaa ... kau membuatku cemas. Kupikir kau akan membatalkan pertunangan kita!" Peter tertawa terbahak-bahak membuatku tertunduk malu. Dia lalu berdiri dan menarik tanganku.
"Ayo! Roy kupinjam pegawaimu sebentar!" teriaknya pada pemilik cafe yang juga temannya, dia membawaku masuk ke dalam mobil.
"Sarche Boutique!" perintahnya pada Tuan Martin, supirnya.
Dia membawaku ke salah satu butik eksklusif yang ada di Lovelock, hanya orang dari kalangan atas yang belanja di sini. Peter menghampiri salah seoramg pelayan butik
"Dandani dia!" perintahnya sambil menunjuk ke arahku.
Para pelayan dengan sigap melayaniku. Mereka membawaku ke sebuah ruangan, membawa beberapa helai gaun dan kotak-kotak berisi perhiasan.
__ADS_1
Kepala Peter muncul di balik pintu, memberiku isyarat agar mendekat
"Sayang, rumah sakit menelpon ...,"
"Yah pergilah,"
"Kau tidak apa-apa?"
"Tentu saja,"
"Baiklah! Nanti kujemput okey." Peter mengecup keningku kemudian berlalu.
Hari sudah menjelang malam saat kami selesai, gaunnya akan di kirim besok ke rumahku. Peter tak kembali, aku berjalan menuju halte bus terdekat.
Entah mengapa aku lebih suka naik bus dari pada taksi, beberapa menit duduk menunggu handphoneku bergetar, Peter.
"Kau sudah selesai?" tanyaku
"Iya, baru saja. Kau?"
"Ya ... kami baru saja selesai, mereka akan mengantarkan gaunnya besok."
"Di mana kau sekarang?"
"Astaga Lailaa ... berapa kali kubilang jangan naik bus! Sangat rawan apalagi jam segini, banyak kriminal. Belum lagi jalan yang licin ...."
Aku tak mendengar lagi apa ucapan Peter selanjutnya, karena suara yang lebih keras mengalihkan perhatianku. Sebuah mobil melaju kencang, menabrak tiang lampu jalan.
Pengemudinya tampak kehilangan kendali karna kondisi jalan yang licin, mobil tampak berputar beberapa saat kemudian melaju ke arah halte bus.
"Halo! Delilaa! Kau di sana? Apa yang terjadi? Laila!"
Ambulance tiba, beberapa petugas medis mengangkat tubuhku ke atas mobil. Peter tampak berlari menyambutku di depan pintu ICU, beberapa orang mencegah Peter mendekat.
"Tidak! Jangan Delilahku!" serunya
"Tenangkan dirimu Pet, kami akan menanganinya," ucap seorang dokter
"Biarkan aku masuk Charlie!"
"Kau tahu itu tidak boleh Peter!" dokter Charlie bergegas memasuki ruang operasi, seorang perawat menutup pintu.
Peter duduk termenung di ruang kerjanya, sejenak kupandangi papan kecil di depan pintu. Terukir dr.Peter Grey di sana, dia duduk diam dalam kegelapan.
__ADS_1
Ah betapa sedihnya dia, aku berjalan menghampirinya. Dokter Charlie memasuki ruangan, menyalakan lampu. Peter mengangkat wajahnya, mengerjapkan mata, membiasakannya dengan cahaya terang.
Dokter Charlie tak berkata apa-apa, hanya menggelengkan kepala. Tunggu! Apa maksud gelengan kepala itu? Peter! Jelaskan padaku, apa yang terjadi? Peter berdiri, menuang minuman ke dalam gelasnya. Menghabiskannya dengan sekali teguk lalu membanting gelasnya ke lantai.
"Sialan! Satu tahun yang sia-sia!" makinya, handphonnya berdering, ibunya menelpon.
"Dia meninggal." hanya itu yang di ucapkan Peter lalu menutup telpon.
Meninggal? Siapa yang meninggal? Apakah aku? Tapi aku di sini. Peter aku di sini! Lihat aku! Kau tidak mendengarku? Aku berjalan di depan Peter, berteriak memanggil namanya, tapi dia sama sekali tidak mendengarku.
Peter berjalan perlahan menuju sebuah ruangan, aku masih memanggilnya saat Peter berhenti melangkah, berdiri di samping sebuah kantong jenasah.
Astaga itu aku! Tubuhku terbaring kaku dengan kondisi yang aku sendiri tidak mampu melihatnya. Lulutku terasa bergetar, tak kuat menopang tubuhku.
Bila mayat itu adalah aku, jadi aku ini apa? Hantu? Tidak mungkin. ini hanya lelucon, hantu itu tidak ada. Peter jawab aku! Aku berteriak sekuat tenaga tapi Peter tetap tidak mendengarku
"Percuma saja, dia tidak bisa lagi mendengarmu!" seru seorang pria tambun sambil tertawa.
"Maaf ... Siapa kau? Apa maksudmu?" tanyaku
"Aku penunggu kamar mayat ini, kau adalah hantu sekarang. Dokter itu tidak bisa lagi melihat ataupun mendengarmu, alam kalian sudah berbeda."
"Lalu kau sendiri apa? Bagaimana kau bisa melihat dan mendengarku?"
"Karena aku sama sepertimu,"
"Maksudmu ... kau hantu?" pria itu mengangguk membuatku mundur beberapa langkah, ini pertama kalinya aku melihat hantu.
"Bila kau hantu mengapa kau tidak menyeramkan,"
"Itu tergantung bagaimana caramu mati,"
"Jadi aku?" aku menghampiri cermin yang tergantung di dinding, berdiri di depannya tapi aku tak bisa melihat apapun, si pria menertawakanku.
"Tentu saja kau tidak bisa bercermin, kau ini hantu!"
"Okey ... baiklah! Bila benar kau dan aku adalah hantu, apakah hanya ada kita berdua?" bisikku, takut bila ada hantu lain yang mendengarku.
"Tentu saja tidak! Ini rumah sakit nona, kita ada di mana-mana!"
"Berhenti menyebut kita! Aku bukan hantu!"
"Ah terserahlah! Kau mau percaya atau tidak!" pria tambun itu lalu berjalan meninggalkanku, dengan santai menembus pintu.
__ADS_1
Aku masih berdiri kaku di samping tubuhku, sekali lagi melihatnya kemudian melangkah cepat meninggalkan ruangan itu.