The Other Side

The Other Side
[Season 2] Harapan untuk Hidup


__ADS_3

"Maafkan Sandy, Bunda. Maafkan Sandy," kata Sandy.


Tut..tut..tut


Sambungan itu terputus. Bunda Anna yang mengakhiri panggilan itu.


"Iya, aku harus siap menerima konsekuensinya," kata Sandy.


"Radit mengapa kamu ikut meninggalkanku seperti Netra. Apa aku memang orang yang tidak pantas memiliki teman baik sepertimu sekarang? Maafkan aku, Dit. Aku benar-benar menyesal," kata Sandy sambil memegang tangan dingin Radit.


...*****...


Sesampainya di rumah sakit, Radit langsung dibawa ke unit gawat darurat dengan harapan ia masih bisa diselamatkan.


"Dit, tolong bertahan," kata Sandy meringis.


Ia memang tidak terluka tapi ia merasakan sakit yang luar biasa. Orang yang selama ini menemaninya dalam suka dan duka kini sudah terbujur tak berdaya. Garis lurus yang dilihat Sandy di monitor semakin membuatnya tidak berdaya. Walaupun hanya bisa melihat dari kaca pintu ruangan itu, Sandy merasa sangat dekat dengan Radit. Ingin rasanya ia memberi semangat kepada temannya itu untuk tetap hidup.


"Sandy," panggil seseorang dari belakangnya. Suara yang khas. Suara yang paling ia sukai. Suara orang yang mengayominya selama ini.


"Bunda," Sandy berbalik dan menatap dalam Bunda Anna. Nenek Sari dan Om Pras juga ikut dengan Bunda Anna.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Bisa kamu ceritakan ke Bunda?" tanya Bunda Anna dengan wajah serius.


Sandy langsung menghampiri Bunda Anna dan bersimpuh. Ia menangis dan meminta maaf ke Bunda Anna.


"Bunda, jika saja aku dan Radit tidak terlibat perkelahian semalam, jika saja aku tidak mengusir Radit pulang semalam, mungkin kejadian ini tidak akan pernah menimpa Radit," katanya sambil terisak.


"Sandy," Bunda Anna membantu Sandy bangun. Sandy hanya terdiam dan menunduk.


"Bagaimana keadaan Radit sekarang?" Bunda Anna berusaha menguatkan dirinya. Air matanya hampir tumpah. Ia tidak sanggup kehilangan anak semata mayangnya itu.


"Dok-dokter sedang berusaha. Detak jantung Radit sudah tidak terdeteksi. Aku harap Radit masih punya harapan untuk hidup," jawab Sandy sambil terus mengeluarkan air mata.


Bunda Anna segera melihat kondisi Radit dari luar kaca pintu ruang operasi.


"Radit..." teriak Bunda Anna. Ia terjatuh. Kakinya sudah tak kuat menahan tubuhnya yang juga lemas melihat kondisi putranya itu. Ia tak kuasa menahan kesedihannya. Air matanya yang sedari tadi ia tahan meledak begitu saja melihat putranya berbaring tidak berdaya.


Tiba-tiba Bunda Anna pingsan dan Om Pras dengan sigap menahan tubuhnya. Nenek Sari yang sedari tadi dia langsung bergerak mencari perawat agar Bunda Anna segera mendapat ruangan untuk beristirahat.

__ADS_1


"Sandy, sebaiknya kamu pulang dulu ya, biar Om yang ada di sini menunggu Radit," kata Om Pras ke Sandy.


"Ta-tapi..." Rasanya berat untuk Sandy pergi meninggalkan temannya itu, namun ia tau jika ia terus di sana kondisinya tidak akan membaik.


"Baiklah, Om. Sandy akan pulang," kata Sandy.


Om Pras segera membawa Bunda Anna pergi ke ruang yang sudah ditunjukkan perawat bersama Nenek Sari, sedangkan Sandy masih berdiri di depan ruang operasi Radit. Berat rasanya untuk pergi meninggalkan sahabatnya itu pulang. Tapi, ia pikir ini pasti yang terbaik. Saat ia berbalik dan ingin pulang, tiba-tiba pintu ruangan terbuka.


"Nak," panggil dokter itu. Sandy menoleh dan menghampiri dokter itu.


"Kamu keluarga pasien?" tanya dokter itu.


"Saya teman kecilnya, Dok. Apa teman saya bisa diselamatkan?" tanya Sandy.


"Ini benar-benar suatu keajaiban. Kerja keras kami semua di dalam membuahkan hasil. Denyut nadinya kembali. Tapi ia masih dalam kondisi koma dan kekurangan banyak darah," kata dokter itu sambil tersenyum.


"Ambil darah saya dok, kebetulan golongan darah kami sama," kata Sandy.


"Maaf, nak, anak di bawah umur tidan disarankan untuk melakukan donor. Kami butuh pendonor dewasa," kata dokter.


"Tapi dok, apa kondisi teman saya baik-baik saja? Bagaimana jika pendonor juga tidak ditemukan?" tanya Sandy.


"Kami akan berusaha mencari pasokan darah untuk pasien dari rumah sakit lain secepatnya jika memang tidak ada pendonor dalam waktu dekat ini," jawab dokter.


"Saya harus pulang dok, sebentar lagi keluarga pasien akan ke sini. Anggap saja dokter tidak pernah berbicara dengan saya. Sekali lagi terima kasih banyak dok," lanjutnya. Setelah itu, ia segera pergi. Tidak lama berselang, Om Pras menghampiri dokter itu.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Om Pras.


"Ini sebuah keajaiban, detak jantung anak Bapak kembali. Namun, kondisinya kritis. Ia kehilangan banyak darah dan kebetulan stok darahnya sedang habis di rumah sakit ini," jelas dokter.


"Syukurlah kalau begitu, saya bisa menjadi pendonor dok. Golongan darah saya dan anak saya sama. Dokter bisa cek sekarang untuk memastikan apakah saya bisa mendonorkan darah saya untuk anak saya atau tidak," kata Om Pras senang.


"Baik, silahkan masuk, Pak," Dokter membuka pintu ruangan dan mengajak Om Pras masuk ke dalam. Dokter itu segera memeriksa apakah memungkinkan untuk dilakukan transfusi darah.


Sementara itu, Bunda Anna sudah sadar dari pingsannya dan mencari suaminya itu.


"Nek, Pras dimana?" tanya Bunda Anna.


"Dia sedang mengecek kondisi Radit. Kamu tenang saja Anna, nenek yakin Radit masih memiliki harapan untuk hidup," kata Nek Sari.

__ADS_1


"Anna ingin ke sana, Nek, melihat perkembangan Radit. Mungkin saja dengan kehadiran Anna di sana harapan untuk Radit hidup jadi lebih besar," kata Bunda Anna berusaha turun dari ranjangnya.


"Aww," Bunda Anna menjerit sambil memegang kepalanya.


"Anna, lebih baik kamu istirahat dulu di sini. Pras pasti akan mengabari kondisi Radit," kata Nek Sari membantu Bunda Anna untuk kembali berbaring dan memberikannya minum.


"Nek, apa nenek membenci Sandy?" tanya Bunda Anna tiba-tiba.


"Anna? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Nenek Sari yang sedikit kaget mendengar pertanyaan Anna.


"Maksudku, sudahlah lupakan, Nek," kata Bunda Anna yang tidak ingin membuka kembali luka itu.


"Rara sudah memilih jalannya. Nenek yakin itu pasti yang terbaik untuknya," kata Nenek Sari.


Sandy sudah sampai di rumahnya. Ia tidak meminta jemputan supirnya, melainkan naik kendaraan umum untuk merenung di sepanjang jalan.


"Den Sandy udah pulang, kenapa ga minta jemput sama Mang Supri?" tanya Mang Supri melihat tuannya sudah kembali.


"Tidak apa, Sandy hanya ingin," kata Sandy dingin. Ia berlalu meninggalkan Mang Supri.


"Den Sandy," panggil Mang Supri. Sandy berhenti namun tidak membalikkan badannya.


"Mamang harap mamang bisa bantu Aden, jika Ade butuh bantuan jangan sungkan minta tolong ke mamang," kata Mang Supri sambil sedikit berteriak karena posisi mereka sudah agak jauh. Sandy kembali berjalan masuk ke dalam rumahnya.


"Semoga keselamatan selalu menyertai Den Sandy," ucap Mang Supri.


"Lelah, tapi bolehkah aku bersantai seperti ini? Orang yang berada di dekatku semuanya berada dalam bahaya," kata Sandy sambil merebahkan tubuhnya.


"Sandy," panggil suara yang sangat ia kenal. Namun, entah kenapa Sandy merasa tidak enak dengan nada bicaranya itu.


PLAK.


Netra muncul di hadapannya, menghampirinya dan menamparnya.


"Aku berusaha melindungimu agar kau dan Radit hidup baik-baik saja. Tapi sekarang apa? Kau membahayakan kondisi Radit." Setelah berbicara itu, sosok Netra menghilang.


"Ra..." panggil Sandy pelan.


"Sandy, Sandy, Sandy..." panggil seseorang dari arah belakangnya. Itu Radit. Pisau menancap di perutnya. Radit melepaskan pisau itu dan segera menghampiri Sandy. Pelan-pelan Sandy mundur, namun Radit tetap mengejarnya.

__ADS_1


"Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan, Sandy." Terlihat Radit yang sudah siap menancapkan pisaunya di dada Sandy.


"Aaaa..."


__ADS_2