
Tidak terasa satu jam berlalu, waktu ujian hanya tinggal 1 jam lagi. Netra mulai mengerjakan esainya walaupun soal pilihan gandanya masih ada beberapa yang kosong. Esai adalah kelebihan Netra. Itulah mengapa ia ingin masuk ke kelas bahasa. Bukan hal yang sulit bagi Netra untuk merangkai kata-kata dengan baik. Di saat Netra mengerjakan esainya, ekor matanya menangkap kejadian yang tidak terpuji di antara kedua peserta ujian di sampingnya.
"HEI.."
*****
"Ada apa? Kenapa teriak-teriak?" tanya salah satu pengawas sambil mendekati Netra.
"Mereka, mereka bertukar jawaban. Silahkan ibu cek kolong meja atau sekelilingnya. Tadi saya melihat mereka sedang bertukar jawaban," kata Netra sambil menunjuk kedua lelaki di sampingnya.
"Hah, apa-apaan sih. Mana ada contekan coba. Ngarang aja," kata salah satu peserta yang dituduh oleh Netra. Suasana kelas mulai gaduh. Salah satu pengawas lain yang masih duduk di kursi depan memukul penggaris ke meja sampai kelas tersebut kembali diam.
"Kalau memang kalian tidak mencontek, biarkan saya menggeledah sekeliling kalian," kata pengawas tersebut. Akhirnya mereka berdua digeledah, namun kejanggalan terjadi. Kertas contekan yang tadi Netra liat tidak ada dimana pun. Alhasil, Netra dicemooh oleh peserta lain di kelas tersebut dan akhirnya ujian tetap dilanjutkan. Netra dengan berat hati meminta maaf kepada dua peserta tersebut.
"Hmm gimana caranya mereka ngilangin bukti secepat itu? Pasti ada yang aneh," pikir Netra.
"Ah sudah Rara, pikirkan saja ujianmu ini dulu, nanti kau bisa cerita ke Radit dan Sandy. Mereka berdua pasti mempercayaimu," batin Netra.
Waktu ujian telah selesai. Netra sedikit tidak yakin dengan jawaban-jawaban ujiannya tadi. Perbuatan peserta lain yang tidak terpuji mengganggu pikiran Netra selama ia mengerjakan sisa pertanyaan di menit-menit terakhir.
"Haah.. semoga hasilnya memuaskan. Mereka itu menyebalkan sekali. Kalo sampe mereka bisa lolos ujian, aku bakal marah banget. Kesel," ucap Netra sambil berjalan menyusuri koridor sekolah tersebut.
"Kesel sama siapa?" Ada suara dari belakang Netra. Ia tau itu bukan suara Sandu atau pun Radit. Netra langsung menengok ke belakang.
"Hai, kenalin aku Firza dari SMP Mutiara Bangsa. Aku juga tadi melihat kejadiannya kok, tapi kamu berani sekali sampai dengan lantang meneriaki mereka. Beruntung sekali merek buktinya tiba-tiba hilang," kata laki-laki yang kini di sebelahnya sambil menyodorkan tangannya.
"Ih apa sih, dia liat tapi ga bantu aku untuk ngomong. Sok asik banget lagis sekarang. Eh tunggu, dia bilang dia dari SMP Mutiara Bangsa? Itu kan asal SMP ku dulu," ucap Netra dalam hati.
__ADS_1
"Hei kok bengong. Siapa namamu? Dan dari sekolah mana?" kata Firza yang melihat Netra melamun.
"Oh hai, aku Rara dari SMP Pelita Kejora," kata Netra sambil menjabat tangan Firza yang sedari tadi ia angguri.
"Ra," panggil seseorang dari belakang. Itu Radit, pikir Netra.
"Oh, dah Firza, aku harus pergi dengan temanku," kata Rara sambil pergi ke arah Radit. Firza yang melihatnya langsung pergi ke arah yang berlawanan.
"Bagaimana? Mudah bukan?" tanya Radit.
"Uhh apanya yang mudah, bahkan soal matematikanya aku ngasal 4 sampe 5 soal karna ga ngerti. Dan lagi ada kejadian yang bikin aku kesel sampe ga fokus ngerjain ujiannya di menit-menit terakhir," kata Netra sambil bersungut-sungut.
"Ada apa?" tanya Sandy.
"Tadi aku mergokin peserta yang curang, eh ternyata mereka malah terbukti ga bersalah karna ga ada barang buktinya. Udah gitu ada peserta lain yang liat perbuatan mereka itu tapi malah diam saja dan ga membantuku untuk melaporkan kejadian yang sebenarnya. Alhasil aku harus minta maaf ke kedua orang itu dan ga dipercaya sekelas." Netra terlihat lebih kesal dari sebelumnya.
"Aku juga percaya kalo kamu ga bohong. Lagipula buat apa kamu bohong kan," kata Radit.
"Beneran kalian percaya? Kalian emang teman sejatikuu," kata Netra yang langsung berubah senang.
"Udah sebaiknya kita pergi temui bunda dan ayah dan pergi makan. Cacing peliharaanku ini sudah tidak sabar diberi makan," kata Radit sambil memegang perutnya. Mereka akhirnya menuju ke perpustakaan dan melihat kedua orang tua Radit yang sedang sibuk membaca buku.
"Pantas saja anaknya jenius, nurun dari orang tuanya toh," pikir Netra.
"Ayah bunda, kita udah selesai. Pergi makan yuk, aku lapar sekali," rengek Radit sambil berlari menuju ayah dan bundanya seperti anak kecil.
"Gimana? Lancar?" tanya Bunda Anna.
__ADS_1
"Iya dong, pastinya," kata Radit.
"Cih, sombong," gumam Netra.
"Kalo Sandy gimana?" Bunda Anna kembali bertanya.
"Lancar kok bunda," jawab Sandy dengan singkat.
"Sandy mah pasti selalu lancar ya. Haha. Tidak seperti Radit," kata ayahnya menggoda Radit.
"Ih ayah, kan tadi aku bilang juga lancar," kata radit mengambek.
"Iya lancar ngasalnya. Haha." Ayahnya kembali meledek Radit. Kali ini Radit hanya menyilangkan kedua tangannya dan memalingkan wajahnya.
"Hush, sudah, ini di tempat umum. Rara gimana? Lancar?" Kali ini Bunda Anna bertanya ke Netra.
"Umm, ada sedikit masalah sih. Tapi Rara masih bisa handle kok bunda," jawab Netra yang masih mengingan kejadian waktu ujian tadi.
"Ya sudah ayo kita pergi makan sekalian kita pergi jalan-jalan ya untuk menghibur kalian," kata Bunda Anna sambil menggandeng Netra.
"Bunda, anaknu di sini. Kenapa gandeng anak lain." Radit merengek seperti anak kecil.
"Sudahlah, ayo jalan," kata Sandy.
Radit memang anak yang manja ke kedua orang tuanya. Kedua orang tua Radit juga sangat baik dan memanjakannya. Namun, saat Radit salah, mereka juga tidak segan untuk memberinya hukuman yang membuatnya jera sehingga Radit tumbuh menjadi anak yang baik.
"Perempuan itu. Ga akan aku biarkan dia hidup tenang." Kata seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka.
__ADS_1