
"Kenapa cepat sekali ia pergi. Apa itu benar dia? Rara. Apa perempuan itu benar-benar Rara?" kata Sandy sambil mengatur napasnya karena berlarian tadi.
Perempuan itu memperhatikan dari dalam mobil dari kejauhan.
"Untung aku tidak ketahuan," ucapnya dalam hati dengan lega.
"Ayo pulang, Pak," katanya ke supir yang membawanya ke tempat ini.
"Baik, Non," jawab pak supir sambil pergi menjauhi tempat itu.
*****
"Anna?" panggil Nek Sari.
"Sebaiknya kamu jangan membenci Sandy," lanjutnya.
"Hmm?" Bunda Anna hanya berdehem dan melanjutkan pekerjaannya. Kebetulan saat ini ia sedang berada di ruangan Radit untuk menjaganya. Transfusi darah berhasil dilakukan dan kondisi Radi sekarang sudah lebih baik.
"Kamu tau kan Sandy menderita di masa lalu bahkan masa lalunya masih menghantuinya sampai sekarang. Nenek yakin Sandy sudah cukup memyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa kedua temannya. Kita tidak bisa membebani pikirannya juga. Sandy masih remaja, wajar jika emosionalnya masih tidak stabil," nasehat Nek Sari.
"Nenek ada benarnya, aku yang tau bagaimana sulitnya Sandy bertahan hidup dulu," pikir Bunda Anna.
"Kamu juga tau, kedua orang tuanya tidak peduli dengan keadaannya. Sekarang, hanya kita yang tersisa. Sandy tidak punya siapa-siapa lagi, sama seperti kita sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Tidak ada salahnya kan kita berusaha bersama untuk mengetahui dalang di balik semua kejadian ini?" tanya Nenek Sari sambil melihat Bunda Anna yang masih menyibukkan diri dengan urusannya.
"Yang dikatakan Nenek Sari benar, Bun. Sudah seharusnya kita merangkul Sandy karena bukan hanya kita yang merasa kehilangan. Sandy juga pasti terpukul atas kejadian yang menimpa kedua temannya," sambar Ayah Pras yang baru masuk sambil membawa makanan untuk mereka.
"Ayah," Bunda Anna langsung menyauti omongan suaminya itu dengan lirih. Sebenarnya ia juga tidak tega untuk berbuat seperti ini pada Sandy. Namun, hatinya masih terasa sangat sakit melihat kondisi anaknya yang sedang terbaring sekarang.
"Bun, kamu ingat kejadian beberapa bulan setelah kita menikah dulu?" tanya Ayah Pras yang tiba-tiba mengungkit luka lama bagi keluarga mereka.
FLASHBACK
__ADS_1
"Hei Pras, Anna," sapa laki-laki yang langshng masuk ke runah mereka tanpa permisi.
"Salman, kamu ini selalu saja seenaknya masuk ke rumahku," kata Pras sambil menepuk pundak sahabatnya itu, Salman.
"Anna, boleh kupinjam si Pras ini. Sejak kalian menikah aku tidak punya waktu berduaan sama Pras nih," ucap Salman menggoda.
"Hei Salman, makanya cari istri dong," kata Pras sambil kembali membantu Anna memasak makan malam mereka. Sedangkan Anna hanya tertawa dengan sikap dua orang sahabat ini.
"Bawa saja Mas Pras ini, setidaknya dia pasti lebih senang bersamamu, Mas Salman," kata Anna sambil membawa makanan yang sudah siap ke meja makan.
"Wah, beruntung sekali kau Pras, Anna ternyata memberi kau dengan masakan-masakan yang baunya saja sudah lezat," kata Salman yang siap menyantap makanan di depannya.
"Oh iya Anna, benar ya, Pras malam ini diizinkan pergi bersamaku," tanya Salman ke Anna. Sedangkan, di sampingnya Pras sudah memberikan tanda jangan dengan tangannya. Anna hanya tertawa dan mengiyakan permintaan Salman.
"Ih kok kamu iyain sih De," kata Pras merengek.
"Kamu kan sudah lama ga pergi bareng Mas Salman, Mas, sesekali keluar ya gapapa. Aku nanti bisa ke rumah Mama buat nginep," jelas Anna sambil ikut duduk bersama mereka.
"Tidak usah cemberut begitu, Mas. Sini piringmu," Anna mengambil piring Pras dan mengambilkan makanan untuknya. Ia juga sekalian mengambil makanan untuk Salman. Mereka makan malam bersama malam itu. Selesai makan, Pras dan Salman segera bersiap untuk pergi.
"Hati-hati, Mas," kata Anna yang tiba-tiba sedikit khawatir.
"Santai saja, Na. Aku akan jaga dia," kata Salman sambil merangkul Pras. Kemudian mereka segera masuk ke dalam mobil.
"Dahh Sayang," kata Pras sambil melambaikan tangannya ke istrinya.
"Kenapa perasaanku tidak enak," batin Anna sambil melambaikan tangannya dan tersenyum.
Salman mengendarai mobilnya melaju ke jalan besar. Rencananya mereka ingin bermalam di villa milik keluarga Salman.
"Pras, aku ingin melamar seorang wanita," kata Salman.
__ADS_1
"Oh kasihan sekali wanita itu," kata Pras meledek.
"Kamu ini. Aku serius, sebenarnya aku ingin menanyakan padamu bagaimana sebaiknya aku melamarnya," lanjut Salman.
Pras melihat keseriusan dalam diri sahabatnya itu. Walaupun ia selalu ceria, namun sekarang Pras benar-benar merasakan bahwa sahabatnya itu sedang cemas dan khawatir.
"Baiklah, baiklah, begini," Pras menjelaskan berbagai kemungkin Salman melamar wanitanya. Mulai dari kemungkinan terbaik yaitu si wanita menerima lamarannya sampai kemungkinan terburuk yaitu lamarannya ditolak. Mereka asyim mengobrol sampai-sampai Salman terkadang tidak memperhatikan jalan dan membahayakan keselamatan mereka. Hingga tiba-tiba sebuah truk di depannya melaju dengan cepat dan cahaya truk itu menyilaukan mata keduanya dan tabrakan pun terjadi.
"Bunda kamu ingat kan, setelah kejadian itu, kedua orang tuaku melarang Salman untuk berhubungan denganku dan sejak saat itu persahabatanku dengan Salman terpecah. Aku sebagai anak tunggal yang menjadi harapan keluarga hampir kehilangan nyawa malam itu. Tapi aku tidak pernah menyalahkan Salman atas kejadian itu. Semua murni kecelakaan," jelas Ayah Pras.
Air mata Bunda Anna mulai jatuh, ia menjadi tidak tega merusak persahabatan anaknya. Benar apa yang dikatakan suaminya, ini semua murni kecelakaan. Tidak ada yang bisa disalahkan dalam kejadian ini. Bahkan jika Sandy mengetahui hal ini yang akan terjadi setelah mereka bertengkar, Sandy tidak akan mungkin membiarkan sahabatnya itu pergi.
"Jadi itu alasan Salman dan Pras menjadi putus hububgan persahabatan? Tapi aku tidak pernah mendengar Salman berbicara tentang Pras sedikit pun pada Nira. Atau karna ia merasa sangat bersalah?" batin Nenek Sari yang menyimak cerita Ayah Pras sedari tadi.
"Kamu benar, Yah. Aku ga mungkin merusak hubungan persahabatan anakku sendiri hanya karena egoku semata. Aku, aku akan minta maaf pada Sandy," tangis Bunda Anna sambil memeluk suaminya yang ada di sampingnya. Ayah Pras menyambut pelukan itu dengan hangat dan menenangkan Bunda Anna.
"Maaf Sayang, tapi aku belum bisa cerita yang sebenarnya dari awal bahwa Salman berubah menjadi orang yang tidak ku kenal pada malam kejadian itu dan mencoba membunuhku. Beruntung warga dengan cepat datang dan membawa kami ke rumah sakit terdekat. Aku pernah ada di posisi Radit dan kehilangan sahabat adalah hal yang paling kusesali dalam hidupku. Aku tidak ingin Radit membenci kita seperti aku membenci kedua orang tuaku dulu," batin Ayah Pras.
"Sudah, Bun. Lebih baik kamu makan dulu. Daritadi kamu belum makan apa-apa. Radit juga pasti sedih kalo liat keadaan bundanya sekarang ini," kata Ayah Pras sambil tetap memeluk Bunda Anna.
"Iya, aku akan makan," kata Bunda Anna melepaskan pelukan itu. Mereka akhirnya menyantap makanan yang dibeli oleh Ayah Salman itu bersama.
Sementara itu di runah Tante Sinta...
"Kamu ini masih sakit, ga seharusnya kamu pergi tampa izin seperti itu," omel Tante Sinta pada seorang perempuan remaja yang baru turun dari mobilnya.
"Tante tenang aja, aku udah ga apa apa kok," kata perempuan itu.
"Kamu dari mana saja?" tanya Tante Sinta sambil membantu perempuan itu masuk.
"Dari toko buku dan hampir saja Sandy mengenaliku tadi untungnya karena aku memakai masker dan topi ini jadi ia tidak terlalu familier," jawab perempuan itu.
__ADS_1
"Kamu jangan gegabah, jika Sandy tau kamu masih hidup semua akan lebih berbahaya," nasehat Tante Sinta.
"Tante tenang aja karena sekarang aku udah mengenali sisiku yang lain," kata perempuan itu sambil membuka topi dan maskernya. Perempuan itu adalah Netra Ayu Permata, seorang remaja yang hampir mati tertembak di hari ulang tahunnya.