
"Yaudah nanti sepulang sekolah kita jenguk Radit aja gimana?" ajak Netra.
"Aku ga bisa. Hari ini ada jadwal les," jwab Sandy.
"Umm, oke lah. Nanti biar aku sendiri aja ke rumah Radit," kata Netra.
*****
Jam menunjukkan pukul 8.00 yang berarti jam pelajaran ke dua telah selesai. Itu juga berarti hukuman untuk Sandy dan Netra juga sudah berakhir.
"Huft, akhirnya udah selesai juga hukuman kita. Sekali lagi maafin aku ya, San," kata Netra sambil melihat ke arah Sandy.
"Iya ga apa apa," kata Sandy.
"Um, yaudah deh kamu kelas duluan aja, aku takut orang berpikir macam-macam. Tadi aja guru itu udah seperti ga suka melihatmu bersama denganku," kata Netra sambil terlihat sedih.
"Udah ayo," kata Sandy sambil menarik tangan Netra ke kelas. Netra yang tangannya ditarik hanya bisa diam dan ikut Sandy ke kelas.
Seperti yang Netra katakan, saat berada di kelas banyak tatapan tajam ke arah mereka terutama ke arah Netra. Menurut mereka Netra seperti racun yang meracuni Sandy, siswa teladan di sekolah ini. Sepanjang pelajaran, banyak omongan yang buruk untuk Netra.
__ADS_1
"Hey, kenapa?" Pertanyaan Sandy membuyarkan lamunan Netra.
"Ah tidak, tidak apa-apa," kata Netra.
Akhirnya pulang sekolah tiba, Sandy menghampiri Netra, mengajak pulang bersama. Namun, Netra menolak. Ia tidak ingin semakin banyak omongan buruk orang lain tentangnya. Netra memutuskan untuk pulang duluan. Sandy merasa Netra seperti menghindarinya.
"Ra," panggil Sandy
"Kalau ada apa-apa cerita ke aku ya." Sandy berteriak ke Netra yang sudah berada 5 meter di depannya.
Netra hanya membalas dengan senyuman dan meneruskan perjalanannya. Ia sudah bilang ke Sandy bahwa ia ingin menjenguk Radit.
Sesampainya di rumah Radit, Netra memanggil Radit dari luar pagar rumahnya.
"Sebentar, Non. Mbok bukakan pintu," kata seseorang di dalam.
"Non Rara ya, mau jenguk Den Radit?" kata orang itu.
"Oh iya kenalin, Bi Ina, asisten rumah tangga di sini," kata Mbok Ina.
__ADS_1
"Oh iya, Mbok. Saya Netra, Radit biasa manggil saya Rara. Raditnya kemana ya, Mbok?" kata Netra.
"Nah itu, Non. Den Radit tadi dibawa ke rumah sakit karena demamnya semakin tinggi," kata Mbok Ina.
"Radit sakit apa emang Mbok? Sampe dibawa ke rumah sakit gitu?" tanya Netra dengan khawatir.
"Mbok juga sebenernya kurang tau Non. Selama Mbok ngasuh Den Radit, Den Radit ga pernah sakit kayak gini. Paling cuma demam biasa atau flu. Tapi kali ini beda, Den Radit itu semalem sampe kejang-kejang terus paginya langsung demam," kata Mbok ina menjelaskan penyakit Radit.
"Sampe kejang-kejang, Mbok? Separah itu ya?" tanya Netra. Mbok Ina hanya menganggukan kepala.
"Kalo boleh tau Radit dirawat di rumah sakit mana ya, Mbok? Mungkin besok saya dan Sandy bisa menjenguk dia." tanya Netra. Mbok Ina langsung memberika alamat rumah sakit dimana Sandy dirawat.
"Makasih ya, Mbok. Saya pulang dulu." Netra pamit ke Mbok Ina dan segera pulang.
"Non Rara, semoga ga ada hal buruk yang terjadi pada Non Rara."
Flashback
Malam itu sangat sepi, bahkan angin saja tidak berhembus. Terlihat Radit yang sedang tertidur di kamarnya. Sesosok makhluk tengah melihatnya dari luar kamar tidur. Tiba-tiba sosok itu masuk menembus dinding rumah Radit dan mendekati Radit.
__ADS_1
"Sepertinya ini orang yang tepat." Sesaat perkataan sosok itu selesai, ia langsung masuk ke dalam tubuh Radit. Seketika Radit langsung kejang-kejang dan berteriak membangunkan seisi rumahnya. Radit berteriak seperti menolak sosok tersebuk masuk ke dalam tubuhnya, namun terlambat. Sosok tersebut sudah masuk ke dalam tubuh Radit dan berusaha menguasai tubuhnya.
Sosok tersebut seperti ingin menyampaikan sesuatu lewat Radit, namun sebelum dapat menyampaikan hal itu, sosok tersebut langsung hilang dengan meneriakan nama Rara.