
"Putri siapa ya? Apa putri anaknya tante Sinta? Apa jangan-jangan Putri, Putri yang di sekolah?" Netra bertanya-tanya. Di depannya hanya ada neneknya dan tante Sinta. Orang yang dibicarakan tidak ada di antara mereka.
"Masa sih Putri yang itu? Apa nenek punya cucu yang lain selain aku?" Netra masih kebingungan.
Lagi-lagi Netra terbawa ke ruang kosong yang gelap. Ia tidak bisa melihat apa-apa. Tiba-tiba sesosok bayangan putih menghampirinya.
"Hai, kamu masih kenal aku?"
*****
Seorang anak kecil mendatangi Netra perlahan. Netra mundur karena takut. Ia tidak merasa kenal dengan anak itu.
"Kamu, kamu siapa?" kata Netra terbata-bata.
"Kamu lupa Ra? Kenapa kamu lupain aku?" kata anak kecil itu.
Tiba-tiba..
BRUG..
Sebuah mobil menabrak anak kecil itu, darah mulai keluar dari jasad anak kecil itu. Netra tidak percaya dengan apa yang ia liat di depannya.
"AAAA" Netra terbangun dari mimpinya. Mimpinya barusan terasa nyata. Nenek Sari yang mendengar teriakan Netra.
"Rara sayang ada apa? Kenapa Rara berteriak? Kenapa Rara sangat berkeringat? Rara mimpi buruk?" tanya neneknya sambil membelai rambut Netra.
"Nek, apa.." suara Rara terhenti.
"Kenapa sayang?" tanya neneknya yang masih membelainya.
"Ah tidak, mungkin karna Rara kelelahan dan stress menghadapi ujian seminggu lagi jadi Rara mimpi yang aneh-aneh. Tapi karna ada nenek Rara jadi ngerasa lebih tenang kok," kata Netra sedikit berbohong. Ia sebenarnya penasaran dengan arti mimpinya. Ingin sekali ia bertanya pada neneknya itu. Namun, ia tidak mungkin menanyainya sekarang. Ia harus memikirkan ujiannya yang tinggal seminggu lagi.
"Yaudah, nenek bakal di sini nemenin Rara sampe tidur ya supaya Rara merasa aman. Rara tidur lagi deh," kata Nek Sari.
__ADS_1
"Iya nek, makasih ya nek," kata Netra sambil mencoba tidur.
"Apa yang kamu pikirkan nak?" gumam neneknya pelan sambil membelai rambut Netra yang sudah mulai tertidur.
*****
"Uhh aku ga sabar seminggu lagi," kata Radit pada Sandy dan Netra. Mereka sedang berada di kantin sekolah saat ini.
"Seminggu lagi? Ujian kita? Duh aku sih takut," jawab Netra.
"Loh Ra kamu gatau kalo pengumuman ujian masuk SMA Internasional Tunas Bangsa. itu bertepatan sama ujian nasional kita?" Radit kembali menjawab.
"Puftt, Hahh?" Netra yang sedang minum air memuncratkannya ke arah depan. Untuk saja mereka tidak berada di daerah tengah kantin sehingga perilaku Netra tadi tidak terlalu menjadi pusat perhatian orang.
"Jorok banget sih Ra," kata Radit sambil mengelap muncratan air Netra yang terkena wajahnya.
"Nih," kata Sandy sambil memberikan tisu ke Netra dan Radit.
"Iya Radit bener, seminggu lagi pengumumannya," kata Sandy.
"Kamu gimana sih Ra, masa gatau apa apa tentang sekolah yang kamu pengen," kata Radit yang sudah selesai mengelap wajahnya.
"Gimana mau fokus kalo mimpiku aneh-aneh gini," gumam Netra pelan.
"Hah? Kenapa?" kata Radit yang berusaha mendengar omongan Netra.
"Tidak tidak, mungkin aku emang kurang cari tau aja. Hehe. Untungnya ada kalian yang selalu tau info ter update. Jadi aku ga kudet deh. Hehe," jawab Netra.
"Yaudah ayo cepet diabisin makanannya abis itu kita ke kelas," kata Sandy. Setelah itu tidak ada percakapan di antara mereka. Sandy hanya sesekali melirik ke arah Netra. Ingin rasanya ia berterima kasih secara langsung ke Netra karena sudah memberikannya hadiah. Jam tangan itu juga saat ini sedang dipakainya, namun sepertinya Netra masih belum menyadarinya. Mereka sudah selesai makan dan bergegas ke kelas.
"Kita jadi belajar bareng kan? Aku sangat takut ujian ini," kata Netra yang membuka obrolan.
"Iya," jawab Sandy dingin.
__ADS_1
"Tenang aja Ra, kalo hasil ujian masuk kita lolos, nilai ujian nasional ini ga akan berguna kok," kqta Radit yang berpindah dari sisi Sandy ke sisi Netra yang membuat Netra berada di antara mereka.
"Hush, nilai ujian nasional ini berpengaruh ke akreditasi sekolah tau. Emang kamu mau sekolah ini dicap jelek karna nilai ujian yang ga memenuhi standar," kata Sandy yang menjelaskan pentingnya nilai ujian nasional.
"Iya iya Bapak Sandy yang terhormat. Saya akan belajar dengan sungguh-sungguh," kata Radit yang mengejek Sandy.
"Sudah aku duluan ke kelas ya," kata Sandy yang mendahului mereka dan masuk ke kelasnya.
"Kamu sih, ngejek Sandy gitu. Ngambek kan dia," kata Netra sambil memukul lengan Radit.
"Duh iya iya maaf Ra. Lagipula Sandy bukan tipe pemarah kok. Tenang aja. Hihi," kata Radit sambil tersenyum.
"Huft kalian ini, masih aja kayak anak kecil," kata Netra sambil melihat ke sekelilingnya. Ia melihat seorang yang mencurigakan namun orang itu langsung hilang.
"Ada apa Ra?" tanya Radit.
"Ga ada apa apa kok. Udah ayo kita masuk ke kelas," ajak Netra.
"Iya deh," jawab Radit.
Di kelas, mereka mengobrol kecil sambil menunggu gurunya masuk. Netra ingin sekali berbagi cerita ke temannya itu, namun ia urungkan karna Radit pasti tidak akan percaya dengan apa yang ia katakan. Di sisi lain, Radit juga ingin sekali menceritakan kejadian setahun yang lalu ke Netra, namun itu tidak mungkin. Radit berpikir bahwa Netra kehilangan ingatannya sebagian dan mungkin itu yang kebih baik baginya. Walaupun Radit tidak tahu apa bahaya yang mengancam Netra, tapi Radit bisa merasakan kesedihan dan ketakutan dari sosok yang dahulu menghampirinya.
"Ra, kamu.." Omongan Radit terhenti karena guru sudah masuk ke kelas mereka.
"Selamat siang semua," sapa guru itu.
"Siang bu," jawab anak-anak serentak.
"Ya, mari kita berdoa terlebih dahulu. Ketua kelas ayo pimpin doa," kata guru itu lagi.
"Mungkin lain kali akan aku tanyakan," kata Radit sambil menghela napasnya.
"Radit tadi mau ngomongin apa ya," pikir Netra.
__ADS_1
"Jangan-jangan ada hubungannya sama mimpi anehku selama ini," pikir Netra lagi.
"Ah udah Rara, jangan melamun, inget seminggu lagi ujian, aku harus mempersiapkan ini denganbaik supaya ga mempermalukan sekolah kayak apa yang dibilang Sandy tadi," batin Netra.