The Other Side

The Other Side
Fakta yang Mengejutkan


__ADS_3

Karena Aku seorang yatim piatu dan Peter adalah tunanganku, keluarganya mengadakan upacara pemakaman untukku. Tidak banyak yang datang karena memang di kota ini tidak banyak yang mengenalku.


Roy si pemilik cafe dan Maya, rekan kerjaku pulang paling akhir. Peter mengantar mereka ke luar kemudian melangkah menuju ruang kerja Ayahnya.


Dokter Grey Summer berdiri, menatap ke luar jendela. Ibunya, Nyonya Mary Grey duduk di sudut sofa. Peter menuang minuman di dua gelas, untuk dia dan ibunya.


"Jadi apa rencanamu sekarang?" tanya Nyonya Mary


"Kita lanjutkan saja semua sesuai rencana, banyak gadis dari kota lain yang bisa kuajak ke sini."


"Dengan kekayaan dan ketampanan aku rasa tidak ada yang bisa menolakku." Peter meneguk minumannya tanpa ekspresi, Nyonya Mary hanya diam


"Tadi Nyonya Hana menelpon." ucap Tuan Grey


"Yah, semua sudah siap. Besok darah pesanannya di antarkan." ujar Peter


"Wanita gila!" umpat Nyonya Mary


"Percaya kalau dia keturunan vampir tapi belum pernah sekalipun menggigit leher! Dasar gila!" Nyonya Mary menghabiskan minumannya


"Biarkan saja, yang penting dia mampu membayar mahal untuk itu." Tuan Grey memainkan gelas di tangannya


"Baiklah! Aku harus ke rumah sakit sekarang, ada beberapa hal yang perlu kuurus." Peter berdiri lalu mencium pipi ibunya


"Hati-hati sayang." bisik Nyonya Mary.


Sesampainya di rumah sakit Peter langsung menuju ruangannya, asisten pribadinya mengikuti langkah Peter


"Bagaimana?"


"Semua sudah siap, sepuluh kantong darah O pesanan Nyonya Hana, ginjal pesanan rumah sakit Gardenville dan sepasang mata untuk Tuan Daniel." Lana, si asisten membaca daftar pesanan di tangannya


"Sempurna! Minggu depan labirin akan di buka, pastikan kau memasukkan peserta yang sehat."


"Baik dokter!" Lana kemudian berlalu meninggalkan Peter sendiri.


Peter menyalakan laptop di meja, membuka salah satu akun media sosialnya. Matanya meneliti setiap akun perempuan yang meminta pertemanan padanya.


Kemudian matanya tertuju pada profil seorang gadis manis berambut ikal, dia membaca profil gadis itu dengan teliti. Gadis itu bernama Olivia, berasal dari Oldise sebuah kota kecil di negara bagian Devana.


Gadis itu tidak sering mengunggah foto. Kebanyakan foto di berandanya adalah foto dia sedang selfie atau foto pemandangan alam, sepertinya Olivia adalah gadis yang tertutup.


Peter mengklik tombol konfirmasi dan menuliskan pesan, mengajaknya untuk kenal lebih dekat. Rupanya Olivia sedang aktif, dia membalas pesan Peter beberapa menit kemudian.


"Hai juga! Ini benar kau? Peter Grey?" tanya Olivia


"Yup tentu saja" jawab Peter


"Wow luar biasa! Terima kasih sudah menerima permintaan pertemananku,"


"Okey,"

__ADS_1


"Apakah kau sibuk?"


"Tidak, kenapa?"


"Bisakah aku melakukan panggilan video?"


"Yup tentu saja" Peter lalu memberikan nomor handphinenya pada gadis itu.


Olivia memanggil, Peter membiarkannya berdering, dia hanya menatap layar handphonenya, kemudian panggilan itu berhenti dengan sendirinya.


Panggilan dari si gadis kembali muncul di layar, Peter tersenyum dingin menatap handphonenya. Dia menekan tombol jawab pada deringan yang kelima


"Hai!" sapanya dengan ekspresi wajah yang jauh berbeda, kali ini Peter terlihat ceria.


"Hello! Kau sibuk?" tanya si gadis


"Oh iya tadi asistenku datang menyampaikan sesuatu padaku,"


"Wah kau benar-benar hebat, seorang pria tampan yang sukses." Olivia berbicara penuh semangat, matanya terlihat berbinar-binar menatap Peter. Sepertinya gadis itu sangat mengaguminya.


Peter diam menatap Olivia, membuat gadis itu salah tingkah.


"Ada apa?" tanya Olivia, kali ini Peter tersenyum. Senyum yang sangat menggoda, setiap gadis yang melihatnya pasti akan terlena.


"Datanglah kemari," ucap Peter setengah berbisik, matanya tak lepas menatap gadis itu.


"Apa? Kau bilang apa?"


"Yah kau benar, susah sekali mendapatkan pekerjaan dengan gaji lumayan di sini,"


"Nah! Tunggu apalagi? Aku bisa mencarikan pekerjaan yang cocok di sini,"


"Aku dulu mengambil sekolah keperawatan, apa aku bisa bekerja di rumah sakitmu?"


"Tentu saja! Datanglah, aku jamin bisa memberimu lebih dari sebuah pekerjaan. Aku akan memberikanmu sebuah hidup baru,"


"Tapi Lovelock sangat jauh,"


"Ayolah! Ini kesempatan sekali seumur hidup, tapi kalau kau lebih suka menetap di sana ...,"


"Tidak ... tidak ... okey! Aku akan ke sana,"


"Gadis pintar!" Peter mengedipkan matanya membuat wajah gadis itu memerah


"Kabari aku bila kau sudah tiba di Lovelock okey?" Peter memutuskan pembicaraan,


"Siapkan semuanya, gadis itu pasti tiba dalam dua atau tiga hari ini." Peter memberi perintah pada Lana yang masuk ke ruangannya sesaat sebelum pembicaraannya usai.


Wanita tirus dengan wajah tanpa ekspresi itu mengangguk, menyodorkan berkas pada Peter untuk di tanda tangani.


Dua hari kemudian handphone Peter berdering, terdengar suara Olivia di seberang sana

__ADS_1


"Hai!" sapanya


"Hello Olivia, di mana kau sekarang?"


"Aku sudah tiba di Lovelock. Aku baru saja turun dari kereta,"


"Okey baiklah. Bisakah kau ke Hotel Alaska? Tunggu aku di sana, setelah operasiku selesai aku akan menemuimu."


"Oke aku akan ke sana." Peter tersenyum dingin lalu menekan tombol interkom di mejanya


"Dia sedang menuju Hotel Alaska."


Satu jam kemudian Peter terlihat memasuki lobi Hotel Alaska, memasuki lift menuju lantai lima. Peter mengetuk pintu kamar lima satu tiga, kepala Olivia muncul dari balik pintu.


Peter melangkah menuju balkon, Olivia berdiri di sampingnya. Peter terlihat bahagia, senyuman tak pernah lepas dari bibirnya, membuat gadis itu beberapa kali tertunduk malu


"Kau sudah makan?" tanya Peter


"Iya sudah tadi,"


"Kau pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh,"


"Tidak juga,"


"Ada yang tahu kau ke sini?"


"Tidak ada, aku lari dari rumah. Orang tuaku tidak pernah mengijinkanku mencari pekerjaan di luar kota,"


"Oya? Baguslah klo begitu, maksudku ini kesempatamu untuk membuktikan kalau kau bisa sukses tanpa mereka?"


"Hmm ... yah," gumam Olivia sambil menundukkan kepala.


Peter mengangkat dagu Olivia, mereka saling menatap. Wajah Peter mendekat, Olivia tampak pasrah. Peter lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir Olivia yang merah merekah, sesaat membuat gadis itu terbuai.


Perlahan Peter meraih sesuatu dari saku celananya, sesuatu yang pipih dan berkilau. Peter menancapkan benda itu ke perut Olivia tanpa ragu, mata gadis itu membelalak terkejut.


Dia mundur menjauh sambil memegang benda yang menancap di perutnya, kemudian roboh ke lantai, tidak jauh dari Peter. Peter membuka pintu kamar, Lana dan seorang pria muncul dengan sebuah tas khusus di tangannya.


Dengan sigap Lana mempreteli tubuh Olivia, mengeluarkan organ vitalnya. Peter mengawasi perkerjaan mereka, dia membersihkan bibirnya dengan selembar tisu, membuangnya ke lantai lalu menginjaknya seperti sesuatu yang menjijikkan. Tidak butuh waktu lama Lana dan si pria sudah selesai.


"Banyak yang masih bagus." ucap Lana tanpa di tanya,


"Sepasang mata, jantung dan sepasang ginjal yang masih segar, kita juga masih bisa mendapatkan beberapa kantong darahnya." Peter tersenyum puas mendengarnya.


Lana dan Peter keluar meninggalkan kamar hotel. Si pria masih tinggal untuk membersihkan kamar itu dan membereskan mayat Olivia.


Aku sangat terkejut menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Peter yang kuikuti beberapa hari ini bukanlah pria yang selama ini kukenal. Peterku adalah seorang pria yang baik hati, ramah dan sangat manis.


Sedangkan pria ini adalah seorang pembunuh berdarah dingin, dia melakukan semua tanpa ragu, seperti sesuatu yang sudah biasa di lakukan dan dia sudah terlatih untuk itu.


Apakah betul Peter sekeji itu? Apakah memang ini yang dia lakukan saat tidak bersamaku? Lalu bila dia memang terbiasa membunuh gadis-gadis yang dia kenal, kenapa dia tidak membunuhku? Oh Peter! Andai saja aku tidak melihat semua ini.

__ADS_1


__ADS_2