
"Supri mana? Dia juga harus bertanggung jawab atas hal ini. Dia supir sekaligus satpam. Harusnya dia yang jaga Sandy," tanya wanita itu lagi.
"Supri harus pulang kampung karena ibunya sakit. Jadi di rumah hanya ada saya, Den Sandy, dan Parman, Bu," jawab Mbok Yati.
"Udah Ma, Sandy juga cuma koma. Kamu ga perlu khawatirin dia kayak gitu," kata si pria.
"Cuma? Bisa bisanya dia bilang cuma koma? Siapa sih orang ini," pikir Netra.
*****
"Iya tante, semoga Sandy ga apa apa ya. Kita berdoa aja buat keselamatan Sandy," ucap Radit.
"Ah iya tante dan om kenalin ini Rara. Temen sekolah Radit dan Sandy. Rara, ini kedua orang tua Sandy. Tante Sarah dan Om Herman," ucapnya lagi sambil mengenalkan Netra.
"Rara? Kok rasanya familiar ya," kata wanita itu sambil mencoba mengingat-ingat.
"Ah nama Rara kan banyak tante hehe. Mungkin Sandy juga pernah punya temen yang namanya Rara," kata Radit lagi.
"Iya, kenalin tante dan om, aku Netra. Bisa dipanggil Rara," ucap Netra.
"Netra? Rara? Ohh, saya udah inget sekarang. Kamu anak dari Nira dan Salman kan?" tanya wanita itu lagi.
"Ah iya, tante kenal kedua orang tuaku?" tanya Netra.
"Keluar kamu dari sini sekarang. Saya ga mau kamu deket-deket dengan Radit. Pergi sekarang!" Wanita itu berteriak dan semua orang yang ada di sana kaget.
"A..Ada apa Tante?" tanya Rara gemetar.
"Keluar sekarang!" pintah wanita itu.
"Ra, ayo keluar dari sini." ajak Radit.
"Tapi, Dit.." Netra berusaha menghentikan Radit.
"Kita ga bisa disini, Sandy sedang sakit. Lebih baik kita keluar," kata Radit lagi.
__ADS_1
"Umm, iya." Netra akhirnya ikut keluar. Ia masih tidak mengerti apa yang terjadi. Ada hubungan apa orang tua Radit dengan orang tuanya.
"Dit, apa kamu tau kenapa Tante Sarah membenciku sampai segitunya," kata Netra sambil menahan tangisnya. Ia memang tidak biasa menerima bentakan seperti itu.
"Ra, aku juga ga tau kenapa, Tante Sarah selalunya baik dengan orang yang berhubungan dengan Sandy apalagi temannya," jawab Radit sambil menenangkan Netra.
"Ra, ga apa. Tenang ya. Aku yakin ini cuma salah paham. Mungkin ada dendam masa lalu Tante Sarah," ucap Radit.
"Kita cari makan dulu ya. Makan di luar mungkin bisa menenankan pikiranmu," ajak Radit.
"Tapi Dit, aku ingin tau kondisi Sandy," ucap Netra.
"Kita bisa tanyakan nanti ke Bunda ya. Sekarang kamu makan dulu. Kita belum makan dari selepas ujian tadi," ajak Radit lagi sambil menggenggam tangan Rara.
"Iya," kata Netra lemas.
Di sisi lain, Tante Sarah masih tidak menyangka bahwa Netra masih menemui anaknya. Ia tidak suka Sandy dekat dengan Netra. Baginya, Netra hanya kemalangan bagi Sandy bahkan bagi banyak orang. Menurutnya Netra selalu membawa kesialan dalam dirinya. Dan ia tidak mau kehilangan Sandy untuk kedua kalinya.
"Sarah, ada apa di antara kamu dan Netra? Kenapa kamu sangat membencinya? Apa ini semua ada hubungannya sama Nira?" tanya Bunda Anna yang mendekati Tante Sarah.
"Sarah, apa-apaan maksudmu. Rara anak yang baik," kata Bunda Anna.
"Kamu ga pernah tau seperti apa dia sebenarnya," jawab Tante Sarah.
"Dia kehilangan semua orang di sekitarnya. Dan kamu pikir itu karena siapa? Itu karena dia sendiri. Dia anak pembawa sial bagi semua orang. Aku tidak ingin anakku berurusan lagi dengannya," lanjutnya.
"Lagi? Jadi kamu udah mengenal Netra jauh sebelum ini?" tanya Bunda Anna.
"Ya, aku sangat tau dia anak seperti apa."
*****
Di luar rumah sakit, terlihat Radit dan Netra yang sedang makan di warung bakso pinggiran.
"Ra, dimakan dong baksonya. Jangan dimainin gitu aja. Sini aku suapin. Aaa..." kata Radit sambil menyodorkan bakso ke hadapan Netra.
__ADS_1
"Dit aku bisa makan sendiri," kata Netra tidak bersemangat.
"Sepertinya kita harus pulang. Besok masih ada ujian yang menunggu. Ah iya. Padahal kita bertiga udah janji mau buka pengumuman SMA Internasional Tunas Bangsa bareng-bareng ya. Tapi sepertinya kondisi Sandy ga memungkinkan," lanjutnya.
"Ra, kita buka saat kondisi Sandy mulai pulih ya. Lagipula pendaftaran ulangnya juga masih cukup lama," ucap Radit.
"Umm iya Dit. Kita bakal buka ini bareng-bareng. Dan aku yakin kita bertiga pasti bakal lolos ujian ini," jawab Netra.
"Ya sudah sekarang kamu habiskan dulu makanannya. Setelah itu aku telpon Bunda supaya kita langsung pulang," kata Radit.
"Ah Dit, mungkin aku pulang naik angkutan umum saja. Aku udah terlalu banyak menyusahkan kalian," jawab Netra yang kali ini terlihat sedih. Ia masih memikirkan apa maksud omongan Tante Sarah.
"Ngga, kondisi kamu lagi begini, ga akan aku biarkan kamu pulang sendiri," cegah Radit.
"Dit, aku ga apa kok," kata Rara sambil tersenyum.
"Ngga, udah sekarang kamu makan dan aku akan telepon Bunda." Radit bersikeras.
"Huft, iya iya," jawab Netra.
"Iya halo sayang," kata suara dari seberang.
"Bunda, sepertinya aku sama Rara ingin pulang. Bunda dimana?" tanya Radit.
"Bunda masih di tempat Sandy. Kalian bisa pulang sendiri? Biar nanti bunda pesenin taksi online," kata Bunda Anna.
"Loh, emang bunda lagi apa di sana?" tanya Radit.
"Bunda masih ada urusan sama Tante Sarah. Udah dulu ya sayang. Nanti bunda kirim ke kamu nomor telepon supir taksinya. Kalian tunggu di lobby rumah sakit aja," jawab Bunda Anna sambil mematikan teleponnya.
"Huft Ra, kita pulang naik taksi ya. Kita tunggu di lobby rumah sakit aja. Taksinya nanti dari sana," ajak Radit. Ia langsung membayar makanan yang tadi dimakannya dan Netra dan segera pergi.
"Sarah tunggu. Kasih tau apa maksudmu bilang Rara anak pembawa sial? Dan apa hubunganmu dengan Netra dulunya," cegah Bunda Anna.
"Anna aku ga bisa kasih tau kamu sekarang. Ini juga menyangkut keselamatan putraku. Aku ga mau putraku tersakiti lagi. Aku akan bawa dia berobat ke luar negeri. Dan aku pastikan dia tidak akan bertemu lagi dengan Netra," jawab Tante Sarah yang berlalu meninggalkan Bunda Anna.
__ADS_1