
Flashback
Malam itu sangat sepi, bahkan angin saja tidak berhembus. Terlihat Radit yang sedang tertidur di kamarnya. Sesosok makhluk tengah melihatnya dari luar kamar tidur. Tiba-tiba sosok itu masuk menembus dinding rumah Radit dan mendekati Radit.
"Sepertinya ini orang yang tepat." Sesaat perkataan sosok itu selesai, ia langsung masuk ke dalam tubuh Radit. Seketika Radit langsung kejang-kejang dan berteriak membangunkan seisi rumahnya. Radit berteriak seperti menolak sosok tersebuk masuk ke dalam tubuhnya, namun terlambat. Sosok tersebut sudah masuk ke dalam tubuh Radit dan berusaha menguasai tubuhnya.
Sosok tersebut seperti ingin menyampaikan sesuatu lewat Radit, namun sebelum dapat menyampaikan sesuatu, sosok tersebut langsung hilang dengan meneriakan nama Netra.
*****
Sesaat sosok itu pergi dari tubuh Radit berguncang keras dan Radit terbangun. Mulutnya langsung mengeluarkan muntahan darah. Ia merasa seperti diserang oleh sosok gaib. Entahlah apa yang terjadi pada dirinya, pikirnya. Ia sepenuhnya sadar saat sosok itu ada dalam dirinya. Hanya ada dua hal yang bisa Radit simpulkan. Sosok itu ingin menjaga Netra atau mencelakakannya. Yang pasti sosok itu berhubungan erat dengan Netra.
Radit merasa badannya menjadi tidak fit selepas kejadian malam itu. Panas tubuhnya terus meningkat hingga ia terpaksa harus izin tidak masuk sekolah. Radit beristirahat di rumahnya untuk seharian ini. Namun, bukannya membaik, justru yang terjadi adalah sebaliknya. Suhu tubuh Radit tidak menurun sama sekali walaupun ia sudah minum obat. Bi Ina, asisten rumah tangga sekaligus pengasuh Radit dari kecil merasa ada hal yang janggal dari sakitnya Radit. Apalagi saat ia tidak sengaja mendengar sosok yang menyamar menjadi Radit meneriakan nama Netra.
Keesokan harinya, Netra pergi ke sekolah sendiri. Kebetulan ia tidak bertemu Sandy di jalan seperti yang terjadi kemarin. Netra merasa masih tidak sanggup untuk menghadapi tatapan yang seperti mengancam dirinya. Sesampainya di sekolah, ia melihat Sandy yang sudah duduk di kursinya. Kelas itu kosong, hanya ada Sandy yang duduk sambil meletakan kepalanya di atas kedua tangannya.
"Apa ia tertidur?" pikir Netra sambil duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi Sandy. Seakan meniru gerakan Sandy, Netra juga ikut melakukan hal yang sama sambil menatap Sandy yang sedang memejamkan matanya. Netra seakan lupa bahwa kursinya berada di belakang Sandy, bukan di seberangnya.
__ADS_1
Setelah lebih dari 5 menit Netra memandangi dan mengagumi Sandy, Sandy membuka matanya dan ia langsung refleks terbangun dari kursinya itu dan pindah ke kursi di belakang Sandy.
"Dia memang lucu," gumam Sandy sambil tersenyum kecil.
Semakin lama kelas semakin terisi penuh dan tidak terasa bel masuk kian berbunyi. Semua murid di sekolah ini langsung duduk rapih dan mulai pembelajaran mereka. Ketika jam istirahat tiba, Netra langsung menghampiri Sandy dan membicarakan tentang hal kemarin.
"San, kemarin aku pergi ke tempat Radit tapi Raditnya ga ada. Kata Mbok Ina, dia sampe dirawat di rumah sakit. Apa separah itu ya sakitnya?" kata Netra.
"Apa? Radit dirawat?" Sandy kaget mendengar kabar dari Netra.
"Iya, aku mau ajak kamu pergi buat jenguk Radit sih hari ini. Kamu ada jadwal les, San?" tanya Netra.
"Oke, nanti sepulang sekolah kita pergi ke rumah sakit ya, ini alamatnya, kemarin aku udah tanya ke Mbok Ina," kata Netra sambil menyodorkan kertas yang berisi alamat rumah sakit dimana Radit dirawat.
Sepulang sekolah, akhirnya mereka berdua ke rumah Sandy terlebih dahulu. Netra menunggu Sandy berganti pakaian. Setelah selesai, Sandy langsung mengajak Netra ke garasinya.
"Eh mau kemana, San?" tanya Netra yang bingung ketika diajak Sandy.
__ADS_1
"Garasi, ga mungkin kita jalan kaki ke rumah sakit itu kan," kata Sandy.
"Aku lupa kalo dia anak orang kaya," gumam Netra.
Sandy menuju mobilnya yang berwarna hitam, terlihat beberapa mobil lain yang sepertinya tidak pernah dipakai Sandy, namun tetap dalam kondisi terawat.
"Ayo naik," ajak Sandy sambil membukakan pintu mobil untuk Netra.
"Umm, iya," jawab Netra yang langsung masuk ke mobil Sandy.
"Astaga aku hanya berdua dengan Sandy di mobil yang keren ini, kenapa seperti adegan di film-film," pikir Netra.
Sandy melirik ke arah Netra yang masih melamun sambil senyum-senyum kecil.
"Ra..." suara Sandy tertahan. Ia mendekat ke arah Netra. Netra refleks langsung memejamkan matanya.
"Pake dulu sabuknya, gimana mau jalan," kata Sandy sambil memakaikan sabuk pengaman Netra. Netra yang malu akhirnya langsung membetulkan posisinya dan sabuk pengamannya.
__ADS_1
"Ah iya, aku bisa sendiri kok," kata Netra panik.
Sandy terlihat tersenyum melihat kelakuan Netra dan ia langsung menjalankan mobilnya menuju rumah Netra.