The Other Side

The Other Side
Rencana


__ADS_3

"Ra, nanti kita ke rumah Sandy ya," kata Radit setelah mereka selesai latihan.


"Loh, mau ngapain, Dit?" tanya Netra.


"Udah ikut aja," kata Radit sambil menenggak minumannya.


*****


Selesai latihan mereka segera meminta izin ke nenek dan pergi ke rumah Sandy. Sepuluh menit berselang mereka sudah sampai di rumah Sandy.


TING TONG.


Bel rumah Sandy berbunyi dan Mang Parman segera membukakan pintu untuk mereka.


"Eh Den Radit, Non Rara, ayo masuk. Den Sandy udah nunggu di ruang pribadinya," kata Mang Parman.


"Ruang pribadi?" tanya Netra.


"Iya, Ra, markas rahasia aku dan Sandy. Keren kan kayak di film film," kata Radit.


"Oh begitu," ucap Netra hanya meng'oh'kan.


"Ah Rara ga seru nih," kata Radit.


"Udah ayo masuk, kesian Sandy nunggu lama," kata Rara sambil menarik Radit.


Mang Parman menunjukkan jalan ke ruangan pribadi itu, walaupun sebenarnya ia tidak perlu melalukannya karena Radit sudah tau letaknya.


Mang Parman, Mbok Yati, dan Mang Supri sudah tau jika Sandy memiliki ruang pribadi. Namun, tidak ada satupun yang tau ada apa di dalamnya.


"Makasih ya, Mang. Udah nganterin," kata Netra.


"Mang harusnya ga perlu repot-repot nganterin. Kan Radit udah tau tempatnya juga," kata Radit.


"Ish, bukannya bilang makasih," kata Netra pelan sambil menyenggol tangan Radit.


"Iya, iya. Makasih ya, Mang," kata Radit.


Mereka masuk ke dalam dan melihat Sandy tengah duduk di sofa.


"Wah, hebat banget ada tempat seperti ini," kata Netra sambil melihat sekelilingnya.


"Hah, tadi aja kau cuma 'oh' doang," kata Radit.

__ADS_1


"Ya, tadi kan aku ga tau tempat ini," kata Netra.


"Terserah," kata Radit.


"Huh," Netra memalingkan wajahnya dari Radit.


"Kalian ini, ga abis-abis bertengkarnya," ucap Sandy.


"Lebih baik sekarang kita memikirkan rencana penjebakkan untuk Tante Ira palsu," katanya lagi.


"Tante Ira palsu? Maksud kalian..." kata-kata Netra terpotong oleh Radit.


"Ya, itu bukan Tante Ira, melainkan anaknya. Kemungkinan besar. Ya baru kemungkinan sih. Tapi ga ada salahnya beranggapan seperti itu," kata Radit.


"Lalu, apa kalian udah tau siapa anaknya Tante Ira?" kata Netra.


"Kalo kita udah tau ngapain susah-susah begini, Ra. Tingga lapor polisi aja kelar," kata Radit.


"Loh, jadi kalian belom tau siapanya? Terus ngejebaknya gimana dong kalo belom tau orangnya?" tanya Netra.


"Maka dari itu kita di sini buat bahas tentang itu, Ra," kata Radit.


"Dasar kamu ini, siput," lanjutnya lagi. Netra tidak membalas dan hanya menyilangkan kedua tangannya.


"Lucu kali ya, kalo aku panggil siput, Ra," kata Radit.


"Tos," sambut Radit dengan menyatukan tangannya dengan Netra.


"Ihh, emang ya kamu ini mau kena pukul," kata Netra mengejar Radit yang langsung berlari menjauhinya.


"Sudah, sudah, kalo kalian seperti ini terus, aku suruh pulang aja ya," kata Sandy yang risih.


"Tuh kan, Sandy marah, kamu sih, Ra," kata Radit mendekati Sandy.


"Enak aja," kata Netra sambil menyilangkan tangan.


"Kamu sedang buat apa, San?" tanya Netra yang melihat Sandy tengah mencorat-coret kertas.


"Rencana kita," kata Sandy singkat.


"Tunggu, jadi kalian mau membahayakan nyawa kalian lagi?" tanya Netra.


"Ya emang perlu begitu buat nangkep siapa dia," kata Radit. Sedangkan, Sandy masih asik dengan kertasnya.

__ADS_1


"Ngga ngga, ga boleh. Kalian ga boleh begini. Aku ga mau ikut kalo emang harus begini," kata Netra.


"Ra, cuma ini satu-satunya jalan," kata Sandy yang melihat Netra ingin pergi dari sana.


"Tapi..."


"Tapi kalian bisa cari cara yang lebih aman daripada membahayakan nyawa kalian," kata Netra yang masih bersikeras ingin pergi.


"Dia pasti akan datang lagi, untuk membunuhku," kata Sandy.


"San," kata Netra sambil berbalik melihat ke arah Sandy.


"Baiklah, aku akan ikut rencana ini, dengan satu syarat," kata Netra.


"Apa?" tanya Sandy.


"Kalian harus janji kalian ga bakal kenapa-kenapa," kata Netra.


"Kalian harus janji pokoknya, kalian ga bakal ninggalin aku," lanjutnya.


"Iya, Ra, janji," kata Sandy dan Radit.


"Baiklah, cepat jelaskan sekarang," kata Netra.


Sandy segera menjelaskan seluruh rencana yang ia buat tadi ke Netra dan Radit.


"Baiklah, ini cukup mengancam nyawa, kita harus berhati-hati," kata Sandy.


"Hmm, iya," kata Netra.


"Kita harus pastikan dia bergerak sendiri. Jika ada yang membantunya itu akan jadi bahaya untuk kita," kata Sandy lagi.


"Berjuanglah, aku akan selalu mendukung kalian," batin Netra sambil tersenyum.


"Makan yuk, makan di luar. Mungkin sore-sore sejuk begini," kata Radit.


"Dasar, pikiranmu makan aja terus, ini juga Sandy yang buat rencananya. Kau hanya diam saja," kata Netra memulai pertengkaran.


"Stop, yaudah ayo kita makan," kata Sandy.


Sontak mereka berdua kaget karena baru kali ini Sandy melerai mereka berdua.


"Yaudah yuk makan," ajak Netra.

__ADS_1


Mereka segera keluar bersama dan pergi makan di luar. Seseorang memperhatikan mereka dari jauh.


"Senyuman kalian tidak akan berlangsung lama," kata orang itu.


__ADS_2