The Other Side

The Other Side
Sendiri


__ADS_3

"Dit, Rara mana?" tanya Sandy.


"Dia pulang duluan, dia nitip tas dan bukunya buat aku bawa pulang. Jam belajar kita udah selesai kan? Biar aku pulang ya," kata Radit sambil berlalu meninggalkan Sandy.


"Aku, melakukan sesuatu yang fatal ya," ucap Sandy menyesal.


*****


"Duh bodoh, bodoh, bodoh. Gimana aku sekarang minta maaf ke Rara? Rara pasti ga bakal maafin aku. Tapi kejadian tadi, rasanya aku pernah mengalaminya. Terasa tidak asing. Rasa kehilangan yang sangat besar. Aku merasa seperti de javu. Apa ada kejadian yang aku lupakan? Tapi apa?" Sandy semakin pusing oleh pertanyaan-pertanyaan yang terus muncul di benaknya. Belum lagi rasa bersalahnya ke Netra karena sudah membentaknya sekeras tadi. Tapi ia melakukan itu hanya karena ia peduli ke Netra dan tidak ingin kehilangan dia.


"Ra, maafin aku," kata Sandy pelan. Perlahan-lahan matanya mulai terpejam. Ia tidak sanggup jika harus kehilangan temannya itu karena kejadian hari ini.


Di sisi lain, Netra pulang ke rumah dengan mata yang sembap.


"Rara kenapa? Kok mata Rara bengkak? Rara abis nangis? Sini cerita sama nenek," kata neneknya sambil memeluknya.


"Nek, tadi Sandy bentak Rara karna Rara dan Radit bercanda di jalan," kata Netra.


"Loh kok bisa Sandy bentak Rara cuma karna bercanda?" tanya neneknya.

__ADS_1


"Umm, sebenarnya bukan karna itu aja sih. Tadi waktu Rara sama Radit bercanda ada motor yang melaju kencang hampir menabrak Rara. Terus Sandy ngedorong Rara ke pinggir. Terus Sandy baru ngebentak Rara," jelas Rara.


"Rara ga kenapa-napa tapi kan? Sandy gimana? Apa ada yang terluka?" tanya Nek Sari.


"Kita semua ga apa apa sih nek. Cuma Rara kaget waktu Sandy ngebentak Rara gitu. Dia emosi banget. Rara takut nek," kqta Rara mulai meneteskan air mata.


"Udah-udah. Rara makan dulu ya. Nenek udah buatkan lauk kesukaan Rara," ajak neneknya sambil mengusap air mata Netra.


"Umm, iya nek. Rara ganti baju dulu ya," kata Netra sambil pergi ke kamarnya.


"Apa Sandy mulai ingat kejadian hari itu ya?" pikir Nek Sari.


"Permisi. Rara." Dari luar terdengar suara Radit memanggil Netra. Nek Sari keluar menghampirinya.


"Ah ga perlu nek. Ini Radit cuma bawain tas sama bukunya Rara aja kok. Tadi masih ditinggal di rumah Sandy. Radit juga mau langsung pulang nek," jawab Radit.


"Ya sudah kalo begitu. Makasih ya nak Radit," kata nenek.


"Iya sama-sama nek," kata Radit sambil berlalu pergi dari rumah Netra.

__ADS_1


"Siapa nek?" tanya Netra yang baru keluar kamar.


"Radit. Nih buku dan tas kamu. Taro di kamar dulu sana," kata neneknya sambil memberikan buku dan tas milik Netra.


"Iya nek," jawab Netra. Setelah itu mereka makan bersama. Netra bercerita kalau pengumuman ujian masuk SMA Internasional Tunas Bangsa. tinggal 4 hari lagi bertepatan dengan hari pertamanya ujian nasional. Lagi-lagi Netra terlihat tidak percaya diri dengan hasil ujian masuknya. Ia takut mengecewakan neneknya. Tapi, neneknya paham dan menghibur Netra. Neneknya yakin jika Netra bisa masuk ke sekolah yang ia idam-idamkan itu.


Malam pun tiba, Netra ingin bergegas tidur. Namun, pikirannya melayang mengingat kejadian tadi.


"Huft, untung hari ini hari terakhir masuk sekolah," ucap Netra. Sekolah meliburkan seluruh siswa kelas IX untuk mempersiapkan ujian nasional dengan belajar di rumah.


"Setidaknya aku ga akan bertemu Sandy selama tiga hari ke depan. Aku masih belum siap untuk bertemu dengannya. Padahal, rencananya tiga hari ini bakal dihabiskan dengan belajar bersama mereka. Tapi nanti biar aku bilang ke Radit aku ingin belajar sendiri saja di rumah deh," ucap Netra.


"Ahh, tapi apa aku bisa belajar sendirian? Aku kan selalu dibantu oleh Radit dan Sandy. Uhh pusing," kata Netra sambil memegang kepalanya.


"Ngga Ra, kamu pasti bisa berusaha sendiri. Kemaren pas ujian masuk aku bisa ngelewatin sendiri, ujian nasional kali ini pasti aku bisa juga. Ayo semangat belajar Rara!" katanya lagi dengan bersemangat.


Dua hari berlalu. Netra benar-benar tidak ingin bertemu dengan Radit atau Sandy. Ia belajar sendirian dengan sungguh-sungguh selama dua hari ini.


Tring..tring..

__ADS_1


Nama Sandy terlihat di layar telepon. Ini ketiga kalinya handphone Netra berdering hari ini karena telepon dari Sandy. Netra sengaja tidak mengangkat telepon dari Sandy karena ia masih tidak siap menghadapi Sandy.


"Duh berisik banget sih. Tadi Radit yang dateng ke rumah sekarang Sandy nelponin terus. Huft. Biarin aja lah," kata Netra sambil melanjutkan belajar.


__ADS_2