The Other Side

The Other Side
Pergi


__ADS_3

"Biarin Rara tetep disini, Ma. Sandy mau sama Rara sama Radit. Mama sama Papa ga perlu khawatir sama Sandy. Khawatirkan aja bisnis kalian di luar negeri itu. Kalian udah meninggalkannnya cukup lama dari sejak Sandy sakit. Maaf Sandy jadi merepotkan kalian berdua. Kalian boleh pergi," ucap Sandy yang baru tersadar dari komanya. Ia mengucapkan itu dengan tenang seakan memang tidak membutuhkan kedua orang tuanya. Namun, sebenarnya di hati kecil Sandy, ia senang kedua orang tuanya masih peduli saat ia sakit dan sangat teriris ketika harus mengusir kedua orang tuanya seperti tadi. Namun, ini harus Sandy lakukan karna ia tahu bisnis kedua orangtuanya itu lebih penting darinya.


"Sandyy...." teriak Netra. Ia segera berlari mendekati Sandy dan memeluknya. Rasa rindunya mengalahkan rasa malunya. Ia seperti tidak ingin kehilangan Sandy lagi.


"Ehem, Ra. Ini rame loh main peluk aja," ucap Sandy. Netra yang merasa malu segera melepaskan pelukannya. Ia merasa sangat senang temannya itu sudah sadar.


"Sandy, kamu udah sadar, Nak," ucap mamanya sambil memeluk dirinya.


"Iya, Ma. Sandy udah gapapa," ucap Sandy dingin.


"Liat kan, Ma. Sandy udah ga kenapa-napa sekarang. Udah lebih baik kita urus hal yang lebih penting dibanding disini," ucap papanya.


"Kenapa ya, Om Herman tuh ga pernah perhatian sedikit pun sama Sandy? Padahal kan dia juga orang tua Sandy," batin Netra.


"Mama denger kan? Lebih baik Mama urus bisnis Mama dulu. Sandy bakal nunggu sampe Mama sama Papa udah selesai semua urusannya. Sampe saat itu, Mama sama Papa ga perlu khawatirin Sandy," ucap Sandy tegas. Ia seperti memendam kebencian yang sangat besar. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa Sandy hanyalah seorang anak yang juga membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya.


"Yaudah ayo kita pergi, Ma," ajak Om Herman sambil menarik tangan Tante Sarah. Di depan pintu kamar mereka berpapasan dengan Radit.


"Loh, Om, Tante, kok bisa disini? Bukannya harusnya kalian lagi ngurus bisnis di luar kota?" tanya Radit.


"Bukan urusanmu," ucap Om Herman. Radit langsung masuk ke dalam dan melihat temannya itu sudah dalam kondisi sadar.

__ADS_1


"Sandyyy... Oh Sandy my friendd... Akhirnya sadar juga." teriak Radit dari kejauhan. Ia segera memeluk temannya itu.


"Oy aku gabisa napas. Emang mau aku koma lagi," ucap Sandy. Radit melepaskan pelukannya.


"Haha." Netra tertawa.


"Kenapa sih tidur lama banget. Gatau apa kita tuh stress banget mikirin kamu. Eh kamunya enak-enakan tidur. Huh." Radit berpura-pura kesal.


"Lucu banget sih kamu, Dit," kata Netra.


"Oh iya, Ra. Jeng-jeng. Makanan sudah datang," kata Radit sambil menunjuk nasi goreng yang ia bawa.


"Iya dong. Nasi goreng terenak di sini. Kamu belum pernah coba kan, Ra? Yang sakit, ga boleh makan ini dulu ya. Hihi," ejek Radit. Sandy hanya menunjukkan wajah kesalnya karena ia sedang sakit sehingga harus makan makanan rumah sakit yang menurutnya juga tidak ada rasanya.


"Iya aku belum pernah coba, yuk makan," ajak Netra.


"Sandy juga makan ya, biar Mbok panggilkan perawat buat ambil makanan kamu," kata Mbok Yati.


"Iya, Mbok. Makasih banyak," ucap Sandy. Mbok Yati langsung pergi meninggalkan mereka bertiga.


"San, coba ceritain kronologisnya," ucap Radit.

__ADS_1


DUK. Sebuah sendok melayang mengenai bahu Radit.


"Sandy baru sadar tau ga, malah ditanya yang berat-berat," ucap Netra. Ternyata ia yang melemparkan sendok itu ke Radit.


"Raraa... kan bisa diomongin kenapa harus lempar sendok sih," ucap Radit kesal.


"Biarin," Netra menjulurkan lidahnya.


"Haha, udah gapapa Ra. Lagipula aku udah ga kenapa-napa kok, biar aku ceritain semua ya ke kalian," ucap Sandy.


"Malam itu, aku tertidur setelah belajar buat ujian besoknya. Umm, sebenarnya ada yang aku pikirkan sih..." ucap Sandy.


"Apa?" tanya Netra dan Radit berbarengan.


"Kamu inget..."


Kriett... Suara pintu kamar terbuka. Ternyata itu adalah perawat yang membawakan makanan untuk Sandy. Di belakangnya juga ada Mbok Yati yang mengantarkan perawat itu.


"Sandy, dimakan ya makanannya. Saya senang melihat anda sudah sehat kembali," kata perawat itu dan langsung pergi keluar.


"Suaranya ga asing, tapi siapa," pikir Sandy.

__ADS_1


__ADS_2