The Other Side

The Other Side
Pertemuan


__ADS_3

"Hoaam.. cari lobby tunggu aja deh, mungkin bisa sekalian tiduran," kata Radit sambil menguap.


"Iya kita tunggu di lobby tunggu aja deh," kata Sandy.


*****


Mereka bertiga segera mencari lobby tunggu supaya bisa duduk lebih santai dan nyaman. Mereka juga sembari mencari minuman karena tadi Sandy tidak jadi membelikan minuman.


"Kita tunggu di cafe aja deh? Gimana? Tuh di sana ada cafe yang baru buka, ayah mau nyoba," kata ayah Radit sambil menunjuk ke salah satu cafe di sana.


"Ga usah, um kita ke cafe lain gimana?" kata Sandy yang terlihat gugup.


"Loh Sandy ga suka ya, yaudah kita cari tempat lain aja deh," kata ayah Radit.


"Huft syukurlah," kata Sandy pelan.


Mereka kembali berkeliling menari cafe untuk mereka istirahat sekaligus menghilangkan dahaga. Akhirnya, mereka menemukan cafe lain yang mana itu cafe langganan ayahnya Radit.


"Di sini aja ya? Tempat ini enak banget. Ga terlalu ramai juga dan biasanya ayah kalo ada kerjaan atau meeting sama klien pasti ke sini," ajak Ayah Radit.


"Iya gapapa," jawab Sandy.


Mereka mulai mencari tempat duduk. Ayah Radit disambut hangat oleh pegawai di cafe itu karena memang ayah Radit sudah sering datang ke sana. Mereka menunggu pesanan minuman sambil mengobrol.


"Dulu, ayah dan sahabat ayah sering datang kemari. Sekedar melepas penat setelah bekerja seharian. Bundamu juga bertemu dengan ayah di tempat ini loh." Ayah Radit mulai bercerita.


"Iya yah? Bunda sering datang ke sini juga? Ceritain dong gimana awal ayah ketemu bunda," kata Radit merengek ke ayahnya.

__ADS_1


"Kepo yaa kalian." Ayah Radit meledek.


"Ih sebel," kata Radit.


"Haha dit, sudahlah jangan kayak anak kecil," kata Sandy yang tertawa melihat kejahilan ayah Radit. Walau ia tertawa, namun siapa yang sangka jika hatinya menangis. Ia merasa iri dengan Radit yang memiliki orang tua yang merawatnya dengan kasih sayang, sedangkan ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya. Ia hanya dimanjakan oleh harta yang bahkan ia sendiri tidak inginkan. Sandy hanya ingin ia diberi kasih sayang seperti yang dilakukan orang tua Radit ke anaknya.


"San? Kenapa bengong? Ini minumanmu," kata Radit sambil menyodorkan minuman ke Sandy.


"Ah ngga ngga, cuma sedikit keinget ujian tadi aja," kata Sandy berbohong.


"Ga perlu dipikirin lah. Aku tau kamu pasti bakal dapet nilai yang bagus dan lolos ujian itu. Biar nanti kita bisa bareng-bareng lagi yaa bertiga. Aku, kamu, Rara," kata Radit.


"Umm iya," kata Sandy pelan sambil meminum minumannya.


"Yah, ayo dong cerita." Radit kembali merengek.


"Waktu itu ayah ga berani buat berkenalan sama bunda kamu. Bunda kamu cantik sekali dan sampe sekarang kecantikannya itu ga berubah. Ayah selalu memperhatikan dia dari jauh. Ayah selalu minta temani dengan sahabat ayah itu buat datang ke cafe ini sekedar menatapnya dari kejauhan. Bunda kamu orangnya ceria, penuh kasih sayang, dan murah hati. Ia juga selalu datang ke sini dengan dua sahabatnya. Bunda kamu terlihat yang paling bersinar di mata ayah," kata Ayah Radit sambil membayangkan kejadian masa itu.


"Bunda emang cantik sih, kok bunda bisa terpikat ya sama ayah yang biasa aja ini," kata Radit yang membuyarkan bayangan ayahnya itu.


"Hush, beraninya kamu ngomong gitu ya. Jelas lah bunda kamu terpikat kan ayah keren begini," kata Ayah Radit.


"Apanya yang keren, suka sama bunda aja cuma bisa merhatiin dari jauh," ejek Radit.


"Yaudah ayah ga mau lanjutin ceritanya. Huh." Ayah Radit melipat kedua tangannya dan memalingkan wajah seperti anak kecil yang sedang ngambek.


"Ih lanjutin dong, janji ga motong lagi deh ayah yang kerenn," kata Radit sambil memuji ayahnya.

__ADS_1


"Yaudah ayah lanjut. Sebulan setelah pertemuan pertama kami, sahabat ayah memberi saran supaya cepat berkenalan dengan bundamu itu. Takut-takut diambil orang duluan hehe. Akhirnya ayah beraniin diri buat kenalan. Eh ternyata bundamu udah mau pergi dari cafe itu sama teman-temannya. Akhirnya, ayah dan sahabat ayah coba ngikutin dari belakang. Sepanjang perjalanan ayah jadi ragu buat kenalan dan mau pulang aja. Tapi melihat bundamu yang berpisah jalur dari teman-temannya membuat ayah yakin kembali untuk mendekati bundamu. Tapi, tiba-tiba..." Kata-kata Ayah Radit terhenti.


"Tiba-tiba apa ya? Tiba-tiba cinta datang?" kata Radit menyela.


"Hush, tadi katanya ga mau motong lagi," sahut Sandy.


"Hehe iya maaf. Ayo dilanjutkan ya, hehe," kata Radit sambil menunjukkan peace sign.


"Huft. Iya tiba-tiba ada yang mengganggu bundamu. Mereka mencegat bunda pergi sambil menodong kan pisau. Bundamu berusaha melepaskan diri dari merek. Ayah ga bisa tinggal diam melihat kejadian itu dan akhirnya menolong bundamu bersama sahabat ayah. Setelah pertarungan yang sengit itu, ayah dan sahabat ayah berhasil mengalahkan para preman itu dan mereka langsung kabur. Ayah langsung menolong bundamu yang terlihat syok setelah kejadian itu."


FLASBACK


"Makasih ya udah nolongin saya. Ini ada sedikit uang untuk kalian," kata Bunda Anna.


"Ngga kami ga pamrih kok. Umm." Ayah Radit tiba-tiba gugup.


"Saya Salman, temen saya ini pengen kenalan sama kamu. Dia selalu perhatiin kamu dari jauh di cafe yang di sana," kata sahabat ayah Radit yang bernama Salman.


"Umm, kenalin saya Prastanto, panggil aja Pras. Nama kamu siapa?" tanya Ayah Radit malu-malu.


"Saya Anna. Terima kasih Pras, Salman karna telah menolong saya. Saya tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya kalo ga ada kalian tadi," kata Bunda Anna yang masih terlihat syok.


"Setelah kejadian itu, ayah dan bundamu jadi semakin dekat dan kita memutuskan untuk menikah," kata Ayah Radit mengakhiri ceritanya.


"Huh ayah mah ga hebat, yang hebat sahabat ayah tuh. Kalo ga ada sahabat ayah juga pasti ayah ga berani lawan preman itu kan. Kenalan sama cewe aja malu-malu." Radit mulai mengejek ayahnya lagi.


"Hei, biarin aja kamu ya. Nanti kalo jatuh cinta sama cewe baru kamu bisa rasain apa yang ayah rasain. Baru tau rasa kamu," kata ayahnya sebal.

__ADS_1


__ADS_2