The Other Side

The Other Side
Radit dan Sandy


__ADS_3

"Lalu, siapa nama aslimu?" tanya Netra.


"Randy Armana Putra, nama yang katanya selalu membawa kesialan dalam hidupku," ucap Sandy.


"Hah? Randy? Aww..." Netra merasakan sakit di kepalanya. Ia menjadi sangat pusing dan akhirnya pingsan.


"Ra, Rara." Radit berusaha membangunkan Netra. Namun, nihil.


"Kita bawa Rara ke kamar dulu," kata Sandy dengan cekatan menggendong Netra.


"Ada apa dengan Rara? Kenapa saat Sandy mengucapkan namanya ia terlihat pusing dan berbeda?" tanya Radit dalam hati. Ia segera menyusul Sandy ke kamar.


*****


Setelah 10 menit mereka menunggu, akhirnya Netra sadar. Ia terlihat sangat pusing dan kebingungan.


"Kenapa aku disini?" tanya Netra.


"Aww, kepalaku sakit sekali, apa yang terjadi?" tanyanya lagi.


"Ra, tadi tiba-tiba kamu pingsan saat Sandy bercerita," kata Radit sambil membantu Rara duduk.


"Kamu gapapa, Ra?" tanya Sandy


"Iya, aku gapapa, maaf ya, San, aku malah memotong ceritamu. Padahal aku sangat ingin tau kebenarannya. Tapi sepertinya aku harus pulang. Aku merasa tidak enak badan," ucap Netra.


"Ayo biar ku antar, Ra, sekalian aku pulang," kata Radit sambil membantunya berdiri.


"San, kita pulang dulu ya, aku masih nunggu ceritamu loh," kata Netra.


"Hmm, iya, cepat sehat," kata Sandy sambil tersenyum kecil.


"Yuk Ra," kata Radit sambil pergi bersama Netra.


"Ra, ada apa denganmu, apa ada yang kamu sembunyikan?" bayin Sandy.


Di perjalanan Radit sesekali membantu Netra berjalan karena Netra masih merasa pusing.


"Are you okay? Kenapa kamu tiba-tiba pingsan, Ra? Kamu sakit? tanya Radit.


"Umm, aku gatau, Dit. Rasanya kepalaku sakit sekali," kata Netra sambil memegang kepalanya.


"Randy, rasanya nama itu ga asing," batin Netra.


Setelah itu, tidak ada perbincangan di antara mereka. Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Netra.


"Dit, makasih ya udah nganterin aku," kata Netra.


"Iya, Ra. Kapan pun kamu butuh aku, aku bakal bantu kamu," kata Radit sambil tersenyum.

__ADS_1


"Nek, nenek?" panggil Netra.


"Kok kosong ya, nenek kemana ya," pikir Netra.


"Oh iya, aku ingat tadi Sandy sempat mengucapkan nama aslinya, uh tapi siapa ya? Kenapa ingatanku jadi samar-samar begini?" pikirnya sambil memegang kepalanya.


Drrtt..


Suara getaran dari hape Netra.


Kamu baik-baik saja?


Ternyata itu adalah pesan dari Sandy. Ia mengkhawatirkan Netra.


Aku baik, tidak usah mengkhawatirkanku.


"Rara?" panggil neneknya dari luar.


"Nenek, nenek darimana?" tanya Netra sambil memeluk neneknya itu.


"Nenek dari luar aja, Rara kenapa? Tadi acara di rumah Sandy lancar kan?" tanya neneknya.


"Iya, Rara seneng bange, Nek. Ga terasa sekarang Rara udah mau masuk SMA, Rara ga akan nyusahin nenek lagi sekarang," kata Netra sambil tersenyum ke arah neneknya.


Di rumah Sandy, ia masih memikirkan tentang Tante Ira. Bagaimana syal itu bisa dikirim ke rumahnya? Ia tidak percaya itu Tante Ira. Jelas-jelas saat itu ia melihat Tante Ira sudah tidak bernyawa.


"Hah, kenapa hal seperti ini ga ada abis-abisnya sih," keluh Sandy.


"Oh iya, aku juga belum selesai menceritakan kejadian sakitku itu, dulu, suara yang kudengar samar-samar juga mirip dengan Tante Ira. Apa benar Tante Ira masih hidup?" Sandy mulai bertanya-tanya.


"Aku harus cari tau," ucapnya lagi.


Ia membuka hapenya dan melihat ada pesan dari Netra. Ia senang Netra baik-baik saja. Sekarang ia merasa, Netra adalah segalanya untuknya. Walau Netra ga akan mungkin menggantikan Radit sebagai sahabat terbaiknya, namun perasaan lain itu muncul dan terus berkembang. Sandy tidak pernah merasa seperti ini.


"Rara, dia unik, bagaimana aku bisa tertarik padanya?" Sandy jadi senyum-senyum sendiri memikirkan Netra. Baginya Netra adalah wanita yang penuh dengan misteri. Ia baik dan juga unik. Namun, banyak yang belum diketahui Sandy.


Di kediaman Radit, ia juga mulai memikirkan Netra.


"Apa yang terjadi dengan Netra dan Sandy? Kenapa dia terasa sangat sakit ketika mendengar nama asli Sandy?" Radit bertanya-tanya.


"Ah mengenai Tante Ira, waktu itu aku memotong omongan Radit saat ia menceritakan Tante Ira, aku ga nyangka kalo Tante Ira benar-benar masih hidup," ucapnya.


Tok tok tok


Suara ketuka pintu dari luar kamar Radit.


"Radit? Bunda boleh masuk?" tanya Bunda Anna.


"Eh ,Bunda, sebentar biar Radit buka pintunya," kata Radit.

__ADS_1


"Gimana tadi di rumah Sandy? Seru perayaannya?" tanya Bunda Anna.


"Seru Bunda, tapi..." Radit langsung memberhentikan omongannya.


"Tapi apa?" tanya bundanya penasaran.


"Ta-tapi kurang rame, Bun. Harusnya Bunda sama Ayah juga ikut tadi. Pasti lebih seru kalo ramai," kata Radit sedikit berbohong. Ia sengaja tidak memberitahu bundanya mengenai kembalinya Tante Ira. Ia ingin membuktikan dengan sendiri bahwa itu bukanlah Tante Ira.


"Haha, Dit. Kamu ini. Bunda sama Ayah tadi kan harus pergi kerja. Masa bolos," kata Bunda Anna.


"Bunda sama Ayah kan pemilik perusahaan itu, buat apa masuk kerja lagi," ucap Radit sedikit jengkel.


"Justru karna itu Bunda sama Ayah harus kasih contoh yang baik buat karyawan di perusahaan dong, masa pemiliknya malah ogah-ogahan masuk kerja," kata Bunda sambil mencolek hidup Radit. Bunda Anna paling tau jika Radit sudah kesal seperti itu cara menenangkannya dengan mencolek hidungnya.


"Ih Bunda nyebelin," kata Radit sambil mengelap hidungnya.


"Oh iya ada apa Bunda?" tanyanya lagi seolah tau bundanya ingin menanyakan sesuatu.


"Ah iya Bunda mau tanya, Radit udah temenan sama Sandy kan cukup lama, Radit tau apa Sandy dan Rara ada hubungan sebelumnya?" tanya Bunda Anna.


"Maksudnya hubungan, Bunda? Hubungan apa?" Radit bertanya balik.


"Maksud Bunda seperti, pernah berteman atau bagaimana gitu," kata Bunda Anna.


"Umm, Radit ga tau sih, Bund. Lagipula waktu Radit berteman sama Sandy itu kan pas tk, kayaknya Radit teman pertama Sandy deh.


FLASHBACK


"Hei ini uangmu jatuh," kata anak kecil berbaju merah.


"Te-terima kasih," jawab anak kecil yang berbaju hitam sambil mengambil uangnya dan melanjutkan jalannya. Anak kecil berbaju merah itu segera mendahului anak kecil berbaju hitam itu dan menjulurkan tangannya.


"Aku Radit, nama kamu siapa?" tanya Radit kecil. Anak kecil tidak langsung mengenggam tangan Radit kecil. Ia memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kakinya.


"Randy," katanya pelan.


"Hei, Randy. Bagaimana jika kita berteman? Aku senang bertemu denganmu," kata Radit.


"Radit...." panggil Bunda Anna.


"Bundaku udah datang, aku pulang duluan ya," kata Radit sambil tersenyum ke arah Randy.


"Randy sayang liat ke arah siapa?" kata mamanya yang tiba-tiba datang.


"Itu, Radit," kata Randy sambil menunjuk Radit.


"Wah, Randy dapat teman baru ya. Syukurlah, mama ikut seneng. Sekarang kita pulang ya," kata Tante Sarah, mamanya Randy.


"Iya," jawab Randy.

__ADS_1


__ADS_2