
"Kamu dari mana saja?" tanya Tante Sinta sambil membantu perempuan itu masuk.
"Dari toko buku dan hampir saja Sandy mengenaliku tadi untungnya karena aku memakai masker dan topi ini jadi ia tidak terlalu familier," jawab perempuan itu.
"Kamu jangan gegabah, jika Sandy tau kamu masih hidup semua akan lebih berbahaya," nasehat Tante Sinta.
"Tante tenang aja karena sekarang aku udah mengenali sisiku yang lain," kata perempuan itu sambil membuka topi dan maskernya. Perempuan itu adalah Netra Ayu Permata, seorang remaja yang hampir mati tertembak di hari ulang tahunnya.
*****
"Tante, aku sedang berusaha mengenal sisi lainku ini, jadi biarkan aku melakukan apa yang aku mau," jawab Netra sambil pergi meninggalkan tantenya.
"Hah, anak itu, sama menyebalkannya seperti ibunya. Berpura-pura baik, namun ternyata sikapnya seperti itu. Kalau saja ia tidak mewarisi wajah Mas Salman, aku tidak sudi menyelamatkannya," batin Tante Sinta sambil pergi ke kamarnya.
Di kamar Netra, terdapat sebuah lemari dengan kaca berukuran besar. Netra melihat dirinya dalam cermjn dan mulai berbicara.
"Bukankah ini berlebihan, biarkan aku kembali menguasai tubuhku sendiri," kata suara dari pantulan kaca itu.
"Kamu butuh perlindungan. Aku akan melindungimu dengan menggunakan tubuhmu ini. Percayalah padaku," kata Netra.
"Aku rindu Nenek, Bunda Anna, Sandy, Radit, biarkan aku bertemu mereka," kata sosok pantulan itu.
"Belum saatnya, masih ada bahaya yang akan mengincarmu jika kamu kembali," kata Netra.
"Biarkan aku menguasai sepenuhnya tubuhku, aku mohon pergilah. Aku bisa menjaga diriku sendiri," jawab sosok pantulan itu lagi.
"Baiklah, aku akan pergi dengan 1 syarat," kata Netra.
"Apa itu?" tanya sosok itu. Sebelum Netra menjawab, Tante Sinta sudah membuka pintu dan melihat Netra yang berada di depan cermin.
"Apa kamu sedang mengenali sisimu itu? Apa kamu tidak tahu apa yang pernah dilakukan sisimu itu? Kamu bahkan ..." sebelum Tante Sinta melanjutkan pembicaraannya Netra sudah memotong.
"Apa aku harus beritahu semua yang aku tahu pada waktu itu?" kata Netra sinis. Tante Sinta langsung terdiam mendengar omongan Netra.
"Dia bukan seperti Rara yang biasanya, dia lebih berani. Dan tatapannya tadi, aku seperti pernah melihatnya. Tapi dimana? Itu jelas-jelas bukan tatapan Ka Nira atapun Mas Salman. Aku harus cari tahu apa yang terjadi pada Rara," batin Tante Sinta.
__ADS_1
"Tante? Kenapa diem aja?" tanya Netra.
"Ayo makan siang, tante mau ajak kamu makan di luar. Dan jangan lupa penyamaranmu. Tante tunggu 15 menit di bawah," jawab Tante Sinta sambil keluar dan kembali menutup pintu kamar Netra.
"Hei, apa syarat yang kamu ajukan agar kamu pergi dari tubuhku," sosok di kaca itu kembali berbicara.
"Nanti kamu akan tahu dengan sendirinya. Untuk saat ini, ikuti saja apa yang aku lakukan," jawab Netra sambil bersiap-siap.
"Semenjak aku terbangun dia selalu seenaknya dengan tubuhku, apa sebenarnya yang dia rencanakan. Walau tinggal dalam tubuhku, hati dan pikiran kami berbeda, aku tidak bisa membaca isi pikirannya," kata sosok dalam cermin dalam hatinya.
"Sudah, lebih baik kita segera bergegas dan pergi menemui Tante Sinta," kata Netra.
"Kita?" tanya sosok di cermin.
"Sudah jangan banyak bicara, nanti kamu akan tahu," jawab Netra sambil mengenakan topi dan maskernya.
Netra berjalan keluar dari kamarnya dan menemui Tante Sinta. Tante Sinta segera bangun dari duduknya dan pergi mendahului Netra ke garasi. Mobil berwarna hitam dengan merk terkenal keluar dari dalam garasi. Netra segera masuk ke dalam.
"Pak, kami akan pergi mungkin hingga malam, jangan terima tamu siapapun itu sebelum kami pulang," kata Tante Sinta ke satpam yang menjaga rumahnya. Satpam itu hanya menganggukan kepala dan membukakan pagar dan Tante Sinta bersama Netra segera pergi.
"Tante, kita mau kemana?" tanya Netra.
"Kita akan berbelanja kebutuhanmu. Tante tidak tahu apa saja yang kamu butuhkan," jawab Tante Sinta sambil sesekali melirik ke arah Netra.
Netra kembali menutup cerminnya dan sosok itu mulai bergumam dengan sendirinya.
"Apa dia ingin mempermainkanku?" kata sosok itu dalam hati tepat sebelum cermin ditutup.
"Ini bukan saat yang tepat, aku akan menunggu hingga nanti makan malam," kata Netra dalam hati.
Kesunyian kembali data di antara mereka. Netra menyalakan radio agar suasana tidak terlalu canggung. Setelah 20 menit dalam perjalanan, mereka tiba di salah satu mall besar yang pernah Netra datangi.
"Rasanya tidak asing, seperti aku pernah ke tempat ini," batin Netra.
"Perasaan apa ini, sesak, seakan ada kenangan manis di sini yang aku tidak tahu," batinnya lagi.
__ADS_1
"Rara? Kenapa diem?" tanya Tante Sinta.
"Rara mau ke toilet dulu ya, daritadi udah nahan nih, hehe," kata Netra segera mencari toilet terdekat. Dadanya sesak. Ia harus segera berbicara dengan sosoknya di cermin. Setelah melihat-lihat kondisi sekitar dan memastikan semua aman, Netra segera berbicara di depan cermin toilet.
"Ada apa ini? Kenapa rasanya sesak saat aku mau ke tempat ini," tanya Netra.
"Tempat ini mengandung terlalu banyak kenangan. Ini tempat dimana aku merasakan kehangatan sebuah keluarga dan pertemanan. Dadaku terasa sesak ketika mengingatnya dan karena ini adalah tubuhku, imbasnya adalah kau dapat merasakan hal itu walaupun kita berbeda jiwa," kata sosok di cermin.
"Kuatkan dirimu, ada hal yang akan membuatmu lebih sesak dibanding hal ini. Namun, jika aku merasa sesak seperti ini, aku tidak akan bisa memberitahumu. Hilangkan dan lepaskan rasa itu perlahan agar aku bisa membantumu. Itu jika kamu ingin aku pergi dari tubuhmu," kata Netra. Perlahan-lahan rasa sesak itu mulai hilang. Ia bisa kembali mengontrol tubuhnya.
"Bagus, ikuti saja apa yang aku katakan. Percaya padaku karena aku akan selalu melindungimu sampai waktunya tiba," kata Netra dan segera pergi dari toilet. Sosok dalam cermin itu hanya bisa pasrah. Netra segera pergi menghampiri Tante Sinta.
"Kenapa lama sekali, kamu ini buang air atau tidur du toilet," omel Tante Sinta. Netra hanya tersenyum menanggapi Tante Sinta.
"Sudahlah, ayo kita ke toko baju. Baju tante yang kamu pakai tidak cocok untuk anak seumuranmu," kata Tante Sinta.
Saat ini Netra mengenakan dress merah selutut dan jaket denim milik Tante Sinta waktu remaja dulu. Untung saja masih ada pakaian yang layak digunakan Netra sehingga tidak terlalu mencolok.
"Sekarang kamu pilih saja beberapa pakaian dan sepatu, tante akan menunggu di sana. Jika kamu sudah selesai segera pergi ke kasir dan pakai kartu ini," kata Tante Sinta memberikan black card ke Netra.
"Dan ingat, jangan coba-coba kabur," sambungnya.
"Tante tenang saja, aku ga akan kabur dari tante," jawab Netra segera pergi mencari pakaian.
Netra segera mencari pakaian yang cocok denganya. Sesekali ketika ia mencoba pakaian ia bertanya pada sosok di cermin apakah pakaian itu cocok denganya. Hingga akhirnya ada yang menarik perhatiannya. Itu bukanlah pakaian yang ia suka melainkan seseorang yang ada di seberang di daerah pakaian pria.
"Sandy? Apa itu Sandy?" Ia memperhatikan orang itu dari kejauhan.
"Bukan, itu bukan Sandy. Sandy lebih tampan dari itu dan pria itu lebih tinggi dari Sandy. Tapi siapa? Kenapa orang itu sangat mirip dengan Sandy. Apa selama ini Sandy memiliki saudara?" tanyanya dalam hati.
"Rara ini kemana ya, udah setengah jam lebih masa dia masih belom kembali, apa jangan-jangan dia beneran kabur," pikir Tante Sinta dan ia memutuskan untuk mencari Netra.
"Itu dia, siapa yang sedang ia perhatikan?" tanya Tante Sinta.
"Sandy?!" Tante Sinta agak berteriak hingga Netra mendengar dan orang tersebut melihat Tante Sinta.
__ADS_1
"Astaga tante, kurang keras teriaknya," kata Netra sambil menepuk dahinya.