The Other Side

The Other Side
Siapa?


__ADS_3

"Ah aku ada ide." Netra mengeluarkan sticky notes dan pulpen dari tasnya. Ia mengingat kejadian waktu pertama kali ia terlambat bersama Sandy. Entah mengapa sejak saat itu perasaan Netra ke Sandy semakin tumbuh. Netra sudah tau apa yang harus ia hadiahkan untuk Sandy.


*****


"Bunda, Rara udah selesai milih hadiahnya. Rara juga udah bayar ke kasih tadi sekalian," kaa Netra yang menghampiri Bunda Anna di koleksi pakaian.


"Loh, Rara kok ga tanya pendapat bunda dulu sih," keluh Bunda Anna.


"Hehe gapapa bunda, biar surprise," jawab Netra ya tersenyum bahagia. Ia harap kedua temannya itu menyukai hadiah darinya.


Netra masih terdiam di kamarnya. Ia masih melamunkan hal-hal yang terjadi tadi. Ia senang sekali hari ini karna bisa merasakan hangatnya sebuah keluarga dan pertemanan. Ia tidak pernah merasakan ini sebelumnya.


Tok tok tok. Terdengar suara ketukan pintu.


"Rara udah tidur?" tanya neneknya dari luar.


"Belum nek, sebentar Rara bukakan pintunya," jawab Rara sambil turun dari kasurnya menuju pintu.

__ADS_1


"Rara kok belum tidur? Ada yang dipikirkan? Oh iya bagaimana ujian tadi? Rara belum cerita nih sama nenek," kata neneknya itu.


"Rara seneng banget nek hari ini. Rara kayak punya keluarga yang lengkap dan penuh kasih sayang. Bunda Anna tadi ngajak Rara belanja nek. Liat deh. Ini pakaian yang bunda pilihin buat Rara. Bagus banget kan nek," kata Rara dengan nada gembira sambil menunjukkan tas belanjanya.


"Wah, iya, asik sekali. Rara bahagia banget ya pasti?" tanya Nek Sari. Terlihat sedikit kesedihan dari raut wajah neneknya.


"Loh nenek kenapa? Ada yang salah nek?" tanya Netra yang simpati.


"Tidak, tidak apa apa. Oh iya semoga Rara bisa diterima di SMA yang diinginin Rara ya. Nenek ke kamar dulu. Kamu tidur ya udah malam nih," kata neneknya sambil berlalu.


"Iya nek," jawab Netra. Netra merasa ada yang janggal dengan neneknya. Mengapa nenek terlihat sedih tadi padahal ia sedang bercerita hal yang menyenangkan, pikirnya.


"Ra, maafin nenek. Nenek ga mampu lindungin ibu kamu waktu itu. Nenek juga ga mampu melindungi saudaramu. Maafin nenek sayang," kata Nek Sari di depan pintu kamar Netra. Tidak terasa air mata neneknya itu mengalir dengan deras.


"Nenek, akan jaga kamu nak. Nenek janji akan jaga kamu sepenuh jiwa nenek. Nenek ga akan biarin apa pun terjadi pada kamu," kata Nek Sari sambil berlalu masuk ke kamarnya.


Hari semakin larut. Mimpi indah Netra berubah menjadi mimpi buruk. Sekeliling Netra berubah menjadi warna merah.

__ADS_1


"Tolong kembalikan dia. Jangan pisahkan dia dari saudaranya, Sinta," kata seorang wanita tua di depan Netra. Ia mencoba mendekati mereka. Netra mulai mengenali kedua wanita itu. Mereka adalah nenek dan tantenya.


"Nenek? Tante Sinta?" kata Netra sambil mencoba menggapai mereka. Namun, nihil. Setiap kali Netra mencoba memegang mereka, Netra hanya seperti memegang angin.


"Ibu tau kan saudaranya berbahaya. Setidaknya jika Putri bersamaku dia akan jauh lebih baik," kata Tante Sinta.


"Nenek sama tante Sinta ngomongin siapa ya? Putri? Putri siapa?" tanya Netra kebingungan.


"Kamu ga bisa pisahkan ikatan darah mereka Sinta. Mereka akan saling menemukan satu sama lain meski kamu pisahkan jauh," kata ibunya.


"Terserah apa kata ibu, yang pasti aku akan tetap bawa putri bersama denganku," kata Tante Sinta pergi meninggalkan ibunya.


"Putri siapa ya? Apa putri anaknya tante Sinta? Apa jangan-jangan Putri, Putri yang di sekolah?" Netra bertanya-tanya. Di depannya hanya ada neneknya dan tante Sinta. Orang yang dibicarakan tidak ada di antara mereka.


"Masa sih Putri yang itu? Apa nenek punya cucu yang lain selain aku?" Netra masih kebingungan.


Lagi-lagi Netra terbawa ke ruang kosong yang gelap. Ia tidak bisa melihat apa-apa. Tiba-tiba sesosok bayangan putih menghampirinya.

__ADS_1


"Hai, kamu masih kenal aku?"


__ADS_2