
Tiba-tiba neneknya memeluknya dengan hangat sambil meminta maaf padanya karena belum bisa menjadi Nenek yang baik untuk dirinya.
"Nenek ngomong apa sih? Sampai kapan pun, Nenek itu adalah neneknya Rara yang baik sejagat raya," kata Netra.
"Udah Nenek jangan nangis lagi ya, Rara gamau liat nenek sedih," katanya lagi sambil menyeka air mata neneknya.
*****
"Nenek akan jaga Rara sekuat yang Nenek bisa, Ra," kata eneknya.
"Lagi-lagi Nenek bilang akan menjagaku. Sebenarnya apa yang sudah terjadi ya," batin Netra.
"Nek? Rara kan udah besar. Rara bisa jaga diri Rara sendiri kok," kata Netra.
"Iya, cucu Nenek emang udah besar ya," kata neneknya sambil mengusap rambutnya.
"Yuk, tidur. Biar Nenek temani," lanjutnya sambil masuk ke kamar Netra.
Netra akhirnya terlelap di kamarnya setelah memeluk erat neneknya. Malam itu sangat dingin. Neneknya memberinya selimut untuk menghangatkan badannya.
"Ia tertidur seperti bayi. Nira, Salman, lihatlah anakmu ini. Dia sudah besar. Aku harap aku bisa memberitahu tentang rahasianya," kata neneknya sambil mengusap rambut Netra perlahan agar tidak membangunkannya.
Keesokan harinya...
"Oh, Dit. Kau sudah bangun?" tanya Sandy yang sedang duduk di meja makan.
"Iya, baru saja aku mandi. Oh iya, San, sepertinya aku ga bisa lama-lama nih. Rara bisa ngamuk kalo aku terlambat datang ke rumahnya untuk latihan. Kau dan Tari kapan akan latihan lagi?" tanya Radit yang menyusul Sandy di meja makan.
"Oh begitu. Aku dan Tari kemungkinan besok akan berlatih di sekolah," ucap Sandy.
"Seperti itu, kenapa tidak mengajak Tari ke sini saja? Biar tidak perlu repot ke sekolah. Kau kan juga punya piano di sini," tanya Radit sambil menyantap sandwich di depannya.
"Aku tidak mau mengajak siapapun ke rumahku, selain kau dan Rara," kata Sandy dingin.
__ADS_1
"Iya, iya, baiklah. Kau ini dari dulu selalu saja seperti itu," kata Radit melanjutkan makannya.
Di sisi lain terlihat sedang mengutak atik laptopnya. Sepertinya ia baru saja mendapatkan sesuatu dari sana.
"Ayah liat sini, ini, ternyata Ira pernah punya anak dengan Herman. Tapi setelah kematiannya, ternyata anak itu tidak pernah terlihat lagi dan seolah menghilang. Apa mungkin yang selama ini meneror Sandy adalah anak dari Ira?" tanya Bunda Anna.
"Mungkin saja, tidak mungkin bagi Ira untuk bangkit dari kuburnya," balas Ayah Pras.
"Kita harus cari tahu dimana anak ini secepatnya atau keselamatan Sandy dan Radit akan terancam," kata Bunda Anna lagi.
"Halo Bunda, Ayah. Kalian sedang apa?" tanya Radit.
"Radit, Bunda menemukannya," kata Bunda Anna.
"Menemukan apa?" tanya Radit.
"Informasi mengenai Tante Ira. Dia memiliki seorang anak," kata Bunda Anna lagi.
"Apa jangan-jangan dia yang menyamar menjadi Tante Ira?" tanya Radit.
"Tunggu Bunda, apa anak itu anak dari Om Herman papanya Sandy?" tanya Radit.
"Iya, ternyata Ira bukan hanya sekedar calon istri Herman, melainkan dia adalah mantan istri Herman," kata Bunda Anna.
"Aku harus memberitahunya ke Sandy," kata Radit.
Radit mulai menelpon Sandy.
"Halo Sandy?" ucap Radit.
"Ya?" ucap Sandy dari telepon.
"Bunda udah dapetin banyak informasi mengenai tante Ira, mungkin kita juga harus membantu mencari informasi lain," kata Radit.
__ADS_1
"Baguslah, setelah kau berlatih, datanglah ke rumahku. Kita akan susun rencana," kata Sandy.
"Oke, aku juga akan ajak Rara dalam misi kita kali ini," kata Radit.
"Apa? Tidak. Kamu akan menyakiti Rara jika melibatkannya," kata Sandy.
"Justru dia yang akan melindungi kita. Kamu pasti masih ingat dengan kejadian kemarin," kata Radit.
FLASHBACK
"Jangan kira, aku tidak tahu rencana murahanmu bocah," kata orang itu.
"Radiit..." teriak Netra.
Seketika aura kemarahan Netra muncul. Itu bukan Netra yang mereka kenal. Netra memiringkan pisaunya dan mengenai lengan kiri Sandy. Netra mengamuk dan melawan orang itu, sementara Radit melepaskan Sandy dari ikatannya dan membantu Netra.
Orang itu berhasil kabur. Radit sempat mengejarnya dan kehilangan jejak. Sementara Sandy berusaha membangunkan Netra yang tiba-tiba tidak sadarkan diri. Ia ingin segera membawa Netra ke rumah sakit karena Netra juga terluka, namun luka di lengannya membuatnya tidak dapat menggendong Netra.
"Sandy kau tidak apa-apa?" tanya Radit.
"Ya, sekarang lebih baik kita ke rumah sakit. Aku merasa pusing," kata Sandy.
Darah terus mengalir dari lengan Sandy. Radit menelpon ambulans untuk membawa mereka berdua. Dalam keadaan yang seperti itu, akhirnya Sandy juga pingsan bersama Netra. Radit juga menelpon kedua orang tuanya dan juga neneknya Netra. Namun, ia enggan menelpon kedua orang tua Sandy karena pasti akan menimbulkan masalah.
"Iya, baiklah. Ini juga bisa membuka kesempatan untuk kita untuk tau apa yang sebenarnya terjadi pada diri Rara," kata Sandy.
"Oke, sampai jumpa di rumahmu nanti," kata Radit.
Ia segera pergi ke rumah Netra untuk berlatih bernyanyi. Tinggal menghitung hari untuk mereka menampilkan keterampilan mereka sekaligus resmi lulus dari sekolah mereka.
Sesampainya di rumah Netra, Radit tidak langsung memberitahunya. Karena itu pasti akan memecah fokus Netra. Ia hanya berlatih dan berlatih.
"Ra, nanti kita ke rumah Sandy ya," kata Radit setelah mereka selesai latihan.
__ADS_1
"Loh, mau ngapain, Dit?" tanya Netra.
"Udah ikut aja," kata Radit sambil menenggak minumannya.