The Other Side

The Other Side
Curiga


__ADS_3

"Kamu benar, Dit. Ayo kita cari tahu siapa orang itu," kata Sandy.


"Aku juga mau ikut," kata Netra.


"Huh, anak kecil ga perlu ikut-ikutan," kata Radit.


"Aku ga ngomong sama kamu. Huh," kata Netra.


"Sandy, aku ikut ya," katanya lagi memohon ke Sandy.


"Iya-iya, Ra," kata Sandy sambil tersenyum.


*****


Tiga hari berselang, kondisi Sandy semakin membaik. Ia dibolehkan untuk pulang. Selama tiga hari itu, Radit dan Netra selalu mengunjungi dan menemaninya. Tidak ketinggalan juga Tari yang terkadang menemani mereka. Walaupun, terkadang Netra tidak menyukai kehadiran Tari, namun akhirnya ia menerimanya.


"Syukurlah kamu udah bisa pulang, San," kata Netra.


"Lebih baik kamu tinggal bersamaku dulu, mungkin orang itu akan datang lagi," kata Radit.


"Aku baik-baik saja kok, kemarin Bundamu menambah penjaga di rumahku," kata Sandy.


"Bunda kok ga bilang-bilang sih," eluh Radit ke Bundanya.


"Sandy kan perlu penjagaan ekstra, Sayang. Masa Bunda harus bilang kamu dulu," kata bundanya.


"Tau nih, kerjaannya iri mulu sama Sandy," kata ayahnya.


"Dit, gimana kalo hari ini kamu yang nginep di rumahku?" kata Sandy.


"Wah boleh," kata Radit.


"Huft, ya sudah kalian berdua aja. Aku mau jagain nenek di rumah," kata Netra.


"Loh, Ra, siapa yang ngajak kamu?" ledek Radit.


"Terus aja, Dit," kata Netra sambil mengepalkan tangannya.


"Hii, takut," kata Radit sambil bersembunyi di belakang Sandy.


"Kalian ini, sudah ayo masuk ke dalam mobil," kata Om Pras.


"Siap, komandan," kata mereka bertiga sambil hormat seperti memerankan seorang tentara ke komandannya.


"Oh iya, Sandy. acara pensi itu kan tinggal seminggu lagi, kamu udah siap?" tanya Netra.


"Sudah," kata Sandy singkat.


"Hah, andai aku bareng kamu pasti latihannya ga bakal selama ini," kata Netra sambil melihat ke arah Radit.


"Hei, hei, ga perlu disindir gitu dong, Ra. Iya maaf deh aku salah mulu. Kamu sih standarnya ketinggian," kata Radit.


"Wah, jadi permainan gitar Radit kalah dengan Rara? Penasaran sehebat apa sih Rara?" kata Bunda Anna.

__ADS_1


"Dia juara lomba musik nasional, Bund," kata Radit datar.


"Wah. Rara keren banget. Kenapa ga masuk sekolah musik aja?" tanya Bunda Anna.


"Hehe, Rara emang dari kecil suka musik tapi ga mau memperdalamnya, sekarang cuma buat refreshing aja," kata Netra.


"Wah Rara keren ya, nanti Bunda mau denger permainan gitar Rara ya," kata Bunda Anna.


"Rara malu Bunda hehe," kata Netra.


"Rara, Rara, Rara. Sekarang udah kayak bintang deh," kata Radit.


"Ih, iri aja sih," kata Netra.


"Kalian ini bertengkar terus, Om jodohkan baru tau rasa," kata Om Pras.


Semua langsung terdiam. Netra terdiam kaget. Radit terdiam karena malu. Dan Sandy langsung melirik ke arah Om Pras yang sedang menyetir. Semua tiba-tiba hening, sebelum Bunda kembali mencairkan suasana.


"Haha, dasar Ayah. Maafkan ayahmu ini ya, emang dia dari dulu suka sekali bercanda," kata Bunda Anna mencoba mencairkan suasana.


"Haha, iya, kalian kena prank nih. Kok pada diam semua sih?" kata Om Pras.


"Hehe, ngga kok, Om," kata Netra.


"Nah Sandy, udah sampai nih di rumahmu. Radit mau langsung ke rumah Sandy atau mau pulang dulu?" tanya ayahnya.


"Langsung ke rumah Sandy aja sama Rara. Radit mau nagih utangnya Sandy sama Rara buat traktir makan Radit hehe. Kalian masih inget kan?" tanya Radit.


"Ya sudah, kami pergi ya. Baik-baik kalian di sana," kata Bunda Anna.


"Siap, Bund," kata Radit.


"Daahh,"


Mereka masuk ke dalam. Radit segera mengajak Sandy bermain playstation, sedangkan Netra hanya berkeliling sekitar kebun melihat pepohonan.


"Nyaman sekali punya kebun begini. Apalagi ada ayunannya seperti ini. Tapi kenapa ga asing ya, rasanya aku pernah merasa seperti ini dulu," kata Netra pada dirinya sendiri.


"Kamu harus selalu ingat, akan selalu ada yang menjagamu dari bahaya," Suara itu tiba-tiba muncul. Netra tidak tahu asal suara itu, entah dari dalam dirinya atau dari sekitarnya.


"Ra, kamu disana?" panggil Radit.


"Iya, Dit, aku di kebun," kata Netra menyauti panggilan Radit.


"Sini, Mbok Yati udah nyiapin makan siang," kata Radit lagi.


"Loh, kita ga jadi makan di luar lagi?" tanya Netra yang sudah masuk lagi ke rumah.


"Mau bagaimana lagi, Mbok Yati udah masak semua ini masa kita tega makan di luar," kata Radit.


"Duh, Den, Non, maafin Mbok ya. Mbok gatau kalo kalian mau makan di luar," kata Mbok Yati.


"Gapapa, Mbok. Bukan salah Mbok kok, kita yang lupa kasih tau," kata Sandy.

__ADS_1


"Mbok juga seneng Den Sandy udah pulang," kata Mbok Yati.


"Iya, makasih Mbok," kata Sandy.


"Selamat makan,"


Selesai makan, mereka segera mengantar Netra pulang ke rumahnya karena tadi dia bilang tidak ingin menginap di rumah Sandy.


"Dit, jaga Sandy loh, awas kalo ada apa-apa lagi. Kamu yang aku salahin," kata Netra ke Radit.


"Siap Nyonya besar," kata Radit.


"Kalian ini, aku jadi seperti artefak yang tiddak boleh rusak," kata Sandy.


"Lebih dari itu," batin Netra.


"Udah sana kalian pulang, nanti keburu gelap. Hati-hati ya," kata Netra.


"Iya," kata Sandy.


Netra menunggu sampai sosok mereka hilang dari pandangannya kemudian baru masuk ke dalam rumahnya.


"Nenek Rara pulang," kata Netra.


"Oh sini, Rara udah makan?" tanya Neneknya.


"Udah, Nek tadi di rumah Sandy. Nenek belum makan? Rara temani ya," kata Netra.


"Yasudah kalo begitu," kata neneknya.


"Nek, apa Rara pernah bertemu Sandy sebelumnya ya? Kenapa Rara selalu seperti pernah melihat Sandy," kata Netra.


"Uhuk," Neneknya tersedak.


"Nek, minum dulu, Nek," kata Netra sambil menuangkan minum untuk neneknya.


"Rara emang ingat apa?" tanya neneknya.


"Rara ga ingat apa-apa sih, cuma Rara terkadang mimpi aneh. Di mimpi Rara, Rara liat ada anak kecil yang tertabrak truk besar. Dan mimpi itu terus berulang-ulang," kata Netra yang akhirnya menceritakan semua mimpinya ke neneknya.


"Kan Nenek sudah bilang. Mungkin itu hanya bunga tidur. Mimpi itu berulang-ulang karena Rara terus memikirnya, jadi Rara kepikiran terus dan terbawa ke mimpi deh," kata neneknya.


"Tapi, Nek. Ada yang lebih aneh lagi. Akhir-akhir ini, Rara jadi sering denger suara gitu. Entah dari dalam diri Rara atau dari sekitar Rara. Dia selalu bilang akan menjaga Rara seperti itu," kata Netra.


"Rara, mungkin Rara hanya kelelahan. Ayo sekarang lebih baik Rara istirahat di kamar. Nenek mau pergi ke supermarket sebentar," kata neneknya.


"Nenek mau beli apa?" tanya Netra.


"Biar Rara yang belikan," katanya lagi.


"Ga perlu. Rara istirahat aja ya, nenek cuma mau beli telur dan gula. Nenek baru ingat tadi persediaannya terakhir. Oh iya Nenek udah buatkan susu untuk Rara di kulkas. Jangan lupa diminum ya," kata neneknya.


"Kenapa nenek mencurigakan ya," batin Netra.

__ADS_1


__ADS_2