
"Sudahlah, lebih baik kita pergi dari sini. Kita mencari informasi bukan mencari keributan. Lebih baik kita cari info dari orang lain," kata Om Pras yang sudah geram dengan sikap Tante Sinta.
"Tunggu, sepertinya kita pernah bertemu," kata Tante Sinta menghentikan mereka pergi.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Tante Sinta ke Om Pras.
*****
"Mana mungkin suamiku kenal dengan wanita sepertimu," kata Bunda Anna menyelak.
"Lebih baik kita segera pergi dari sini, Mas," katanya lagi sambil menarik lengan Om Pras.
"Prastanto, sahabat dari Mas Salman," kata Tante Sinta.
"Bagaimana kamu kenal dengan Salman?" tanya Om Pras yang langsung berbalik mendengar omongan dari Tante Sinta.
"Sepertinya hubungan persahabatan kalian tidak baik ya sampai-sampai kamu tidak mengenali adik ipar sahabatmu sendiri," kata Tante Sinta dengan senyuman sinis.
Mereka tidak menghiraukan Tante Sinta dan memilih pergi.
"Mereka ke sini karna anak itu. Dasar kamu, Ira, sudah mati pun masih menyusahkanku," batin Tante Sinta.
"Kamu sedang memikirkan apa?" tanya Om Pras melihat istrinya sedang melamun.
"Jika saja kita bisa mengetahui identitas peneror itu saat ke rumah Sinta, pasti Rara masih ada di tengah-tengah kita," kata Bunda Anna sambil mengingat senyum manis Netra padanya.
"Ini bukan salah kita, Bun. Ini semua udah kehendak Yang Maha Kuasa. Rara juga pasti gamau liat kita selalu bersedih karna kepergiannya," kata Om Pras yang menyeka air mata Bunda Anna yang mulai jatuh.
Kita harus cari informasi mengenai dia, Yah. Setidaknya supaya Netra bisa tenang di sana," kata Bunda Anna.
"Iya kita pasti akan temukan orangnya, yang penting sekarang kita ga boleh berlarut-larut dalam kondisi seperti ini," kata Om Pras.
"Iya, lebih baik kita temani Nenek Sari dulu deh, kasihan dia berduka sendiri," kata Bunda Anna segera bangkit dari kursinya.
"Bunda mau kemana?" tanya Radit yang baru keluar dari kamarnya. Rambutnya basah karena baru selesai mandi.
"Menemani Nek Sari. Kasihan sendirian," kata Bunda Anna.
"Ah yaudah kalo begitu Radit pergi ke rumah Sandy ya, rasanya agak mengkhawatirkan meninggalkannya sendirian," kata Radit segera bersiap-siap.
Bunda Anna dan Om Pras segera pergi ke rumah Nek Sari, sedangkan Radit pergi ke rumah Sandy. Tujuan sebenarnya Radit pergi ke rumah Sandy adalah ingin menrencanakan pembalasan dendam ke orang yang telah mencelakakan Netra.
__ADS_1
"Kamu udah dapet petunjuk, Dit?" tanya Sandy yang melihat Radit masuk ke ruangan rahasia mereka.
"Kemarin saat aku mengejar dia, ada benda yang terjatuh. Lihat ini," kata Radit sambil menunjukkan sapu tangan.
"Kamu pasti pernah liat sapu tangan ini kan, San?" tanyanya.
"Iya, ini, ini sapu tangan yang sering dipakai Tari," kata Sandy.
"Kenapa sapu tangan ini bisa ada di orang itu ya, apa semua ini ada hubungannya sama Tari?" tanya Radit.
"Tari ada di atas panggung bersamaku saat kejadian itu, jadi udah pasti itu bukan Tari," kata Sandy.
"Aku ga bilang itu Tari, San. Tapi ada kemungkinan semua ini ada hubungannya dengan Tari, kan," kata Radit sambil mengambil pisang goreng di depannya dan memakannya.
"Sebenarnya ada banyak kemungkinan, itu bisa jadi salah satunya. Selama kita ga pernah liat wajah dari orang itu, kita ga bisa ungkap kebenarannya," kata Sandy.
"Oh iya, ngomong-ngomong San, minggu depan kita udah harus masuk ke sekolah baru. Kamu udah mempersiapkan semua keperluannya?" tanya Radit yang tiba-tiba mengganti topik.
"Ya sudah, persiapannya juga tidak banyak," kata Sandy.
"Hmm, padahal sekolah itu, sekolah yang diidam-idamkan Rara dari lama," kata Radit yang secara tidak sengaja membahas lagi tentang Netra.
"Maaf, San, aku hanya masih tidak bisa terima jika Rara sudah pergi mendahului kita," kata Radit. Sandy hanya terdiam.
"Rara memang spesial ya. Walaupun banyak hal yang terjadi di antara kita, tapi semua justru membuat pertemanan kita lebih berwarna," kata Radit lagi.
"Dit, sepertinya udah larut, kamu menginap di sini?" tanya Sandy mengalihkan pembicaraan.
"Iya San, aku khawatir denganmu. Tadi juga udah bilang Bunda buat nginep di sini," kata Radit.
"Disini ada dua kasur, aku aku akan tidur di sini, kamu bisa tidur di sini juga atau tidur di kamarku, terserah kau saja," kata Sandy.
"Biar aku di sini saja, setidaknya kita bisa mengobrol sebelum terlelap seperti dulu," kata Radit mengingat masa lalunya bersama Sandy.
Mereka memang sudah bersahabat dari kecil. Saat itu, Sandy pindah ke rumah ini dan bersekolah di tk yang sama dengan Radit. Radit dulu melihat Sandy sebagai pribadi yang sangat kaku, meskipun diakuinya bahwa sampai sekarang Sandy masih kaku dan dingin. Namun, dulu menurutnya Sandy seperti kehilangan sesuatu yang mengubah hidupnya seperti itu. Sandy terlihat seperti kehilangan sinarnya. Namun, lama kelamaan mereka berteman, Sandy mulai bersinar lagi bersama Radit.
Radit tau jika dulu Sandy sempat mengalami kecelakaan di masa kecilnya yang membuatnya tidak ingat kejadian apa pun sebelum kecelakaan itu. Namun, Radit percaya bahwa kecelakaan itu pasti yang membuat sikap Sandy kaku dan dingin sampai sekarang.
"San," panggil Radit melihat Sandy yang sedang merapikan dokumen di mejanya.
"Ya?" tanya Sandy yang masih tidak mengalihkan fokusnya dari kerjaannya.
__ADS_1
"Ingat janjiku dulu?" tanya Radit.
"Ya, ingat," kata Sandy.
"Aku benar-benar akan menjagamu, San, seperti adikku sendiri. Kamu tau kan aku lebih tua darimu," kata Radit berlaku seperti kakaknya Sandy.
"Dit, aku bukan anak kecil yang dulu, aku bisa jaga diriku sendiri sekarang," kata Sandy.
"Kamu ga pernah bisa lepas dariku, es balok hidup," kata Radit meledek Sandy.
"Radit," kata Sandy sambil melotot ke arah Radit.
"Haha, dasar kamu ini sensitif sekali, San. Begini saja, gimana kalo kita berjanji lagi, janji untuk saling jaga satu sama lain dan akan selalu bersama selamanya," kata Radit.
"Kita bukan anak kecil lagi, Dit," kata Sandy.
"Justru seharusnya karna kita bukan anak kecil, kita harus menepati janji yang kita buat sekarang kan?" kata Radit sambil mengarahkan jari kelingkingnya ke Sandy.
"Iya terserahmu saja," kata Sandy sambil mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Radit.
"Sebaiknya kita tidur sekarang, besok kita diskusikan lagi masalah sapu tangan ini," kata Sandy sambil menyimpan sapu tangan itu di laci mejanya.
Sandy segera ke kasurnya dan merebahkan tubuhnya. Ia sangat lelah seharian ini. Rasanya banyak sekali yang telah ia lalui dalam sehari ini. Yang paling menyayat hatinya adalah kematian Netra yang masih tidak bisa ia terima kenyataannya.
"Ra, semoga kamu tenang di alam sana," kata Sandy pelan sambil membayangkan kebersamaan mereka. Semenjak kehadiran Netra, Sandy merasa mendapatkan cahayanya kembali yang selama ini redup. Hanya Netra yang mampu membuat Sandy tersenyum karena sikapnya. Kepergian Netra membuatnya kembali terpuruk, terlebih lagi alasan kepergian Netra karena melindungi dirinya.
"Maaf," kata Sandy yang lama kelamaan memejamkan matanya.
"Sandy, Sandy," panggil seseorang.
"Ngghh." Sandy melenguh. Ia membuka matanya.
"Rara? Ini, ini beneran kamu? Kamu, kamu ga kenapa napa kan? Kamu baik baik aja?" tanya Sandy yang melihat Netra ada di depannya. Kaget, khawatir dan rasa senang bercampur aduk.
"Sandy, aku ga punya banyak waktu buat ceritain semuanya. Aku, aku masih hidup, San. Tolong temukan aku," kata Netra.
"Ra, Ra, Rara. Jangan pergi lagi. Ra," Sandy berteriak dan terbangun dari tidurnya.
"San, kamu gapapa?" Radit ikut terbangun mendengar teriakan Sandy.
"Rara, Rara masih hidup,"
__ADS_1