
"Umm, aku masih ga nyangka bakal diterima di sekolah ternama itu. Rasanya seperti mimpi. Dan bisa bersama kalian lagi, aku merasa sangat beruntung," ucap Netra dengan senang.
"Iya, aku harap semua hal buruk yang pernah kita lalui berakhir sampai disini aja," ucap Radit.
*****
"Sandy makasih ya selama ini udah mau jadiin rumahmu sebagai tempai kumpul kita," ucap Netra sambil mencuci piring yang tadi mereka gunakan. Sedangkan Radit dan Sandy membersihkan sisa-sisa sampai di dapur.
"Iya, emang sepertinya harus begitu. Di rumahmu ada nenek, di rumah Radit ada bunda, kalo di rumahku kan sepi," ucap Sandy.
"Loh kok repot-repot sih Non Rara buat nyuci piringnya, biarin aja nanti Mbok yang cuciin," kata Mbok Yati yang tiba-tiba masuk ke dapur.
"Gapapa Mbok, ini kan kita juga yang berantakin, jadi harus kita juga yang rapihin," ucap Netra.
"Yaudah, Mbok mau beberes di depan dulu ya," ucap Mbok Yati.
"Iya Mbok," kata Netra, Sandy, dan Radit bersamaan.
TING TONG..
Bel rumah Sandy berbunyi, Mbok Yati segera keluar untuk membukakan pagar rumahnya. Namun, ia tidak melihat siapa pun di depan sana. Ia hanya melihat kotak kecil di bawah. Mbok Yati segera membawa kotak itu masuk dan memanggil Sandy.
"Den Sandy, maaf ini tadi ada orang meninggalkan kotak di depan rumah kita, Mbok gatau isinya apa makanya Mbok bawa masuk" kata Mbok Yati sambil memanggil Sandy di dapur.
"Loh Mbok, mencurigakan juga sih kenapa orang ninggalin kotaknya di depan rumah, sekarang kotaknya dimana Mbok?" tanya Sandy.
__ADS_1
"Itu di ruang tamu, Den," ucap Mbok Yati. Mereka segera pergi ke ruang tamu untuk melihat isi kotak itu. Ketika Sandy ingin membuka kotaknya Netra menahan tangan Sandy.
"San, apa kau punya musuh? Aku takut kotak ini isinya hal berbahaya," ucap Netra yang khawatir dengan Sandy.
"Musuh? Yaampun Ra kamu gatau Sandy ini orang yang paling terfavorit di sekolah, siapa yang mau musuhin orang setampan dia coba," kata Radit.
"Gapapa, Ra, kita coba buka dulu ya, ucap Sandy. Ia langsung membuka kotaknya dan kaget karena isi kotak itu.
"Ini, ini ga mungkin," Sandy langsung membuang kotak itu jauh-jauh.
"San kenapa? Itu cuma syal kan," kata Netra sambil mengambil syal itu. Secarik kertas terjatuh dan Netra mengambilnya.
Hai
Kamu masih inget sama syal ini kan Sandy? Kamu ga akan mungkin lupa sama apa yang terjadi padaku dan syal ini kan.
"Sandy, ini siapa?" tanya Netra ia juga kaget dengan tulisan yang ditulis dengan warna merah darah itu.
"Ra, buang itu Ra. Buang sekarang," kata Radit yang juga ikut kaget.
"Ta-tapi kalian harus ceritain semuanya, i-ini ada apa?" kata Netra.
"Iya nanti kita janji bakal ceritain semuanya ke kamu, tapi aku mohon buang syal itu, kertas itu. Mbok Yati tolong suruh Mang Parman bakar semua itu," kata Sandy.
"Baik Den," kata Mbok Yati yang segera mengemas kembali syal dan kertas itu ke dalam kotak.
__ADS_1
"San, ternyata memang benar, itu-itu Tante Ira, itu syal yang terakhir dipakainya," kata Radit.
"Ngga, Dit, ga mungkin, aku liat sendiri dengan mata kepalaku kalo Tante Ira udah gaada," kata Sandy.
"Apapun itu kita harus berhati-hati," kata Radit.
"Tunggu, ini ada apa sih sebenarnya? Tante Ira itu siapa? Kalian udah janji kan mau cerita ke aku, siapa Tante Ira? Apa yang pernah terjadi sama kalian?" tanya Netra.
"Ini diminum dulu Den, Non," kata Mbok Yati.
"Aku ga pernah menyangka kalo Tante Ira bakal datang ke kehidupanku lagi. Dulu, Tante Ira adalah calon istri Om Herman, namun Om Herman memutuskan untuk menikahi mama dan menjadi Papa tiriku. Setelah itu, semua hal berubah. Aku yang masih berusia 8 tahun harus ditinggal oleh kedua orang tuaku ke luar negeri. Sejak saat itu, aku selalu menganggap Radit adalah keluarku satu-satunya." Sandy mulai bercerita. Netra mendengarkan dengan seksama cerita Sandy, kurang lebih kisah Sandy mirip dengan kisahnya, hanya saja orang tua Sandy masih ada, sedangkan orang tuanya Netra sudah tiada.
"Setelah itu, kehidupanku menggelap. Tante Ira yang tidak menyukai mamaku, selalu berniat buruk untuk menghabisiku. Sejak saat itu, aku lebih sering tinggal di rumah Radit ketimbang di rumah ini. Di sini hanya ditinggali oleh Mbok Yati, Mang Parman, dan Mang Supri. Tante Ira pernah mengancam ingin membunuhku dan itu bukan sekedar ancaman. Aku pernah diculik dan dipukuli. Untungnya, Radit selalu datang tepat waktu untuk menolongku. Karena kejadian buruk terus menimpaku, Bunda Anna akhirnya mengganti namaku," ucap Sandy.
"Tunggu jadi nama aslimu bukan Sandy?" tanya Netra.
"Ya, Bunda meminta persetujuan Mama untuk mengganti namaku, dan ya Mama setuju-setuju saja tanpa tahu kondisiku di sini," kata Sandy sedih.
"Lalu, siapa nama aslimu?" tanya Netra.
"Randy Armana Putra, nama yang katanya selalu membawa kesialan dalam hidupku," ucap Sandy.
"Hah? Randy? Aww..." Netra merasakan sakit di kepalanya. Ia menjadi sangat pusing dan akhirnya pingsan.
"Ra, Rara." Radit berusaha membangunkan Netra. Namun, nihil.
__ADS_1
"Kita bawa Rara ke kamar dulu," kata Sandy dengan cekatan menggendong Netra.
"Ada apa dengan Rara? Kenapa saat Sandy mengucapkan namanya ia terlihat pusing dan berbeda?" tanya Radit dalam hati. Ia segera menyusul Sandy ke kamar.