The Other Side

The Other Side
Race for Life


__ADS_3

Berita tentang di temukannya anak walikota dan penangkapan dua penculiknya menggemparkan Kota Grandville. Angela, anak Sang Walikota di temukan tak sadarkan diri dan kehilangan kedua matanya.


Sampai saat berita ini di turunkan polisi Kota Grandville masih mengusut siapa dalang di balik penculikan ini, benarkah ini adalah konflik percintaan? Lawan politik yang ingin mencelakakai keluarga Sir William? Atau mungkin ada sesuatu yang lebih besar balik semua ini?


Peter meremas koran pagi itu dengan geram dan melemparnya ke arah Lana.


"Dasar bodoh! Apa ini?!" teriak Peter


"Sudah berapa lama kau melakukan pekerjaan ini! Bagaimana bisa kalian begitu ceroboh!" Lana hanya berdiri diam di tempat


"Aku sudah membayar kalian dengan upah yang jauh di atas standar tapi kenapa kerja kalian tidak becus!"


"Aku akan mengurusnya dokter," ucap Lana


"Yah! Seharusnya begitu! Jangan sampai aku menyesal sudah mempercayaimu."


Lana kemudian meninggalkan Peter sendiri di ruangannya. Seharian Peter memikirkan berita yang dia baca tadi pagi, memang di berita itu tidak ada yang menghubungkan dirinya dengan kasus itu tapi tetap saja dia harus berhati-hati.


Sore itu Peter memutuskan pulang lebih awal, saat berjalan di depan ruang ICU seorang wartawan menghampirinya.


"Selamat sore dokter Grey, saya Pope dari koran Grandville News," sapa si wartawan sambil mengulurkan tangan


"Sore Pope, panggil saja Peter, ada yang bisa kubantu?" Peter menjabat tangan Pope


"Jika anda tidak keberatan saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan,"


"Yah tentu saja."


Mereka lalu berjalan menuju salah satu bangku taman.


"Dokter Peter, apakah anda kenal dengan Angela?"


"Angela yang mana?"


"Anak Sir William, walikota Grandville,"


"Entahlah, memang ada apa?"


"Apa anda belum membaca berita pagi ini? Berita tentang di temukannya Angela dan penculiknya, juga kondisi Angela yang kehilangan kedua bola matanya,"


"Iya lalu apa hubungannya denganku?"


"Ada sumber yang mengatakan melihat anda sedang makan malam dengan Angela di sebuah restauran sehari setelah dia kabur dari rumah,"


"Lalu apa salahnya mentraktir teman makan malam?"


"Yah tentu tidak salah dokter, saya hanya ingin tahu apakah malam itu setelah selesai makan kalian pulang terpisah atau dokter mengantarnya ke suatu tempat?"


"Malam itu dia memang sedang mabuk tapi dia bilang bisa pulang sendiri jadi kami berpisah dan kami tidak pernah bertemu lagi,"


"Baik dokter, satu pertanyaan terakhir. Apakah anda ingat Angela mengenakan baju apa saat makan malam dengan anda?"

__ADS_1


"Aku tidak yakin, tapi seingatku dia mengenakan gaun berwarna merah. Gadis itu suka sekali dengan warna merah,"


"Terima kasih banyak atas waktunya dok." mereka pun saling menjabat tangan, kemudian Pope berlalu meninggalkan Peter.


Peter meraih handphone dari sakunya dan menekan tombol panggilan cepat.


"Suruh anggotamu mengawalku dari jauh, sepertinya seseorang sedang mengawasiku. Aku ingin orang itu di temukan."


Kedua orang tuanya sedang berada di ruang kerja ayahnya saat Peter tiba di rumah, dia melangkah masuk dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


"Aku dan ayahmu sedang membicarakanmu Pet." ucap Nyonya Mary, wajahnya terlihat menakutkan karena saat itu ia tidak sedang mengenakan mata palsunya.


Dokter Grey ikut duduk di kursi di dekat Peter.


"Jadi benar kau mengenal gadis ini?" Peter hanya diam tak menjawab pertanyaan ayahnya


"Sebaiknya sekarang kita harus lebih hati-hati, kita kerjakan hal biasa saja. Untuk sementara kita tidak usah menambah organ baru dan tidak perlu membuka labirin," dokter Grey berbicara sambil mengusap dagunya.


"Ah omong kosong! Labirin harus tetap di buka minggu depan, aku yakin Peter sudah menemukan cara untuk menyelesaikan masalah ini."


"Lagian berita ini pasti sudah reda dalam seminggu." Nyonya Mary berbicara sambil sesekali menggosok matanya.


"Ah mata ini mulai membuatku tidak nyaman, sepertinya aku butuh sepasang mata baru." Peter menoleh ke arah ibunya.


"Penglihatanmu kabur?"


"Iya, bukan hanya kabur, aku sering tidak bisa melihat dengan jelas."


"Sebenarnya tanpa membuka labirin aku tetap bisa mengusahakan sepasang mata untukmu Mom,"


"Baiklah kalau itu maumu Mom, aku akan menyuruh Lana mempersiapkan semuanya."


Beberapa hari aku dan Ramona mengikuti Peter, semua aktifitasnya tampak biasa saja. Dari rumah dia langsung ke rumah sakit, begitu juga sebaliknya. Dia tidak bertemu orang baru atau berkomunikasi dengan orang lain selain orang di sekitarnya.


"Dia pasti sedang menyusun rencana," ujar Ramona


"Iya bisa saja, tapi kalau begitu harusnya aku tahukan?"


"Iya juga sih, atau dia sudah memberi perintah pada Lana tanpa sepengetahuanmu?"


"Entahlah."


Aku dan Ramona diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kuputuskan untuk kembali ke dalam rumah sakit saat dua orang pria tinggi besar berpakaian serba hitam menghampiri mobil Ramona dari sisi kiri dan kanan, mengetuk kaca mobil.


"Ya ada apa?" tanya Ramona sambil menurunkan kaca mobil, tiba-tiba pria di sampingnya menempelkan sesuatu di hidung Ramona yang membuatnya tak sadarkan diri.


Kedua pria itu dengan sigap memindahkan tubuh Ramona ke jok belakang lalu salah satunya mengemudikan mobil taksi Ramona menuju ke sebuah rumah tua di pinggiran kota. Sementara yang lain mengikutinya dari belakang dengan mobil lain.


Sesampainya di sana, mereka mendudukkan Ramona di sebuah kursi kayu, mengikat kaki dan tangannya ke belakang serta menyumbat mulutnya dengan kain.


Ramona masih tak sadarkan diri, kedua pria itu berjaga di depan pintu. Siapa mereka? Apakah mereka orang-orang Peter? Tapi bagaimana mereka bisa langsung menangkap Ramina? Apakah mereka sudah tahu? Tapi bagaimana bisa? Aku sungguh bingung, apa yang harus kulakukan sekarang?

__ADS_1


Hari sudah malam saat sebuah mobil tampak mendekat, kedua pria itu menyambut Lana yang turun dari mobil. Lana berjalan masuk ke dalam rumah, memberi isyarat untuk membuka menyumbat mulut Ramona.


Salah satu pria itu membangunkan Ramona dengan menyiramkan seember air ke wajahnya. Sesaat Ramona tampak bingung, setelah sadar sepenuhnya matanya nyalang menatap Lana.


"Siapa kalian? Dimana aku?!" Ramona bertanya sambil berteriak, Lana hanya menatapnya tanpa Ekspresi.


"Harusnya kami yang bertanya Nona, apa yang kau lakukan di depan rumah sakit?"


"Aku ini sopir taksi, yang kulakukan tentu saja menunggu penumpang,"


"Kau berbohong! Kau sudah berada di sana selama beberapa hari, di tempat yang sama sepanjang hari."


"Penumpang sedang sepi jadi aku menunggu,"


"Ah hentikan omong kosong ini!" seru Lana


"Kalian jaga dia, jangan sampai lolos. Dia akan ikut labirin." ucap Lana dengan wajah dingin, kemudian berlalu kembali mengendarai mobilnya.


Aku dan Ramona saling tatap kebingungan, semua ini sungguh di luar rencana kami.


Malam ini Labirin kembali di buka, permainan kali ini di buka oleh dokter Grey karena penglihatan Nyonya Mary sudah makin kabur, dia hanya duduk sambil menatap layar yang memperlihatkan wajah para peserta. Matanya tertuju pada satu-satunya peserta perempuan di permainan kali ini.


"Siapa peserta perempuan itu Peter?" tanya Nyonya Mary


"Dia seorang sopir taksi," jawab Peter


"Berapa kira-kira umurnya?"


"Sekitar dua puluh tahun,"


"Hmm ... masih sangat muda, aku yakin kornea matanya masih sangat sehat. Aku ingin matanya Pet,"


"Okey Mom, tapi biarkan dia ikut lomba dulu. Akan kupastikan tidak ada yang melukai bagian kepalanya." Nyonya Mary tersenyum puas mendengar jawaban Peter.


Para peserta Labirin sudah berada di depan pintu masing-masing, seperti biasa peserta kali ini juga lima orang.


"Maaf Ramona, gara-gara rencana yang kurang matang kau harus mengalami semua ini,"


"Jangan khawatir aku bisa melalui semua ini,"


"Aku harap begitu, semoga berhasil Ramona!"


Pintu-pintu sudah di buka, para peserta mulai berlarian. Aku membimbing Ramona, menunjukkan belokan-belikan yang seingatku tidak ada pemburu di sana.


Tapi rupanya mereka sudah mengubah penempatan posisi para pemburu hingga pada belokan kesekian Ramona bertemu dengan pemburu bersenjata pisau, dengan lincah dia menghindari serangan sang pemburu.


Saat melihat kesempatan Ramona lalu melakukan salto ke udara kemudian mendarat tepat di belakang sang pemburu, dia lalu memiting leher sang pemburu dengan kedua tangan dengan sekuat tenaga hingga membuatnya sesak nafas dan mati.


Merasa bisa menguasai keadaan membuat Ramona kurang waspada, saat kembali bergerak dia tidak menyadari ada pemburu lain membuntutinya. Dan ah! Sebuah anak panah menancap di betis Ramona membuatnya harus menyeret kaki, tapi kemudian panah kedua menyusul kembali mengenai kakinya, membuat Ramona jatuh tersungkur dan tak bisa bergerak.


Para pemain yang bertaruh atas Ramona mengeluh kecewa, mengira Ramona telah kalah.

__ADS_1


Rupanya semua sudah di atur atas perintah Peter yang ingin mata Ramona di berikan pada ibunya, panah-panah itu mengandung bius agar Ramona tampak kalah.


Seorang anggota Lana memasuki Labirin lalu menyeret tubuh Ramona keluar dari taman, membawanya ke salah satu ruangan di baseman rumah sakit. Menyekap Ramona di sana sambil menunggu perintah selanjutnya.


__ADS_2