The Other Side

The Other Side
Bukti-bukti


__ADS_3

Aku dan beberapa hantu memutuskan memulai pencarian bukti-bukti ke ruangan Lana. Hampir seharian kami menggeledah ruangan Lana tapi seperti juga di ruangan Peter, kami tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan yang bisa kami jadikan bukti.


Kami kemudian mencari secara terpisah, sepandai-pandainya mereka menutup rahasia pasti ada celah yang bisa kami temukan. Aku memutuskan untuk ke rumah Peter, selain untuk melihat situasi juga memeriksa ruang kerja dokter Grey, semoga ada petunjuk yang bisa kutemukan di sana.


Hantu yang lain memeriksa setiap ruangan di setiap lantai di rumah sakit, setiap ruangan yang terang maupun gelap.


Saat tiba di rumah Peter aku melihatnya sedang berbincang dengan seorang pria.


"Jadi bagaimana anda ingin kasus ini di selesaikan dokter?"


"Ayolah detektif, ini juga murni kecelakaan. Penglihatan ibu saya sedang kurang baik, di tambah lagi dia sudah membunuh suaminya secara tidak sengaja, semua itu membuatnya agak kacau,"


"Tapi kasus ibu anda tidak main-main dokter, di pemakaman dia membunuh seseorang dan membuat dua orang lainnya terluka parah."


"Keluarga korban menuntut Nyonya Mary, belum lagi dia juga di kenai pasal membuat keributan di tempat umum."


"Pilihan anda tidak banyak dokter, Nyonya Mary bisa di hukum penjara untuk waktu yang lama atau ...," kalimat sang detektif menggantung, menunggu reaksi Peter.


"Atau apa?"


"Atau anda bisa membuat pernyataan bahwa Nyonya Mary sedang hilang ingatan dan bersedia agar ibu anda di rawat di rumah sakit jiwa,"


"Apa? Tapi ibu saya tidak gila detektif! Hanya penglihatannya saja yang sedang bermasalah,"


"Apa menurut anda keluarga korban akan menerima alasan itu? Bahwa peristiwa penembakan itu adalah suatu ketidaksengajaan?" Peter hanya diam mendengar ocehan sang detektif.


"Baiklah dokter, silahkan pertimbangkan keputusan anda. Besok kami tunggu kedatangan anda di kantor." Sang detektif menjabat tangan Peter kemudian berlalu meninggalkannya.


Peter berjalan memasuki kamar ibunya, Nyonya Mary sedang tidur setelah di beri obat penenang. Peter mengepal tangannya, geram dengan situasi ini. Dia juga harusnya di salahkan, dalam hal ini dia terlalu lambat merespon keluhan ibunya.


Sekarang semua sudah terlambat, rasanya tidak sanggup melihat ibunya di bawa ke rumah sakit jiwa tapi lebih tidak tega lagi bila dia di penjara. Peter lalu ke ruang kerja ayahnya, duduk diam di sana. Malam ini dengan berat hati dia harus memutuskan sesuatu yang menentukan nasib ibunya.


Sedih juga rasanya melihat wajah Peter yang murung, tidak ada lagi senyum manis di wajahnya akhir-akhir ini. Tapi aku harus kuat, rencana sudah di jalankan, aku tidak boleh mundur. Semua harus di selesaikan.


Setelah duduk berjam-jam akhirnya Peter berdiri, dia berjalan menuju rak buku di samping perapian. Peter menggapai salah satu buku, kemudian sesuatu terjadi. Karpet di depan perapian bergerak turun, ternyata di bawah perapian itu ada sebuah ruangan rahasia di bawahnya.


Peter berjalan menuju sebuah brankas yang ada di ruangan itu, dia mengambil sesuatu dari dalam brankas tapi aku tak lagi memperhatikannya karena perhatianku tertuju pada deretan laci yang ada di ruangan ini.

__ADS_1


Aku hanya bisa mengintip beberapa berkas tapi aku yakin disinilah mereka menyembunyikan semua data pekerjaan mereka selama ini, disinilah semua bukti-bukti itu berada. Aku harus segera menemui Sam, hanya dia yang bisa membantuku saat ini.


Besok Peter akan ke kantor polisi, itu adalah kesempatan terbaik yang kami punya. Peter berjalan meninggalkan ruangan, kuperhatikan buku mana yang menjadi tuas pembuka ruang rahasia. Sebuah buku bersampul biru yang berada di rak ke tiga dari atas, deretan keenam dari ujung kanan.


Aku bergegas ke rumah sakit, aku yakin Sam mencariku di sana. Sam sedang duduk di bangku taman saat aku tiba di sana.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku


"Melakukan sesuatu yang wajar, seorang keluarga pasien yang sedang istirahat di taman," jawab Sam


"Yah kau betul juga, bagaimana Ramona?"


"Dia di tempat yang aman, jauh dari sini,"


"Oh syukurlah,"


"Jadi bagaimana? Sudah kau temukan di mana bukti-bukti itu di simpan?" tanya Sam


"Iya, mereka menyimpannya di sebuah ruang rahasia di rumah Peter. Mereka menyimpan data-data itu secara manual, jadi akan butuh waktu lama bila kita akan menyirimnya lewat email."


"Mereka sungguh cerdik, sudah memperhitungkan semuanya. Bila mereka menyimpannya di komputer, polisi tetap akan bisa melacak rekam jejaknya. Tapi dengan cara manual, bila terjadi sesuatu mereka tinggal membakarnya."


"Mungkin ada cara," ucap Sam


"Bagaimana?"


"Kita cari waktu untuk masuk ke ruangan itu, ambil beberapa berkas lalu serahkan pada polisi yang bisa di percaya. Setelah itu biar polisi yang menggeledah rumah Peter,"


"Besok Peter harus melapor ke kantor polisi, mereka akan memproses tuduhan yang di ajukan atas ibunya,"


"Nah! Itu dia kesempatan kita!"


"Iya, tapi aku tidak yakin ada polisi yang bisa kita percaya. Kemarin aku melihat Peter berbicara dengan seorang detektif, aku tidak tahu siapa namanya tapi sepertinya detektif itu bisa menekan Peter. Tampaknya dia tidak sepenuhnya percaya kata-kata Peter,"


"Tapi kau ingat wajahnya?"


"Iya tentu saja,"

__ADS_1


"Kalau begitu besok kita curi dulu bukti-bukti itu, selanjutnya serahkan padaku." Aku tersenyum melihat semangat Sam, aku berharap semua berjalan lancar.


Pagi itu setelah ibunya sarapan dan mandi Peter kembali memberinya obat penenang lalu dia bersiap menuju kantor polisi. Dia sudah menyiapkan buku cek yang semalam di ambil dari brankas, dia yakin semua masalah ini akan bisa di selesaikan dengan uang. Sebelum pergi kembali dia memeriksa kondisi ibunya yang sedang tidur.


"Istirahatlah Mom, aku akan menyelesaikan semuanya." Peter mengecup kening ibunya kemudian berlalu dan pergi ke kantor polisi.


Aku memberi isyarat pada Sam yang sedang mengintai dari balik semak-semak di taman, Sam lalu berlari melintasi taman, mengendap-endap memasuki rumah Peter.


Rumah ini memang besar tapi asisten rumah tangganya hanya ada tiga orang, seorang juru masak, seorang supir dan seseorang yang mengurus taman jadi tak sulit untuk menyelinap masuk ke ruang kerja ayah Peter.


Setelah membuka ruang rahasia kami segera membuka beberapa laci dimana berkas-berkas itu di simpan. Sekilas Sam membaca beberapa berkas lalu memilih mana yang di anggap bisa menarik perhatian kepolisian.


Setelah menyelipkan berkas itu di balik baju, Sam segera menyelinap keluar dari rumah. Tanpa buang waktu kami segera ke kantor polisi, aku menunjukkan pada Sam detektif yang kulihat tempo hari.


Rupanya Peter dan beberapa orang lain sedang berada di ruangan sang detektif, mereka sedang berbicara serius.


"Ayolah ... kalian kenal baik dengan ibuku, dia tidak mungkin dengan sengaja melakukan semua itu," ucap Peter


"Justru karena kami mengenal ibumu makanya kami mengusulkan dia di rawat di rumah sakit jiwa," ujar seorang pria berjenggot.


"Rumah sakit jiwa? Aku tidak terima! Aku mau dia di penjara!" seorang pria muda berteriak, bersiap melayangkan tinju ke arah Peter.


"Tenangkan dirimu Jack!" bentak pria berjenggot


"Maaf Jack, tapi bagaimana kalau kutawarkan uang duka padamu?" Peter berbicara sambil mengeluarkan buku cek dari sakunya.


"Apa? Dasar sombong! Ayahku ke pemakaman ayahmu untuk memberi penghormatan terakhir dan ini yang kau lakukan?"


"Kau menghinaku Peter! Kau menghargai nyawa ayahku dengan beberapa dollar! *******!"


Jack lalu melayangkan tinju ke wajah Peter membuat pinggir bibirnya berdarah, Peter baru akan membalas saat detektif memasuki ruangan lalu memisahkan mereka. Beberapa petugas polisi ikut masuk ke ruangan memegang Peter dan Jack.


"Pulanglah Peter, sepertinya situasi sudah tidak bisa di kendalikan, mereka membencimu." bisik sang detektif.


"Aku akan mampir ke rumahmu sore ini untuk mengabarkan keputusannya."


Peter tidak berkata apa-apa, dia lalu menyambar jaketnya dan pergi dengan kesal. Saat sang detektif akan kembali ke ruangannya seorang petugas menghampiri dan memberinya sebuah amplop besar, penasaran sang detektif membuka amplop tersebut dan terkejut melihat isinya.

__ADS_1


Beberapa foto, data transaksi, daftar pesanan, apa semua ini? Kasus barukah? Tidak ada nama atau alamat pengirim hanya ada nomor handphone, hmm siapa pengirim misterius ini?


__ADS_2