
"Hai Sandy, kita jadi berlatih untuk pensi kan?" tanya seorang perempuan cantik yang menghampiri Sandy.
"Siapa dia? Apa ini karna aku hanya dekat dengan mereka berdua sampai-sampai aku ga kenal orang lain ya," pikir Netra.
"Kenalin, ini Tari, dia juga perwakilan kelasku," kata Sandy.
*****
"Halo, kamu Rara kan?" sapa Taris
Sambil menjulurkan tangannya.
"Eh, iya, aku Rara, salam kenal Tari," kata Rara mengambil juluran tangan Tari.
"Kok dia bisa kenal aku sih," pikir Netra.
"Aku selalu liat kamu bersama Sandy dan Radit, jadi aku pernah bertanya ke Sandy siapa kamu," kata Tari seolah bisa membaca pikiran Netra. Netra sedikit kaget namun ia tidak menunjukkannya.
"Umm, oh ya, kalian katanya perwakilan kelas kan?" tanyanya lagi.
"Iya," jawab Netra singkat.
"Bagaimana kalo kita berlatih bersama? Kalian ingin menampilkan apa?" tanya Tari lagi.
"Sebenarnya aku masih belum tau ingin menampilkan apa. Ah iya katanya kalian ingin berlatih kan? Gapapa kok San, kesian nanti Tarinya menunggu lama," kata Netra seperti mengusir Sandy.
"Gapapa kok, gapapa, aku bisa nunggu sampai urusan kalian selesai," kata Tari.
"Emang lagi gaada urusan yang urgent kok, tenang aja, Tari" kata Radit menambahkan.
"Iya, sana Sandy kamu pergi dengan Tari. Kita juga mau memikirkan dulu ingin menampilkan apa. Semangat ya," kata Netra.
"Iya yaudah aku pergi dulu ya," kata Sandy sambil berdiri dan berjalan mendahului Tari. Netra masih tetap memperhatikannya walau hanya sebatas menatap punggungnya.
"Ra?" panggil Radit yang sedari tadi memperhatikan Netra.
__ADS_1
"Eh iya, Dit. Jadinya kita mau nampilin apa?" tanya Netra seolah mengalihkan.
"Gimana kalo nyanyi? Nanti aku main gitar, aku juga belom pernah denger kamu nyanyi, Ra," kata Radit.
"Umm, aku agak malu sih buat nyanyi," kata Netra.
"Aku ga kepikiran apa-apa lagi sih," kata Radit.
"Yaudah kita coba latihan nyanyi deh," kata Netra.
"Tapi lagu apa ya?" tanya Radit.
"Sebenernya aku kepikiran buat mix beberapa lagu gitu sih, cuma aku masih belum tau lagu apa," kata Netra.
"Wah, Ra, idemu bagus tuh, pasti bakal keren kalo dimx," kata Radit.
"Yaudah kita coba cari-cari lagu dulu deh," kata Netra.
Di sisi lain, Sandy sedang berlatih di ruang seni bersama Tari. Mereka juga akan bernyanyi. Sandy bermain piano dan Tari menjadi vokalisnya. Setelah beberapa kali berlatih, mereka memutuskan untuk istirahat.
"Biasa saja, aku tidak terlalu jago karna sudah lama tidak memainkannya," kata Sandy.
"Oh iya, San, ngomong-ngomong Rara tuh sepertinya ada perasaan deh ke kamu," kata Tari.
"Kamu, kenapa tiba-tiba ngomongin Rara?" tanya Sandy dengan pipi yang sedikit memerah.
"Ya, aku kepikiran aja sih sama tatapan Rara pas nyuruh kamu pergi, kayak tatapan orang cemburu. Haha," kata Tari sambil tertawa.
"Rara emang begitu kok, justru aku melihat dia lebih dekat ke Radit dibandingkan denganku," kata Sandy sambil menundukkan kepalanya.
"Loh jadi kalian berdua memperebutkan Rara?" tanya Tari.
"Eh, ngga ngga, sudahlah ayo kita berlatih lagi. Jangan buang-buang waktu buat ngomongin hal tidak jelas begini," kata Sandy sambil berdiri dan berjalan ke arah pianonya. Mereka akhirnya kembali berlatih dan mengakhiri pembicaraannya.
"Anna, mau apa kamu kesini?" tanya seseorang dari dalam rumah.
__ADS_1
"Aku mau tau kebenaran, di antara Rara dan Sandy. Apa kamu mengetahuinya?" tanya Bunda Anna.
"Aku tidak tahu dan pergilah," kata orang itu.
"Tunggu, tunggu, aku tau kamu adalah pengasuh Rara di masa kecilnya, kamu pasti tau sesuatu," kata Bunda Anna.
"Diamlah, aku tidak pernah mengasuh anak itu," kata orang itu lagi.
"Aku mohon, Ratih, beritahu aku apa yang terjadi," kata Bunda Anna memohon kepada seseorang yang bernama Ratih itu.
"Aku tidak bisa memberimu info apa-apa, pergilah dari sini sebelum suamiku datang," kata Ratih.
"Tunggu, kenapa suamimu begitu melarangku untuk menemuimu, dulu kita bersahabat kan," kata Bunda Anna.
"Itu karena kamu sudah mengambil alih perusahaan yang seharusnya berada di tangan suamiku dulu, sehingga ia begitu melarangku bertemu apalagi berkomunikasi denganmu. Seandainya dulu kau tidak serakah begitu, mungkin hubungan kita masih baik dan aku tidak akan pernah masuk ke lingkaran terkutuk itu," kata Ratih.
"Ratih, suamimu..."
"Diam, pergi dan jangan pernah kembali," kata Ratih sambil menutup pintu rumahnya.
"Saat itu, aku memenangkan perusahaan dengan jujur, Ratih. Maafkan aku jika ini merugikan pihakmu," kata Bunda Anna sambil berlalu pergi.
FLASHBACK
"Bi, aku main ke sana ya," kata Netra kecil.
"Iya jangan jauh-jauh ya," kata pengasuhnya itu.
Dia merasa ada yang aneh karena Netra tidak kembali selama beberapa jam. Pengasuh itu mencoba mencari Netra.
"Huhuhu, huhuhu, aku takut huhu," Terdengar tangisan anak kecil dari kejauhan. Pengasuh itu segera mendatanginya.
"Astaga, Non Rara. Non Rara gapapa," kata pengasuh itu yang melihat Netra berada di sebelah supir truk yang sudah tidak bernyawa.
"Itu," Netra menunjuk ke arah depan truk.
__ADS_1
"Aaaaa," teriak pengasuh itu segera pergi ke rumah untuk memanggil bantuan. Ibu dan ayah Netra segera datang ke lokasi kejadian.