The Other Side

The Other Side
Persiapan


__ADS_3

"Jangan cemburu ya, hatiku cuma untukmu," kata Radit sambil menunjukkan love sign ke Sandy.


"Huft." Sandy hanya bisa menghela napas melihat kelakuan sahabatnya yang semakin menjadi-jadi.


*****


"Udah siap semua kan?" tanya Bunda Anna.


"Udah dong, tenang aja bun." jawab Radit.


"5P udah?" Bunda Anna kembali bertanya ke Radit.


"5P? Apa itu bun?" Radit terlihat kebingungan dengan bahasa Bunda Anna.


"Pensil, pulpen, penghapus, penggaris, papan ujian. Masa gitu aja ga tau," kata seseorang sambil menepuk pundak belakang Radit.


"Ih alay," gumam Radit.


"Kartu nama, kartu pelajar, kartu ujian juga udah?" tanya Bunda Anna lagi.


"Udah bun, pokoknya semua udah disiapin dan dibawa deh. Ga akan ada yang kelupaan," kata Radit sambil menunjukkan peace sign.


Sementara itu di kediaman Netra...


"Rara, udah dipersiapin semua keperluannya?" tanya Nek Sari.

__ADS_1


"Udah kok nek, ini Rara lagi coba cek ulang sih, takut ada yang kelupaan," jawab Netra.


"Loh, kartu ujian kamu mana?" kata neneknya yang menyadari ada barang yang kurang.


"Oh iya, yaampun. Biar Rara cari di kamar dulu ya nek," kata Netra sambil pergi ke kamarnya.


"Ah ini dia," ata Netra ketika menemukan kartu ujiannya tepat di dalam laci kamarnya. Terlihat juga di sana foto ayah dan ibu Netra.


"Ayah, ibu, sekarang Rara akan berjuang. Ayah sama ibu doain Rara ya, semoga Rara berhasil masuk ke sekolah impian Rara itu. Oh iya, bu, yah, Rara sekarang udah punya temen loh. Namanya Radit dan Sandy. Emang cuma 2 sih, tapi mereka itu care banget sama Rara. Rara seneng banget temenan sama mereka," kata Netra sambil memeluk foto ayah dan ibunya itu. Tanpa terasa air matanya menetes karena kerinduannya yang besar ke ayah dan ibunya.


"Ra?" panggil Nek Sari sambil masuk ke kamar Netra.


"Ah iya nek, ini Rara udah temuin kartunya kok," kata Netra sambil menunjukkan kartunya. Foto ayah dan ibu Netra seketika jatuh di hadapannya. Nek Sari segera mengambil foto itu.


"Eh udah udah, nanti cucu nenek yang paling cantik ini jadi jelek loh karna nangis gini. Nenek gamau ah masa di hari ujian masuk ini cucu nenek terlihat jelek," kata Nek Sari menenangkan Netra sambil mengusap air mata di kedua matanya. Netra hanya menganggukan kepalanya.


"Rara." panggil Radit dari Iuar rumah Netra.


"Iya. Aku udah siap kok. Nek aku pamit ya, aku udah janji mau pergi bareng dengan keluarga Radit," kata Netra sambil berpamitan ke neneknya. Tak lupa Radit juga ikut berpamitan. Di depan rumah Netra sudah ada orang tua Radit.


"Anna, nenek titip Rara ya, kalo bandel cubit aja," kata neneknya


"Ih nenek, emangnya aku anak kecil apa kalo bandel dicubit," kata Netra sambil memalingkan muka dari neneknya.


"Sudah sudah, nenek percayakan aja Rara sama kami, Rara udah saya anggap seperti anak sendiri kok," kata Bunda Anna.

__ADS_1


"Kami pamit dulu ya Nek," sambung Bunda Anna sambil masuk ke dalam mobil diikuti oleh Radit dan Netra.


"Dadah Nenek, doakan aku yaa," kata Netra dari dalam jendela mobil.


Di sisi lain..


"Mau Mbok bantu Den?" kata Mbok Yati.


"Ga usah Mbok, udah siap semua kok," kata Sandy.


"Aden mau diantar ke tempat ujian?" tanya Mang Supri, supirnya Sandy.


"Ga perlu, Mang. Nanti pergi bareng sama keluarga Radit kok," jawab Sandy. Tak lama kemudian, mobil Radit tiba di depan rumah Sandy. Sandy tidak langsung keluar. Ia menitipkan pesan ke Mbok Yati dan Mang Supri untuk tidak memberitahukan hal ini ke orang tuanya. Setelah memberikan pesannya, Sandy langsung keluar rumah dan langsung pergi bersama dengan keluarga Radit dan Netra.


"Bagaiman perasaanmu?" tanya Netra. Sandy hanya mengernyitkan alisnya tanda ia tidak mengerti dengan ucapan Netra.


"Huft. Kamu ini, apa gaada rasa gugup ingin menghadapi ujian ya. Beda sih ya kalo orang pinter dari lahir." Netra mulai sebal dengan sikap Sandy yang lagi-lagi dingin.


"Haha Ra. Sandy itu mana punya rasa gugup. Dia itu hanya terlahir dengan sifat dingin." Radit mulai mengejek Sandy.


"Hush, sudah-sudah. Ngomong-ngomong Sandy bagaimana kabarmu?" kata Bunda Anna.


"Baik bunda," jawab Sandy.


Sepanjang perjalanan, Netra menghilangkan rasa gugupnya dengan mengobrol, entah itu dengan Sandy, Radit, ataupun Bunda Anna. Tidak terasa, sampai lah mereka di tempat yang mereka tuju. SMA Internasional Tunas Bangsa.

__ADS_1


__ADS_2