The Other Side

The Other Side
Trauma


__ADS_3

"Radit tadi mau ngomongin apa ya," pikir Netra.


"Jangan-jangan ada hubungannya sama mimpi anehku selama ini," pikir Netra lagi.


"Ah udah Rara, jangan melamun, inget seminggu lagi ujian, aku harus mempersiapkan ini denganbaik supaya ga mempermalukan sekolah kayak apa yang dibilang Sandy tadi," batin Netra.


*****


Hari demi hari mereka isi dengan belajar bersama dan serius. Ujian nasional hanya tinggal menghitung hari, tapi semakin hari Netra justru semakin pesimis.


"Sebuah foto berbentuk persegi panjang diletakan di atas selembar karton berukuran 20 cm x 40 cm. Di sebelah kiri, kanan dan atas terdapat sisa karton masing-masing 5 cm. Jika foto dan karton tersebut sebangun, maka lebar sisa karton di bawah foto itu adalah..." Suara Netra terhenti.


"Duh ngapain sih sisa karton aja pake diitung. Ya tinggal tempel aja gitu fotonya. Duh kalo gini gimana ya kalo nanti malah aku yang mempermalukan sekolah, terus gimana kalo ternyata aku ga lolos ujian masuk. Aku bakal sekolah dimana nanti," kata Netra yang terlihat depresi dan pesimis.


"Ra, kamu jangan pesimis gitu dong. Kan ada aku dan Sandy yang selalu support kamu. Ayo semangat lagi dong. Jadi Rara yang aku kenal," kata Radit menyemangatin Netra.


"Hmm, iya ra. Kamu harus semangat demi nenek. Kamu gamau kan ngecewain nenek," kata Sandy.


"Umm iya. Umm.." Netra masih terlihat tidak percaya diri. Tiba-tiba Radit menggenggam tangan Netra.


"Ra. Kita makan dulu yuk. Kamu kayaknya laper makanya jadi ngawur gitu ngomongnya," kata Radit sambil tersenyum kecil. Sandy melihat hal itu hanya ikut tersenyum dan pergi mendahului mereka.


"Ah iya, umm aku lapar. Ayo deh kita makan dulu di luar," kata Netra mengikuti Sandy keluar mencari makanan.

__ADS_1


"Hei, kenapa kamu pergi duluan. Ga ngajak aku dan Radit dulu," kata Netra mengiringi jalan Sandy. Radit mengikuti dari belakang mereka.


"Iya nih. Sandy kayaknya udah kelaperan sampe ninggalin kita," kata Radit merangkul mereka sambil menengahinya.


"Iya," kata Sandy dingin.


Mereka berjalan sambil mengobrol asik. Sesekali Radit menghibur Netra supaya ia tidak pesimis lagi.


"Ra, Ra liat deh di sana," kata Radit. Netra tidak melihat ada sesuatu yang aneh di arah yang ditunjuk Radit.


"Ada apa Dit? Ga ada apa apa," kata Netra yang masih kebingungan.


"Iya emang ga ada apa apa, iseng aja. Hihi," kata Radit sambil berjalan menjauh


"Dasar," kata Netra sambil mengejar Radit.


"Huh, abis Radit tuh yang mulai duluan. Nyebelin," kata Netra.


"Loh Ra kok nyalahin aku. Kamu aja yang nurut aku suruh-suruh. Haha," kata Radit sambil tertawa.


"Ih." Netra memukul lengan Radit.


"Sakit ih Ra. Kenapa pukul-pukul mulu sih," kata Radit sambil mengelus-elus lengannya yang dipukul Netra.

__ADS_1


"Huft." Sandy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua temannya yang kekanak"an.


"Kita makan disini aja ya," kata Sandy sambil menunjuk salah satu warung makan di seberang jalan. Radit dan Netra masih bercanda dan tidak menghiraukan omongan Sandy. Tiba-tiba dari arah kejauhan terlihat kendaraan yang melaju dengan kecepatan yang cukup kencang mengarah ke Netra. Sontak Sandy langsung mendorong tubuh Netra dan mereka berdua selamat.


"Aku udah bilang jangan bercanda kalo lagi di jalan gini. Kenapa kalian ga mau denger sih." Sandy terlihat sangat emosi dan marah ke Netra dan Radit. Ia langsung meninggalkan mereka berdua ke arah rumahnya.


"San..." panggil Netra pelan.


"Gapapa Ra. Sandy emang agak traumatis sama kecelakaan. Dulu..." Omongan Radit terhenti melihat Netra yang mulai menangis.


"Ra kamu kenapa? Kenapa nangis?" tanya Radit panik.


"Sandy bener-bener bentak aku tadi? Aku, aku ga pernah liat Sandy semarah itu. Huhu." Tangisan Netra semakin keras. Ia benar-benar tidak menyangka Sandy bisa seemosi tadi. Wajah marah Sandy seakan-akan mengancam Netra untuk tidak melakukan hal bodoh lagi. Hal itu membuat Netra cukup syok dan ketakutan.


"Ra..." panggil Radit pelan. Netra mulai mengusap kedua matanya.


"Dit, aku, aku titip buku dan tasku di rumah Sandy. Tolong kamu simpan ya. Besok atau nanti malam aku akan ambil ke rumahmu. Aku pulang duluan. Titip salam ke Sandy, bilang saja aku ingin pulang duluan," kata Netra yang menahan tangisnya.


Di sisi lain, Sandy seakan benar-benar merasa ketakutan. Tapi ia tidak tahu apa yang ia takutkan. Ia hanya merasa kejadian tadi telah merenggut orang yang ia sayang. Dari dulu Sandy benar-benar membenci kecelakaan. Namun, tiba-tiba Sandy teringat. Ekspresi ketakutan yang terlukis di wajah Netra. Apa ia melakukan kesalahan? Pikirnya.


"Setidaknya aku harus kembali dan meminta maaf telah berbuat demikian ke Rara," gumam Sandy. Saat ia sampai di pintu depan, Radit sudah berada di depannya.


"Dit, Rara mana?" tanya Sandy.

__ADS_1


"Dia pulang duluan, dia nitip tas dan bukunya buat aku bawa pulang. Jam belajar kita udah selesai kan? Biar aku pulang ya," kata Radit sambil berlalu meninggalkan Sandy.


"Aku, melakukan sesuatu yang fatal ya," ucap Sandy menyesal.


__ADS_2