The Other Side

The Other Side
Sahabat Baru


__ADS_3

Aku tak tahu apa lagi yang bisa kupercayai sekarang. Peter yang selama ini kukenal ternyata tak sebaik dan tak semanis itu. Segala rasa sedih, kecewa dan marah bercampur aduk.


Aku benci kau Peter! Aku benci pada diriku yang juga masih sayang padanya. Aku berjalan gontai menyusuri jalan kota, rasanya jiwa ini letih, aku butuh istirahat.


Tak sengaja aku memasuki sebuah mobil taksi yang sedang parkir, kuhempaskan tubuhku di atas kursi penumpang, berharap mobil ini bisa membawaku jauh dari kota ini.


"Hei!" sopir taksi yang ternyata seorang wanita itu menjerit, dia merasakan getaran waktu aku masuk ke dalam mobil tapi tak melihat siapa pun di kaca spion.


Sontak aku pun terkejut, sepertinya wanita ini bisa merasakan kehadiranku.


"Permisi ... apakah kau bisa melihatku?" wanita itu tidak menjawab.


Dia memalingkan wajah, melihat ke sembarang arah tapi aku tahu dia sedang berpura-pura tidak melihatku.


"Halo ... kau bisa melihatkukan? Aku tahu itu,"


"Okey ... okey! Aku bisa melihatmu, sekarang keluarlah dari mobilku." wanita itu mulai gelisah dengan keberadaanku.


Sepasang remaja masuk ke dalam mobil, aku sedikit bergeser, memberikan ruang untuk mereka.


"Love park." ucap si cowok


Mobil pun mulai melaju saat si cewek yang sedang mengunyah permen karet terdiam sejenak lalu mengendus ke arahku.


"Habis mengangkut daging busuk yah? Mobilmu bau sekali,"


"Ah iya ... maaf!" si wanita supir taksi lalu menyemprotkan parfum ke seluruh bagian mobil, tapi si cewek terlanjur mual.


Dia meminta mobil untuk berhenti, si cewek melompat keluar dari mobil, kemudian berlari ke semak-semak memuntahkan isi perutnya.


"Kau lihat apa yang kau lakukan? Kau bisa membuatku kehilangan pekerjaanku bila kau tetap di sini!"


"Tapi aku tidak melakukan apa-apa," jawabku


"Kau memang tidak melakukan apa-apa tapi bau busukmu membuatku kehilangan penumpang!"


Ah sedih sekali rasanya, waktu masih hidup aku sebatang kara. Kini wanita ini pun menolakku, rasanya seperti aku di takdirkan untuk hidup sendiri selamanya. Tak terasa airmataku berjatuhan dan aku mulai menangis tersedu-sedu.


"Oh tidak ... tidak! Tolong jangan menangis, mobilku sudah bau dan kini di tambah lagi suara tangis. Orang akan beranggapan mobil ini adalah taksi hantu."


Sebuah ide tiba-tiba melintas di kepalaku.


"Baiklah, aku akan berhenti menangis tapi berjanjilah kau akan jadi temanku,"


"Apa?"

__ADS_1


"Jadi kau tidak mau? Baiklah aku tidak akan turun dari mobilmu,"


"Okey aku akan jadi temanmu,"


"Asikk!" seruku kegirangan sambil tertawa


"Ssstt ... diamlah, tadi ada suara menangis lalu tertawa, orang betul-betul mengira ini taksi berhantu!"


"Baiklah kalau begitu bawa aku ke rumahmu,"


"Ah kau membuatku gila!" gerutu wanita itu.


Wanita sopir taksi itu bernama Ramona, seorang gadis keturunan Indian yang mempunyai indera keenam. Sepanjang jalan menuju tempat tinggalnya aku bercerita tentang hubunganku dengan Peter dan bahwa setelah aku meninggal aku mengetahui hal-hal keji dan mengerikan yang selama ini di sembunyikan oleh Peter dan keluarganya.


Apartemen Ramona kecil tapi cukup nyaman, dia tinggal sendiri. Saudaranya Samuel tinggal di kota lain, dia hanya berkunjung sekali-kali.


"Apartemenmu nyaman," aku melangkah menuju balkon, membiarkan angin semilir menerpa wajahku.


"Jadi apa yang ingin aku lakukan?" tanya Ramona sambil menyeduh kopi di cangkirnya.


"Aku ingin kau mendekati Peter,"


"Untuk apa? Dia pria sadis! Aku tidak mau dekat dengan orang seperti dia,"


"Tapi dia akan di hukum lama untuk kejahatan yang dia lakukan,"


"Biarlah! Aku berharap dengan hukuman itu dia akan sadar."


"Hmm ... jadi kita mulai dari mana?"


"Kau pernah meminta pertemanan pada Peter?"


"Wow rupanya kau tidak tahu seberapa tenarnya kekasihmu itu! Lebih dari setengah gadis-gadis di kota ini meminta pertemanan pada Peter, berharap bisa dekat dengannya."


"Sejujurnya banyak orang berharap hubungan kalian berakhir agar bisa menggantikan posisimu."


Aku hanya tersenyum kecut mendengar penuturan Ramona, itu gambaran keberuntunganku atau apa, entahlah.


Ramona membuka aplikasi biru di handphonenya.


"Dia belum mengkonfirmasiku," ucapnya


"Sepertinya dia punya kriteria tersendiri, gadis mana yang akan dia terima," ujarku


"Jadi apa kau punya rencana lebih baik?"

__ADS_1


Ramona duduk berselonjor sambil menikmati kopinya


"Sepertinya kita harus mengawasi dia, mengikutinya pada jarak yang cukup aman,"


"Yah sepertinya itu ide yang lumayan, jadi kapan kita mulai?"


"Secepatnya, aku akan mengawasi dia dari jarak dekat karna dia tidak bisa melihatku,"


"Sebaiknya kau fokus mencari di mana dia menyimpan berkas-berkas yang bisa kita jadikan bukti, kita tidak bisa begitu saja menuduh Peter dan keluarganya tanpa bukti yang kuat,"


"Yah kau benar,"


"Aku akan mengawasi Peter dari jauh."


Ramona menyiapkan segala yang dia butuhkan untuk mengintai Peter, sebuah kamera dan alat perekam suara.


Peter sedang berada di ruang operasi saat aku tiba di rumah sakit, aku bergegas menuju ruangannya. Memeriksa beberapa file dan brankasnya tapi semua tampak biasa saja, hanya ada data beberapa pasien, laporan keuangan, jadwal operasi dan beberapa hal umum lainnya.


Aku berkeliling rumah sakit, mengintip beberapa ruangan. Rumah sakit ini sungguh berbeda di siang hari, semua tampak menyenangkan. Para perawat yang ramah, taman dengan tanaman yang tertata rapi.


Aku berjalan melintasi taman mini golf, terus menuju labirin. Andai aku tidak menyaksikan apa yang terjadi malam itu, pasti menyenangkan bermain di sana.


Ah aku ingat sekarang! Sepertinya aku mencari bukti-bukti itu di tempat yang salah, harusnya aku mencari di ruangan Lana, bukan di ruangan Peter. Wanita itu adalah asisten pribadinya tentu saja dia yang paling tahu semua transaksi yang terjadi di rumah sakit ini.


Aku berlari menuju ruangan Lana saat kulihat Peter sedang duduk di bangku taman sambil melakukan panggilan video dengan seorang gadis berambut pirang.


Gadis itu berbicara dengan nada yang di buat semanja mungkin, Peter menanggapinya dengan kata-kata yang tak kalah menggoda.


"Benarkah kau sudah melupakan gadis itu?" tanya si pirang


"Yah tentu saja! Ada gadis yang secantik dan semenarik dirimu, untuk apa aku harus mengingatnya,"


"Kau benar Peter sayang," gadis itu mengerlingkan mata, Peter memajukan bibirnya seolah sedang mengecup si gadis membuatnya tertawa genit.


"Jadi kapan kau akan ke Lovelock?" tanya Peter


"Entahlah, ayah sedang kurang sehat. Aku tidak bisa keluar kota saat ini,"


"Ayolah! Kau gadis yang lincah, aku yakin kau bisa menyelinap untuk sedikit bersenang-senang,"


"Kau menantangku?" tanya si gadis


Ah rasanya muak mendengar dan melihat pembicaraan mereka, aku baru saja akan meninggalkan mereka saat aku mendengar Peter memutuskan pembicaraan setelah sebelumnya saling janji untuk bertemu dengan si gadis dua hari lagi.


Hmm ... apakah kejadian yang di alami Olivia akan terjadi juga pada gadis ini? Jika demikian, ini bisa jadi momen yang tepat untuk mendapatkan bukti. Aku bergegas menuju tempat Ramona, tak sabar ingin mengatur rencana dengannya.

__ADS_1


__ADS_2