
Sudah sejam lamanya aku dan Ramona mengawasi Peter dan si gadis pirang yang sedang makan malam di sebuah restoran. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan, mereka sepertinya sangat menikmati kebersamaan mereka.
"Jadi bagaimana? Sepertinya malam ini Peter tidak akan beraksi,"
"Yah ... pulanglah Ramona, biar aku yang mengikuti mereka. Kalau ada apa-apa aku akan segera mengabarimu."
Sepeninggal Ramona aku bergabung dengan mereka berdua, aku penasaran kenapa begitu lama mereka belum berpindah tempat. Aku duduk di samping si pirang yang terlihat sudah setengah sadar karena terlalu banyak minum anggur.
Dia bahkan sudah tidak perduli dengan gaunnya yang tersingkap. Perlahan kuulurkan tangan, menyentuh paha si gadis, menurunkan gaunnya.
"Ah Peter ... kau nakal!" si pirang tertawa genit, mengira tangan Peter yang menyentuhnya.
Peter hanya tersenyum mendengar ocehan si gadis. Mereka lalu meninggalkan rumah makan, si gadis yang sudah tidak sadar tertidur di samping Peter. Peter meraih handphone, menekan tombol panggilan cepat.
"Aku akan membawanya ke situ." itu saja yang dia ucapkan lalu memutuskan sambungan.
Peter mengemudikan mobilnya melaju menuju rumah sakit, rupanya Lana sudah menunggu di pelataran parkir.
"Bawa dia ke rumah perahu, tidak usah buru-buru menghabisinya, nanti kita ambil apa yang kita butuh saja." Peter memberi perintah pada Lana.
Seorang pria membantu Lana memindahkan si gadis pirang ke mobil yang lain. Peter pun berlalu meninggalkan mereka, aku memutuskan untuk ikut ke rumah perahu, aku ingin melihat apa yang mereka lakukan pada si gadis.
Rumah perahu berada di pinggir danau Flaminggo, itu adalah sebuah rumah kayu sederhana yang mengapung, Peter dan teman-temannya biasa menggunakannya pada saat liburan sambil memancing.
Saat tiba di sana sebuah mobil lain pun mendekat, dua pria bertubuh besar turun dari mobil itu. Si pirang sedikit menggeliat, semuanya diam beberapa saat, tidak membuat suara. Lana lalu menempelkan kain yang mengandung bius ke hidung si gadis, membuatnya kembali tak sadarkan diri.
Dua pria bertubuh besar bergegas ke dermaga, mereka menarik tali penahan rumah perahu, membuatnya merapat ke darat. Pria yang bersama Lana menggendong si pirang, membawanya ke rumah perahu.
Pria itu mengikat kaki dan tangan si gadis di atas tempat tidur, mereka menutup pintu, menguncinya dari luar lalu membiarkan rumah itu kembali mengapung menjauhi daratan.
"Kalian berdua tetap di sini, awasi gadis itu, tunggu perintah dari dokter Peter." kedua pria bertubuh besar itu menggangguk mendengar perintah dari Lana.
Aku bergegas menuju tempat Ramona, ini kesempatan bagus untuk melaporkan Peter dan anak buahnya. Ramona sedang bersama seorang pemuda saat aku tiba di apartemennya, pemuda itu mengendus keberadaanku.
"Masuklah!" seru Ramona
"Hantu? Kau mengijinkan seorang hantu masuk ke sini?" pemuda itu menggeram ke arahku
"Hei tenanglah! Dia temanku, dia tidak akan menyakitiku."
__ADS_1
"Sam ini temanku Delilah, Lyla ini adikku Samuel. Sam seorang Warewolf jadi dia bisa membaui dan melihatmu."
Sam tersenyum ke arahku, aku hanya mengangguk membalasnya.
"Baiklah aku pergi sekarang, aku tidak mau terlibat obrolan para gadis." Sam meraih tasnya kemudian berlalu.
"Jadi ada berita apa?" tanya Ramona antusias
"Mereka menyekap si pirang di sebuah rumah perahu,"
"Di mana rumah perahu itu?"
"Di danau Flaminggo, rumah itu di jaga dua orang pria,"
"Tunggu apa lagi? Ayo kita ke kantor polisi!"
Di kantor polisi seorang petugas menerima laporan Ramona,
"Anda yakin dengan laporan anda Nona?" si petugas menatap Ramona penuh selidik
"Iya saya yakin Pak!" Ramona menjawab tanpa ragu
"Sebaiknya Bapak cek langsung ke lokasi yang kusebutkan, jangan sampai semuanya terlambat Pak!" Ramona geram karena merasa petugas itu tidak percaya padanya.
"Baiklah! Laporan ini kami terima, akan kuminta petugas yang sedang patroli untuk memeriksa tempat yang kau sebut."
"Jangan kemana-mana." Si petugas memberi isyarat pada Ramona agar tetap duduk di tempat, ia lalu meraih handytalky yang ada di dekatnya
"Markas kepada Kevin, helo kau di sana?"
"Yup, di sini Kevin,"
"Bisakah kau mengecek sebuah rumah perahu di danau Flaminggo? Seseorang melaporkan penculikan dan penyekapan di sana,"
"Okey, aku segera ke sana."
Waktu terasa berjalan sangat lambat saat akhirnya handytalky petugas itu berbunyi.
"Markas,"
__ADS_1
"Yah,"
"Tidak ada apa-apa di sini, semuanya aman," lapor petugas Kevin
"Okey terima kasih Kevin."
Ramona duduk dengan gelisah mendengar laporan petugas Kevin, berulang kali kami saling bertukar tatap bingung. Bagaimana mungkin gadis itu tidak di sana? Tadi malam aku melihat semua dengan sangat jelas!
"Jadi bagaimana Nona? Kau dengar sendirikan? Tidak ada apa-apa di sana,"
"Tapi Pak ...,"
"Sudahlah Nona, sebaiknya kau pulang sekarang atau aku akan membuat laporan bahwa kau telah membuat laporan palsu." Petugas itu berbicara dengan nada yang di tekan, membuat Ramona segera berdiri dari tempatnya.
"Baik, permisi Pak."
Aku dan Ramona kembali ke apartemennya, aku benar-benar bingung dengan situasi ini. Apakah anggota Peter memindahkan gadis itu ke tempat lain? Atau Peter berubah pikiran dan melepaskannya?
Ramona menyalakan televisi dan memindah-mindahkan saluran kemudian berhenti pada salah satu stasiun televisi yang sedang membacakan berita kehilangan.
["Angela adalah putri dari Tuan William, Walikota dari kota Grandville ...." ]
"Hei itu si pirang!" seru Ramona saat melihat foto si gadis pirang tampil di layar, dia membesarkan volume suara televisinya.
["Angela terakhir terlihat di stasiun kereta Grandville mengenakan jaket hitam dan gaun berwarna biru, serta sebuah tas selempang. Bagi anda yang melihatnya harap menghubungi nomor yang tertera di layar atau melapor pada petugas setempat."]
"Jadi bagaimana sekarang?" tanya Ramona
"Sepertinya kita harus memulai dari tempat yang tepat yaitu dari rumah sakit, entah mengapa perasaanku mengatakan gadis itu telah di pindahkan ke sana."
Setelah tiba di rumah sakit, aku dan Ramona berpencar. Dia akan berjaga di depan, mengawasi siapa dan kendaraan apa yang keluar masuk rumah sakit.
Aku akan menyelidiki keadaan dari dalam, aku mulai memeriksa dari lantai paling atas kemudian turun ke lantai paling dasar.
Di sini selain penerangan yang kurang memadai, lembab dan bau juga sesekali terdengar suara-suara aneh. Kukuatkan diriku, bila yang akan kulihat nanti adalah hantu, harusnya aku tidak usah takutkan? Toh aku juga hantu.
Kutelusuri koridor semakin ke dalam, mengintip satu dua ruangan, tapi sesuatu menghentikan langkahku. Ada sesuatu yang bergerak di kegelapan menuju ke arahku, sesuatu itu makin dekat dan semakin dekat.
Ah tidak! Dia itu hantu tanpa kepala! Aku memang juga hantu tapi aku belum pernah melihat sesuatu yang seperti ini, perlahan aku berjalan mundur. Oh apa yang harus kulakukan sekarang?
__ADS_1